
Malam yang sunyi ini Soraya termenung jauh sekarang. Banyak hal yang dia ingat di kamar yang menjadi saksi bisu antara dirinya dan Derry.
Jam yang masih menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit ini pun Tio menyusul kedua orang tuanya untuk menjenguk keadaan Derry.
Di sana sudah tidak terlihat Fanni lagi dalam ruangan tersebut. Tampak Tuan Frans dan tantenya itu saling diam saja.
Hanya saja ketika Tio datang mereka menyambutnya dengan begitu hangat. Malam ini Nyonya besar tampak berbeda dengan Tio dia lebih akrab dengan keponakannya malam ini.
Sikapnya sedikit berbeda, tidak tahu entah mengapa, pikir Tio. Ayah dan Ibu Tio berbincang santai dengan Tuan Frans saat ini, menanyakan bagaimana perkembangan Derry sejauh ini.
Namun kata dokter Derry belum bisa dipastikan kapan dia akan sadar. Dan ketika Tio bersama tantenya tersebut, istri tuan Doris itu menanyakan mengenai perusahaan yang dikelola oleh Tio saat ini.
Tio yang menduduki posisi sebagai CEO sekarang sedikit kerepotan karena tidak ada Derry di sisinya dan juga tidak ada Tuan Frans yang menyempatkan diri menenmaninya juga.
"Tsania bagaimana??" tanya Mama Derry lagi.
"Tsania sedang sakit tante," jawab Tio.
"Sakit apa Tsania??" tanya tantenya itu.
"Katanya hanya kurang enak badan saja," jawab TIO masih santai.
Tio hampir merayap kesana-sini matanya mencari sosok Fanni di kamar ini. Tampaknya tidak ada sama sekali, kata Om nya kemarin malam Fanni di rawat di ruangan ini, pikir Tio.
"Tio, kau sama Tsania aja, dia wanita yang baik," ucap Mama Derry lagi yang selalu suka menjodoh-jodohkan keponakannya tersebut.
"Sudah lah tante, jangan bicarakan perjodohan lagi, jika jodoh Tio telah sampai pasti akan sampai juga," jawab Tio kembali.
"Hm.. baiklah, tapi ada sesuatu yang ingin tante pinta darimu," ucap Mama Derry seolah ingin mengutarakan hal penting.
TIO tampak berpikir bingung, hal penting apa yang ingin diminta oleh tantenya itu, bukankah tanpa diminta pun pasti akan Tio berikan, pikir Tio tersebut mencerna ucapan Mama Derry itu.
"Katakan saja tante, kalau Tio mampu pasti akan Tio penuhi," jawab Tio yang tampak bijak itu.
Tuan Frans dan kedua orang tua Tio membiarkan Tio berbincang dengan tantenya yang tampak berubah total beberapa hari ini.
__ADS_1
Tuan Frans berharap, Tio mampu menasehati tantenya itu, agar istrinya tersebut kembali ke jalan yang benar, tanpa harus membenci siapapun juga, pikir Papa Derry tersebut.
"Hm.. ini di bidang kamu kok Tio, pasti bisa tante yakin!" jawabnya sedikit berpusing-pusing kata.
"Iya tante, katakan saja," jawab Tio lagi tidak ingin bertele-tele.
"Besok, Fanni akan bekerja di perusahaan kita, sebagai dewan direksi penggantimu, maka tante ingin kamu membantunya," jelas Mama Derry tersebut panjang kali lebar.
Mendengar nama Fanni yang ingin memasuki perusahaan tersebut, membuat Tio merasakan serangan jantung dadakan, apa jadinya jika wanita manja seperti Fanni akan menjadi dewan direksi??
Mau dibawa kemana perusahaan ini, pikir Tio kembali. Tuan Frans yang tampak membaca percakapan mereka tersebut, terlihat dari ekspresi Tio yang tampak diam dan bingung.
"Hm.. pasti mama telah meminta Tio mengajari Fanni," ucap Tuan Frans dalam hatinya tersebut.
Lirikan mata tajam itu dan hempasan nafas yang cukup terdengar kuat oleh kedua orang tua Tio itu, seolah membaca di antara abang iparnya dan kakaknya tersebut sedang ada perang dingin.
Ada apa sebenarnya ini?? tanya besar di hati kedua orang tua Tio saat ini.
"Tio! kenapa diam??" tanya tantenya lagi.
"Tio.. kamu tahu kan, Fanni itu calon istri Derry yang memang tante sukai, jadi tidak salahnya Derry yang sedang koma ini digantikan oleh Fanni, atau.. kamu dan Fanni mau bertukar jabatan??" kini pula Mama Derry tersebut seolah memberikan pilihan kepada Tio rasa mendengar sambaran petir yang kuat.
Mendengar hal itu Tuan Frans yang jaraknya tidak jauh dari mereka tersebut langsung angkat bicara saat ini, dia tidak ingin perusahaannya berantakan karena berada di tangan yang salah.
"Tidak, Tio tidak boleh di tukar!!" bentak Tuan Frans kepada istrinya.
"Pa, kenapa selalu ikut campur urusanku!" sahut Mama Derry lagi.
"Ya! ini masalah perusahaan, Fanni yang tidak tahu apa-apa itu, bagaimana bisa harus menjadi CEO menggantikan Tio!!" umpatnya kesal.
"Kan Mama masih memberikan pilihan kepada Tio, kalau memang Tio tidak ingin digantikan, ya Fanni menjadi dewan direksi saja!" dengan nada yang tidak kalah tingginya.
"Sebenarnya Papa juga tidak setuju kalau Fanni masuk dalam perusahaan itu, dia tidak ada pengalaman apapun Ma!" sanggah Tuan Frans kembali di depan adik iparnya dan keponakannya tersebut.
"Tante, Om bertenanglah, kita akan cari solusinya," ucap Tio menjadi penengah keduanya.
__ADS_1
"Tio jangan pernah mengikuti arahan yang salah, Om selalu mempercayaimu! nada itu tegas terdengar di telinga istrinya tersebut.
"Mama tidak mahu tahu, pokoknya besok Fanni harus masuk ke perusahaan menggantikan Derry atau pun Tio! kalau tidak.." bentaknya lagi dan terhenti di ucapan itu.
"Kalau tidak apa??" seolah menantang istrinya tersebut, kedua orang tua Tio menjadi bingung dan hanya diam.
"Kalau tidak, perusahaan itu kita bagi dua saja! ambil punya Papa, dan Mama mengambil saham Mama agar dikelola oleh Fanni!!" ucapnya lagi dengan nada tegas dan seolah mengancam.
"Ooh... mau Mama seperti itu?? baiklah! Papa akan mengizinkannya!
"Tio, besok urus semua surat-surat perpecahannya, biarkan tantemu itu mengurus perusahaannya sendiri!!" ucap Tuan Frans.
Tanpa berbicara apa-apa lagi Nyonya besar mama Derry tersebut tampak berkaca-kaca saat ini, dia pun melangkah dengan cepat keluar dari kamar tersebut.
"Kak.. jangan pergi!" Ibu Tio Nyonya Velli mencoba menahannya.
Namun Mama Derry karena egoisnya yang begitu tinggi, dia meninggalkan ruangan itu. Dan kali ini dia menyuruh supir pribadinya untuk mengantarkannya pulang.
Sampai di parkiran dia memerintah dengan cepat. Malam ini terasa sakit hati Mama Derry tersebut, sekian purnama mengambang tidak pernah sekali pun Tuan Frans sebagai suaminya itu membentaknya seperti tadi, apalagi di depan adiknya.
Hati wanita memang sensitif dan mudah menangis, namun mama Derry tidak tahu Fanni yang sebenarnya. Bagi Tio boleh-boleh saja kalau memang Fanni ingin bekerja di kantor tersebut, namun saat ini rasanya tidak mungkin, karena Soraya telah pun berada di kantor itu kembali.
Bingung Tio saat ini, ingin mengikuti kehendak sang tante, namun itu adalah jalan yang salah, pikir Tio. Kalau tak diikut, dia pasti akan tidak disukai tantenya itu.
Mengikuti Tuan Frans memang benar, akan memperbaiki keadaan perusahaan, namun keputusan saat marah begini rasanya tidak baik dilakukan, pikir Tio kembali.
"Om, duduklah tenang dulu, mari kita bicarakan bersama lagi," ucap Tio dengan lembutnya.
Hanya di balas anggukan saat ini, kemudian mereka duduk kembali dan berbincang.
"Om, jangan mengambil keputusan saat sedang marah begini, itu tidak akan benar," ucap Robin kembali.
"Tio, Om sudah tidak bisa menahan keegoisan tantemu itu lagi, tidak mungkin bukan.. Fanni yang tidak pandai mengenai urusan perusahaan diberikan jabatan seperti itu," jelas Tuan Frans kembali.
Akankah ada solusi diantara mereka??
__ADS_1