
"Dok, ayo cepat periksa papa saya," ucap Derry dengan paniknya.
Baru saja mamanya meninggal dunia, meninggalkan mereka semua, hari ini pula kondisi papanya turun drastis bahkan tidak sadarkan diri.
Dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya dalam waktu secepat ini. Memang, orang hidup pasti akan mengalami kematian, itu adalah sebuah antonim kehidupan.
Dan saat ini, Derry memang merasa sangat takut, dia merangkul erat Soraya membenamkan wajah ketakutannya itu.
Melihat jam telah pun menunjukkan pukul sembilan lebih, Tio yang saat ini sudah bertemu dengan Rendra, dan ingin mengajak Derry juga berbincang, namun Derry sama sekali belum terlihat di kantor tersebut.
"Kok Derry belum sampai Tio?" tanya Rendra saat ini yang berada di ruangan Tio.
"Aku juga gak tahu Ren, yasudah sebentar aku hubungi dulu Derry," ucapnya.
Ponselnya langsung menghubungi nomor Derry disana. Dan Derry yang saat ini sedang berada di luar ruangan itu, mendengar ponselnya dari tadi berdering, saat ini Soraya menyuruh Derry menjawabnya.
"Sayang, jawab dulu panggilannya," ucap Soraya.
Derry merogoh sakunya, mengambil ponselnya disana, ada tulisan nama Tio tertera di ponsel itu.
Panggilan tersebut pun langsung terhubung dengan cepat.
"Hallo," ucap Derry lemah.
"Derry, kau dimana? Kenapa dengan suaramu?" tanya Tio merasa ada yang janggal.
"Tio, hari ini aku tidak bisa kekantor, papa pagi tadi tidak sadarkan diri," jelasnya.
"Apa? Om Frans tidak sadarkan diri? Jadi kau dirumah sakit mana sekarang?"
Betapa terkejutnya Tio saat ini, dia pun yang menyayangi Omnya itu tampak begitu khawatir dan juga takut akan terjadi hal yang mereka tidak inginkan lagi.
"Dirumah sakit yang sama dimana mama dirawat kemarin," ucap Derry.
"Yasudah, aku akan kesana," ucap Tio.
"Tidak usah dulu, papa sedang diperiksa, aku minta tolong kepadamu, uruslah perusahaan dulu, aku serahkan tanggung jawab ini kepadamu Tio," ucapnya lemah.
"Derr, nanti kalau sudah pulang aku akan kesana," ucap Tio juga.
"Iya, yasudah terima kasih."
__ADS_1
"Kabarin apapun yang terjadi," ucap Tio kembali.
"Iya."
Setelah itu panggilan tersebut pun langsung terputus, Tio tampak begitu khawatir dan takut kehilangan kembali. Sedangkan Rendra mencoba menenangkan Tio saat ini.
"Tio ada apa?" tanya Rendra.
"Om Frans tidak sadarkan diri Ren," jawabnya lemah.
"Ya Tuhan, kenapa cobaan ini bertubi-tubi, Tio, kau tenanglah dan aku yakin Om Frans tidak akan terjadi apapun kepadanya, dia hanya lelah," ucap Rendra lagi.
"Iya, semoga saja seperti itu Ren," jawabnya.
"Lalu, bagaimana dengan rencana kita memerangkap Fanni sekarang?" tanya Rendra lagi.
"Sabar, malam tadi Derry membuat sebuah rencana untuk mendekati Fanni kembali, aku tidak tahu rencana itu berjalan atau tidak, sedangkan keadaan ini sangat sulit sekarang," jelas Tio kembali.
"Iya, kau benar Tio. Namun, dua Minggu lagi kita akan ke pengadilan untuk menuntut kedua orang itu, dan hal ini bisa memenangkan kita, kalau kita memiliki banyak bukti yang kuat," ucap Rendra kembali.
"Kuharap begitu juga Ren, tapi nanti aku akan kerumah sakit dan membicarakan langsung hal ini kepada Derry, aku dengar dari suaranya tadi dia sangat lemah," jelasnya
"Iya aku juga setuju. Jadi, bagaimana dengan kepergianmu ke Australia?" tanya Tio lagi.
"Tsania menangguhkannya Tio, dia bilang masih banyak urusan kami yang harus diselesaikan disini, dia begitu pengertian. Dan, dia sangat ingin datang ke pernikahanmu minggu depan," jelas Rendra kembali membuat wajah Tio kusut saat ini.
"Oh..begitukah," ucapnya lemah.
"Tio, apa ada masalah yang sedang kau hadapi? Kau terlihat tidak semangat dengan pernikahanmu ini!"
"Ren, aku bukan hanya tidak bersemangat, namun aku juga tidak ingin pernikahan ini terjadi sebenarnya, ah..sudahlah kita tukar topik lain saja," ucap Tio yang tampak gusar dan malas membahas tentang pernikahan ini.
"Baiklah, maafkan aku membuatmu menjadi tidak tenang saat ini," ucap Rendra kembali.
"Sudah tenang saja Ren, siang ini aku juga akan bertemu dengan Tuan Aladin dari kota Surabaya, apa kau ingin bergabung?" tanya Tio kembali.
"Tidak Tio, siang ini aku harus menemani istriku pergi shopping, karena ada kebutuhan yang ingin dia cari," jawab Rendra.
Tio tersenyum dengan ucapan sahabatnya itu, dia bahkan penasaran, bagaimana kehidupan seorang pria kalau dia sudah menikah nanti.
"Ren, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Tio sedikit hati-hati.
__ADS_1
"Iya silahkan," ucapnya
"Kau dan Tsania kan menikah tanpa cinta, jadi bagaimana mungkin kalian bisa berbicara dalam satu ruangan?" tanya Rendra yang sulit untuk memikirkan hal itu.
Dia rasa Rendra orang yang tepat yang bisa dia pinta pendapatnya. Karena sebentar lagi nasibnya juga sama, menikah tanpa cinta.
Rendra tersenyum dengan penuh kewibawaan, dia mencoba menjawab dengan hati-hati juga.
"Tio, ketika kita sudah memutuskan untuk menikah, mau itu cinta ataupun tidak, maka ambilah sisi positif dari pernikahan itu, kita telah berjanji kepada Tuhan, dan penuhi janji itu untuknya, anggap saja saat ini ketika aku melihat Tsania, dia adalah titipan Tuhan yang harus kuhargai, kuhormati, dan aku jaga perasaannya, maka aku yakin lambat laun kami akan saling penuh cinta," jelas Rendra lagi.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, hati ini benar-benar sulit Ren," ucapnya lemah.
"Apa perlu aku berikan sebuah contoh kecil untukmu lagi?"
"Apa itu?" tanya Tio kembali.
"Kau percaya adanya Tuhan tidak?" tanya Rendra Kembali.
"Ya pastilah aku percaya," jawabnya dengan wajah penuh keyakinan.
"Baik, kalau begitu kau juga harus percaya akan ada cinta yang datang nanti diantara kau dan pasanganmu," jelas Rendra kembali.
"Ren, mungkin kau bisa mengatakan hal mudah ini karena kau dan Tsania usia kalian tidak jauh berbeda, dan kalian sama-sama orang yang sudah cukup dewasa Ren, dan.."
Terhenti di sana, ketika dia ingin meluapkan semua isi hatinya saat ini kepada Rendra, dia mengingat sesuatu yang tampaknya tidak layak untuk dia beberkan walau kepada sahabatnya sendiri.
Namun, ingin menanggung kegundahan sendiri dia juga tidak mampu, dia menarik nafasnya panjang. Rendra tampak berharap Tio mau bercerita dengannya.
"Ren, kami berbeda usia sangat jauh, dia masih sangat muda untukku," ucapnya lemah.
Rendra terkejut dengan apa yang disebutkan Tio barusan, namun dia sebagai sahabatnya itu mencoba untuk tetap meyakinkan kepada Tio, kalau sebuah cinta itu tidak memandang usia.
"Tio, walau berapapun usia wanita itu saat ini, jika memang dia sudah bisa dinikahkan dan takdir mengatakan kalian berjodoh, maka kau harus terima dengan ikhlas, mungkin saja itu adalah awal dari sebuah kebahagiaanmu dan kehidupanmu akan berubah," jelas Rendra kembali.
"Entahlah Ren, aku lebih baik melajang seperti ini, biarkan aku sibuk bekerja, aku bakalan lupa dengan segala yang berkaitan dengan wanita," ucapnya.
"Tio, aku tahu kau sulit untuk menghilangkan perasaanmu dengan Soraya," ucap Rendra tiba-tiba membuat Tio begitu terkejutnya.
Akankah Tio marah akan hal ini?
****
__ADS_1