
"Ma, jangan panik dulu, dan jangan nangis. Tenang Ma," ucap Tuan Frans memeluk istrinya.
"Mama duduk dulu, disini saja, biar Papa yang keliling," ucap Tuan Frans tersebut.
Tirai kamar tersebut tertutup dengan rapinya, Tuan Frans pun membuka tirai itu dan pintu kacanya di dorong dengan cepat.
"Derry!!" jangan nak!!" berlari dengan cepat kedua tangannya menahan kaki jenjang Derry.
"Pa!! ada apa??" berlari menuju teras kamar Derry juga.
Karena mendengar teriakan keras dari balik tirai tersebut. Mama Derry yang tadinya duduk di ranjang Derry bangkit dan mengejar Tuan Frans ke arah teras kamar itu.
"Derry....."
"Jangan Nak," ucap Mamanya.
Kaki kanan sudah ditahan, kaki kiri pula sudah berada di luar teras, dia duduk mengangkang seolah ingin turun dari balkon tersebut.
Untungnya Tuan Frans cepat menahan kaki yang satunya. Derry tidak bergeming, dia hanya diam dan kaku, bahkan dia tampak santai dan mengayunkan kaki kirinya seperti anak kecil saja.
Mama Derry dengan cepat menarik tangan Derry, membantu Tuan Frans. Tubuh tegap dan tinggi itu membuat mereka sedikit susah untuk menurunkan Derry.
Dengan usaha yang keras dari kedua orang tua Derry itu, akhirnya Derry berhasil diturunkan ke lantai.
Mereka berdua memeluk anaknya dengan erat. Beginilah keadaan jika Derry tidak di beri obat tidur, kegelisahannya akan memuncak, karena dia tampak tidak memikirkan apapun, tindakan apa saja bisa dia lakukan.
Wajah tampan itu tampak menjadi bodoh sekarang. Miris bagi siapapun yang melihatnya. Di hati kedua orang tuanya sudah berniat jika dia sembuh, segala keputusan apapun nantinya yang ingin Derry lakukan, mereka akan mendukungnya tanpa paksaan.
Derry dibawa kembali ke arah ranjang. Kini pintu kaca yang menuju balkon tersebut dikunci dengan Tuan Frans. Dan kunci itu disimpan mama Derry.
Mereka takut, keteledoran akan membuat Derry menjadi bahaya nantinya. Dan mama Derry dengan cepat menyuruh Derry meminum segelas air yang sudah dia campurkan obat tidur tersebut.
Derry pun tenang dan dia mulai memejamkan matanya. Malam ini mama Derry dan Tuan Frans tidak tidur di kamar mereka. Mereka berdua memutuskan menemani Derry malam ini.
Besok adalah hari sabtu. Dan Tuan Frans memberi libur untuk para stafnya. Tuan Frans ingin menghabiskan waktu bersama Derry dan istrinya.
Tio pula sudah tidur dengan nyenyaknya, dia tidur bersama adik keduanya dan adik ketiganya. Tempat tidur itu muat untuk tiga orang. Soraya pula sangat senang atas kehadiran Tio di rumah nya.
Entah mengapa sedikit aneh ingatan Soraya saat ini. Dia tampak melupakan kejadian-kejadian yang membuat kepalanya sakit.
Malam sudah semakin larut, jam berganti dan terus berjalan. Hingga terdengar suara azan berkumandang, ayam berkokok.
__ADS_1
Suasana yang tidak pernah didapatkan Tio selama hidupnya. Berada di kampung Soraya ini adalah kali pertamanya mendengar ayam jantan berkokok kuat dan azan dengan merdunya melantun.
Adik kedua dan adik ketiga, dengan cepat turun dan mandi mereka juga membangunkan kedua kakaknya, yang ternyata telah pun bangun lebih awal.
Mereka berlima siap untuk sholat berjamaah. Tio mereka biarkan saja, rasanya mereka segan untuk membangunkan Tio yang tampak masih menutup matanya, namun sebenarnya telinga Tio telah mendengar semuanya.
Setelah mereka keluar semua, Tio pula duduk di atas ranjang, mengintai ke arah luar. Ada sedikit ruangan yang tersisa di rumah itu, yaitu ruangan untuk mereka sholat berjamaah.
Terdengar suara Iqomah adik keduanya yang merdu, membuat Tio yang mengintai mereka dari belakang kagum dengan keluarga Soraya tersebut.
"Andaikan saja aku bisa menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Tio dalam hatinya.
Tio masih asyik memperhatikan mereka, hari ini mereka sudah membuat rencana untuk pergi berlibur ke area pegunungan. Karena Hari ini adalah hari sabtu dan besok minggu jadi mereka memiliki waktu yang banyak untuk liburan.
Empat rakaat telah selesai mereka melaksanakan, dua rakaat shalat wajib dan duanya lagi sunnah sebelum subuh. Melihat mereka sudah beranjak keluar dari ruangan terbuka itu, Tio dengan cepat kembali lagi ke kamar.
Tio pura-pura tidur kembali, dia bingung harus berbuat apa di rumah ini. Melihat adik keduanya yang tampak bertanggung jawab dan lebih dewasa itu, membuat Tio sedikit malu dan canggung.
Soraya dan Yumita mulai ke dapur, meracik bahan makanan yang ada di sana. Tampaknya dua wanita itu ingin membuat nasi goreng kampung.
Adik keduanya pula membangunkan Tio. Dengan lembut dan begitu sopannya, adik keduanya ingin mengajak Tio menghirup udara di kampung tersebut.
"Bang... Bang Tio," panggil adik keduanya dengan penuh hati-hati.
"Bang, Ayo bangun, udara di luar sangat bagus," ucap adik kedua lagi.
"Iya Dik, terima kasih ya, sudah membangunkan abang," jawab Tio terus bangkit.
"Iya bang, tapi saya mau kasih makan ayam dulu ya, abang cuci muka aja dulu," ucap Adik kedua lagi.
"Abang mau ikut kasih makan ayam juga Din," ucap Tio penuh semangat.
"Serius?? ya sudah ayo kalau begitu!!" sambil melangkah dengan senangnya.
Mereka pun mulai keluar dari rumah, ketika keluar kamar aroma lezat tercium di hidung Tio. Tampak lelaki bujang satu ini menikmati setiap detiknya berada di kampung halaman Soraya tersebut.
"Wah, banyak sekali ayam kamu Dik," ucap Tio kagum dengan adik keduanya.
"Iya bang, dulu sewaktu ada bapak, kami berdua pagi-pagi begini yang kasih makan ayam," jawab adik keduanya pula.
"Adik Ketiga kemana??" tanya Tio kembali karena tidak melihat adik ketiga.
__ADS_1
"Mungkin lagi mencuci pakaiannya bang," ucap Adik kedua pula.
"Adik ketiga mencuci pakaian??" terheran Tio mendengar ucapan adik kedua tersebut.
"Iya bang, ibu mengajarkan kami untuk tidak merepotkan kakak, dan kami harus mandiri," ucap adik kdeua Soraya lagi.
"Orang tua kalian hebat, Oh iya, cita-cita kamu ingin menjadi apa sih Dik??" sambil memberi makan ayam sambil mereka berbincang.
"Kalau adik keduanya sih ingin menjadi pengusaha aja bang."
"Wah... bagus itu, abang doakan kamu nanti akan sukses menjadi pengusaha hebat dan handal," ucap Tio.
"Aamiinn, sudah selai bang, cuci tangan dulu yuk," sambil mengarah ke dapur.
Terlihat kedua wanita itu sudah selesai memasak, dan tidak lupa juga kopi hitam khas kampung Soraya tersebut aromanya menggugah semangat.
"Wah.. sudah bangun!!" ucap Soraya tampak senang.
"Sudah, adik ketiga yang mengejutkanku," jawab Adik keduanya.
"Yasudah, kalau begitu cepat bersihkan tubuh kalian, ayo kita sarapan," dengan senyum ramah dan hangat itu diberikan Soraya kepada Tio.
Entah mengapa, hati Yumita merasa lain, ketika Tio memandangi Soraya dengan tatapan yang terlihat kagum. Rasa cemburu yang tidak tahu tempat itu muncul seketika dan membuat onar di hatinya saja.
Apa mungkin Yumita mencintai Tio??
Entahlah, karena cinta memang datang dengan tiba-tiba dan tidak tahu tempatnya. Rasa iri di hati Yumita melihat Soraya tampak di cintai lelaki-lelaki mapan dan juga tampan.
Namun, karena dia tahu Soraya itu kakaknya yang baik, Yumita pun menepis perasaan itu. Dan dia ingin mencoba menghilangkan perasaannya terhadap Tio.
Terjatuh dan menatap wajah dan mata Tio dengan dekat, membuat gadis itu terus saja terpikat. Hingga sosok Tio dan sikapnya yang hangat kepada adik-adiknya tampaknya Yumita tidak memikirkan umur mereka yang berjarak cukup jauh.
"Yumi, kenapa kami termenung?? sapa Soraya yang sudah dua kali kembali ke dapur namun Yumita masih berdiri memegangi sendok.
"Ha.. tidak kak," ucap Yumita menyanggah dengan cepat.
"Yasudah, cepat letakkan sendoknya di meja," perintah Soraya.
Dengan cepat Yumita mengangguk dan berjalan menuju meja makan. Sudah duduk Tio dan kedua adik lelakinya. Mereka tampak hangat kepada Tio, apalagi adik keduanya yang memang orangnya ramah dan santun serta uka bercakap.
Adik ketiga SORAYA pula sedikit pendiam, namun tetap saja dia anak yang penurut. Semua makanan sudah tersaji di meja makan. Baru saja Tio ingin melahap makanan tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering kuat terdengar dari dalam kamar yang bersebelahan dengan ruangan makan itu.
__ADS_1
"Kalian makan lah dulu, abang mau mengambil ponsel dulu," ucap Tio dengan sopan.
Hayo... siapa ya, pagi-pagi begini menelpon Tio!!