90 DAYS

90 DAYS
PERNIKAHAN YANG INGIN DIPERCEPAT


__ADS_3

Kondisi Fanni  juga melemah, semenjak dia mendengar kematian Mamanya tanpa kehadiran dirinya saat itu. Fanni  yang pingsan sejak malam itu tidak sadarkan diri bahkan sampai menjelang pagi.


Papanya semakin khawatir juga dengan Fanni, denyut nadinya yang semakin kian melemah dan sekarang akhirnya dia berada di rumah sakit.


Jam lima sore tadi baru Fanni  sadar, namun kondisinya masih memburuk. Tampak stres di wajahnya, namun dia masih ingat semuanya.


Papanya yang duda itu kini menunggu Fanni  sendirian di ruangan tersebut. Tuan Frans  dan mama Derry  juga sudah diberitahukan.


Tadi siang mereka memang sempat menjenguk Fanni  sebentar, namun hanya dua jam saja mereka disana. Mereka tidak ingin meninggalkan Derry  terlalu lama lagi.


Semua biaya Fanni  di rumah sakit mewah tersebut keluarga Derry  yang membayarnya dan sudah di lunasi hingga sampai seminggu.


"Pa.. Fan ingin pulang," ucapnya menoleh ke kiri dimana Papanya berada.


"FAN, kondisimu belum pulih, bersabar lah sedikit dan jangan egois!!" dengan tegas Papanya kembali berbicara.


"Pa, kenapa waktu itu Papa tidak menunggu Fan pulang baru menguburkan Mama??" tanya Fanni  pula membahas tentang kematian Mamanya kemarin.


"Tidak bisa Fanni, yang di takutkan nanti Mayat Mamamu bisa membusuk efek racun itu sangat berbahaya, itu lah mengapa harus segera dikuburkan," ucapnya.


"Kenapa Papa tidak mencariku??" tanya Fanni  lagi seolah terus menyudutkan Papanya lagi.


"Mencarimu?? kau gila apa!! ponselmu saja beribu kali Papa hubungi tidak menyahut, mau dimana papa mencarimu!! lagian, kemarin kau pergi kemana??" tanya kembali Papa Fanni  tersebut.


Mendengar pertanyaan itu wajah Fanni  berubah drastis, dia pun agak sulit menjawabnya. Ya! karena dia kemarin lagi sedang berada di dekapan Tuan Osman, dan akan sangat sulit jika dia melepaskan diri kalau bukan Tuan Osman sendiri yang melepaskannya.


"Kenapa diam?? kau pasti berbohong kalau kau ke rumah temanmu waktu itu," kembali lagi Papanya bicara, tampak kali ini Padanya itu menyudutkan Fanni  bergantian.


"Sudah Ku bilang Pa, aku ke rumah teman! sudah lah, jangan bahas itu lagi!!" tampak wajahnya yang menyembunyikan rahasia.


"Fanni, kau yang membahasnya duluan, dan kau selalu menyudutkan Papa," ucap pria itu yang sekarang telah menjadi duda.


Dia tidak perlu mendapat jawaban lagi dari Fanni. Papanya pun keluar, karena melihat jam memang sudah jam delapan malam dia ingin mencari makan dulu sejenak.


Fanni  pula dia suruh suster menyuapinya. Papa Fanni  keluar malam itu dari ruangannya tersebut menuju cafe yang tampaknya di tengah keramaian kota Jakarta.


Tanpa memperdulikan anaknya tersebut, rasa malas selalu melanda jika dia sudah berdebat dengan Fanni  yang selalu egois dan ingin menang sendiri, pikirnya.

__ADS_1


Malam ini adalah malam minggu, dia pin sudah setengah perjalanan menuju cafe yang sudah dia janjikan oleh seorang wanita tampak menunggunya di sana.


Setengah perjalanan dan tidak menunggu lama, dia pun sampai langsung turun dengan rambut di susun rapi ke belakang, tampak seperti anak muda kembali.


Mengarah ke meja yang berdekatan dengan outdoor, lampu kelap-kelip yang indah menambah hasrat berkencan lebih hidup lagi.


"Mas... kenapa lama sekali," suara manja itu terus menyambutnya.


Ciuman pipi kanan dan kiri tidak lupa juga. Lalu dia duduk berhadapan dengan wanita berbadan sintal itu, yang menggunakan dress berwarna merah namun panjangnya di atas lutut, tampak memang menggoda gairah lelaki normal.


"Maaf sayang, tadi aku harus menjaga Fanni  sebentar," ucapnya.


"Kamu sudah pesan makanan??" tanya Papa Fanni.


"Aku menunggumu sayang," ucapnya.


"Baiklah, ayo kita pesan," sambil tangan melambai memanggil pelayan di cafe tersebut.


Setelah mereka selesai memesan makanan, kembali lagi Papa Fanni  bertingkah layaknya anak muda yang baru hangat menjalin cinta.


Tangannya berada di atas memang, namun kakinya merayap kemana-mana saat ini, macam tidak mengenal tempat saja dia.


"Kamu tadi keluar tidak diketahui yang lainnya kan??" tanya Papa Fanni  kembali.


"Tenang saja Mas, aman kok," ucapnya.


Ya! mereka memang satu rumah, karena wanita itu tak lain tak bukan adalah Meri sang pembantu selingkuhan Papa Fanni  tersebut. Kematian Mamanya yang terminum racun tidak diselidiki oleh Papa Fanni  tersebut.


Meri melarangnya, jika sampai Papa Fanni  menyelidikinya Meri tidak ingin melayani Papa Fanni  itu lagi, ancam Meri saat itu.


Bahkan mereka berdua dalam dekat ini merencanakan untuk menikah secara diam-diam dahulu, dan jangan sampai Fanni  mengetahuinya.


Di dalam ruangan tersebut tampaknya Fanni  begitu bosan, tidak ada orang yang menjenguknya sama sekali selain kedua orang tua Derry  itu pun tadi siang.


Akhirnya dia membuka ponselnya, mencari nama Tissa di layar tersebut. Karena kemarin dia pergi bersama Tissa namun pulang tidak menemukan Tissa lagi.


Kemana dia??" tanya Fanni  dalam hatinya.

__ADS_1


Tut.. tut...


Hanya berdering dua kali, panggilan itu pun langsung dijawab oleh Tissa. Kemarin wanita satu itu tampak ketakutan melihat adegan panas Fanni  dan Tuan Osman.


"Hallo Fanni, ada apa??" tanya Tissa langsung.


"Kau dimana?? temani aku disini dong!!" pinta Fanni  dengan suara sedikit memelas.


"Aku sedang sibuk Nei, kau dimana???" tanya Tissa kembali.


"Aku di rumah sakit sekarang, kau cepat kesini ya," ucapnya.


Tissa sengaja mengatakan hal tersebut, dia tidak ingin terlibat masalah jika berdekatan dengan Fanni. Takut mulutnya yang sering keceplosan tersebut akan mengatakan hal kemarin, dan membuat Fanni  malu dan marah nanti, bisa-bisa Fanni  mengadukan dengan om-om berbulu itu, pikir Tissa sambil melamun.


"Hei.. kenapa diam!!" teriak Fanni  dari panggilan itu.


"Hmmm maaf Fan, aku tidak bisa," panggilan terus saja sengaja di akhiri oleh Tissa tersebut.


Tampak raut wajah Fanni  berubah menjadi marah. Fanni  tidak suka dengan penolakan siapapun, namun kali ini teman baiknya sendiri menolaknya mentah-mentah.


"Sial!! lihat saja kau Tissa!!" umpatan kesal.


Fanni  selalu begitu, jika hasratnya tidak dipenuhi, dia pun menyimpan dendam kepada orang tersebut, suatu saat dia akan membalas perbuatan orang itu kepadanya.


Malam minggu itu pula Tio  dan yang lainnya masih berada di villa, besok pagi mereka baru akan bergerak menuju rumah Soraya.


Dan malam ini pula kedua orang tua Derry  menghabiskan malam mereka bersama anak semata wayangnya tersebut. Derry  terus saja diobati, bahkan bukan hanya dokter yang dipanggil di rumah ini. Tim ruqyah juga ikut datang ke rumah tersebut, untuk mengobati penyakit linglung Derry  itu.


Dokter kata memang karena terlalu banyak pikiran, namun kedua orang tua Derry  tidak tahu pasti hal apa yang membuat Derry  berpikir sekeras itu sampai tidak menemukan solusinya. Dan karena pembantu rumah mereka mempercayai hal-hal tersebut dia pun merekomendasikan tim ruqyah untuk mengobati Derry.


Hanya dengan doa-doa dan lantunan ayat suci Al-quran mereka bersama di hadapan Derry  yang tampak kosong tidak memandang apapun.


Cahaya itu datang tiba-tiba, Derry  tampak menoleh ke kiri dan kanan sekarang, yang biasanya pandangannya selalu lurus kedepan, matanya kosong mulutnya tidak pernah terbuka.


Melihat anaknya mau menoleh tampak ada respon tersebut. Sedikit lega karena progres Derry  terlihat sedikit demi sedikit. Lantunan ayat suci Al-quran itu membuat jiwa yang gelisah menjadi tenang.


"Der.. Nak, kamu kenal Mama kan??" tanya mama Derry  yang berada di sampingnya tersebut.

__ADS_1


*****


__ADS_2