90 DAYS

90 DAYS
TIO BERSAMA SORAYA


__ADS_3

"Ma, jangan panik dulu, dan jangan nangis. Tenang Ma," ucap Tuan Frans  memeluk istrinya.


"Mama duduk dulu, disini saja, biar Papa yang keliling," ucap Tuan Frans  tersebut.


Tirai kamar tersebut tertutup dengan rapinya, Tuan Frans  pun membuka tirai itu dan pintu kacanya di dorong dengan cepat.


"Derry!!" jangan nak!!" berlari dengan cepat kedua tangannya menahan kaki jenjang Derry.


"Pa!! ada apa??" berlari menuju teras kamar Derry  juga.


Karena mendengar teriakan keras dari balik tirai tersebut. Mama Derry  yang tadinya duduk di ranjang Derry  bangkit dan mengejar Tuan Frans  ke arah teras kamar itu.


"Derry....."


"Jangan Nak," ucap Mamanya.


Kaki kanan sudah ditahan, kaki kiri pula sudah berada di luar teras, dia duduk mengangkang seolah ingin turun dari balkon tersebut.


Untungnya Tuan Frans  cepat menahan kaki yang satunya. Derry  tidak bergeming, dia hanya diam dan kaku, bahkan dia tampak santai dan mengayunkan kaki kirinya seperti anak kecil saja.


Mama Derry  dengan cepat menarik tangan Derry, membantu Tuan Frans. Tubuh tegap dan tinggi itu membuat mereka sedikit susah untuk menurunkan Derry.


Dengan usaha yang keras dari kedua orang tua Derry  itu, akhirnya Derry  berhasil diturunkan ke lantai.


Mereka berdua memeluk anaknya dengan erat. Beginilah keadaan jika Derry  tidak di beri obat tidur, kegelisahannya akan memuncak, karena dia tampak tidak memikirkan apapun, tindakan apa saja bisa dia lakukan.


Wajah tampan itu tampak menjadi bodoh sekarang. Miris bagi siapapun yang melihatnya. Di hati kedua orang tuanya sudah berniat jika dia sembuh, segala keputusan apapun nantinya yang ingin Derry  lakukan, mereka akan mendukungnya tanpa paksaan.


Derry  dibawa kembali ke arah ranjang. Kini pintu kaca yang menuju balkon tersebut dikunci dengan Tuan Frans. Dan kunci itu disimpan mama Derry.


Mereka takut, keteledoran akan membuat Derry  menjadi bahaya nantinya. Dan mama Derry  dengan cepat menyuruh Derry  meminum segelas air yang sudah dia campurkan obat tidur tersebut.


Derry  pun tenang dan dia mulai memejamkan matanya. Malam ini mama Derry  dan Tuan Frans  tidak tidur di kamar mereka. Mereka berdua memutuskan menemani Derry  malam ini.


Besok adalah hari sabtu. Dan Tuan Frans  memberi libur untuk para stafnya. Tuan Frans  ingin menghabiskan waktu bersama Derry  dan istrinya.


Tio pula sudah tidur dengan nyenyaknya, dia tidur bersama adik keduanya  dan adik ketiganya. Tempat tidur itu muat untuk tiga orang. Soraya pula sangat senang atas kehadiran Tio di rumah nya.


Entah mengapa sedikit aneh ingatan Soraya  saat ini. Dia tampak melupakan kejadian-kejadian yang membuat kepalanya sakit.


Malam sudah semakin larut, jam berganti dan terus berjalan. Hingga terdengar suara azan berkumandang, ayam berkokok.

__ADS_1


Suasana yang tidak pernah didapatkan Tio selama hidupnya. Berada di kampung Soraya  ini adalah kali pertamanya mendengar ayam jantan berkokok kuat dan azan dengan merdunya melantun.


Adik kedua dan adik ketiga, dengan cepat turun dan mandi mereka juga membangunkan kedua kakaknya, yang ternyata telah pun bangun lebih awal.


Mereka berlima siap untuk sholat berjamaah. Tio mereka biarkan saja, rasanya mereka segan untuk membangunkan Tio yang tampak masih menutup matanya, namun sebenarnya telinga Tio telah mendengar semuanya.


Setelah mereka keluar semua, Tio pula duduk di atas ranjang, mengintai ke arah luar. Ada sedikit ruangan yang tersisa di rumah itu, yaitu ruangan untuk mereka sholat berjamaah.


Terdengar suara Iqomah adik keduanya yang merdu, membuat Tio yang mengintai mereka dari belakang kagum dengan keluarga Soraya  tersebut.


"Andaikan saja aku bisa menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Tio dalam hatinya.


Tio masih asyik memperhatikan mereka, hari ini mereka sudah membuat rencana untuk pergi berlibur ke area pegunungan. Karena Hari ini adalah hari sabtu dan besok minggu jadi mereka memiliki waktu yang banyak untuk liburan.


Empat rakaat telah selesai mereka melaksanakan, dua rakaat shalat wajib dan duanya lagi sunnah sebelum subuh. Melihat mereka sudah beranjak keluar dari ruangan terbuka itu, Tio dengan cepat kembali lagi ke kamar.


Tio pura-pura tidur kembali, dia bingung harus berbuat apa di rumah ini. Melihat adik keduanya yang tampak bertanggung jawab dan lebih dewasa itu, membuat Tio sedikit malu dan canggung.


Soraya  dan Yumita  mulai ke dapur, meracik bahan makanan yang ada di sana. Tampaknya dua wanita itu ingin membuat nasi goreng kampung.


Adik keduanya pula membangunkan Tio. Dengan lembut dan begitu sopannya, adik keduanya ingin mengajak Tio menghirup udara di kampung tersebut.


"Bang... Bang Tio," panggil adik keduanya dengan penuh hati-hati.


"Bang, Ayo bangun, udara di luar sangat bagus," ucap adik kedua lagi.


"Iya Dik, terima kasih ya, sudah membangunkan abang," jawab Tio terus bangkit.


"Iya bang, tapi saya mau kasih makan ayam dulu ya, abang cuci muka aja dulu," ucap Adik kedua lagi.


"Abang mau ikut kasih makan ayam juga Din," ucap Tio penuh semangat.


"Serius?? ya sudah ayo kalau begitu!!" sambil melangkah dengan senangnya.


Mereka pun mulai keluar dari rumah, ketika keluar kamar aroma lezat tercium di hidung Tio. Tampak lelaki bujang satu ini menikmati setiap detiknya berada di kampung halaman Soraya  tersebut.


"Wah, banyak sekali ayam kamu Dik," ucap Tio kagum dengan adik keduanya.


"Iya bang, dulu sewaktu ada bapak, kami berdua pagi-pagi begini yang kasih makan ayam," jawab adik keduanya pula.


"Adik Ketiga kemana??" tanya Tio kembali karena tidak melihat adik ketiga.

__ADS_1


"Mungkin lagi mencuci pakaiannya bang," ucap Adik kedua pula.


"Adik ketiga mencuci pakaian??" terheran Tio  mendengar ucapan adik kedua tersebut.


"Iya bang, ibu mengajarkan kami untuk tidak merepotkan kakak, dan kami harus mandiri," ucap adik kdeua Soraya lagi.


"Orang tua kalian hebat, Oh iya, cita-cita kamu ingin menjadi apa sih Dik??" sambil memberi makan ayam sambil mereka berbincang.


"Kalau adik keduanya sih ingin menjadi pengusaha aja bang."


"Wah... bagus itu, abang doakan kamu nanti akan sukses menjadi pengusaha hebat dan handal," ucap Tio.


"Aamiinn, sudah selai bang, cuci tangan dulu yuk," sambil mengarah ke dapur.


Terlihat kedua wanita itu sudah selesai memasak, dan tidak lupa juga kopi hitam khas kampung Soraya  tersebut aromanya menggugah semangat.


"Wah.. sudah bangun!!" ucap Soraya  tampak senang.


"Sudah, adik ketiga yang mengejutkanku," jawab Adik keduanya.


"Yasudah, kalau begitu cepat bersihkan tubuh kalian, ayo kita sarapan," dengan senyum ramah dan hangat itu diberikan Soraya  kepada Tio.


Entah mengapa, hati Yumita  merasa lain, ketika Tio memandangi Soraya  dengan tatapan yang terlihat kagum. Rasa cemburu yang tidak tahu tempat itu muncul seketika dan membuat onar di hatinya saja.


Apa mungkin Yumita  mencintai Tio??


Entahlah, karena cinta memang datang dengan tiba-tiba dan tidak tahu tempatnya. Rasa iri di hati Yumita  melihat Soraya  tampak di cintai lelaki-lelaki mapan dan juga tampan.


Namun, karena dia tahu Soraya  itu kakaknya yang baik, Yumita  pun menepis perasaan itu. Dan dia ingin mencoba menghilangkan perasaannya terhadap Tio.


Terjatuh dan menatap wajah dan mata Tio dengan dekat, membuat gadis itu terus saja terpikat. Hingga sosok Tio dan sikapnya yang hangat kepada adik-adiknya tampaknya Yumita  tidak memikirkan umur mereka yang berjarak cukup jauh.


"Yumi, kenapa kami termenung?? sapa Soraya  yang sudah dua kali kembali ke dapur namun Yumita  masih berdiri memegangi sendok.


"Ha.. tidak kak," ucap Yumita  menyanggah dengan cepat.


"Yasudah, cepat letakkan sendoknya di meja," perintah Soraya.


Dengan cepat Yumita  mengangguk dan berjalan menuju meja makan. Sudah duduk Tio dan kedua adik lelakinya. Mereka tampak hangat kepada Tio, apalagi adik keduanya yang memang orangnya ramah dan santun serta uka bercakap.


Adik ketiga SORAYA  pula sedikit pendiam, namun tetap saja dia anak yang penurut. Semua makanan sudah tersaji di meja makan. Baru saja Tio ingin melahap makanan tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering kuat terdengar dari dalam kamar yang bersebelahan dengan ruangan makan itu.

__ADS_1


"Kalian makan lah dulu, abang mau mengambil ponsel dulu," ucap Tio dengan sopan.


Hayo... siapa ya, pagi-pagi begini menelpon Tio!!


__ADS_2