90 DAYS

90 DAYS
Tio MARAH


__ADS_3

"KAMU!" ucap Yumita terkejut.


   Setelah Yumita melihat wajah Zubair itu dia pun terkejut Zubair bisa mengikutinya sampai di toko pakaian itu dan saat ini bisa-bisanya pria itu mencoba membayar barang belanjaannya.


   "Mbak jangan mbak, pakai ini saja," ucap Yumita mencoba menolak.


 "Tidak mbak, pakai card ini saja!" Zubair keras kepala.


   "Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Yumita dengan wajah bingung.


   "Iya, aku belum sempat meminta maaf padamu," ucapnya.


  "Meminta maat, buat apa?" tanya Yumita bingung.


   "Aku tadi sudah menabrakmu," jelasnya.


"Oh..itu tidak mengapa, sudah jangan repot-repot begini," ucapnya.


  "Tidak, ini permintaan maaf ku padamu," ucapnya.


    Akhirnya Yumita pun akur dengan jubah itu dia pun membiarkan Zubair membayarkan belanjaannya tampaknya lelaki itu adalah lelaki baik pikir Yumita pun begitu hangat kepadanya.


   Setelah selesai membayar di kasir tersebut nyerinya pun keluar dengan cepat namun lagi-lagi Zubair menahan tangannya Yumita begitu terkejut dengan tindakan Zubair yang begitu berani memegang tangannya.


   "Maaf, aku tidak sengaja," ucapnya.


   Zubair perasaan Yumita tidak menyukai hal itu ia dengan cepat melepaskan tangannya dan meminta maaf kepadanya Yumita wajahnya Yumita pun menunjukkan ketidaksukaan atas kelancangan Zubair meretas tangannya tersebut


  "Tidak apa-apa," jawab Yumita cuek.


  "Hmm..Yumita, ini kan sudah siang, apa kau mau menirima traktiranku?" Tanya Zubair penuh harap.


  "Tidak terima kasih," jawab Yumita singkat.

__ADS_1


"Plish.. aku merasa bersalah, lagi pula kita makan disana saja," ucapnya sambil menunjuk kearah restoran yang tidak jauh dari toko pakaian itu.


   Melihat Zubair begitu rendah hati Yumita pun menjadi tidak enak hati saat ini lagi-lagi dia merasa begitu bersalah atas sikapnya tersebut dan dia juga berkali-kali meminta maaf kepada Yumita tersebut, dan Yumita hanya menjawab dengan anggukan nya saja.


   Walau hanya dijawab dengan anggukan juga merasa begitu bahagia dan senang tampaknya perkenalannya telah bersambut dengan Yumita dengan cepat dan sikapnya juga berubah begitu menjadi sopan dan sedikit pendiam tidak seperti awalnya dia begitu antusias untuk mendekatkan diri na namun ketika melihat karakter Yumita tersebut dia mencoba menyeimbangkan Yumita agar bisa lebih dekat berkenalan dengan wanita yang notabenya pendiam itu.


    zuber pun memanggil pelayan dengan cepat dia tidak ingin kehilangan kesempatan makan berdua dengan wanita yang membuat jantungnya berdebar sebelumnya dia tidak pernah seperti ini di kampus tersebut dia yang sudah terkenal kaya raya dan perusahaannya juga menjadi investor untuk universitas itu menjadikan dia terkenal di kampus itu sebagai lelaki idola dan idaman wanita di sana dia pun karena banyak disukai wanita menjadi bisa dibilang Playboy.


Karena dia Playboy dia juga tidak mengedepankan hati untuk sebuah cinta banyak wanita cantik yang mengelilinginya namun tidak perasaannya  sama seperti saatnya bersama dengan Yumita yang baru dia kenal ini.


    "Kamu mau pesan apa?" tanya Zubair.


  "Mbak, saya pesan Nasi goreng hijau dan lemon tea aja," ucapnya langsung menuju pelayan itu.


  "Sama mbak," ucap Zubair pula.


    Setelah pelayan itu hilang dari meja mereka mencoba mengajak Yumita kembali berbicara dan berbincang Yumita sedikit malas dengan perbincangan ini namun mau tidak mau karena dia sudah berhadapan dengan pria itu dia pun mencoba berbicara dan meluruskan masalah mereka dia tidak ingin Zubair maupun dirinya merasa bersalah karena hal yang begitu sepele menurut Yumita.


    "Tangan kamu jadi merah, aku minta maaf ya," ucapnya.


   Mendengar ucapan IYumita yang begitu cuek tersebut mencoba menahan ego nya dia masih tersenyum ramah dan begitu hangat kepada Yumita bahkan dia dengan begitu santainya mengatakan kepada Yumita kembali.


    "Maaf, mungkin saja itu mahumu, tapi kita tidak pernah tahu majunya Tuhan," jawabnya.


  Mendengar jawaban dari Zubair itu membuat Yumita sedikit berdecak kesal namun jawaban itu tidaklah begitu salah karena memang setiap pertemuan Tuhanlah yang mengaturnya dan Yumita meyakini tentang hal itu dia pun tidak bisa marah dengan sumber dan hanya bisa senyum tanpa ekspresi.


     Karena jawaban itu pun tidak mendapat respon yang begitu agresif dari Yumita bahkan mereka menjadi sunyi senyap saat ini membuat Zubeir Yang penasaran dengan Yumita dia pun mencoba mencari topik lain agar bisa terus berbicara kepada wanita itu.


   "Kamu baru daftar tadi?" tanya Zubair.


  "Iya baru saja," jawabnya singkat.


   "Ngambil jurusan apa?" tanya Zubair.

__ADS_1


  "Management," jawabnya.


"Wah, bagus itu sesuai sama kamu kayaknya," ucapnya.


  "Terima kasih."


   Respon dan jawaban Yumita itu begitu cuek membuat Zubair semakin penasaran dengan Yumita selama ini tidak ada wanita yang memperlakukannya seperti Yumita yang tampak acuh tidak acuh dengannya.


    Biasanya semua wanita yang melihat ketampanannya tersebut karena memang dia adalah keturunan Dubai alisnya yang menyatu hidungnya yang mancung bibirnya yang menawan tidak dinafikan lagi wajahnya memang tampan apalagi kekayaannya begitu banyak mobilnya begitu mewah siapa yang tidak tergila-gila namun wanita yang di hadapannya ini begitu cuek dan dingin.


   "Topik apalagi ini!" umpat Zubair kesal dalam hatinya seolah kepalanya buntu saat ini.


    Biasa biasanya sang Playboy itu tidak pernah kehabisan topik untuk menggombal para wanita namun dengan IYumita dia tampak bingung dan hanya senyum akhirnya makanan mereka pun sampai di meja jam yang telah menunjukkan pukul 12.30 itu dan perut Yumita yang merasa lapar dengan cepat dia melahap makanan itu tanpa memperdulikan Zubair yang ada di depannya.


   Dia takut membuat pembantunya di rumah merasa khawatir Karena dia sudah begitu lama pergi dari rumah sejak pagi tadi sampai lah siang ini.


    Satu sisi lagi kedua pembantu rumah tersebut memang begitu khawatir karena dirinya sampai siang ini juga belum kembali ke rumah melihat jam sudah 12.30 mereka juga telah menyiapkan makan siang untuk Yumita menantikan kedatangan tuan rumahnya itu namun tak kunjung juga datang akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Tio karena mereka tahu Yumita juga adalah orang yang baru saja sampai di kota ini mereka tidak ingin disalahkan nantinya jika terjadi apa-apa dengan Yumita dengan cepat panggilan itu berdering di ponsel Tio dan tengah menikmati makan siangnya juga bersama Tuan Aladin.


   "Sebentar Tuan Aladin," ucap Tio.


   Tuan Aladin yang begitu hangat kepada Tio dia pun hanya mengangguk dan menunggu Tio menjawab panggilan tersebut namun tiba-tiba ekspresi wajah Tio yang mendapat panggilan itu tampak begitu  yang awalnya dia ceria kini menjadi begitu panik.


   "Kemana dia!  menyusahkan saja!" umpatnya kesal.


  "Kenapa Tio?" tanya Tuan Aladin.


  


  "Tidak apa-apa Tuan, maaf aku harus segera pulang sekarang, tidak apa-apa kan, kalau Tuan saya tinggal sendiri disini?" tanya Tio begitu segannya.


  "Tidak apa-apa, jangan khawatir," jawabnya.


   Dengan cepat Tio berlari menuju parkiran mobilnya dia begitu tampak panik karena pembantu tersebut menggambarkan bahwa Yumita hilang Tio begitu panik dia takut jika dirinya benar-benar hilang maka dia harus mempertanggungjawabkan hal itu kepada Soraya dan Derry nantinya itulah yang membuatnya takut.

__ADS_1


 Jika Yumita bukan dari bagian keluarga itu mungkin saja dia tidak ada rasa takut dan cemas terhadap wanita itu bahkan jika ingin hilang sekalipun dia tidak peduli namun hal ini adalah hal yang berbeda Yumita adalah adik dari wanita yang dia cintai dia tidak ingin reputasinya di depan Soraya buruk dan dia tidak ingin dituduh menjadi suami yang tak bertanggung jawab.


__ADS_2