90 DAYS

90 DAYS
MULAI CEMBURU


__ADS_3

Tio pun melajukan mobilnya ke arah restoran mango, restaurant yang biasa mereka kunjungi dahulu. Restoran mango adalah restoran yang berisikan masakan Italia dan Belanda.


        Soraya sangat menyukai menu-menu di sana, begitu juga dengan Tio. Malam ini perut juga terasa lapar, Soraya sudah lama tidak makan nasi tiga hari ini.


      Dia hanya memakan roti dan vitamin lainnya saja. Hati dan pikirannya membuat dia tidak berselera untuk menyantap makanan apapun, namun kali ini dia tidak ingin mengikutkan hati sangat, dia ingin makan dan melupakan segalanya.


       Mareka berdua telah sampai di Restoran mango tersebut, keduanya memang tampak serasi juga jika mata memandang ke arah mereka berdua. 


        "Ayo tuan putri.." ucap Tio lembut memperlakukan Soraya.


      "Jangan berlebihan," ucap Soraya tersenyum.


        Mereka masuk dan Tio memilih duduk di meja no delapan. Seperti biasanya mereka suka mengunjungi restoran ini, duduk di meja delapan membuat mereka bisa memandang seluruh keindahan restoran tersebut.


        "Silahkan duduk tuan putri," ucap Tio lembut.


      Mereka berdua duduk, tiba-tiba ada empat pasang mata ke arah mereka, dua bola mata yang tampak tersenyum, dan dua bola mata lagi tampak menyembunyikan amarah yang besar.


          "Hey Tio..." panggil seorang wanita ke arah Tio yang sedang membetulkan kursi untuk Soraya.


         "Hey Fanni!!" teriak Tio terkejut dan langsung menghampiri ke meja nomor sembilan.


        "TIO...kau apa kabar??" tanya Fanni  begitu antusiasnya.


        "Seperti yang kau lihat! ucap Tio sambil mengembangkan kedua tangannya.


         "Dia siapa??" tunjuk Fanni  ke arah Soraya.


        "Oh iya, kenalkan dia Soraya," ucap Tio.


       "SORAYA  sini.." panggil Tio kepada Soraya.


       SORAYA  berjalan sangat lemah, kali ini kakinya seperti tidak mampu untuk di langkahkan lagi. Jantung gemetar dengan hebatnya dan bahkan dia tidak sanggup melihat sepasang mata yang sedang menatapnya tajam saat ini.


         "Hey pak ceo, pantas lah kau tidak masuk kantor beberapa hari ini," ucap Tio lagi menyapa Derry yang duduk berhadapan dengan Fanni.


       "Ya, kalian berdua ngapain kesini??" tanya Derry dengan nada sinis.


       "Sayang...kenapa bertanya seperti itu, tentulah mereka sedang dinner. Ya kan Tio!!" ucap Fanni  mencoba menjawabnya.


      "Begitu lah," ucap Tio malu-malu dan melirik ke arah Soraya yang diam terpaku.


     "Kalian duduk sini aja," ajak Fanni .

__ADS_1


     "Oh..baiklah," ucap Tio.


         TIO yang ingin duduk di sebelah Fanni  tiba-tiba Derry  menukar tempatnya. Sekarang posisi Derry  berhadapan dengan Soraya  saat ini.


        Mata tajam itu tetap lekat memandangi tubuh istrinya yang memakai gaun berwarna ungu tersebut. Walau pun riasan wajah Soraya  tidak begitu tebal, namun dia tetap tak kalah cantik dengan Fanni .


        Sekarang mereka berdua telah duduk saling berhadapan, Fanni  tampak tersenyum ketika Derry melakukan itu. Fanni  berpikir, Derry  menukar posisi duduknya karena cemburu dengan Tio yang ingin duduk di sebelah Fanni .


      Meja empat segi itu menjadi saksi sekarang, debaran jantung keduanya semakin terasa. Namun Fanni  maupun Tio tidak tahu apa yang sedang berlaku di depan mata mereka saat ini.


      "Kenalkan saya Fanni ," ucap Fanni  sambil mengulurkan tangannya ke arah Soraya dengan tersenyum.


     "Saya Soraya ," ucap Soraya tersenyum pahit dan mengulurkan tangannya juga.


    "Hei kalian berdua ingin pesan apa??" tanya Fanni  kembali.


    "Anijsmelk," ucap Soraya menyebut minuman khas Belanda.


    "Sora...kamu hanya minum??" tanya Tio begitu lembut.


   "Iya aku sudah kenyang Tio," ucap Soraya singkat.


    "Wah...Tio, sweet banget panggilan kamu ke Soraya. Kalian berdua terlihat serasi," balas Fanni.


      Derry  yang diam seperti kayu tidak menyahut apapun saat ini, mata Derry  terlihat merah sekali. Dia menyimpan amarahnya, pandangannya kepada Soraya tidak beralih sedikit pun.


       "Tidak," jawab Soraya singkat.


         "Yasudah, aku juga tidak ingin makan, pesankan aku minuman yang sama seperti Soaraya," ucap Tio tersenyum kepada Fanni. 


        Fanni  pun mulai menghidupkan walkie talkie yang memang tersedia di setiap meja restoran tersebut.


     Fanni  mulai menyebutkan menu tambahan untuk meja nomor sembilan yang mereka duduki tersebut. Tidak perlu pelayan datang dengan repot-repot ke arah meja itu.


     Hanya tinggal menunggu menu yang mereka sampai saja saat ini. Fanni  begitu tersenyum hangat kepada soraya  yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.


        "Soraya, kamu kerja dimana??" tanya Fanni  basa-basi.


      "Ha..oh, aku kerja di perusahaan yang sama dengan Tio," ucap Soraya mengarah wajah Tio.


    "Iya Fan. SORAYA  ini bagian audit keuangan di perusahaan Derry. Dia juga kesayangan om Frans loh," tambah Tio lagi.


    "Wah...apa Soraya ini yang diceritakan mama Derry  kepadaku, untuk di jodohkan kepadamu Tio," ucap Fanni  langsung di depan ketiga orang itu.

__ADS_1


   "Serius?? tante mau jodohin aku sama Soraya??" tanya Tio dengan wajah yang begitu ceria.


      Tiba-tiba pelayan datang dengan nampan yang berisi penuh mengantar makanan mereka semua. DERRY yang diam terus saja menyambut pelayan tersebut untuk segera menyantap makanan itu.


        "Fanni , ayo cepat makan," ucap Derry  singkat.


        "Sayang, sabar lah makanannya juga baru sampai," ucap Fanni.


       "Tidak sangka ya, kita bisa dinner berempat malam ini," ucap Fanni  lagi.


     "Iya, benar itu," tambah Tio.


     "Eh gimana tadi Fanni, cerita perjodohan tadi??" tanya Tio seolah mengulang.


    "Fanni, jangan banyak cerita. Sebentar lagi aku ada kerja lain dan bertemu dengan relasi bisnisku," ucap Derry  mencelah.


    "Ha...serius Derry !! Relasi yang mana??" tanya Tio kepada Derry.


   "Tuan Osman," ucap Derry singkat.


       Mendengar nama Osman yang disebutkan oleh Derry, membuat wajah Fanni  tampak berubah seketika. Tak tau apa yang berlaku saat ini, sepertinya Fanni  menyimpan rahasia besar tentang dirinya.


    "Oh..tuan Osman yang orang Dubai itu kan?" tanya Tio juga ternyata mengetahuinya.


   "Iya, benar sekali," ucap Derry  sambil mengunyah daging stiknya.


    "Fanni , kenapa kau berhenti makan?" tanya Derry  lagi.


    "Tidak, perutku sedikit sakit, aku ke toilet sebentar ya," ucap Fanni.


     Dia pun pergi meninggalkan meja nomor sembilan yang telah di duduki oleh Soraya  dan juga Tio tersebut.


   "Apa kalian sering keluar seperti ini?" tanya Derry  entah kepada siapa.


   "Baru malam ini lagi, sudah hampir dua bulan kami tidak dinner bersama. Ya kan Sora!" ucap Tuo mengalih pandang ke arah Soraya.


   "Ha..ya!!" ucap Soraya seolah kuat.


       DERRY  seolah ingin menyiasat Tio saat ini, namun Tio yang tidak tahu tentang itu hanya menjawab dengan enteng dan terus terang saja kepada Derry.


       "Oh iya, kau bawa pulang Fanni  malam ini, biarkan Soraya ikut bersamaku bertemu dengan tuan osman," ucap Derry di depan Tio


     "Kenapa harus Soraya??" tanya Tio tampak tidak setuju.

__ADS_1


     "Dia bagian audit keuangan, dan dia juga sudah menjadi kepala bagian pemasaran. Tugasnya sekarang banyak dan dia harus ikut malam ini bersamaku, untuk bertemu dengan tuan Osman!" tegas Derry  memberitahukan kepada Tio


   *****


__ADS_2