
Setelah mereka mengetahui keadaan Fanni bisa terselamatkan. Hampir menjelang subuh mereka baru pulang ke rumah. Rasa kantuk sangat berat saat itu.
Karena tampak Tuan Frans merasa sangat ngantuk, Derry lah yang menggantikan menyetir mobil tersebut. Walau pun menjelang subuh jalanan bandar kota Jakarta tetap saja ada kendaraan berlalu lalang.
Sudah hampir memasuki kediaman mereka. Tiba-tiba ada satu mobil diarah mereka melaju kencang dan tanpa bisa dialihkan lagi.
Bruak....
Terjadi tabrakan dini hari. Derry yang menyetir tersebut terlihat dahiya berdarah dan dia pingsan. Sementara Tuan Frans tersebut yang baru saja terbangun karena terkejutnya hanya terkena hantaman di kepalanya, namun tidak sampai pingsan.
Soraya tertindih tubuh mama Derry saat ini, karena mobil mereka miring ke sebelah kiri. Sedangan Derry tadi ingin mengelak namun tidak bisa.
Tuan Frans dengan perlahan turun, dan menenangkan kedua wanita tersebut yang sudah menangis terisak-isak. Derry pula tidak bersuara karena pingsan.
Kondisi Derry sebenarnya masih belum pulih total untuk kesehatan tubuhnya, hanya saja semangatnya dan ingatannya yang kembali.
Berhasil Tuan Frans keluar dan dia dibantu oleh pengguna jalanan yang lain yang tampak berhenti untuk membenarkan kembali posisi mobil Tuan Frans tersebut.
Kedua wanita tersebut telah turun, Derry pula tidak sadarkan diri saat ini. Dengan bantuan mereka semua Derry dikeluarkan terlebih dahulu.
"Derry.... bangun nak," jerit Mamanya di tengah keramaian tersebut.
"Derry.. bangun!! teriak Soraya juga.
Ambulance pun telah sampai karena ada seorang dari pengguna jalanan tersebut telh menelpon ambulance terlebih dahulu. Sedangkan orang yang menabrak mobil mereka tersebut juga telah di keluarkan, dan dia mati di tempat.
Orang tersebut tampak berbau alkohol, karena itu lah dia bisa menabrak mobil yang dikendarai Derry tersebut.
Dengan cepat dua ambulans itu membawa mereka semua menuju rumah sakit yang terdekat. Dan mereka hampir sampai di rumah sakit di mana Fanni dirawat tersebut.
Kini semuanya panik dan menangis melihat Derry terbaring dan berdarah. Dentuman keras itu membuat kepala Derry berdarah, dan sekarang masuk ke dalam ruangan gawat darurat.
"Kamu penyebabnya!!" bentak Mama Derry ke arah Soraya yang saat ini terduduk lemas dan menangisi Derry.
"Ma, sudahlah!!" ucap Tuan Frans.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa-apa kepada Derry, kau harus bertanggung jawab!!" bentaknya lagi.
"Ma.. maafin aku," sambil menangis terisak Soraya berada di kaki Mama Derry tersebut.
"Soraya jangan begini," ucap Tuan Frans merasa iba dan mencoba membantu Soraya bangkit berdiri.
"Biarkan saja dia Pa, tempatnya memang di bawah!!" ucap Mama Derry.
"Ma, kenapa mama jadi jahat seperti ini?? tanya Tuan Frans merasa kesal dengan tingkah istrinya yang tampak berbeda tersebut.
"Dia yang memulai kejahatannya Pa, bukan Mama!!" bentaknya lagi membantah suaminya tersebut.
"Ma, dia menantu kita!!" tambah Tuan Frans lagi.
"Bukan Pa, dia hanya menikah 90 hari saja dan sebentar lagi akan habis," ucapnya lagi.
"Ma.. tolonglah jangan seperti ini," memelas Tuan Frans kepada istrinya yang tampak memang sudah keras hati terhadap Soraya.
Termakan hasutan Fanni yang mengatakan Soraya hanya memanfaatkan Derry saja dan menjerat Derry hingga ke pernikahan. Padahal kemarin mamanya tersebut telah mendengar jelas Derry memilih Soraya.
Sekarang Soraya tertunduk lemas, baru saja dia mendapatkan secelah cahaya kebahagiaan dari seorang suami yang diidamkannya menjadi lembut dan perhatian tersebut.
Apa yang dimimpikannya terwujud semua, Derry berubah total menjadi baik dan berterus terang dengan perasaannya tersebut. Bahkan Derry berterus terang tentang pernikahannya kepada kedua orang tuanya itu.
Kini bencana pula yang tak terduga menghampiri kebahagiaan yang baru saja mereka bina tersebut. Baru beberapa jam lalu, mereka melakukan hubungan diatas ranjang kembali tanpa menyuruh Soraya meminum obat penggugur kandungan.
Cinta mereka telah tumbuh, kontrak 90 hari sudah di ujung dan hampir berakhir dengan kebahagiaan. Namun tadi baru saja Mama Derry mengingatkan tentang kontrak yang sudah mau berakhir tersebut.
Sekarang Soraya hanya mampu berserah kepada yang kuasa atas dirinya tersebut dan untuk keselamatan suaminya itu.
Dokter pun keluar dari ruangan tersebut, dan dengan nafas yang terengah dokter itu menjelaskan benturan yang kuat terjadi di kepala Derry tersebut.
"Dok.. jadi kapan Derry sembuh??" tanya Mama Derry tersebut.
"Maaf bu, itu belum bisa kami beritahukan karena keadaannya yang koma saat ini," jelas dokter itu.
__ADS_1
"Apa?? koma? terkejut mama Derry tersebut.
"Ya! pasien koma, dan tu sangat tipis kesembuhannya."
Lalu dokter tersebut pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya tersebut. Kemudian Mama Derry tampak menatap tajam Soraya saat ini.
"Hei wanita pembawa sial!! kau harus tinggalkan Derry!!" sambil tangannya menjambak rambut Soraya.
Tuan Frans yang tadi tampak merenung tiba-tiba sangat terkejut dengan perlakuan istrinya itu yang berubah menjadi kejam dan kasar. Nyonya besar tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi dengan Soraya.
"Ma... cukup ma," sambil melerai kan tangan istrinya yang lekat di rambut menantunya tersebut.
Soraya terpekik kesakitan, dan dia tidak membalasnya hanya air mata yang menjelaskan kepedihan itu saat ini.
Pedih dengan Derry yang tidak sadarkan diri, pedih dengan tuduhan pembawa sial di kehidupan suaminya sendiri, bahkan pedih juga telah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang sangat dia sayangi.
"Apa aku memang pembawa sial Tuhan??" tanya Soraya dalam hatinya.
"Heh.. pergi kau dari sini!!" teriak Mama Derry lagi seperti orang kerasukan saat ini.
"Soraya.. sebaiknya kamu pulang saja ke rumah dulu, biar Papa yang menjaga disini," ucap Tuan Frans lagi mencoba menenangkan keadaan.
"Jangan berani kau injak rumahku lagi!!" sambil menunjuk ke arah Soraya.
Mendengar ucapan Tuan Frans yang sangat memelas tersebut, akhirnya Soraya pun akur dan dia berpamitan dengan Papa mertuanya itu.
Sedangkan tubuh Mama Derry masih ditahan oleh Tuan Frans agar tidak mencelakai Soraya kembali. Dia pun telah sampai di parkiran dan langsung menaiki taksi menuju ke rumah milik orang tua Derry tersebut.
Di dalam taksi tak hentinya Soraya luahkan airmatanya yang ingin tumpah sejadi-jadinya. Soraya tampak menyalahkan dirinya sendiri terus menerus. Supir Taksi itu merasa kasihan dan iba kepada Soraya namun dia tidak berani bertanya sedikitpun.
Soraya pun telah sampai di depan rumah mewah itu, terdengar azan subuh mulai berkumandang. Dia pun segera masuk ke rumah itu dan membersihkan tubuhnya serta dia mulai melakukan ibadah sholat subuh.
Kedua adik lelakinya tersebut pun sudah terbangun tepat di adzan subuh. Mereka berdua masih belum tahu kabar mengenai kecelakaan hari ini.
****
__ADS_1