
Adik ketiganya yang melihat mobil tim penyelamat datang dia pun dengan antusias memberitahukan Soraya yang menunduk ketakutan tersebut.
Melihat Tio yang keluar membawa tubuh Yumita tersebut membuat Soraya terus lari ke arah Tio
dan melihat keadaan adiknya tersebut.
"Yumi...." panggil Soraya dengan terisak.
Senyum Yumita melemah ke arah Soraya dan melihat Yumita sadar begitu membuat Soraya lega.
"Tenanglah Raya... jangan khawatir," ucap Tio sambil melangkah masuk.
Yumita dibawa ke klinik yang berada di area Villa tersebut. Untuk di periksa dan luka lebam-lebamnya akan di obati.
Mereka semua mengikuti langkah Tio, tubuh kekar dengan basah-basah itu membuat Yumita betah diatas dekapan Tio tersebut.
sudah disediakan juga Dokter di sana, jika terjadi hal yang tidak memungkinkan seperti ini maka tim medis yang bisa berada di klinik ini dengan cepat menangani mereka.
"Biarkan saya mengecek kondisi pasien dulu ya bu," ucap dokter tersebut dengan lembut ke arah Soraya yang tampak selalu mengikuti Yumita.
"Apa saya tidak boleh disini??" tanya Soraya.
"Tidak boleh bu, tolong tunggu di luar dulu," jawab dokter itu lagi.
"Raya.. ayolah keluar dulu, biar Yumita ditangani dengan cepat oleh dokter tersebut," ucap Tio kembali.
Akhirnya Soraya akur dan menuruti perkataan Tio tersebut. Dan kini mereka mananti hasil dari dokter yang memeriksa Yumita tersebut.
Banyak bagian yang memar, membuat dokter harus mengompresnya terlebih dahulu sebelum dibalut.
Dan ada dua puluh menit berlalu, akhirnya Yumita selesai di balut di bagian kepala, tangan dan kakinya tersebut.
Masih lemas dan sedikit pucat. Dokter pun keluar dari ruangannya tersebut dan memberitahukan kepada mereka semua, kondisi Yumita tidak terlalu parah, karena dia memang cepat tertolong.
Dan untuk luka memarnya memang sedikit mengambil masa untuk menyembuhkannya dan menghilangkan bekas luka memar tersebut.
Mereka pun segera masuk ke dalam menemui Yumita. Dan akhirnya Yumita malam ini haru tidur di kasur klinik tersebut.
Besok pagi mereka baru akan kembali. Soraya pula tidak ingin kembali ke villa, dia ingin menemani Yumita disini. Tio tidak melarangnya, karena dokter juga bilang sebaiknya ada seseorang yang berjaga disini.
__ADS_1
Namun, sebelum Soraya menjaga disini, dia disuruh Tio untuk kembali ke via terlebih dahulu. Untuk bertukar pakaian yang kering dan mandi air hangat di dalam terlebih dahulu.
Begitu juga dengan adik kedua dan adik ketiga, mereka juga disuruh Tio beristirahat saja di dalam kamar. Dan untuk sekaran biarlah Tio berjaga di kamar klinik tersebut.
Mengingat bajunya memang basah dan tubuhnya terasa sejuk, Soraya akur dan berjalan menuju villa bersama kedua adiknya tersebut.
Sampai di Villa dan di kamar masing-masing. Soraya terus saja dengan cepat masuk ke kamar mandi menghidupkan air panas dan membasahi tubuhnya yang sejuk sampai ke tulang tersebut.
Hari semakin sore saja. Bahkan jam sudah pun menunjukkan pukul enam lebih. Akhirnya Soraya sudah bertukar pakaian lebih santai dan ringan. Rambutnya juga sudah dia keringkan dengan pengering rambut yang dia bawa dari rumah.
Dia pun segera keluar, berjalan dengan cepat menuju klinik yang tidak jauh dari villa tersebut. Hanya bersebelahan saja, itulah mengapa dengan cepatnya dia telah sampai dan berada di depan kamar Yumita.
Yumita pula tertidur karena bius yang sudah disuntikkan ke tubuhnya. Dokter tersebut menyuntikkan antibiotik ke tubuh Yumita agar luka dalamnya tidak terlalu nyeri.
Tampak Tio dengan pakaian yang sudah kering di badan tersebut tetap setia menjaga adik Soraya itu. Soraya masuk tanpa mengetuk pintu, dan mengejutkan Tio yang memandangi wajah Yumita saat tidur itu.
"Raya.. sudah selesai??" dengan cepat Tio membuka topik pembicaraan.
"Sudah, kau pergilah mandi, biar aku disini menjaga Yumita," jawab Soraya dengan cepat.
"Yasudah, aku pergi mandi dulu, nanti aku akan kembali ke sini," ucap Tio kembali.
Akhirnya Tio pun kembali ke kamarnya. Dia pun segera bertukar pakaian dan dengan cepat Tio mandi karena hari telah pun semakin larut dan sore.
Matahari mulai tenggelam. Kedua adik Soraya tersebut terkejut ketika mendengar ponsel mereka berbunyi suara azan yang sudah otomatis terputar jika jadwalnya masuk.
Adzan maghrib berkumandang, mereka yang tampak lelah itu terbangun melihat tirai dari balik kamar memang sudah gelap. Mereka berdua melakukan sholat maghrib terlebih dahulu.
Soraya pula sholat di dalam kamar Yumita tersebut. Tampaknya kali ini Soraya tidak ingin meninggalkan Tuhan lagi, mengingat semua yang terjadi selama ini, hanya Tuhan lah yang mampu menenangkan hidupnya dan pikirannya yang gelisah.
Dia tampak sudah mengingat sosok tubuh tinggi berambut urus yang selaku tersusun rapi kebelakanh, dengan lesung pipi kiri dan kanan yang dalam, siapa lagi kalau buka Derry Sanjaya.
Dalam sholatnya tiba-tiba bayangan itu muncul kembali. Ketenangan yang baru saja dia dapatkan tampak menguji emosinya saat ini.
"Aku masih menjadi istrinya!! sudah berapa lama kami menikah.. oh Tuhan aku lupa tentang itu!!" teriak Soraya masih memakai mukena.
Dia tampak tidak sadar sedang berada di ruangan Yumita di rawat. Yumita yang sudah dari sore terkena suntikan bius tersebut, mendengar teriakan SORAYA membuatnya sadar. Tampaknya obat bius itu sudah habis masanya.
"Kak... ada apa??" nada lemah terdengar dari suara Yumita, dan Soraya terkejut sendiri.
__ADS_1
"Yumi.. sudah bangun??" ucap Soraya
menukar nada suaranya.
Hanya anggukan saja yang Soraya dapatkan dari Yumita yang masih melemah tersebut.
"Kamu lapar??" tanya Soraya kembali.
"Iya kak, sedikit," jawab Yumita.
"Ya Sudah, tunggu di sini kakak akan mengambilkan kamu makanan," ucap Soraya tampak karakternya yang tagas kembali ke dirinya sendiri.
Yumita yang melihat perubahan tersebut sedikit terkejut. Pasalnya beberapa haru berlalu, ketika kematian orang tuanya mereka tersebut, Soraya seolah tampak terkadang menjadi manja dan suka murung, namun kini karakter Soraya yang tegas jelas terlihat oleh Yumita.
Ya! Soraya sudah kembali ke jati dirinya tersebut. Tampaknya doa orang-orang yang menyayanginya tersebut terkabulkan kembali.
Soraya mengingat setiap inci dia bersama Derry, Soraya tampak ingin membuang ingatan itu, namun wajah Derry muncul di hati dan pikirannya kembali.
Baru ingin keluar dan membuka pintu Tio dan kedua adik lelakinya tersebut mendahului Soraya dan pintu pun telah terbuka lebar.
"Assalamualaikum..." serentak mereka masuk.
Setelah mandi Tio ke kamar kedua adik lelaki Soraya tersebut, dan ketika mereka melakukan Sholat Tio tampak ikut dengan mereka dan belajar memulai semuanya.
Soraya tampak terkejut dengan kehadiran Tio yang datang tiba-tiba. Kepalanya terasa sedikit sakit dan ingatannya berbolak-balik membuat dia memegangi kepala terus menerus.
"Raya... kamu kenapa??" terus saja Tio menangkap tubuj Soraya yang hampir tumbang tersebut.
"Duduk dulu kak," ucap adik kedua menangkap Soraya juga.
Soraya pun dibawa ke sofa yang ada di ruangan tersebut. Dia didudukkan dengan cepat, makanan yang di pegang adik ketiga di letakkan di atas meja yang ada di sebelah sofa tersebut.
"Raya... tenang, apa kamu ingin sesuatu??" tanya Tio kembali sambil posisinya membungkukkan badan dan mengecek suhu tubuh Soraya.
"Tidak.. aku tidak apa-apa. Sejak kapan kau berada disini Tio??" tanya Soraya kembali.
Pertanyaan Soraya itu membuat Tio dan yang lainnya terkejut. Wajah yang hangat tersebut tiba-tiba bertukar menjadi sedikit cuek.
Apa yang dipikirkan Soraya sehingga dia bersikap seperti itu dengan Tio??
__ADS_1
****