90 DAYS

90 DAYS
BERTUKAR POSISI


__ADS_3

Senyum mengembang di wajah Tuan Osman yang telah sampai di parkiran depan perusahaan itu saat ini. Dia pun masuk dengan kaki jenjangnya. Kacamatanya saat ini yang tergantung langsung dia pakai.


Dengan empat orang bodyguard yang menyusul di belakangnya. Sekarang jam baru menunjukkan pukul dua belas siang.


Tuan Osman  menuju lantai empat dimana Fanni  sedang berada saat ini. Dengan santainya kaki jenjang itu dia naikkan ke atas meja, tampaknya Fanni  begitu bahagia saat ini.


Sangat mudah dia pikir, tidak perlu menjadi, istri Derry  dia sudah pun mendapatkan ini, pikirnya lagi.


Tanpa mengetuk pintu saat ini langsung lelaki yang tinggi itu dengan di penuhi bulu-bulu halus tersebut sekarang tersenyum mengembang.


Kedua tangannya diangkat, memberikan kode kepada empat bodyguard tersebut, agar mereka berhenti berjalan sampai di ambang pintu saja.


Keempat bodyguard itu pun berhenti dan sekarang kembali berbalik arah dengan cepat. Langkahnya terhenti melihat kunci yang menggantung, kemudian Tuan Osman  menguncinya.


"Sayang! Wah, wah.. luar biasa!" ucapnya sedikit kuat dan Fanni  tersenyum puas saat ini.


Dia pun menurunkan kakinya yang berada di atas meja itu, sekarang memainkan pulpen yang ada di sisinya tersebut.


Tanpa disuruh, Tuan Osman  langsung duduk di hadapan Fanni  tersebut, dengan tersungging senyum licik keduanya.


"Mana ponselmu!!" ucap Fanni  dengan cepat.


"Eits! ini ponselku! tapi..." terhenti di situ sekarang.


"Ini milikku sekarang!" dokumen surat tanah itu pun dinaikkan ke atas meja tersebut.


" Wah, apa aku bisa melihatnya?" nada licik terdengar di sana.


Tidak ada jawaban kecuali alis yang naik sebelah. Mulai lah tangan dengan jari-jari yang panjang itu membuka helaian dokumen surat-surat tanah yang dia sewa saat ini.


"Wow, ini seperti mimpi rasanya! beberapa tahun ini aku hanya menyewa tanah itu dengan harga yang fantastis!  dan sekarang, kau mengubah segalanya sayang," ucap Tuan Osman  berdiri lalu memegang dagu lancip Fanni  tersebut.


" Hahaha, kau tidak tahu kan seorang Fanni  mampu melakukan apapun," sahut Fanni  pula dengan angkuhnya.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan kau lihat, ponselku ini," sambil menyodorkan ponsel itu ke tangan Fanni.


"Hei, kau pikir aku bodoh, aku bukan hanya menginginkan ponsel ini, mana memory cctvmu semuanya??" tanya Fanni  kembali.


"Tenang sayang, ini semua untukmu," sambil mengeluarkan apa yang di pinta oleh Fanni  tersebut.


Fanni  pun mencoba menghubungkannya ke laptop tersebut, dan sekarang dia tersenyum puas saat ini. Melihat video dan foto-foto tanpa busananya itu telah dia hapus sendiri sekarang.


Dengan cepat foto-foto itu dia musnahkan. Kemudian dia pun menandatangani dokumen tersebut dengan cepat Tuan Osman lah yang menjadi pemiliknya saat ini.


Sejenak Tuan Osman berpikir saat ini, dengan mudahnya tanah yang diidam-idamkan saat ini telah menjadi miliknya sekarang, melihat Fanni  begitu mudah menyerahkan segala, Tuan Osman  pun berpikir lagi masih banyak wilayah tanah yang bisa dia jadikan pabrik tanpa harus menyewa.


Ide liciknya memulai kembali liar saat ini. Dia mencoba berdiri sekarang, kali ini kakinya melangkah ke sebelah tempat duduk Fanni  tersebut. Diputarkannya kursi itu sekarang menghadap ke tubuh kekarnya yang di penuhi bulu-bulu halus itu.


"Sayang, apa kau tidak merindukan ini??" sambil tersenyum dan resleting itu telah diturunkannya.


Fanni  menggigit bibinya di pinggir, dan saat ini di menatap dengan menelan liurnya tersebut. Kemudian Fanni  yang memang selalu menyukai aset termahal milik Tuan Osman  tersebut, langsung saja melahapnya dengan cepat.


"Auh! terus sayang," sambil tangan yang berbulu itu menjalar kemana-mana.


Fanni  yang kesepian, dan bahkan dia yang sama sekali tidak pernah mendapatkan belaian dari Derry  tersebut, kini semakin liar saja bersama Tuan Osman.


Bertukar posisi saat ini, dia di atas Tuan Osman pula menduduki kursi CEO miliknya itu. Dalam pikiran liarnya saat ini dia masih saja tamak menginginkan perusahaan ini, tampaknya sebentar lagi dia akan bekerja sama dengan Fanni  sekarang.


Memasuki surga dunia itu dengan cepat, tanpa aba-aba lagi benda yang keras tapi bukan kayu itu bergantian masuk lalu setengah keluar.


Berdiri bukan tiang listrik, namun tubuh Fanni  seperti tersengat aliran kuat saat ini. Erangan kuat terdengar sangat memuaskan sekarang.


Permainan itu tidak cukup di kursi, Tuan Osman memapah Fanni  yang tampak lemas itu hingga ke sofa yang panjang sekarang. Bukit kembar dengan dua batu kerikil yang tampak kecil diantara bukit itu, dilahap oleh bibir tebal milik Tuan Osman  tersebut.


Lagi dan lagi, hanya itu yang keluar dari mulut Fanni  tersebut. Racauan demi racauan yang keluar dari mulut keduanya. Tuan Osman sengaja sekali saat ini.


Dan istrinya pula yang telah berada di bandara sekarang ini, masih menunggu hari dimana kehancuran Tuan Osman sebagai suaminya itu dan kehancuran Fanni  tersebut.

__ADS_1


Kemudian dia pun melangkah dengan cepat masuk ke dalam pesawat, ketika sudah ada aba-aba dari bandara pesawat yang ingin masuk sekarang.


Entah apa yang direncanakan oleh istri Tuan OSMAN  saat ini. Dendamnya membara di hati sekarang, kemudian pesawat itu melaju dengan kencang menembus awan saat ini.


Dan jam makan siang ini Tio dan Soraya  keluar dari ruangan untuk makan siang terlebih dahulu.


Dia turun langsung ke lantai bawah, melihat di sana ada beberapa orang bodyguard yang tampak pernah dikenali Soraya  tersebut.


Tak menghiraukan para lelaki yang bertubuh kekar itu menunggu di parkiran, ada empat yang ikut menunggu di depan ruangan CEO.


Dan sekarang ini mereka tampak membincangkan mengenai rapat setelah makan siang nanti. Ya! para investor berhak memilih siapa yang akan mereka ikuti.


Karena saham ini telah dipecah, maka nanti mereka akan mengabari Fanni  juga untuk menghadiri rapat bersama investor nantinya.


Dan sekarang, Tio  yang tampak begitu lapar melahap makanannya dengan cepat, jam pun sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua.


Sedangkan Tuan Rendra  yang bersiap-siap yang tampaknya memang ingin menghadiri meeting jam dua nanti, dia pun yang sudah berpakaian lengkap dan rapi itu, dengan cepat menyuruh supirnya mengantarkan dirinya tersebut ke perusahaan milik Derry  itu.


Karena bandar kota Jakarta memang padat penduduk, tidak tahu jam selalu akan mengalami kemacetan sepanjang perjalanan tersebut.


Dengan sabar supir Tuan Rendra  itu melewati jalanan dengan kemacetan yang cukup panjang itu.


Jika dihitung jarak rumah Tuan Rendra tidak begitu jauh dengan perusahaan iru, hanya butuh waktu dua puluh menit saja akan sampai, namun macat menjadikan semuanya lambat.


Dan saat ini Tuan Osman yang tampak puas itu dengan permainan yang membuat Fanni  tersebut tidak ingin melepaskan leher Tuan Osman itu dari genggamannya.


Lemas karena terlalu banyak terkena hentakan kenikmatan yang baru saja terjadi. Lebih dari satu jam mereka bergulat dengan peluh dan suara yang menambah hasrat yang hampir tertinggal di kerongkongan.


Tuntas! dua manusia yang puas dan tampak merayakan kemenangan mereka saat ini, terlena dan terbuai dengan kenikmatan duniawi yang haram.


Harta, jabatan merusak manusia yang tidak memiliki sedikit iman apapun itu. Soraya  dan Tio yang kali ini melangkah di lantai empat itu sudah pun berada di ambang pintu namun dihentikan oleh empat orang bodyguard yang berjaga di sana.


"Mau apa kalian??"

__ADS_1


*****


__ADS_2