90 DAYS

90 DAYS
INGATAN KEMBALI


__ADS_3

Adik ketiganya yang melihat mobil tim penyelamat datang dia pun dengan antusias memberitahukan Soraya  yang menunduk ketakutan tersebut.


Melihat Tio yang keluar membawa tubuh Yumita  tersebut membuat Soraya  terus lari ke arah Tio


dan melihat keadaan adiknya tersebut.


"Yumi...." panggil Soraya  dengan terisak.


Senyum Yumita  melemah ke arah Soraya  dan melihat Yumita  sadar begitu membuat Soraya  lega.


"Tenanglah Raya... jangan khawatir," ucap Tio sambil melangkah masuk.


Yumita dibawa ke klinik yang berada di area Villa tersebut. Untuk di periksa dan luka lebam-lebamnya akan di obati.


Mereka semua mengikuti langkah Tio, tubuh kekar dengan basah-basah itu membuat Yumita  betah diatas dekapan Tio tersebut.


sudah disediakan juga Dokter di sana, jika terjadi hal yang tidak memungkinkan seperti ini maka tim medis yang bisa berada di klinik ini dengan cepat menangani mereka.


"Biarkan saya mengecek kondisi pasien dulu ya bu," ucap dokter tersebut dengan lembut ke arah Soraya  yang tampak selalu mengikuti Yumita.


"Apa saya tidak boleh disini??" tanya Soraya.


"Tidak boleh bu, tolong tunggu di luar dulu," jawab dokter itu lagi.


"Raya.. ayolah keluar dulu, biar Yumita  ditangani dengan cepat oleh dokter tersebut," ucap Tio kembali.


Akhirnya Soraya  akur dan menuruti perkataan Tio tersebut. Dan kini mereka mananti hasil dari dokter yang memeriksa Yumita  tersebut.


Banyak bagian yang memar, membuat dokter harus mengompresnya terlebih dahulu sebelum dibalut.


Dan ada dua puluh menit berlalu, akhirnya Yumita  selesai di balut di bagian kepala, tangan dan kakinya tersebut.


Masih lemas dan sedikit pucat. Dokter pun keluar dari ruangannya tersebut dan memberitahukan kepada mereka semua, kondisi Yumita  tidak terlalu parah, karena dia memang cepat tertolong.


Dan untuk luka memarnya memang sedikit mengambil masa untuk menyembuhkannya dan menghilangkan bekas luka memar tersebut.


Mereka pun segera masuk ke dalam menemui Yumita. Dan akhirnya Yumita  malam ini haru tidur di kasur klinik tersebut.


Besok pagi mereka baru akan kembali. Soraya  pula tidak ingin kembali ke villa, dia ingin menemani Yumita  disini. Tio tidak melarangnya, karena dokter juga bilang sebaiknya ada seseorang yang berjaga disini.

__ADS_1


Namun, sebelum Soraya  menjaga disini, dia disuruh Tio untuk kembali ke via terlebih dahulu. Untuk bertukar pakaian yang kering dan mandi air hangat di dalam terlebih dahulu.


Begitu juga dengan adik kedua dan adik ketiga, mereka juga disuruh Tio beristirahat saja di dalam kamar. Dan untuk sekaran biarlah Tio berjaga di kamar klinik tersebut.


Mengingat bajunya memang basah dan tubuhnya terasa sejuk, Soraya  akur dan berjalan menuju villa bersama kedua adiknya tersebut.


Sampai di Villa dan di kamar masing-masing. Soraya terus saja dengan cepat masuk ke kamar mandi menghidupkan air panas dan membasahi tubuhnya yang sejuk sampai ke tulang tersebut.


Hari semakin sore saja. Bahkan jam sudah pun menunjukkan pukul enam lebih. Akhirnya Soraya  sudah bertukar pakaian lebih santai dan ringan. Rambutnya juga sudah dia keringkan dengan pengering rambut yang dia bawa dari rumah.


Dia pun segera keluar, berjalan dengan cepat menuju klinik yang tidak jauh dari villa tersebut. Hanya bersebelahan saja, itulah mengapa dengan cepatnya dia telah sampai dan berada di depan kamar Yumita.


Yumita pula tertidur karena bius yang sudah disuntikkan ke tubuhnya. Dokter tersebut menyuntikkan antibiotik ke tubuh Yumita  agar luka dalamnya tidak terlalu nyeri.


Tampak Tio dengan pakaian yang sudah kering di badan tersebut tetap setia menjaga adik Soraya  itu. Soraya  masuk tanpa mengetuk pintu, dan mengejutkan Tio yang memandangi wajah Yumita  saat tidur itu.


"Raya.. sudah selesai??" dengan cepat Tio membuka topik pembicaraan.


"Sudah, kau pergilah mandi, biar aku disini menjaga Yumita," jawab Soraya  dengan cepat.


"Yasudah, aku pergi mandi dulu, nanti aku akan kembali ke sini," ucap Tio kembali.


Akhirnya Tio pun kembali ke kamarnya. Dia pun segera bertukar pakaian dan dengan cepat Tio mandi karena hari telah pun semakin larut dan sore.


Matahari mulai tenggelam. Kedua adik Soraya  tersebut terkejut ketika mendengar ponsel mereka berbunyi suara azan yang sudah otomatis terputar jika jadwalnya masuk.


Adzan maghrib berkumandang, mereka yang tampak lelah itu terbangun melihat tirai dari balik kamar memang sudah gelap. Mereka berdua melakukan sholat maghrib terlebih dahulu.


Soraya  pula sholat di dalam kamar Yumita  tersebut. Tampaknya kali ini Soraya  tidak ingin meninggalkan Tuhan lagi, mengingat semua yang terjadi selama ini, hanya Tuhan lah yang mampu menenangkan hidupnya dan pikirannya yang gelisah.


Dia tampak sudah mengingat sosok tubuh tinggi berambut urus yang selaku tersusun rapi kebelakanh, dengan lesung pipi kiri dan kanan yang dalam, siapa lagi kalau buka Derry  Sanjaya.


Dalam sholatnya tiba-tiba bayangan itu muncul kembali. Ketenangan yang baru saja dia dapatkan tampak menguji emosinya saat ini.


"Aku masih menjadi istrinya!! sudah berapa lama kami menikah.. oh Tuhan aku lupa tentang itu!!" teriak Soraya  masih memakai mukena.


Dia tampak tidak sadar sedang berada di ruangan Yumita  di rawat. Yumita  yang sudah dari sore terkena suntikan bius tersebut, mendengar teriakan SORAYA  membuatnya sadar. Tampaknya obat bius itu sudah habis masanya.


"Kak... ada apa??" nada lemah terdengar dari suara Yumita, dan Soraya  terkejut sendiri.

__ADS_1


"Yumi.. sudah bangun??" ucap Soraya


menukar nada suaranya.


Hanya anggukan saja yang Soraya  dapatkan dari Yumita  yang masih melemah tersebut.


"Kamu lapar??" tanya Soraya  kembali.


"Iya kak, sedikit," jawab Yumita.


"Ya Sudah, tunggu di sini kakak akan mengambilkan kamu makanan," ucap Soraya tampak karakternya yang tagas kembali ke dirinya sendiri.


Yumita yang melihat perubahan tersebut sedikit terkejut. Pasalnya beberapa haru berlalu, ketika kematian orang tuanya mereka tersebut, Soraya  seolah tampak terkadang menjadi manja dan suka murung, namun kini karakter Soraya  yang tegas jelas terlihat oleh Yumita.


Ya! Soraya  sudah kembali ke jati dirinya tersebut. Tampaknya doa orang-orang yang menyayanginya tersebut terkabulkan kembali.


Soraya  mengingat setiap inci dia bersama Derry, Soraya  tampak ingin membuang ingatan itu, namun wajah Derry  muncul di hati dan pikirannya kembali.


Baru ingin keluar dan membuka pintu Tio dan kedua adik lelakinya tersebut mendahului Soraya  dan pintu pun telah terbuka lebar.


"Assalamualaikum..." serentak mereka masuk.


Setelah mandi Tio ke kamar kedua adik lelaki Soraya  tersebut, dan ketika mereka melakukan Sholat Tio tampak ikut dengan mereka dan belajar memulai semuanya.


Soraya  tampak terkejut dengan kehadiran Tio yang datang tiba-tiba. Kepalanya terasa sedikit sakit dan ingatannya berbolak-balik membuat dia memegangi kepala terus menerus.


"Raya... kamu kenapa??" terus saja Tio menangkap tubuj Soraya  yang hampir tumbang tersebut.


"Duduk dulu kak," ucap adik kedua menangkap Soraya juga.


Soraya  pun dibawa ke sofa yang ada di ruangan tersebut. Dia didudukkan dengan cepat, makanan yang di pegang adik ketiga di letakkan di atas meja yang ada di sebelah sofa tersebut.


"Raya... tenang, apa kamu ingin sesuatu??" tanya Tio  kembali sambil posisinya membungkukkan badan dan mengecek suhu tubuh Soraya.


"Tidak.. aku tidak apa-apa. Sejak kapan kau berada disini Tio??" tanya Soraya  kembali.


Pertanyaan Soraya  itu membuat Tio dan yang lainnya terkejut. Wajah yang hangat tersebut tiba-tiba bertukar menjadi sedikit cuek.


Apa yang dipikirkan Soraya  sehingga dia bersikap seperti itu dengan Tio??

__ADS_1


****


__ADS_2