
Mereka telah pun sampai di kantor polisi saat ini. Semuanya telah duduk serentak, Fanni sebagai pelapor di suruh lebih awal berbicara sekarang.
Tampaknya Fanni memang membela Tuan Osman saat ini, dia bahkan masih saja menyudutkan Tio dan Rendra.
Kali ini giliran Soraya yang menjadi saksi mata di sana. Dengan jelas Soraya pun di tanyai oleh komandan polisi itu, lalu Soraya di siasat dengan benar-benar.
"Bohong! wanita berbohong!!" dengan keras Fanni menyanggah ucapan Soraya.
"Diam! sekarang giliran nona ini, giliran anda sudah berakhir!" ucap Komandan itu dengan tegas.
"Lanjutkan nona," ucapnya lagi.
"Terima kasih pak. Kami hanya ingin masuk untuk memberikan berkas-berkas ini, karena memang kami akan mengadakan meeting bersama pihak investor kami yaitu Tuan Rendra."
"Disini, beliau sebagai tertuduh tadi sebenarnya tidak salah, dia hanya membantu bos saya, yang saat itu di hadang oleh empat bodyguard ini," ucap Soraya sengaja.
Tuan Rendra dan Tio melirik ke arah Soraya yang tampak sengaja berbohong untuk membela mereka berdua. Sebenarnya tidak sepenuhnya itu berbohong, hanya saja memang ada terselip sedikit kebohongan.
Fanni tidak berani untuk mengatakan tentang cctv saat ini. Jika nanti di usut tuntas, cctv saat mereka sedang di dalam ruangan tersebut pastilah akan terbongkar kedoknya.
Fanni terdiam saat ini, rasanya dia ingin mencakar wajah Soraya sekarang. Dan saat ini Fanni pun tak menyimpan dendam kembali.
"Oh, berarti nona ini sedang berada dalam ruangan terkunci, anda dan saudara Tio hanya ingin masuk, tapi di hadang dengan kasar oleh keempat bodyguard ini??" tanya komandan itu ingin memperjelas.
"Iya benar pak!" ucap Soraya dengan tuntas.
"Baiklah, tampaknya ini adalah suatu Kesalahpahaman saja, apa kalian ingin melanjutkan kasus ini? atau kalian ingin bersama??" tanya komandan itu menjadi pihak tengah mereka semua.
Tampak diam semuanya, saat ini Soraya telah menolong kedua pria ini dari jerat hukum kekerasan. Ya! jika memang harus melihat cctv, Tio dan Rendra memang akan bersalah besar, namun entah mengapa firasat Soraya mengatakan Fanni tidak akan berani membongkar cctv.
"Baiklah pak berdamai!" ucap Tuan Osman mendahului mereka semua.
Tio dan Rendra hanya melirik licik saat ini. Namun Tuan Osman sengaja mempercepat masalah ini, karena dia mempunyai rencana lain yang akan membuat Tio dan Rendra sengsara nantinya.
"Oh, baiklah! apa kalian ingin berdamai juga??" tanya komandan itu lagi.
"Iya pak," serentak mereka mengatakan itu.
__ADS_1
Fanni yang menjelaskan Tuan Osman adalah kliennya, itu lah mengapa Fanni yang membuat pelaporan ini, tapi untungnya ada Soraya di sana yang juga melihat kejadian itu.
Pihak Tuan Osman dan Fanni keluar lebih awal sekarang, mereka berjalan serentak saat ini. Fanni bersama Tuan Osman yang tampak kompak jalan sejajar, sedangkan saat ini juga mata Tio dan Rendra menyiasat ke suatu hal.
"Apa kalian tidak ingin pulang??" tanya komandan itu lagi.
"Baiklah pak," ucap mereka serentak.
Mereka bertiga pun sedikit langkah lemah saat ini. Pihak investor yang sudah menunggu mereka di ruangan rapat saat ini, sudah pun mereka kabari meeting dibatalkan hari ini.
Tio dan Rendra beserta Soraya menaiki mobil yang sama saat ini. Untung saja Soraya yang membawa mobil sekarang Tio yang menyetir, Soraya duduk di belakang, sedangkan Rendra duduk di sebelah Tio.
"Soraya!!" serentak kedua pria itu memanggil namanya.
Terkejut Soraya, ketika itu dia sedang membaca pesan dari adiknya tersebut. Mendengar kedua pria itu serentak memanggil namanya, dia pun sontak mendongak ke arah mereka.
"Saya pak," ucap Soraya terkejut.
"Terima kasih banyak, kau sudah membantu kami," ucap mereka lagi tersenyum.
"Ya, sama-sama."
"Tio, setelah ini kau harus membayar aparat negara untuk menjadi bodyguardmu dan Soraya," ucap Tuan Rendra dengan tiba-tiba.
"Memangnya kenapa??" tanya Tio kembali yang tampak bingung.
"Kau tahu, lelaki yang tadi aku hajar, dia itu licik! apa kau mengenalinya??" tanya Tuan Rendra kembali.
"Ya, hanya sebatas klien," ucap Tio kembali.
"Kau tahu nama lengkap lelaki itu??" tanya tuan Rendra kembali.
"Ya, namanya Osman Uzair," jawab Tio dengan cepat.
"Baiklah, kalian berdua harus berhati-hati, dan yang paling penting adalah kau harus memperketat penjagaan Soraya, aku tidak ingin ada korban lainnya," ucap Tuan Rendra kembali.
Entah apa maksud dari perkataan Tuan Rendra itu, namun Soraya saat ini hampir bisa menebak arahnya. Siapa yang dia maksud sebagai korban?? pikir Tio dengan begitu keras sekarang.
__ADS_1
Sedangkan Soraya yang tampak sudah bisa menangkapnya. Ya! Tsania! ucap Soraya dalam hatinya saat ini.
Tapi, kenapa foto itu ada Tuan Rendra?? apa ini salah? siapa yang salah? itulah saat ini yang masih menjadi rahasia besar.
Tuan Rendra telah pun mendapat nama lengkap Tuan Osman, dia pun nanti akan berencana menyuruh orang kepercayaannya yang ahli dalam membobol apapun kata kerennya adalah hacker handal.
Satu sisi lagi Soraya termenung mengingat dimana ketika dia dan Derry menemui Tuan Osman kala itu. Memang, Tuan Osman tampak lelaki bermata keranjang.
Tapi, rasanya tidak mungkin saja Tsania, pikir Soraya kembali. Huh! ada apa ini?? kepala Soraya begitu sakit memikirkan ini, perutnya terasa mual sekarang.
Memang beberapa hari ini dia sering mual tiba-tiba, apalagi kalau sedang stres rasa mualnya akan begitu cepat datang menyerang.
"Raya.. kamu kenapa??" tanya Tio panik dan segera meminggirkan mobil itu.
"Raya.. kamu kenapa??" tanya Tuan Rendra kembali.
Kedua lelaki itu dengan cepat membukakan pintu, agar Soraya segera mengeluarkan apa yang ingin keluar dari mulutnya saat ini. Karena ini mobil Soraya, dia selalu menyimpan minyak angin favoritnya.
"Tolong ambilkan minyak angin ku," ucap Soraya entah siapa yang dia suruh saat ini.
Tuan Rendra dengan cepat masuk kembali dan mencari minyak angin itu, kemudian Tio pula yang sudah memegang air mineral tersebut, langsung menyuruh Soraya meneguknya.
"Raya.. kita ke dokter ya," ucap Tio memujuk Soraya.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa Bin," ucapnya.
Tuan Rendra menatap senyum kepada mereka berdua, Tuan Rendra berpikiran Tio dan Soraya saat ini sedang memadu kasih, padahal ada sesuatu yang juga masih Tuan Rendra tidak ketahui lagi.
Rasa penasaran itu masih menjalar, bisa-bisanya Fanni yang hanya kekasih Derry itu menjadi CEO di sana, pikir Tuan Rendra. Ya! Tuan Rendra memang mengenal Derry dengan Fanni adalah dua sejoli yang memiliki cinta mati. Dan Soraya, dia sama sekali tidak pernah tahu, wanita tangguh ini adalah istri sah dari Derry Sanjaya.
Setelah Soraya puas memuntahkan isi perutnya itu, kemudian Tio menaruh minyak angin di bagian pinggir dahi wanita itu dengan lembut. Rendra membiarkannya saja, tampak memang Tio yang menyayangi wanita itu dengan tulus, ucapnya dalam hati.
Rasa sunyi dan kosong di hatinya saat ini, teringat saat-saat dia melepaskan keperjakaannya untuk Tsania yang memaksanya malam itu. Mengingat hal itu, mengingat juga tentang lelaki yang baru di hajarnya.
Runyam! ya, masalahnya dengan Tsania begitu Runyam. Karena memang Tsania tidak ingin di tanggung jawabi olehnya tersebut.
Akankah Soraya mengungkap semuanya??
__ADS_1
****