
Tio telah pun bersiap untuk ke bandara, dia diantar oleh supir pribadinya tersebut. Kini dengan wajah tampak semangat dia mulai masuk dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan pesawatnya menuju kota Palembang.
Sedangkan sang supir pun sudah berlalu dengan cepat meninggalkan bandara itu. Di hari jum'at ini dia berharap akan mendapatkan hasil yang baik atas pengorbanan dirinya tersebut.
''Ya! aku telah berniat untuk mengorbankan kebahagiaanku untuk Derry dan Soraya!!" ucap Tio dalam hatinya.
Tidak perlu menunggu lama, Tio pun mendengar pihak bandara telah menginformasikan pesawatnya sudah akan bergerak terbang menuju kota Palembang.
Dengan kaki jenjang itu, Tio melangkah memasuki pesawat. Favoritnya adalah duduk dekat jendela pesawat. Dia pun paling suka melihat pemandangan alam dan awan, apalagi malam hari, bulan adalah kesukaannya sejak kecil.
Tio yang memiliki hati melonkolis itu, tampak tertidur pulas, karena dari kantor dia langsung menuju bandara dan berangkat ke kota Palembang.
Dia sudah meminta izin Tuan Frans, dia mengatakan ada urusan di kota Surabaya, namun sebenarnya dia ke kota Palembang, dimana kota Palembang adalah kampung Soraya .
Akhirnya Tuan Frans menyuruh manager di kantor tersebut untuk membereskan meeting-meeting hari ini. Dan karena hari jum'at perusahaan itu tutup sampai pukul tiga saja.
Sabtu biasanya masih buka, namun karena kesibukan para atasan yang tidak bisa dihentikan, membuat Tuan Frans mengambil kebijakan hari sabtu dan minggu ini di liburkan.
Tio pula sudah hampir satu jam lebih berada di atas awan tersebut. Dia tampak kelelahan sekali. Dan Tuan Frans pula sudah pun selesai mengganti rugi atas pernikahan yang gagal hari ini.
Derry seperti biasa, dokter Rey memberikan terapi di bagian otot-otot kepalanya agar tidak kaku dan kram. Dia masih saja seperti dua hari lalu.
Masih tidak ada senyuman yang mengembang di bibirnya tersebut. Mama Fanni yang menjenguk Derry tersebut, melihat miris ke arah wajah Derry itu.
Mama Fanni itu memang kenal akrab dengan keluarga Derry sejak Derry dan Fanni masih kecil lagi, jadi memang tidak ada kecanggungan diantara mereka.
Namun, ibu dan anak sifatnya tidak kalah jauh, sama-sama suka kemewahan dan hidup glamor bergelimang harta, menikah dengan pewaris tunggal suatu impian Mama Fanni untuk anak perempuan semata wayangnya itu.
"Sabar ya Jeng, saya yakin Derry bakalan sembuh," sambil memegang tangan Mama Derry.
"Iya Jeng, terima kasih banyak," ucap Mama Derry lemah.
"Fanni kemana?? apa dia benar-benar marah??" tanya Mama Derry lagi.
"Fanni.. oh, iya! dia tadi berkurung di kamarnya," ucap Mamanya berbohong.
__ADS_1
Padahal Mama Fanni tahu, bahwa anaknya tersebut sudah pun dari pagi beranjak keluar dari rumah dan mengatakan dia ingin shopping.
Jika mama Fani mengatakan hal itu kepada Mama Derry, bisa saja penilaian seorang Nyonya besar akan berubah terhadap Fanni tersebut.
"Pasti Fanni sangat malu dan kecewa," ucap mama Derry tampak bersalah.
"Sudah lah Jeng, tidak mengapa. Lagian, ini bukan karena kehendak kita juga, ini karena Tuhan yang membuat seperti ini," seolah Mama Fanni memang menerima keadaan ini.
Padahal dalam hatinya mempunyai niat licik juga, dia sengaja bertandang hanya untuk membuat hubungan mereka tidak renggang, dan kini tampak wajah mama Derry kasihan terhadap Fanni saat ini.
Dokter Reyhan rutin datang merawat Derry dan dokter Reyhan sudah berencana membawa Derry ke rumah sakit ahli jiwa, agar Derry diperiksa lebih lanjut, namun kedua orang tua Derry tidak ingin anaknya diketahui orang banyak sedang terkena penyakit seperti ini.
Jika banyak pihak luar tahu, bahkan pesaing dari perusahaan mereka bisa jadi pihak-pihak tertentu akan memanfaatkan ini semua, mereka bisa jadi memanfaat kan kedudukan yang sedang kosong ini, pikir Tuan Frans dan istrinya.
Itu lah mengapa, Derry tetap di rawat di rumah, dan harus dirahasiakan tentang penyakitnya ini. Satu sisi lagi, Fanni dan Tissa telah sampai di pantai dengan villa mewah milik Tuan Osman.
Tissa terpukau dengan warna villa yang di dominasi warna emas itu, Tuan Osman sengaja membawa wanita-wanita ini di villa mewahnya, dia sangat kenal dengan sifat Fanni yang suka akan kemewahan, dan dia bukan sekali maupun dua kali seranjang dengan Fanni.
Fanni masih tampak diam, Tissa pula keluar dari villa itu, dan menuju pantai. Tissa dibawa oleh kedua bodyguard Tuan Osman, sedangkan Fanni masih di dalam Villa itu.
Fanni masih tidak menyahut, dia membuang pandangannya ke sisi kanan, dimana Tuan Osman pula berada di sisi kirinya saat ini.
Karena tidak ada jawaban apapun dari Fanni, membuat lelaki beralis mata lebat ini semakin ingin mendekati Fanni seperti dulu lagi, dia tahu titik kelemahan seorang Fanni.
Dian mendekat, dan mencoba terus melahap leher jenjang putih mulus itu. Terpekik Fanni, dia terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
Sudah lama dia tidak mendapatkan sentuhan seperti itu, Ya! Tuan Osman adalah orang pertama yang menghancurkan pertahanannya, dan setelah itu, ada beberapa orang keturunan Timur tengah yang telah memasuki surga Fanni tersebut.
"Jangan.." suara Fanni berubah pelan.
"Jangan berhenti.. bukan!!" lelaki beralis tebal itu sudah berada dekat dengan Fanni, tangannya menuju tempat yang biasa membuat Fanni gila.
"Lepaskan aku Osman!!" Fanni sedikit menolak.
"Tidak sayang, aku merindukanmu," racau Tuan Osman.
__ADS_1
Tuan Osman pun terus saja membuat permainannya, leher itu mulai di gigit manja, bahkan tangannya sudah merayap di bagian yang membuat hasrat Fanni tidak ingin berhenti.
Sentuhan Tuan Osman selalu membuat dia tidak berhasil mengelak, Derry memang kekasihnya, namun lelaki itu tidak pernah menyentuh Fanni layaknya Tuan Osman.
Nafas Fanni sudah tidak teratur lagi, dia terlihat menikmati setiap inci bibir dan lidah Tuan Osman yang telah berhasil masuk kedalam rongga kenikmatan.
"Auh.."
Erangan itu semakin membuat pria berbulu lebat ini semakin menggilainya, dan bahkan mereka berdua yang sedang berada di ruangan tamu itu tidak sadar, Tissa telah masuk dan melihat mereka, karena malu Tissa berbalik lagi.
Tertabrak oleh kedua bodyguard yang sedang mengikutinya, Tissa wajahnya pun memerah, apa yang dia lihat tadi tampak tidak percaya, Fanni seberani itu, pikir Tissa.
"Kau kenapa??" tanya bodyguard itu.
"Bisa antarkan aku pulang??" tanya Tissa balik.
"Oh, baiklah!!" ucap bodyguard itu dengan cepat memenuhi keinginan Tissa.
Tuan Osman sudah berpesan, apa yang diinginkan Tissa maka kabulkan saja, ucap Tuan Osman kepada kedua bodyguard nya itu yang mengawal Tissa.
Kedua bodyguard itu pun segera keluar dan membawa Tissa kembali ke bandar kota Jakarta, Tissa tampak ketakutan dengan apa yang dia lihat, rasa tidak percaya dengan sahabat baiknya itu, Fanni bisa bertindak segila itu, pikir Tissa.
"Apa yang kau lihat, baiknya kau simpan!!" tiba-tiba bodyguard yang mengantarkannya pulang tersebut bersuara nada mengancam.
"Apa kau tahu??" tanya Tissa mencoba menyiasat.
"Itu sudah biasa!! ucap bodyguard itu singkat.
"Baik, sudah-sudah turunkan aku disini saja!!" perintah Tissa, lalu dipenuhi oleh bodyguard itu.
Akhirnya Tissa diturunkan oleh kedua bodyguard itu di tengah jalan, itu pun karena permintaan nya sendiri. Tissa kembali menaiki taksi yang lewat, keringat dingin bercucuran di dahinya.
Dia tampak benar-benar takut dengan perkataan kedua bodyguard tadi, entahlah menurutnya, dia simpan atau dia beranikan bertanya nanti kepada Fanni.
****
__ADS_1