
Hari sudah pun malam, pemakaman Mama Fanni telah selesai dan setelah di otopsi dokter menyatakan keracunan.
Diperiksa kembali racun itu adalah racun tikus. Terkejut seketika semua orang yang telah mendengar penjelasan dokter tadi siang.
Fanni yang masih tidak bisa dihubungi sejak siang tadi, akhirnya dia pun tidak melihat wajah Mamanya untuk terakhir kali.
Karena racun itu cukup keras, tubuh Mama Fanni sebaiknya dikuburkan dengan cepat, dan itu juga saran dari Tuan Frans, yaitu Papa Derry.
Mama Derry, seketika bingung melihat Fanni entah kemana hari ini. Padahal kata Mamanya yang tadi siang baru saja menjenguk Derry di rumahnya tersebut, mengatakan Fanni mengurung diri di kamar.
Namun, kata Papanya pula Fanni sudah keluar sejak awal pagi lagi, setelah sarapan. Entah yang mana yang harus didengar, pikir Mama Derry dalam hatinya.
Namun kenyataan yang ada sekarang memang Fanni tidak berada di rumah sama sekali. Para pelayat sudah satu persatu pulang ke rumah mereka masing-masing.
Hanya tinggal Tuan Frans dan mama Derry di sana. Jam pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka juga ingin segera berpamitan untuk pulang.
Sudah beberapa jam mereka telah meninggalkan Derry sendirian dirumah, hanya dititipkan dengan pembantu rumah saja.
Papa Fanni mengantarkan mereka sampai ambang pintu, tiba-tiba Fanni menabrak tubuh mama Derry di ambang pintu tersebut.
Dengan tubuh yang sedikit terhuyung karena rasa pusing di kepalanya, terlalu banyak tidur membuat tubuhnya tidak fit dan dia sangat terkejut melihat Tuan Frans dan mama Derry.
"Mama??" ucap Fanni tersenyum ragu.
"Fan, kamu dari mana??" tanya mama Derry saat ini.
"Dari.. dari rumah teman Ma," ucap Fanni berbohong.
Bajunya yang sedikit terbuka, dan tampak urak-urakan tersebut, tampaknya Tuan Osman mengantarkan Fanni ke rumah nya tersebut tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu.
"Oh.. iya kok udah mau pulang Ma??" tanya Fanni dan berdiri dengan tegaknya, takut kecurigaan ketiga orang tua ini berlebihan kepadanya.
Padahal kaki dan paha dia sudah sakit dan nyeri. Hantaman yang dilakukan Tuan Osman di lahan pertahanannya cukup kuat, membuat kakinya memang sedikit ngilu dan nyeri.
"Fan, kamu harus sabar dan tabau ya," ucap mama Derry masih dengan lembut.
"Ada apa lagi ini Ma??" tanya Fanni lebih bersuara ingin marah.
__ADS_1
Fanni sekarang berpikir, mama Derry akan mengatakan tentang pernikahan itu lagi, atau bahkan membatalkan pernikahan mereka dan tidak akan pernah terjadi.
Belum lagi Mama Derry menjawab, Fanni sudah naik angin kembali, dia menjerit sejadi-jadinya layaknya anak kecil berusia lima tahun.
"Tidak Ma! Tidak!!"
"Mama, pasti mau mengatakan kalau pernikahan itu tidak jadi selamanya bukan??" dengan nada sini dan mata penuh api ke arah Mama Derry tersebut.
"Fanni cukup!!" bentak Papanya.
"Pa, aku ini anak perempuanmu, apa Papa tidak merasa terhina??" ucap Fanni semakin meracau tidak jelas.
"Fanni, bukan itu yang ingin di katakan Mama Derry kepadamu, dengarkan dulu kami!! jangan memotong sesuka hatimu!!" bentak kembali Papanya.
"Lalu apa?? untuk apa mereka kembali??" dengan nada angkuh dan tampak masih marah.
"Maaf Fan, kalau kehadiran kami disini mengganggumu, tapi kami berdua hanya ingin melayat di rumah ini!" sekarang Tuan Frans yang angkat bicara, perkataan melayat itu menampar batin Fanni.
"Melayat?? siapa yang kalian Layat??" tanya Fanni bingung.
"Fan, Mama telah tiada," ucap Papa nya lemah.
"Kalian berbohong...." sambil terisak kuat dan membuat rambutnya teracak.
"Nak... bangunlah, jangan begini sayang," sambil mencoba membangunkan Fanni berdiri.
Akhirnya Fanni di papah masuk, seketika tubuhnya semakin melemah dan dia pingsan. Mereka sempat lagi memindahkan Fanni ke kamarnya, dan membiarkan Fanni pingsan di sana.
Karena malam semakin larut, akhirnya mereka pun memutuskan pulang, dan sudah keluar dari pagar rumah orang tua Fanni tersebut.
Di dalam mobil itu, mereka berdua berbincang sedikit bingung, dan dilema.
"Ma, apa menurutmu Derry masih mencintai Fanni??" tanya Tuan Frans kepada istrinya.
"Mama tidak tahu pasti Pa, tapi Derry dan Fanni itu memiliki cinta mati," jawab Mamanya pula.
"Memang dulu mereka cinta mati Ma, tapi kenapa Derry selalu tampak tidak semangat dengan perencanaan pernikahannya dengan Fanni, apa Mama tidak merasakannya??" tanya kembali Tuan Frans.
__ADS_1
"Iya Pa, Mama pikir karena pekerjaan sekarang ini, itu lah mengapa Derry masih ingin berkarir dahulu, tapi...untuk yang lainnya Mama tidak tahu Pa," jawab mama Derry.
"Ma...apa kita berdua yang sudah salah??" tanya kembali Tuan Frans.
"Maksud Papa??" wajah bingung dan penasaran terlihat dari raut mama Derry tersebut.
"Apa kita yang salah terlalu memaksa Derry untuk menikah, dan kita juga tampak mengekangnya??" kembali Tuan Frans seolah meminta pendapat kepada istrinya tersebut.
"Pa, jika memang Derry merasa seperti itu, dan sampai dia bisa terkena penyakit seperti ini, Mama menyerahkan apapun keputusannya kepada Derry saja Pa. Jika nanti dia sembuh, biarlah apapun keinginan nya kita penuhi," dengan nada lemah dan pasrah dari perkataan Mama Derry tersebut.
"Benar Ma! Papa kuga berpikir sejalan dengan Mama. Kebahagian itu biar anak kita yang pilih, kita tidak tahu beban apa yang telah Derry simpan sampai dia mengalami penyakit Linglung di usia yang masih terbilang muda," jelas Tuan Frans dengan mantapnya.
Lama berbincang, akhirnya mereka pun sampai di depan pagar rumahnya, kedua sekuriti itu bersiap untuk membukakan pagar untuk mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Derry pula masih termenung di kamarnya, tampaknya pembantu rumah itu lupa meletakkan obat tidur di minuman Derry, padahal mama Derry sudah memberitahukannya lebih awal sebelum dia berangkat menuju rumah sakit tadi siang.
"Bi... Derry dimana??" tanya Nyonya besar.
"Di kamar Nya," ucap pembantu itu.
"Sudah bibi kasih obat tidur bukan??" tanya kembali.
"Oalahh Nya..maaf bibi lupa!!" sambil tangan kanan menepuk jidat.
"Yasudah bi, lupa itu manusiawi. Bibi istirahat saja, ini sudah larut terima kasih sudah merawat Derry tadi," dengan sopannya mama Derry terhadap pembantu rumahnya tersebut.
"Iya baik Nya, permisi Tuan, Nyonya," sambil menunduk dan berlalu ke arah kamarnya.
Mereka berdua pun sebelum masuk kamar menyinggahi kamar Derry. Mama Derry membawakan segelas air dengan di campur obat tidur di dalam nya saat ini.
Menaiki anak tangga satu persatu, hingga telah sampai di ambang pintu kamar Derry tersebut. Mereka pun segera masuk tanpa mengetuk pintu.
"Pa.. mana Derry Pa??" panik melihat Derry tidak ada di ranjangnya.
"Ma.. jangan panik dulu, buka pintu kamar mandi," ucap Tuan Frans menyarankan.
Mereka berdua pun menuju kamar mandi, dan mendobraknya. Derry masih tidak terlihat juga.
__ADS_1
***