90 DAYS

90 DAYS
WANITA PENGINCAR TIO


__ADS_3

Satu hari berlalu dengan cepatnya. Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Tio dengan jas abu-abu dan celana yang senada tampak formal dan penuh semangat melangkah untuk masuk ke kantor yang biasa dia duduki tersebut.


"Selamat pagi pak," sapa sekretaris pribadi Derry  yang sudah lama mengincar Tio.


"Pagi juga Tsania," jawab Tio dengan ramahnya.


"Lama sudah tidak terlihat disini Pak! apa bapak baik-baik saja??" tanya sekretaris itu kembali.


"Ya! seperti yang kamu lihat saat ini," jawab Tio singkat.


Tuan Frans  menyuruh Tio pagi ini duduk di kursi CEO, karena Tuan Frans  tidak bisa datang ke kantor hari ini, dia juga sedang mengurus Derry  dan juga mengurus pernikahan yang tidak jadi dilangsungkan hari ini.


Maka Tuan Frans  lah yang mengurus semuanya, dan membayar segala kerugian yang sudah Frans pesan dengan pihak wedding organizer.


Dan kini Tio telah duduk di kursi CEO tersebut, untuk mengganti Derry  dan Tuan Frans  sementara waktu. Ketika sekretaris Derry  tersebut memasuki ruangan CEO itu, Tio pun segera meminta tolong kepada Sekretaris tersebut untuk mencari data diri Soraya.


"Beberapa hari lalu pak Derry  juga meminta data diri Bu Soraya Pak," ucapnya memecah kekosongan dalam ruangan itu.


"Ha? benarkah! kapan itu?? tanya Tio penasaran.


"Baru dua hari berlalu Pak," jawab sekretaris itu.


"Oh.. begitu, yasudah saya ingin sekarang juga! perintah Tio dengan nada tegas.


"Baik pak sebentar, saya kembali ke ruangan saya dulu, karena berkasnya masih saya simpan," ucap sekretaris itu dan segera menuju ambang pintu.


Tio masih dengan gaya ramahnya dengan siapa pun, lelaki dengan tinggi yang sama dengan Derry  itu masih tampak tenang, dan dia memang bertekad akan menuntaskan masalah antara Derry  dan Soraya.


Tio yang diberi nasehat oleh kedua orang tuanya tersebut menjadi  terbuka hati dan pikirannya. Dia tampak lebih berpikir positif dan percaya diri, dia benar-benar pria idaman wanita.


Memang, dia tidak seberuntung Derry  mungkin. Derry  yang dicintai oleh dua orang gadis sekaligus, pikir Tio. Keduanya cantik dan memiliki kepribadian baik di mata Tio, namun Tio belum tahu tentang kejahatan Fanni  di belakang nya.

__ADS_1


Jika itu terbongkar, dan Fanni  ketahuan dalang di balik masalah besar ini, apa mungkin Tio akan memaafkannya?? sedang Tio berkata semalam di hadapan kedua orang tuanya, dia ingin melihat orang yang dicintainya bahagia bukan menderita.


Derry! mungkin saja dia pria yang plin plan, namun sebenarnya dia ingin menjadi pria yang baik dan mencintai satu orang saja. Namun karena paksaan dan kehendak orang tua yang mendesak dirinya tersebut, membuat dia tersudut dan bingung, dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri.


Semenjak meninggal dunia adik perempuannya tersebut, Derry  selalu menjadi anak yang memang sangat mematuhi kedua orang tuanya, namun dia juga seorang yang keras kepala.


Dia yang memang mencintai Fanni  sanggup ikut Fanni  ke luar negri hanya menunggu sang kekasih lulus sarjana dan mendapatkan karir yang bagus di luar negri.


Karena Fanni  dikenal sangat baik dalam lingkungan keluarga Derry, menjadikan kedua orang tua Derry  mendukung Derry  untuk bersama Fanni  terus disana.


Namun kini beda cerita, semuanya karena waktu yang berjalan memiliki kejadian yang berbeda-beda di luar jangkaan kita sendiri. Kita memang bisa merencanakan apapun untuk besok, namun besok belum tentu memenuhi rencana kita.


Kaki jenjang dengan kulit mulus dan putih, serta rambut keriting sosis yang panjang menjuntai hingga dada tersebut, berjalan menuju ruangan CEO dimana Tio berada sekarang.


Tsania Marwa, sekretaris pribadi Derry  namun dia mencintai Tio sejak lama. Tio pula hanya menebar kehangatan saja, namun tidak pernah memperdulikan perasaan wanita satu ini.


Dia tinggi, cantik, rambutnya keriting sosis, dan dia menjabat sebagai sekretaris semenjak Tuan Frans  menjadi CEO, hingga akhirnya digantikan oleh Derry  dan dia menjadi sekretaris pribadi Derry, namun cintanya untuk Tio.


Walau orang banyak menyukai Derry, namun sekretaris ini tetap tidak berpaling, dia masih saja mencintai Tio, karena Tio sikapnya berbeda jauh dengan Derry  yang angkuh dan dingin tersebut.


Kecerdasan keduanya juga berbeda jauh, Tio diatas Derry  lagi, dia juga tidak sombong pada bawahan, itu lah mengapa sekretaris muda berusia 26 tahun ini tergila-gila kepada Tio.


Tuk.. tuk.. tuk..


"Masuk saja, tidak dikunci!!" teriak Tio sambil masih menekan layar ponselnya.


Sekretaris itu pun masuk ke dalam, dengan senyum yang canggung tampak pipi kemerehan, dia seolah mencari simpati perhatian di hadapan Tio yang sudah tidak terlihat beberapa hari ini.


"Maaf Pak, ini yang bapak minta tad," ucapnya sambil menyerahkan map coklat.


"Duduklah dulu, temani saya sebentar," ucap Tio pula dengan sikap ramahnya itu.

__ADS_1


Dia pun duduk mengikuti arahan Tio tersebut, senyumnya masih saja mengembang dan tampak malu-malu. Tio pula membuka map coklat itu, dia melihat biodata Soraya.


Tio membacanya dengan seksama, dia melihat data diri Soraya, dan memang benar kampungnya cukup jauh dari kota Jakarta tersebut.


Terlihat juga foto kecil berukuran 3x4 itu terpampang di deretan identitas tersebut. Wajahnya masih begitu polos, karena memang Soraya  meletakkan gambarnya setelah lulus sekolah menengah atas di identitas tersebut.


"Oke, ini sudah cukup!" ucap Tio kembali tersenyum ke arah sekretaris yang masih memandangnya dengan senyum kagum tersebut.


"Jadi, apa saya boleh keluar pak??" tanya Tsania penuh harap.


"Ya Sudah silahkan, oh iya! ada satu hal yang ingin saya katakan kepadamu, Nia!" ucap Tio kembali membuat jantung sekretaris ini berdetak semakin kencang saja.


"Ada apa pak??" tanya sekretaris itu sedikit tergagap.


"Tolong, untuk tiga hari kedepan, kamu batalkan meeting dengan perusahaan Joko company, Didi cooperation, dan untuk meeting dengan Tuan Osman, kamu saya tunjuk sebagai perwakilan," ucap Tio dengan tegas.


"Oh...! itu ternyata," hembusan nafas itu terdengar menghempas, karena rasa deg-degan membuat dia menahan nafasnya dari tadi seketika Tio mengatakan ingin berkata sesuatu kepadanya.


"Kenapa?? tanya Tio bingung karena ekspresi wajah sekretaris itu berubah.


"Tidak pak, tidak ada apa-apa. Baik, saya akan menghubungi Klien yang bapak sebutkan tadi! dan saya undur diri dulu pak, permisi!!" ucapnya terus berbalik ke arah pintu dengan cepat.


Belum lagi Tio menjawab, wanita itu dengan langkah cepat menuju keluar, wajahnya dengan cepat dialihkan dari Tio, dia yang berekspektasi tinggi kini terhempas karena harapan pagi ini tidak sesuai kenyataan.


"Aku pikir pak Tio ingin mengatakan cinta kepadaku!!" huh.. andaikan," ucapnya menggerutu sambil berjalan menuju ruangannya.


Tio yang masih memegangi ponselnya tersebut. Dia pun dengan cepat membuka aplikasi tiket, karena alamat Soraya  telah pun dia dapatkan.


Kini, dengan cepat dia tekan alamat itu dan pembelian tiket via online itu telah berhasil. Tio akan berangkat pukul satu siang nanti, dan dia akan menitipkan perusahaan ini dengan sekretaris tersebut dan para manajer  serta staf kepercayaan lainnya.


Kini Tio bersiap-siap mengatur segalanya terlebih dahulu, surat menyurat yang penting dia simpan dan bawa pulang saja, dan untuk surat yang harus ditandatanganinya dia pun segera selesaikan terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2