
Kondisi Fanni juga melemah, semenjak dia mendengar kematian Mamanya tanpa kehadiran dirinya saat itu. Fanni yang pingsan sejak malam itu tidak sadarkan diri bahkan sampai menjelang pagi.
Papanya semakin khawatir juga dengan Fanni, denyut nadinya yang semakin kian melemah dan sekarang akhirnya dia berada di rumah sakit.
Jam lima sore tadi baru Fanni sadar, namun kondisinya masih memburuk. Tampak stres di wajahnya, namun dia masih ingat semuanya.
Papanya yang duda itu kini menunggu Fanni sendirian di ruangan tersebut. Tuan Frans dan mama Derry juga sudah diberitahukan.
Tadi siang mereka memang sempat menjenguk Fanni sebentar, namun hanya dua jam saja mereka disana. Mereka tidak ingin meninggalkan Derry terlalu lama lagi.
Semua biaya Fanni di rumah sakit mewah tersebut keluarga Derry yang membayarnya dan sudah di lunasi hingga sampai seminggu.
"Pa.. Fan ingin pulang," ucapnya menoleh ke kiri dimana Papanya berada.
"FAN, kondisimu belum pulih, bersabar lah sedikit dan jangan egois!!" dengan tegas Papanya kembali berbicara.
"Pa, kenapa waktu itu Papa tidak menunggu Fan pulang baru menguburkan Mama??" tanya Fanni pula membahas tentang kematian Mamanya kemarin.
"Tidak bisa Fanni, yang di takutkan nanti Mayat Mamamu bisa membusuk efek racun itu sangat berbahaya, itu lah mengapa harus segera dikuburkan," ucapnya.
"Kenapa Papa tidak mencariku??" tanya Fanni lagi seolah terus menyudutkan Papanya lagi.
"Mencarimu?? kau gila apa!! ponselmu saja beribu kali Papa hubungi tidak menyahut, mau dimana papa mencarimu!! lagian, kemarin kau pergi kemana??" tanya kembali Papa Fanni tersebut.
Mendengar pertanyaan itu wajah Fanni berubah drastis, dia pun agak sulit menjawabnya. Ya! karena dia kemarin lagi sedang berada di dekapan Tuan Osman, dan akan sangat sulit jika dia melepaskan diri kalau bukan Tuan Osman sendiri yang melepaskannya.
"Kenapa diam?? kau pasti berbohong kalau kau ke rumah temanmu waktu itu," kembali lagi Papanya bicara, tampak kali ini Padanya itu menyudutkan Fanni bergantian.
"Sudah Ku bilang Pa, aku ke rumah teman! sudah lah, jangan bahas itu lagi!!" tampak wajahnya yang menyembunyikan rahasia.
"Fanni, kau yang membahasnya duluan, dan kau selalu menyudutkan Papa," ucap pria itu yang sekarang telah menjadi duda.
Dia tidak perlu mendapat jawaban lagi dari Fanni. Papanya pun keluar, karena melihat jam memang sudah jam delapan malam dia ingin mencari makan dulu sejenak.
Fanni pula dia suruh suster menyuapinya. Papa Fanni keluar malam itu dari ruangannya tersebut menuju cafe yang tampaknya di tengah keramaian kota Jakarta.
Tanpa memperdulikan anaknya tersebut, rasa malas selalu melanda jika dia sudah berdebat dengan Fanni yang selalu egois dan ingin menang sendiri, pikirnya.
__ADS_1
Malam ini adalah malam minggu, dia pin sudah setengah perjalanan menuju cafe yang sudah dia janjikan oleh seorang wanita tampak menunggunya di sana.
Setengah perjalanan dan tidak menunggu lama, dia pun sampai langsung turun dengan rambut di susun rapi ke belakang, tampak seperti anak muda kembali.
Mengarah ke meja yang berdekatan dengan outdoor, lampu kelap-kelip yang indah menambah hasrat berkencan lebih hidup lagi.
"Mas... kenapa lama sekali," suara manja itu terus menyambutnya.
Ciuman pipi kanan dan kiri tidak lupa juga. Lalu dia duduk berhadapan dengan wanita berbadan sintal itu, yang menggunakan dress berwarna merah namun panjangnya di atas lutut, tampak memang menggoda gairah lelaki normal.
"Maaf sayang, tadi aku harus menjaga Fanni sebentar," ucapnya.
"Kamu sudah pesan makanan??" tanya Papa Fanni.
"Aku menunggumu sayang," ucapnya.
"Baiklah, ayo kita pesan," sambil tangan melambai memanggil pelayan di cafe tersebut.
Setelah mereka selesai memesan makanan, kembali lagi Papa Fanni bertingkah layaknya anak muda yang baru hangat menjalin cinta.
Tangannya berada di atas memang, namun kakinya merayap kemana-mana saat ini, macam tidak mengenal tempat saja dia.
"Kamu tadi keluar tidak diketahui yang lainnya kan??" tanya Papa Fanni kembali.
"Tenang saja Mas, aman kok," ucapnya.
Ya! mereka memang satu rumah, karena wanita itu tak lain tak bukan adalah Meri sang pembantu selingkuhan Papa Fanni tersebut. Kematian Mamanya yang terminum racun tidak diselidiki oleh Papa Fanni tersebut.
Meri melarangnya, jika sampai Papa Fanni menyelidikinya Meri tidak ingin melayani Papa Fanni itu lagi, ancam Meri saat itu.
Bahkan mereka berdua dalam dekat ini merencanakan untuk menikah secara diam-diam dahulu, dan jangan sampai Fanni mengetahuinya.
Di dalam ruangan tersebut tampaknya Fanni begitu bosan, tidak ada orang yang menjenguknya sama sekali selain kedua orang tua Derry itu pun tadi siang.
Akhirnya dia membuka ponselnya, mencari nama Tissa di layar tersebut. Karena kemarin dia pergi bersama Tissa namun pulang tidak menemukan Tissa lagi.
Kemana dia??" tanya Fanni dalam hatinya.
__ADS_1
Tut.. tut...
Hanya berdering dua kali, panggilan itu pun langsung dijawab oleh Tissa. Kemarin wanita satu itu tampak ketakutan melihat adegan panas Fanni dan Tuan Osman.
"Hallo Fanni, ada apa??" tanya Tissa langsung.
"Kau dimana?? temani aku disini dong!!" pinta Fanni dengan suara sedikit memelas.
"Aku sedang sibuk Nei, kau dimana???" tanya Tissa kembali.
"Aku di rumah sakit sekarang, kau cepat kesini ya," ucapnya.
Tissa sengaja mengatakan hal tersebut, dia tidak ingin terlibat masalah jika berdekatan dengan Fanni. Takut mulutnya yang sering keceplosan tersebut akan mengatakan hal kemarin, dan membuat Fanni malu dan marah nanti, bisa-bisa Fanni mengadukan dengan om-om berbulu itu, pikir Tissa sambil melamun.
"Hei.. kenapa diam!!" teriak Fanni dari panggilan itu.
"Hmmm maaf Fan, aku tidak bisa," panggilan terus saja sengaja di akhiri oleh Tissa tersebut.
Tampak raut wajah Fanni berubah menjadi marah. Fanni tidak suka dengan penolakan siapapun, namun kali ini teman baiknya sendiri menolaknya mentah-mentah.
"Sial!! lihat saja kau Tissa!!" umpatan kesal.
Fanni selalu begitu, jika hasratnya tidak dipenuhi, dia pun menyimpan dendam kepada orang tersebut, suatu saat dia akan membalas perbuatan orang itu kepadanya.
Malam minggu itu pula Tio dan yang lainnya masih berada di villa, besok pagi mereka baru akan bergerak menuju rumah Soraya.
Dan malam ini pula kedua orang tua Derry menghabiskan malam mereka bersama anak semata wayangnya tersebut. Derry terus saja diobati, bahkan bukan hanya dokter yang dipanggil di rumah ini. Tim ruqyah juga ikut datang ke rumah tersebut, untuk mengobati penyakit linglung Derry itu.
Dokter kata memang karena terlalu banyak pikiran, namun kedua orang tua Derry tidak tahu pasti hal apa yang membuat Derry berpikir sekeras itu sampai tidak menemukan solusinya. Dan karena pembantu rumah mereka mempercayai hal-hal tersebut dia pun merekomendasikan tim ruqyah untuk mengobati Derry.
Hanya dengan doa-doa dan lantunan ayat suci Al-quran mereka bersama di hadapan Derry yang tampak kosong tidak memandang apapun.
Cahaya itu datang tiba-tiba, Derry tampak menoleh ke kiri dan kanan sekarang, yang biasanya pandangannya selalu lurus kedepan, matanya kosong mulutnya tidak pernah terbuka.
Melihat anaknya mau menoleh tampak ada respon tersebut. Sedikit lega karena progres Derry terlihat sedikit demi sedikit. Lantunan ayat suci Al-quran itu membuat jiwa yang gelisah menjadi tenang.
"Der.. Nak, kamu kenal Mama kan??" tanya mama Derry yang berada di sampingnya tersebut.
__ADS_1
*****