
Setelah membeli minuman itu, Fanni pun langsung menuju ke atas kembali, dia tidak dengar suara panggilan dari Derry tersebut, karena dalam restoran tersebut sangat begitu riuhnya.
Saat Fanni ingin masuk kembali kedalam rumah sakit tersebut, sedangkan Derry dia yang panik saat ini, mencoba turun dan mencari dimana Fanni saat ini.
Satu sisi lagi, Tio dan Rendra telah pun sampai di dekat rumah sakit tersebut. Mereka memarkirkan mobil itu dengan cepat, Derry yang menuruni anak tangga tersebut, saat ini dia bertemu dengan Fanni disana.
"Derry, kenapa wajahmu panik? Ada apa Der?" tanya Fanni saat ini.
"Tidak apa-apa Fann, aku sangat mengkhawatirkan papamu, saat ini dokter masih belum keluar juga," jawab Derry membuat alasan.
"Oh..sabarlah sebentar lagi dokter pasti mengabari kita," jawab Fanni yang merangkul tangan Derry tersebut.
Satu sisi Soraya yang sangat sudah tidak sabar lagi saat ini, rasa khawatir nya begitu tinggi kepada Derry, dia mencoba keluar dari kamar itu, dan saat Derry dirangkul oleh Fanni, Soraya melihat jelas pemandangan yang sedikit menusuk hatinya itu.
Sedangkan ibu Tio mencoba mengejar Soraya, dan saat ini ibu Tio menarik tubuh Soraya kebelakang dengan cepat, dia tidak ingin rencana yang telah dibuat oleh Derry dan Tio itu gagal karena ketidak sabaran Soraya.
"Tante, kenapa Tante tiba-tiba narik Raya?" tanya Soraya dengan terkejutnya.
"Raya, kamu tahu kan, Derry sudah bilang apapun yang terjadi jangan keluar dari kamar ini, ayo kita masuk lagi," ucap ibu Tio kembali membawa Soraya.
"Iya Tante, tapi Raya.. benar-benar khawatir, tadi Soraya lihat Derry dan Fanni.." Berhenti disitu ucapan Soraya, ketika dia mengingat kembali apa yang dia lihat tadi.
"Raya, ingatlah Derry bukan sengaja melakukan hal itu, ini hanya sebuah permainan untuk memerangkap Fanni, jangan khawatir," ucapnya.
"Iya Bu, Raya juga tidak tahu, mengapa Raya menjadi sensitif seperti ini," ucapnya mengeluh kesal dengan sikapnya sendiri.
"Wajar saja nak, ibu juga dulu begitu, saat kehamilan melanda ibu menjadi wanita posesif, wanita yang cemburuan bahkan rasanya serba salah," jelas ibu Tio yang ingin membuat Soraya lebih tenang saat ini.
"Iya benar, Raya juga begitu Bu," ucap Soraya yang sedikit lega karena dia bisa sharing sesama wanita.
"Sabarlah, Ibu yakin urusan mereka sebentar lagi akan selesai, dan kalian bisa hidup dengan aman dan bahagia," jelas ibu Tio kembali.
Soraya mengangguk mendengar nasehat dari ibu Tio tersebut. Sedangkan Derry dan Fanni saat ini sudah pun kembali ketempat duduk dimana mereka menunggu dokter yang akan keluar dari ruangan Papa Fanni tersebut.
"Der, jangan pucat begini, ini minum dulu," ucap Fanni memberikan minuman dingin rasa jeruk itu kepada Derry.
__ADS_1
"Terima kasih Fann," jawabnya.
Derry sedikit berhati-hati apapun yang diberikan Fanni kepadanya, dia harus mewaspadai ini, dan melihat segel botol itu masih baru dan tidak terbuka sedikitpun, Derry pun segera meminum minuman tersebut.
Tio dan Rendra, telah memasuki rumah sakit tersebut, aparat kepolisian juga sudah mengepung daerah ini, mereka telah lebih awal memberitahukannya kepada para aparat, sedangkan anak buah mereka juga telah berjaga dengan ketat di luar.
Detik-detik ini, Tuan Osman mencoba beberapa kali memberontak, namun karena ikatan di tangannya itu cukup kuat, dia sulit untuk bergerak.
Saat mereka berjalan menuju dimana Derry dan Fanni berada, Derry pula sudah merangkul tubuh Fanni dengan sengaja, dia sengaja melakukan itu agar Fanni tidak kabur jika melihat Tio dan Rendra yang membawa Tuan Osman bersama mereka.
"Fann, sudah lama kita tidak mesra seperti ini, kamu ingat kan di jaman SMA dulu, kamu suka merangkul diriku," ucap Derry yang sengaja membuat Fanni terbuai dengan kenangan-kenangan itu.
"Iya Der, aku mengingat semuanya, aku masih ingat kamu juga selalu mengikuti kemanapun aku pergi, dan sekarang kita akan bersatu kan Der!" ucap Fanni lagi.
"Tentu saja Fann, ayo peluklah aku erat, aku merindukan saat-saat kita seperti ini," ucap Derry.
"Tadi kamu bilang malu dirumah sakit, sekarang minta dipeluk erat," jawab Fanni.
"Biarlah Fann, aku tidak peduli dengan orang disekitar, aku hanya ingin dirimu saat ini yang bisa membuatku tenang," ucap Derry lagi.
Langkah kaki dan suara ricuh sedikit terdengar saat ini. Namun Fanni yang sudah dibuat mabuk asmara oleh Derry itu, dia pun hanya terfokus dengan ucapan manis yang Derry telah buat kepadanya saat ini.
Mendengar suara yang cukup kuat itu, Fanni sedikit terkejut, dia familiar dengan suara tersebut. Dia ingin melepaskan pelukannya dari Derry, namun tangan Derry dengan cepat mencengkram bahu Fanni.
Dia tidak ingin melepaskan tubuh Fanni dari dekapannya itu. Fanni sedikit merasa sakit di lengannya, karena Cengkraman Derry cukup kuat mengenai bahunya itu.
"Fanni, untuk apa kalian membawaku disini!" umpat Tuan Osman kesal dan seketika Fanni terkejut melihat kehadiran mereka disana.
"Der, lepaskan aku! Kau membohongiku Der, kau penipu!" Umpatnya kesal.
Sedangkan saat ini, Fanni yang mencoba melarikan dirinya sendiri, Derry pula sekuat tenaga menahan tubuh Fanni itu, dan Rendra mulai membuka monitor yang terhubung oleh orang-orang suruhan ya dibawah.
"Kalian cepat naik keatas!" Perintah Rendra dengan tegasnya.
"Baik bos," jawab mereka.
__ADS_1
Orang-orang suruhan itu pun saat ini segera bergegas dengan cepat, Fanni mengucap dan mengutuk Derry habis-habisan saat ini, Derry pula mencoba mengeluarkan segala amarahnya kepada Fanni karena memang dari awal dia sudah geram dan muak dengan wanita satu ini.
"Kau bilang aku penipu! Kau lah yang membuat aku seperti ini, kau menghancurkan kehidupan bahagiaku Fanni, dan mamaku meninggal itu karena perbuatan kalian berdua!" Umpat Derry dengan kesalnya.
Fanni masih berusaha ingin melepaskan cengkraman tangan Derry itu, dia mencari ide lain untuk bisa lepas, kakinya yang jenjan tersebut kini menendang bagian intim Derry.
Lelaki itu meringis kesakitan, dan tangannya terlepas dari mencengkram Fanni tersebut. Saat ini pula, Fanni langsung lari dan menuruni tangga, namun para orang-orang suruhan itu juga sampai di pertengahan tangga juga.
Tio memegangi Tuan Osman, sedangkan Rendra mengejar Fanni dengan cepatnya.
"Tangkap dia!" Ucap Rendra yang melihat Fanni masih turun tangga.
Orang-orang suruhan mereka bukan sedikit, itulah mengapa, Fanni sulit mengelak dari para lelaki yang betubuh kekar tersebut.
"Lepaskan aku, lepaskan!" Umpatnya sangat kesal.
"Tidak, kau tidak akan bisa lari dari kami!" umpat Tio lagi dengan kesalnya.
"Bawa dia ke bawah, kita akan membawa dua penjahat ini ke kantor polisi sekarang!" ucap Derry dengan kesalnya.
Fanni dan Tuan Osman saat ini diturunkan kebawah kembali, mobil polisi yang sudah menunggu diluar itu, dengan cepat menyambut mereka yang baru saja keluar dari dalam rumah sakit itu.
"Lepaskan aku!" ucap mereka berdua.
"Kalian tidak layak diluar, kalian layaknya membusuk dipenjara!" umpat Derry begitu kesalnya.
"Der, maafkan aku Derry, bagaimana dengan papaku Der? apa kau tidak punya hati sama sekali!" Ucap Fanni saat ini.
"Kau diam, cepat jalan!" Suara Derry penuh kemarahan saat ini.
"Pak, ini mereka berdua yang sudah mengalihkan tanah keluarga saya dengan sengaja," jelas Derry yang saat ini menginting mereka berdua.
"Masukkan kedalam, kita akan proses dikantor," ucap pak polisi itu.
Mereka pun segera memasukan Fanni dan Osman kedalam mobil polisi itu dengan cepat, dan mereka pula mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Akankah tanah itu bisa kembali?
***