90 DAYS

90 DAYS
MAKAN BERSAMA TIO


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Soraya  dan adik-adiknya langsung mengemasi pakaian dan Tio menyarankan bawa seadanya saja, yang lebih nya bisa di beli kembali di kota Jakarta, ucap Tio kepada Soraya.


Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi, Tio pula sudah membooking tiket pesawat pukul sebelas. Mereka pun sudah selesai berkemas dan ada tiga koper yang mereka bawa.


Dengan cepat Tio  membantu memasukkan koper tersebut kedalam mobil dan tersusun rapi. Yumita  yang tampak sulit berjalan itu di papah oleh Nurdin dan juga Nadim.


Tubuhnya yang mungil sangat mudah untuk mereka angkat dan kembali masuk ke dalam mobil lagi.


Tio pun menyetir kembali menuju bandara, lumayan jauh perjalanan dari kampung Soraya  tersebut ke bandara memakan waktu berjam juga.


Begitu sampai di bandara sudah pukul setengah sebelas, dengan cepat Tio menurunkan koper-koper tersebut dan Soraya  pula memapah Yumita  yang berjalan sedikit pincang di bantu oleh Nurdin juga.


Nadim membawa koper juga membantu Tio. Mobil itu sudah di serahkan kepada pemilik rental tersebut yang sudah menunggu di bandara karena Tio lebih awal menghubungi orang itu.


Ada waktu setengah jam lagi, mereka sudah lun berada di ruang tunggu. TIO menyelesaikan tiket mereka semua, dan mereka berkumpul bersama menunggu pesawat berangkat.


Ini kali pertama bagi Yumita  dan kedua adik Soraya  naik pesawat terbang. Rasa deg-degan juga pasti ada, karena mereka pun tidak pernah sama sekali naik pesawat.


Tak lama kemudian pengumuman terdengar pesawat ingin berangkat mereka bersiap Tio  dan Soraya  membantu mengarahkan adik-adiknya.


Sedangkan orang tua Tio  telah menyiapkan makanan yang banyak untuk menyambut Soraya  dan adik-adiknya di rumah mereka. Tio juga telah mengirim pesan ke mereka lebih awal.


Tampak bahagia ibu Tio dan ayahnya. Mereka akan sampai nanti pukul tiga, dan Tio akan membawa mereka semua ke rumahnya terlebih dahulu.


"Kak... ini tidak akan jatuh kah??" tanya Yumita  yang begitu takutnya.


"Tenang saja Yumita, ini aman kok, dan pakai ini," sambil belt itu dipasangkan Soraya  kepada Yumita.


Yumita duduk bersama Soraya  dan Nadim, sedangkan Tio duduk dengan Nurdin di sebelah mereka. Nurdin juga tampak di ajak berbincang-bincang oleh Tio.


Entah mengapa Tio sangat menyukai sosok adik Soraya  yang satu ini. Nurdin yang baik dan ramah, sopan dan santun bahkan dewasa dan selalu berpikir positif.


Tio menanyakan kepada Nurdin, jika pindah nanti Nurdin ingin masuk sekolah bagian apa?? tanya Tio agar membuat Nurdin tidak canggung dan takut.


Namun jawaban itu lagi-lagi mengarah hanya kepada keputusan sang kakak ingin menyekolahkannya di bagian apa, sikap penuturnya ini membuat Tio begitu menyukainya.

__ADS_1


Tampak lelah mereka semua, baru saja mereka melakukan perjalanan darat yang cukup panjang, kini pula perjalan udara lagi yang mereka lalui.


Tiga jam berlalu, suara pramugari telah mengumumkan pesawat akan mendarat sebentar lagi, mereka disuruh bersiap siaga dan tetap tenang duduk di tempat.


Dengan nada lembut Soraya  membangunkan kedua adiknya yang berada di sampingnya tersebut. Nadim berada di dekat jendela, dia tampak tidak takut malahan dia sangat suka melihat awan, sedangkan Yumita  duduk di tengah dan wajahnya selalu dia benamkan di bahu Soraya.


" Sudah sampai," ucap Tio juga kepada Nurdin.


Mereka pun turun dengan perlahan-lahan. Semua koper juga telah diambil, bersamaan mereka mengucap Alhamdulillah dengan hati yang lega dan bersyukur mereka selamat semuanya di perjalanan ini.


Ayah Tio yang telah menunggu mereka di bandara dengan cepat melambaikan tangan ke arah Tio yang tampak mencari sosok ayahnya tersebut.


Dengan cepat Tio berjalan bersama mereka dan mengarahkan mereka ke arah ayahnya.


Begitu juga Ayah Tio dengan senyum yang terkembang dia pun menyusul Tio dan membantu membawakan koper tersebut.


Soraya  tampak deg-degan, ini baru kali pertamanya dia melihat sosok ayah Tio tersebut. Ayah Tio pun kagum melihat kesopanan adik-adik Soraya  tersebut begitu Ayah Tio menghampiri mereka Nurdin mukai bersalaman mencium tangan ayah Tio dengan rasa hormatnya.


Begitu juga Yumita  dan Nadim, mereka tampak juga santun kepada orang tua, Soraya  tersenyum hangat kepada Ayah Tio tersebut.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil panjang berwarna silver itu. Barang-barang mereka di letakkan dengan rapi di belakang.


Tio duduk di samping ayahnya, dan Soraya  duduk bersama adik-adiknya tersebut. Karena bandara dan rumah Tio tidak begitu jauh, hanya memakan waktu setengah jam saja dan mereka sudah sampai di rumah berlantai dua tersebut.


Nurdin membantu Tio mengeluarkan koper-koper tersebut dan begitu juga Nadim. Begitu sampai dan turun ibu Tio  keluar dengan cepat dan tersenyum dengan hangatnya, tampak dia begitu gembira.


"Wah.... sudah sampai," ucapnya dengan menebar pelukan ke arah Soraya  dan Yumita.


Begitu hangat kedua orang tua Tio  tersebut, walau mereka orang kaya namun tampaknya mereka tidak membedakan status orang, pikir Soraya  dan Yumita  sama.


"Ayo.. nak masuk, ibu sudah masak banyak, kalian pasti lapar," ucap ibu Tio sambil memegang tangan Soraya .


Soraya  pula membantu Yumita  berjalan ibu tampak menolongnya.


"Kamu si mungil kenapa bisa seperti ini??" tanya ibu lembut kepada Yumita  yang tampak banyak perban itu.

__ADS_1


Yumita tampak malu menatap wajah ibu Tio  tersebut, karena dia belum menjawabnya tiba-tiba Tio  menyelah pembicaraan mereka


"Sempat terjadi kecelakaan Bu, ketika kami melakukan raftik kemarin, Yumita  terjatuh dari perahu dan terseret arus," jelas Tio.


"Ha! jadi kamu ada yang terasa begitu sakit tidak nak?? kalau apa biar ibu suruh bibi ambil kursi roda, jangan berdiri dulu kalau masih terasa sakit!!" begitu khawatir suara ibu Tio tersebut kepada Yumita  saat ini.


Andaikan Mama Derry  seperti ini, jika nanti dia tahu aku menantunya, ucap Soraya  dalam hati.


Ya Tuhan, baik sekali Ibu bang Tio, andaikan dia menjadi mertuaku, pasti aku akan benar-benar menyayanginya ucap Yumita  pula dihatinya.


"Hey.. kenapa pada diam, ayo duduk dan kita makan," ucap ibu Tio langsung membawa mereka ke meja makan.


Jam memang sudah menunjukkan pukul tiga lebih, mereka memang belum menyantap makanan apa pun dari mereka pulang hingga saat ini.


Mereka semua duduk di meja makan ukiran jati tersebut. Tampak mewah dan elegan, masakan tersaji dengan begitu banyaknya.


Ayah Tio  juga duduk di sebelah Nurdin tampak ayah Tio itu mengusap kepala Tio dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Bahkan nasi Nadim dan Nurdin ayah Tio yang menuangkannya. Menunya kali ini tampak udang di masak asam manis, ini adalah kegemaran Nadim adik paling kecil mereka tersebut.


"Ini siapa namanya??" tanya Ayah Tio  kepada Nadim.


" Nama saya Nadim Tuan," ucapnya dengan sopan dan ramah.


"Jangan panggil Tuan, panggil saja saya Ayah," ucap Ayah Tio  dengan lembutnya.


"Dan, panggil ibu juga dengan sebutan Ibu," ucap ibu nya kembali.


Terasa sejuk hati Soraya  mendengar kehangatan keluarga Tio tersebut. Begitu baik dan ramahnya mereka disambut, sedangkan Soraya  memperlakukan Tio  terbilang tidak pantas.


Bahkan Soraya  tahu, Tio  mencintainya, namun entah mengapa untuk membalasnya Soraya  memang tidak bisa.


"Raya.. kamu jangan melamun, ayo makan yang banyak!!" ucap Tio masih saja memperhatikan Soraya.


Ibu memandangi anak lelaki semata wayangnya itu. Cinta di mata Tio terhadap Soraya  sangat tampak begitu dalam dan tulus.

__ADS_1


****


__ADS_2