90 DAYS

90 DAYS
FANNI KELUAR DARI RUMAH


__ADS_3

Malam yang sangat buruk untuk Mama Derry  dan Fanni  saat ini. Entah harus kepada siapa Fanni  mengadu sekarang.


Kepalanya begitu sakit memikirkan masalah yang baru saja datang tadi siang. Fanni pun keluar, tujuannya malam ini ingin pergi ke clab malam sendirian untuk menghilangkan rasa sakit hatinya kepada Papanya itu sendiri.


Dengan langkah cepat dia turun dan tampak di ruangan tengah Papanya pembantunya itu sedang asyik berduan sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi sekarang.


"Sial!!" umpatnya kesal.


Dia yang tadi berpikir ingin hanya pergi ke klab malam kali ini dia naik kembali menuju kamarnya dengan cepat.


Masuk dalam kamar lalu mengemasi barangnya tersebut. Sakit hati Fanni  Itu bukan tanggung-tanggung, rasanya dia ingin membunuh Papanya dan pembantu tersebut.


Dan setelah mengingat kematian mengenai Mamanya ini, Fanni  yang telah mengemasi barangnya tersebut kembali turun dan menyeret koper coklat itu.


Fanni  membuang wajahnya, melewati Papanya dan pembantu itu yang tampak seperti Nyonya besar disana.


Mendengar suara kaki Fanni  Papanya tersebut pun berbalik badan, kemudian mencoba memanggil Fanni  tersebut.


"Fanni! Fan.. kau mau kemana??" teriak Papanya tersebut namun tidak ada sahutan sama sekali dari bibir Fanni.


Langkahnya dia percepat, mobil online yang sudah dia pesan dari pads tadi telah pun menunggu di depan pagar. Papanya yang ingin mengejar Neila di hentikan oleh pelukan Meri tersebut.


"Sudah lah biarkan saja anak kurang ajar itu pergi," ucap Meri sengaja berbuat demikian.


"Tapi.. sayang.." terhenti di situ.


Mulut Papa Fanni  telah di ***** habis oleh bibir sensual milik pembantu ganas itu. Sekarang mereka yang baru hangat-hangat nya menjadi pengantin baru tersebut pun berulang kali melakukan olahraga nikmat itu.


Kemudian Fanni  yang telah masuk ke dalam mobil itu, menghela nafas panjang, dan lagi-lagi dia tidak berhasil mengawal butiran air yang ingin tumpah tersebut.


"Non, kita ke klab malam??" tanya sang supir sedikit bingung karena Fanni  membawa koper menangis pula di dalam mobil itu.


"Tidak pak, kita ke arah selatan saja," ucap Fanni  dengan cepat.


Fanni  yang dari tadi menahan isakanya tersebut, kini berubah pikiran. Dia akan ke rumah Derry  malam ini. Mengingat rumah itu pun akan menjadi miliknya nanti, pikir Fanni.


Lagi pula sekarang Mama Derry  benar-benar di pihaknya saat ini. Dia pun ingin meluahkan kesedihan di sana, walaupun Mama Derry  tidak berada di rumah itu, setidaknya dia bisa tenang sendirian tanpa mendengar suara Papanya atau pembantu kurang ajar itu, ucap Fanni  terus menerus menyimpan dendam di hatinya.


Perjalanan itu sudah hampir larut. Sekarang menunjukkan pukul sepuluh lebih, tampak memang, bandar kota Jakarta  masih kelap kelip saat ini.


Kemudian lagi Mama Derry  yang sedang gundah gulana dan bersedih ini, menatap langit sendirian di balkon kamarnya.

__ADS_1


Hampir empat puluh menit, Fanni  yang telah memberitahukan alamat rumah Derry  tersebut dengan mudah di dapatkan oleh supir itu. Fanni  pun membayarnya lalu segera turun.


Sekuriti yang mengenali Fanni  tersebut pun langsung membukakan pintu pagar tersebut. Kemudian Fanni  melangkah cepat dengan gaya angkuhnya itu.


Sangat bingung sekuriti di sana, mereka sudah tahu Derry  telah pun memiliki istri, namun Fanni  tampak selalu berada di sekeliling keluarga ini, pikir para sekuriti itu.


Karena orang bawahan, mereka hanya diam dan tak berani berkata apapun selain melakukan pekerjaan mereka dengan baik saja.


Dan Fanni  yang sudah memasuki rumah itu sekarang berada di ruang tamu, pembantu yang mengenal Fanni  itu menghampiri Fanni  dengan cepat dan menanyakan apa yang ingin Fanni  minum saat ini.


"Non Fanni  ingin minum apa??" tanya bibi itu.


"Buatkan saya jus mangga saja bi," ucapnya.


"Baik Non, apa mau saya panggilkan Nyonya juga??" tanya bibi itu lagi.


"Mama ada di rumah Bi??" tanya Fanni  tampak sedikit senang.


"Iya Non, tadi Nyonya pulang," jawab pembantu itu lagi.


Dan sekarang bibi itu pun ke dapur terlebih dahulu, kemudian dia membuatkan minuman apa yang di pinta oleh Fanni  tersebut. Dan setelah itu bibi itu kembali ke ruangan itu.


"Aduh.. siapa lagi itu," keluh mama Derry  lagi.


Cekrek..


Pintu dibuka, kemudian mama Derry  sangat malas saat ini melangkah dan membukakan pintu itu.


"Ada apa bi??" tanya Mama Derry  sedikit lemah.


"Nyonya, di bawah ada non Fanni," ucap bibi tersebut.


"Fanni  kesini??" tanya bibi tersebut terkejut.


"Iya Nya, ada di bawah non Fanni  nya," ucap bibi itu lagi.


"Yasudah sebentar, nanti saya akan turun," ucapnya dengan tersenyum.


Mendengar nama Fanni  di sebut, membuat Mama Derry  itu langsung memperbaiki wajahnya tersebut. Dia pun segera turun menuju bawah dan menemui Fanni.


Dengan menuruni anak tangga dengan cepat, Mama Fanni  pun sampai di ruangan tamu. Begitu Fanni  melihat Mamanya sampai, dia pun langsung memeluk Mama Derry  tersebut dan tangisnya pecah.

__ADS_1


"Mah," ucap nya menangis.


"Kenapa sayang, ada masalah kah??" tanya Mama Derry  lagi.


"Cup.. cup! jangan menangis ceritalah," ucap Mama Derry  lagi.


"Ma, boleh tidak Fanni  menginap disini??" tanya Fanni  kembali.


"Boleh sayang, tanpa kamu minta izin juga rumah ini akan terbuka untukmu," ucap Mama Fanni  tersebut.


"Terima kasih Ma," ucapnya.


"Ayo duduklah dulu," pujuk Mama Derry  tersebut.


Fanni  pun akur, kemudian dia duduk dan meneguk jus mangga yang telah di buatkan oleh bibi tersebut.


"Ada masalah apa sebenarnya??" tanya Mama Derry  lagi.


"Ma, ada yang membuat Fanni  penasaran," ucapnya.


"Katakan saja sayang," ucap Mama Derry  itu.


"Apa Mama tahu apa penyebab kematian Mama Fanni??" tanya Fanni  tersebut.


Ya! yang Fanni  tahu saat itu adalah Mama Derry  dan Tuan Frans  berada di saat hari kematian Mamanya tersebut, besar kemungkinan Mama Derry  pasti tahu, pikir Fanni  lagi.


Mama Derry  yang sudah diberitahukan oleh Papa Fanni  tersebut pun, kini tampak ragu dan bingung, apa harus dia katakan atau tidak, pikir Mama Derry  lagi.


"Ma, kenapa diam? apa yang ada Mama sembunyikan??" tanya Fanni  kembali.


"Sayang, memangnya ada masalah apa? tiba-tiba saja kamu menanyakan hal ini," ucap Mama Fanni  lagi.


"Ma, berkatalah dengan jujur, kalau masih ada yang mama rahasiakan yasudah, Fanni  tidak jadi menginap disini," ancam Fanni  kembali.


"Sayang.. jangan begitu, mamamu meninggal karena keracunan," ucap Mama Fanni  tersebut.


"Keracunan?? berarti bukan serangan jantung dadakan??" tanya Fanni  terkejut dan dia bersandar saat ini di kursi.


"Fan.. memangnya ada apa ini?? bicaralah Fanni," ucap Mama Derry  tampak khawatir.


*****

__ADS_1


__ADS_2