
"Mama!!" teriak Papa Fanni ketika ingin duduk menonton televisi.
Istrinya sudah terbaring dan jatuh di lantai sejak dua jam berlalu, namun tidak ada satupun yang tahu. Ada, itu pun hanya Meri, dia dia memang sengaja membiarkannya mati tanpa tertolong.
Papa Fanni berlari ke depan meneriaki supir kembali, dia menyuruh sang supir menolongnya untuk mengangkat istrinya tersebut, dan sekarang mereka memapah Mama Fanni itu masuk ke dalam mobil tanpa mengecek denyut nadi nya terlebih dahulu.
Padahal sudah terlihat jelas, wajah dengan mata terbuka dan tangan masih memegangi lehernya, buih-buih di mulut hampir mengering, karena sudah dua jam berlalu terbiar tanpa penanganan.
Mulutnya ternganga lebar, seolah mendapat maut yang teramat sakitnya. Tidak disangka pembantu itu begitu kejam dan menyimpan dendam yang berbahaya.
"Lebih laju pak!!" perintah Papa Fanni kepada supirnya.
Hampir setengah jam perjalanan mereka telah sampai di rumah sakit. Dengan cepat mereka berdua memapah Mama Fanni tersebut masuk ke dalam.
Dan dengan cepat pihak rumah sakit menyambutnya. Kini Mama Fanni dimasukkan ke ruangan gawat darurat.
Dokter mulai menekan tubuh Mama Fanni dengan alat pendeteksi jantung, namun sayangnya respon dari jantung Mama Fanni tersebut tidak ada sama sekali detaknya.
Mencoba dokter memeriksa nadi dan matanya, Ya! dia sudah meninggal, ucap dokter lelaki itu.
Dengan berat hati dokter itu menghentikan usahanya seperti tadi, karena memang pasien sudah meninggal.
Dokter itu pun keluar melangkah menuju ambang pintu, dimana Papa Fanni dengan paniknya sambil menggigit kukunya berdiri mondar-mandir ketakutan.
"Maaf pak, kami sudah berusaha, namun yang sebenarnya istri bapak sudah tiada, sejak awal anda membawanya kesini," ucap dokter tersebut.
"Apa?? tidak mungkin!!" teriaknya histeris dan tidak percaya kalau istrinya itu sudah meninggal.
Memang dia suka berselingkuh, namun istri pertama adalah prioritasnya. Hanya karena hobi nya yang suka main perempuan dan selalu tidak puas hati dengan Mama Fanni yang tampak suka membantah suaminya tersebut pun suka mengabaikan istrinya itu.
Dia tampak menutup matanya karena dia tampak berduka sekali menerima kenyataan yang ada saat ini. Bagaimana jika Fanni tahu??" tanyanya dalam hati penuh rasa ketakutan.
"Apa penyebab kematian istri saya dok?? tanya Papa Fanni kembali.
__ADS_1
" Maaf Pak, kami belum berani melakukan Autopsi pak, karena memang tadi kami masih berusaha mencari detak jantungnya," jawab dokter tersebut.
"Dok, mohon lakukan sekarang!!" dengan nada perintah dan tegas Papa Fanni penasaran dengan kematian yang tiba-tiba tersebut.
"Baik pak, kami akan melakukannya!!" jawab dokter itu dengan mantap dan tegas.
Dokter menyuruh para perawat membawa mayat Mama Fanni tersebut ke ruangan Otopsi agar diperiksa apa penyebab kematiannya.
Ya! Otopsi atau bedah mayat adalah investigasi medis jenazah untuk memeriksa sebab kematian. Kata "autopsi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "lihat dengan mata sendiri" dan kata "nekropsi" yang juga berasal dari bahasa Yunani artinya "melihat mayat".
Papa Fanni juga mengikuti langkah lara perawat dan dokter tersebut menuju ruangan Otopsi, namun Papa Fanni tidak diperbolehkan untuk nekropsi atau kata lainnya adalah melihat mayat tersebut sebelum selesai dilakukan Autopsi.
Akhirnya Papa Fanni menunggu di luar, masih dengan keadaan yang bingung, antara dia ingin mengabari anaknya atau nanti saja setelah tahu penyebab kematiannya, pikir Papa Fanni dengan bingungnya.
Namun, dia takut Fanni akan menyalahkan diri nya, dan akhirnya Papa Fanni tersebut menghubungi anak semata wayangnya yang terbaring lemas di kasur empuk milik Tuan Osman di villa dekat pantai tersebut.
Fanni dan Tuan Osman melanjutkan permainannya hingga dua jam lebih. Itulah mengapa mereka berdua tampak lemas dan lelah. Ya! lelaki berbulu lebat keturunan Dubai itu memang memiliki tenaga ekstra dalam hal tersebut.
Fanni sudah tidak bisa berkata apa lagi selain wajah yang tampak puas lemas. Ponselnya berdering terus menerus, namun tidak terjawab. Ponsel itu berada di atas meja dekat sofa, dimana dia pertama kali duduk di sana, dan akhirnya mereka melakukan adegan panas.
Namun begitulah, antara Fanni dan Tuan Osman memang sudah sering melakukan hal itu, tidak heran lagi, ketika sudah lama tidak mendapatkan jatahnya, Tuan Osman tampak seperti singa kelaparan.
"Aih... kemana anak ini!!" bentak Papa Fanni melihat layar ponselnya.
Sudah hampir dua puluh kali panggilan tersebut dilayangkan ke nomor ponsel Fanni, namun Fanni masih tidak menjawabnya. Akhirnya Papa Derry tersebut berinisiatif menelpon Tuan Doris yang saat ini sedang menyuapi Derry makan.
Hari sudah petang, memang jam cepat berlalu sekarang sudah terlihat pukul setengah lima, terhenti tangan itu menyuapi anak lelaki satu-satunya itu.
"Siapa Pa??" tanya mama Derry.
"Papa Fanni Ma," jawab Tuan Frans yang melihat layar ponselnya.
"Ya Sudah angkat saja dulu Pa, sini piringnya biar Mama yang lanjutin suapin Derry," ucap mama Derry tersebut.
__ADS_1
Ya! penyakit Derry juga bukan main-main, dia Linglung dan sikapnya tampak seperti anak kecil yang harus diurus kembali. Semua hal dia lupa melakukannya, bahkan menyuap nasi ke mulut saja dia tidak bisa, itulah mengapa kedua orang tuanya ini dengan suka rela merawat Derry kembali layaknya anak kecil.
"Hallo Tuan Frans," ucap Papa Fanni.
"Iya Tuan Ken, ada apa??" tanya Tuan Frans sedikit bingung.
"Maaf Tuan Ken, mungkin saya mengganggu anda sekarang, namun saya ingin mengabari, kalau Mama Fanni telah tiada," ucapnya lemah dan terdiam di kata-kata itu.
"Apa?? benarkah?? Innalillahi wainnaillahirajiun," lafas itu panjang disebutkan Papa Derry, hingga membuat istrinya terkejut dan berhenti menyuapi Derry.
"Kenapa Pa??" tanya mama Derry penasaran dan mengguncang tangan suaminya.
"Mama Fanni Ma! Mama Fanni meninggal dunia," jawabnya kepada sang istri.
"Innalillahi wainnaillahirajiun, padahal dia baru saja ke rumah kita tadi Pa," ucap Mama Derry menangis.
"Sekarang almarhumah dimana??" tanya Papa Derry.
"Di rumah sakit karena masih di Autopsi apa penyebab kematiannya," jawab Papa Fanni lagi.
"Baik, saya akan segera kesana," jawab Tuan Frans dengan cepat.
Panggilan itu pun berakhir, Tuan Frans bersiap-siap untuk ke rumah sakit yang sudah diberitahukan Papa Fanni kepadanya. Mama Derry tersebut pun tampak ikut, dan Mama Derry menugaskan pembantu rumahnya tersebut melanjutkan aktifitas mereka menyuapi Derry.
Mereka dengan cepat keluar dari rumah, tak lupa juga kedua orang tua Tio mereka telpon dan diberitahukan, karena kedua orang tua Tio juga sangat mengenal orang tua Fanni.
Dahulu mereka semua bertetangga, itu lah mengapa Fanni dan Derry adalah teman dari kecil, dan sekarang karena mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing akhirnya Papa Fanni membeli rumah di tempat lain, namun masih kawasan kota Jakarta.
Tampak terkejut juga kedua orang tua Tio yang mengenal baik Mama Fanni tersebut, mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit.
Dengan lajunya Papa Derry yang menyetir tanpa supirnya. Mereka tampak panik, karena Mama Fanni adalah calon besan mereka, juga sahabat baik mereka.
Hampir satu jam perjalanan, karena kota Jakarta adalah kota dengan angka kemacetan paling tinggi, itu lah mengapa perjalanan menjadi sedikit lambat sampainya.
__ADS_1
****