
Malam berlalu dengan banyak kisah dan cerita kehidupan di berbagai belahan bumi ini. Pagi ini semua insan memulai kembali cerita hidup mereka yang telah tertulis sejak lama.
Ibarat sebuah film, dunia hanyalah panggung sandiwara bagi setiap insan Tuhan. Semua sudah memiliki peran masing-masing di kehidupan masing-masing.
Dan saat ini Soraya yang sudah lebih awal bangun dan mandi, namun dia masih memakai pakaian yang semalam dia pakai. Derry pula pagi ini telah pun mengisi perutnya di suapi oleh istri tercintanya.
Fanni yang malam tadi tidak pulang, dia pun membeli pakaian di luar, dan dia pagi ini tampak sudah berada di perusahaan sebelum yang lainnya sampai di sini.
Jam masih menunjukkan pukul tujuh sekarang. Tio saja masih sarapan di rumahnya, karena memang Ibunya menyuruh Tio pagi ini sarapan bersama dengan adik-adiknya Soraya itu.
Derry dan Soraya saling suap sekarang. Sedangkan di rumah mewah kediaman Tuan Frans hanya ada rasa dingin dari setiap mata memandang.
Nyonya besar bahkan tidak ingin bercakap apapun kepada suaminya itu. Hanya Ada suara sendok dan garpu yang terdengar di ruangan itu.
Rencananya sehabis sarapan mama Derry tersebut ingin melihat perusahaannya. Dan pagi ini Tuan Frans yang melihat sikap dingin istrinya itu pun, dia hanya mengunyah makanannya sendiri.
Tio yang tampak sudah selesai makan, dia pun berpamitan dengan cepat, karena memang ada hal penting yang harus dia bicarakan kepada Tuan Frans saat ini.
Tuan Osman pula sudah berada di depan parkiran perusahaan itu, mulai menaiki lift untuk menuju dimana Fanni berada saat ini. Semalam mereka berdua merencanakan sesuatu, mereka berdua berencana memindahkan tanah-tanah itu atas hak Tuan Osman.
Fanni yang tampak begitu sibuk pagi ini, melihat semua dokumen tersebut. Dan tampak dokumen bernama Tuan Aladin disana. Tanah yang berada di luar kota Jakarta itu, sekarang dilirik Fanni yang luasnya cukup banyak saat ini.
Fanni pun mengambil nomor ponsel yang tertera di sana. Nama Tuan Aladin dengan cepat dia hubungi saat ini. Lelaki yang mengenal baik Tio itu pun langsung menjawab panggilan Fanni tersebut.
"Hallo, apa benar ini dengan Tuan Aladin?" tanya Fanni dengan tuntas.
"Ya, benar ini saya, anda siapa?" tanya Tuan Aladin kembali.
"Saya Fanni, CEO baru untuk tanah yang anda sewa saat ini," jelas Fanni begitu lengkapnya.
"Oh baiklah, nanti siang akan saya kirimkan uang sewanya melalui pak Tio," ucap Tuan Aladin.
"Tio tidak ada urusan disini, saya akan memberikan rek baru untukmu," jelas Fanni.
Tuan Aladin bingung saat ini, dia tampak tidak ingin berdebat dengan wanita, pikirnya. Hanya ada jawaban "iya" itu saja yang keluar dari mulut pria itu.
"Baik, dan ada satu hal lagi yang perlu anda ketahui Tuan Aldin, kontrak sewa itu berakhir hari ini juga," jelas Fanni tiba-tiba.
"Apa maksudnya? kontrak itu masih lama lagi, saya ada perjanjiannya," Tuan Aladin mencoba menyanggah ucapan Fanni itu.
"Saya CEO baru disini, jadi perjanjian itu akan saya perbaharui, disana tanda tangan Tio bukan? dan itu tidak berlaku sama sekali!" jelas Fanni dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah, hari ini saya akan ke perusahaan, kita berjumpa disana," jelas Tuan Aladin tidak ingin terus berdebat.
"Oke saya tunggu," ucap Fanni lalu mengakhiri panggilan itu.
Cekrek..
Suara pintu terbuka lebar saat ini, Fanni tersenyum mengembang kepada Tuan Osman yang dia lihat telah berdiri tegak di ambang pintu sekarang.
Tuan Osman bahkan berjalan dengan cepatnya untuk menghampiri Fanni tersebut. Dia pun menarik tubuh ramping itu dengan cepat.
Saat ini Fanni tersenyum puas, dia yang sedang duduk berpangku di atas paha Tuan Osman itu, tampak bahagia.
"Kita akan memindahkan ini semua di perusahaan kita nantinya sayang," ucap Tuan Osman sambil mengecup bibir itu.
Satu sisi Tio pula telah sampai sampai saat ini di depan rumah sakit dimana Derry dirawat. Dia berpikir pagi ini Tuan Frans berada disini, dia pun segera berjalan dengan lajunya.
Sedangkan satu sisi Tuan Frans baru saja masuk ke dalam mobilnya, dia memang ingin berangkat ke rumah sakit juga, sedangkan Nyonya besar telahpun lebih awal meninggalkan meja makan.
Tuan Frans hanya diam menatap jalanan pagi ini. Tampaknya dia menyimpan sebuah rasa sakit karena rumah tangganya yang akhir-akhir ini sedang tidak harmonis.
Tio mengetuk pintu itu, dan saat itu tampak tidak ada sahutan apa-apa, dia pun masuk tanpa sahutan dari dalam.
"Eh.. Maaf-maaf!" ucap Tio langsung berbalik badan.
"Heh Tio, berbaliklah, aku hanya bertukar pakaian!" ucap Derry kuat dan sedikit terkekeh.
"Oh...!" nafas di hempaskan dengan kuat merasa lega dan Robin berbalik lalu tersenyum.
" Selamat pagi Derry selamat pagi Soraya," ucap Tio dengan cepat.
"Ya.. selamat pagi," ucap mereka serentak.
"Om Frans kemana?" aku tidak melihatnya dari tadi??" tanya Tio saat ini.
"Papa memang sudah pulang sejak tadi malam," jawab Soraya saat ini.
" Oh benarkah? aku pikir Om masih disini," ucap Tio menghela nafasnya.
"Ada yang penting? apa ada masalah?" tanya Derry kepada Tio saat ini.
"Hm.. tidak ada Derry, semua baik-baik saja," jawab Tio ragu dan takut.
__ADS_1
"Oh.. benarkah," ucap Derry.
Tio hanya mengangguk saja, dia yang tampak ragu lebih lama disini, kembali dia membuka suara agar segera menemui Tuan Frans di rumah saja, pikir Tio sekarang.
"Baiklah Derry, Soraya! aku pamit dulu," ucapnya.
"Iya Bin, hati-hati," serentak mereka berucap.
Baru saja Tio ingin melangkah keluar, dia pun menuju lift saat ini, menunggu lift itu terbuka dan dia ingin melangkah, seseorang memberhentikan dirinya.
"Tio! kau disini?" tanya Tuan Frans yang ternyata baru keluar dari lift itu.
"Om Frans, Syukurlah kita bertemu disini," ucap Tio dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Tuan Frans sedikit bingung.
"Om, ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepada Om, ini penting," ucap Tio kembali.
"Apa kita bicara di bawah saja?" tanya Om Frans kembali.
"Iya sebaiknya begitu, aki tidak ingin Derry mendengarnya," ucap Tio lagi.
"Baiklah, ayo kita ke bawah sambil minum kopi," ucap Tuan Frans kembali masuk ke dalam lift bersama Tio saat ini.
Mereka berdua pun melangkah dengan cepat, lift itu membawa mereka sampai lantai bawah sekarang. Dan sampai di depan mereka menuju restoran yang berada di bawah rumah sakit itu.
Satu sisi Nyonya besar melangkah menuju dimana Fanni saat ini sedang bersama dengan Tuan Osman bermanja di dalam.
Tok.. tok..
Pintu diketuk lumayan kuat, kali ini Nyonya besar mencoba mengetuk kembali pintu itu, namun masih saja tidak ada sahutan. Apa mungkin Fanni belum sampai? tanya Mama Derry itu dalam hati.
Tuan Frans dan keponakannya itu telah pun duduk bersama saat ini, dan memesan kopi di pagi hari ini. Tio menunda keberangkatannya ke kantor hanya untuk memberitahukan hal penting ini kepada Tuan Frans.
"Tio, hal sepenting apa yang membuatmu tergesa-gesa begini?" tanya Tuan Frans kepada Tio.
"Sebentar Om. Om hanya lihat saja gambar yang akan Tio perlihatkan kepada Om sekarang," jelasnya sambil merogoh ponsel itu dari saku celananya sebelah kanan.
Akankah Mama Derry mempergoki Fanni?
Maaf agak terlambat gais.
__ADS_1
****