90 DAYS

90 DAYS
CCTV


__ADS_3

Hanya dibalas dengan anggukan saja oleh Derry  tersebut. Namun itu sudah lah sangat cukup baik dan membahagiakan hati Nyonya besar.


Malam minggu telah berakhir, Tio dan keluarga Soraya  sudah bertolak lebih awal pagi untuk kembali ke rumah. Setelah melaksanakan sholat subuh langsung bergerak membawa keluarga Soraya  pulang.


Liburan itu ternyata membawa petaka bagi Yumita  yang sempat hanyut, namun ada juga kesan lain dari liburan tersebut, Soraya  pula telah pulih kembali ingatannya sedikit demi sedikit.


Hanya hening yang ada di dalam mobil itu. Tidak ada siapa yang berani memulai pembicaraan, Tio  maupun Soraya  saling diam dan tampak berpikir sambil melamun melihat jalanan.


Hampir dua jam berlalu, tiba-tiba ponsel Tio berdering kuat, panggilan itu datang dari orang suruhannya yang dia tugaskan untuk menyelidiki siapa pengirim rahasia tersebut.


Melihat nama itu memanggil Tio langsung menepikan mobilnya tersebut. Tampak terkejut Soraya  seketika Tio berhenti dengan tiba-tiba.


Tidak bersuara, namun hanya lirikan sinis saja yang Tio dapatkan. Tanpa menghiraukannya Tio langsung menjawab panggilan iti dengan cepat.


"Hallo Niko, ada apa??" tanya TIO.


"Pak Tio, saya telah mendapatkan pengirim rahasia tersebut," ucap Niko yang di panggil TIO tadi.


"Apa?? Serius?? dengan nada kuat Tio mengatakan itu dan seketika Soraya  tampak penasaran begitu juga ketiga adiknya.


"Iya pak, saya berhasil meminta bagian pengiriman untuk memberikan cctv mereka pada tanggal pertama pengiriman itu, saya rasa bapak bisa melihatnya sendiri," jelas Niko lagi.


"Kirimkan kepada saya rekamannya sekarang juga!! ucap Tio memerintah.


"Apa namanya tidak ada??" tanya Tio kembali penasaran.


"Kalau namanya mereka tidak bisa memberikan pak, saya pun tidak tahu pasti alasannya mengapa," ucap Niko.


"Baiklah, cctv itu juga sangat berarti," jelas Tio kembali.


Niko yang sudah lebih awal melihatnya mengenal sosok Fanni. Karena Niko memang sudah lama menjadi tangan kanan Tio.


Keluarga Derry  maupun yang lainnya Niko juga mengenal mereka cukup baik. Niko adalah bagian dari intelijen negara yang ditugaskan untuk mengawal Tio dewan direksi perusahaan tanah terbesar di kota Jakarta itu.


Rekaman cctv yang sudah di salin Niko dan bisa dikirimkannya langsung melalui ponsel tersebut dengan cepat sampai di tangan Tio  saat ini.

__ADS_1


Soraya  yang penasaran dari tadi namun gengsi ingin bertanya hanya melirik saja ke arah Tio yang menunduk dan menunggu rekaman cctv itu sampai di ponselnya.


Karena dia berada di perkampungan jaringan sedikit sulit untuk membuka file video saat ini, namun Tio tetap optimis menunggunya.


"Kenapa berhenti lama sekali??" tanya Soraya  membuka suara, dia sengaja ingin mengetahui itu dari mulut Tio.


"Raya.. sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu!!" ucap Tio dengan penuh keyakinan dan percaya diri meyakinkan Soraya.


Pantang di lempar umpan ikan pun nyangkut di kail. Itu lah pepatah untuk kondisi saat ini, Soraya  sengaja membuka suaranya seolah protes karena lambatnya mobil berjalan, namun pada dasarnya dia penasaran dengan panggilan yang baru masuk di ponsel Tio tersebut.


"Memangnya ada apa??" tanya Soraya  lagi.


"Nah.. ini sudah masuk!!" ucap Tio menunjuk ponselnya.


"Rekaman apa itu??" sekarang nada itu berubah menjadi sangat penasaran dan tubuhnya condong ke kanan untuk melihat.


Tio pun meletakkan ponselnya ditengah-tengah. Ketiga adik Soraya  pun tampak ingin melihat apa yang ditunjukkan Robin kepada mereka.


Rekaman itu diputar dengan cepatnya dan bersama-sama mereka melihat jam pertama masih baik-baik saja tidak ada apapun masih orang yang tidak dikenal.


"Fanni!!" ucap Soraya  dan Tio bersamaan.


"Oh.. Tuhan.." bergetar suara Soraya  saat melihat Tio pelakukanya.


"Ya Tuhan.. Fanni!!" sial!! kenapa dia selicik itu!" umpat Tio kembali.


Soraya  menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tampaknya dia sangat terkejut dan bahkan menyesal. Ingatannya jatuh kepada Derry  yang saat itu ingin di tusuk dan dia usir.


Dia mencintai Derry  Sanjaya  dengan begitu dalamnya, hingga Kesalahpahaman diantara mereka menimbulkan kebencian yang amat besar membuat masalah berada di tengah mereka.


Menyesal, Ya! tentu dia menyesali perbuatanya. Apa yang dikatakan Derry  mungkin benar, dia belum mengenali Derry  sepenuhnya.


Jika janji tetaplah janji, jika rahasia tetap akan menjadi rahasia. Tidak mungkin Derry  sanggup melakukan hal itu kepada Soraya  yang bahkan di dekati Tio pun dia takut kehilangan.


Derry  memang orang yang dingin dan kasar, namun bukan berarti dia orang yang licik. melihat rekaman itu sudah paham dengan apa yang ditunjukkan Tio saat itu.

__ADS_1


Sumpah Derry  di atas Al Qur'an memang benar dia bukan pelakukanya, namun amarah dan hasutan setan sudah membuat Soraya  hampir durhaka terhadap suaminya tersebut.


Soraya  menangis kuat saat ini, ingatannya satu persatu muncul. Dari mulai Derry  datang dia langsung ingin membunuhnya, hingga Derry  diusir dengan begitu sadisnya lagi, dan Yumita  yang tampak sadar itu menyesal menuduh Derry  yang tidak-tidak.


"Raya.. apa melihat ini kamu masih ingin bercerai dengan Derry??" tanya Tio kembali.


Masih suara tangisan yang terdengar saat ini, Soraya  menggeleng lemah dan dia masih merasakan sesak di hatinya.


"Raya.. hari ini kita akan berangkat ke kota Jakarta, dan kita bawa semua adik-adik tinggal di kota Jakarta, biarkan Yumita  kuliah disana, dan adik kedua beserta adik ketiga  juga pindah bersekolah disana," ucap Tio memberikan saran.


"Tapi.." tersekat suara Soraya  saat ini, bahkan terdengar parau karena dia menangis sampai sesenggukan.


"Apa yang membuatmu khawatir lagi??" tanya Tio lagi.


"Aku takut Tio, takut.. dengan Tuan Frans  dan Nyonya besar pasti tidak akan menerimaku," jelas Soraya  sekarang nafasnya berubah menjadi pelan.


"Raya.. percayakan hal ini kepadaku, aku akan mengurusnya. Dan kau harus segera menyelamatkan Derry  saat ini," ucap Tio lagi.


"Derry?? memangnya kenapa Derry..." kembali tangis dan khawatir menyatu kembali.


"Seperti yang ku katakan semalam, Derry  terkena penyakit Linglung, bahkan pernikahannya pun sudah dibatalkan," jelas Tio kembali.


Soraya  hanya menangis mendengar itu, tampaknya kesadaran dirinya sudah kembali semula, rasa cinta yang pernah tertutup oleh kebencian, sedikit demi sedikit tergeserkan.


Cinta Soraya  begitu dalam, di lubuk hatinya hanya terkenang Derry  seorang. Karena kebencian berawal dari cinta yang mendalam.


Tio memang bisa membuatnya selalu percaya diri, namun terbayang wajah baik Tuan Frans  dan mama Derry  diingatan Soraya, jika nanti mereka tahu, pasti mereka akan berubah menjadi marah, atau bahkan menghinanya, pikiran Soraya  melayang jauh kesana.


"Raya... jangan dipikir apa yang belum terjadi, sekarang kita harus segera berangkat, dan untuk semua perawatan Yumita, biarkan dia dirawat di rumah sakit VIP yang menyewa tanah perusahaan kita," ucap Tio kembali.


Soraya hanya mengangguk pelan dan dia tampak setuju apa yang dikatakan Tio kepadanya. Dan sekarang Tio yang tadi meminggirkan mobil rental itu, melaju dengan cepatnya.


Soraya  sudah damai dengan keadaan, namun rasa takut masih menyelimutinya saat ini. Apa aku akan sanggup melihat kondisinya?? tanya Soraya  dalam hati.


Dia meminta hal kecil saja aku tidak sanggup menolaknya, apa lagi melihat dia sakit tidak berdaya, ini salahku!!" umat Soraya  menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


Apa aku menjadi istri durhaka?? antara jiwa dan hati sedang berdialog.


__ADS_2