
Malam yang sangat buruk untuk Mama Derry dan Fanni saat ini. Entah harus kepada siapa Fanni mengadu sekarang.
Kepalanya begitu sakit memikirkan masalah yang baru saja datang tadi siang. Fanni pun keluar, tujuannya malam ini ingin pergi ke clab malam sendirian untuk menghilangkan rasa sakit hatinya kepada Papanya itu sendiri.
Dengan langkah cepat dia turun dan tampak di ruangan tengah Papanya pembantunya itu sedang asyik berduan sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi sekarang.
"Sial!!" umpatnya kesal.
Dia yang tadi berpikir ingin hanya pergi ke klab malam kali ini dia naik kembali menuju kamarnya dengan cepat.
Masuk dalam kamar lalu mengemasi barangnya tersebut. Sakit hati Fanni Itu bukan tanggung-tanggung, rasanya dia ingin membunuh Papanya dan pembantu tersebut.
Dan setelah mengingat kematian mengenai Mamanya ini, Fanni yang telah mengemasi barangnya tersebut kembali turun dan menyeret koper coklat itu.
Fanni membuang wajahnya, melewati Papanya dan pembantu itu yang tampak seperti Nyonya besar disana.
Mendengar suara kaki Fanni Papanya tersebut pun berbalik badan, kemudian mencoba memanggil Fanni tersebut.
"Fanni! Fan.. kau mau kemana??" teriak Papanya tersebut namun tidak ada sahutan sama sekali dari bibir Fanni.
Langkahnya dia percepat, mobil online yang sudah dia pesan dari pads tadi telah pun menunggu di depan pagar. Papanya yang ingin mengejar Neila di hentikan oleh pelukan Meri tersebut.
"Sudah lah biarkan saja anak kurang ajar itu pergi," ucap Meri sengaja berbuat demikian.
"Tapi.. sayang.." terhenti di situ.
Mulut Papa Fanni telah di ***** habis oleh bibir sensual milik pembantu ganas itu. Sekarang mereka yang baru hangat-hangat nya menjadi pengantin baru tersebut pun berulang kali melakukan olahraga nikmat itu.
Kemudian Fanni yang telah masuk ke dalam mobil itu, menghela nafas panjang, dan lagi-lagi dia tidak berhasil mengawal butiran air yang ingin tumpah tersebut.
"Non, kita ke klab malam??" tanya sang supir sedikit bingung karena Fanni membawa koper menangis pula di dalam mobil itu.
"Tidak pak, kita ke arah selatan saja," ucap Fanni dengan cepat.
Fanni yang dari tadi menahan isakanya tersebut, kini berubah pikiran. Dia akan ke rumah Derry malam ini. Mengingat rumah itu pun akan menjadi miliknya nanti, pikir Fanni.
Lagi pula sekarang Mama Derry benar-benar di pihaknya saat ini. Dia pun ingin meluahkan kesedihan di sana, walaupun Mama Derry tidak berada di rumah itu, setidaknya dia bisa tenang sendirian tanpa mendengar suara Papanya atau pembantu kurang ajar itu, ucap Fanni terus menerus menyimpan dendam di hatinya.
Perjalanan itu sudah hampir larut. Sekarang menunjukkan pukul sepuluh lebih, tampak memang, bandar kota Jakarta masih kelap kelip saat ini.
Kemudian lagi Mama Derry yang sedang gundah gulana dan bersedih ini, menatap langit sendirian di balkon kamarnya.
__ADS_1
Hampir empat puluh menit, Fanni yang telah memberitahukan alamat rumah Derry tersebut dengan mudah di dapatkan oleh supir itu. Fanni pun membayarnya lalu segera turun.
Sekuriti yang mengenali Fanni tersebut pun langsung membukakan pintu pagar tersebut. Kemudian Fanni melangkah cepat dengan gaya angkuhnya itu.
Sangat bingung sekuriti di sana, mereka sudah tahu Derry telah pun memiliki istri, namun Fanni tampak selalu berada di sekeliling keluarga ini, pikir para sekuriti itu.
Karena orang bawahan, mereka hanya diam dan tak berani berkata apapun selain melakukan pekerjaan mereka dengan baik saja.
Dan Fanni yang sudah memasuki rumah itu sekarang berada di ruang tamu, pembantu yang mengenal Fanni itu menghampiri Fanni dengan cepat dan menanyakan apa yang ingin Fanni minum saat ini.
"Non Fanni ingin minum apa??" tanya bibi itu.
"Buatkan saya jus mangga saja bi," ucapnya.
"Baik Non, apa mau saya panggilkan Nyonya juga??" tanya bibi itu lagi.
"Mama ada di rumah Bi??" tanya Fanni tampak sedikit senang.
"Iya Non, tadi Nyonya pulang," jawab pembantu itu lagi.
Dan sekarang bibi itu pun ke dapur terlebih dahulu, kemudian dia membuatkan minuman apa yang di pinta oleh Fanni tersebut. Dan setelah itu bibi itu kembali ke ruangan itu.
"Aduh.. siapa lagi itu," keluh mama Derry lagi.
Cekrek..
Pintu dibuka, kemudian mama Derry sangat malas saat ini melangkah dan membukakan pintu itu.
"Ada apa bi??" tanya Mama Derry sedikit lemah.
"Nyonya, di bawah ada non Fanni," ucap bibi tersebut.
"Fanni kesini??" tanya bibi tersebut terkejut.
"Iya Nya, ada di bawah non Fanni nya," ucap bibi itu lagi.
"Yasudah sebentar, nanti saya akan turun," ucapnya dengan tersenyum.
Mendengar nama Fanni di sebut, membuat Mama Derry itu langsung memperbaiki wajahnya tersebut. Dia pun segera turun menuju bawah dan menemui Fanni.
Dengan menuruni anak tangga dengan cepat, Mama Fanni pun sampai di ruangan tamu. Begitu Fanni melihat Mamanya sampai, dia pun langsung memeluk Mama Derry tersebut dan tangisnya pecah.
__ADS_1
"Mah," ucap nya menangis.
"Kenapa sayang, ada masalah kah??" tanya Mama Derry lagi.
"Cup.. cup! jangan menangis ceritalah," ucap Mama Derry lagi.
"Ma, boleh tidak Fanni menginap disini??" tanya Fanni kembali.
"Boleh sayang, tanpa kamu minta izin juga rumah ini akan terbuka untukmu," ucap Mama Fanni tersebut.
"Terima kasih Ma," ucapnya.
"Ayo duduklah dulu," pujuk Mama Derry tersebut.
Fanni pun akur, kemudian dia duduk dan meneguk jus mangga yang telah di buatkan oleh bibi tersebut.
"Ada masalah apa sebenarnya??" tanya Mama Derry lagi.
"Ma, ada yang membuat Fanni penasaran," ucapnya.
"Katakan saja sayang," ucap Mama Derry itu.
"Apa Mama tahu apa penyebab kematian Mama Fanni??" tanya Fanni tersebut.
Ya! yang Fanni tahu saat itu adalah Mama Derry dan Tuan Frans berada di saat hari kematian Mamanya tersebut, besar kemungkinan Mama Derry pasti tahu, pikir Fanni lagi.
Mama Derry yang sudah diberitahukan oleh Papa Fanni tersebut pun, kini tampak ragu dan bingung, apa harus dia katakan atau tidak, pikir Mama Derry lagi.
"Ma, kenapa diam? apa yang ada Mama sembunyikan??" tanya Fanni kembali.
"Sayang, memangnya ada masalah apa? tiba-tiba saja kamu menanyakan hal ini," ucap Mama Fanni lagi.
"Ma, berkatalah dengan jujur, kalau masih ada yang mama rahasiakan yasudah, Fanni tidak jadi menginap disini," ancam Fanni kembali.
"Sayang.. jangan begitu, mamamu meninggal karena keracunan," ucap Mama Fanni tersebut.
"Keracunan?? berarti bukan serangan jantung dadakan??" tanya Fanni terkejut dan dia bersandar saat ini di kursi.
"Fan.. memangnya ada apa ini?? bicaralah Fanni," ucap Mama Derry tampak khawatir.
*****
__ADS_1