90 DAYS

90 DAYS
MENJEMPUT


__ADS_3

"Assalamualaikum," suara Soraya  terdengar serentak oleh kedua adiknya tersebut.


Tio dan keluarganya telah selesai makan dan mereka saat ini telah berkumpul di ruang keluarga berbincang santai.


Mendengar suara dari luar Ibu Tio langsung menuju pintu, ternyata benar yang dikatakan Yumita  suara itu mirip suara kakaknya.


"Waalaikumsalam...wah, kalian datang juga," ucap Mama Tio.


"Gimana keadaan Derry  hari ini?" tanya Tio pula menghampiri mereka.


"Duduk dulu ayo," ucap Ibu Tio membawa mereka semua ke dalam ruangan keluarga.


Soraya  masih belum bisa menjawab pertanyaan Tio tersebut. Karena memang dia tidak tahu keadaan suaminya sendiri, bahkan dia di usir dari rumah dengan ibu mertuanya pun keluarga Tio tidak mengetahui itu.


"Kakak! tampak senang Yumita  atas kehadiran saudaranya tersebut.


Soraya  pun memeluk adiknya itu. Lalu Nurdin dan Nadim seperti biasa berlaku sopan dan santun kepada kedua orang tua Tio tersebut.


"Sebentar ya, ibu buatin minum dulu," ucap Ibu Robin dengan ramah.


"Jangan repot-repot Bu, kami tidak lama kok," ucap Soraya  lembut.


"Sudah, duduk dulu saja," ibu Tio pun langsung menuju dapur.


Walau ada pembantu Rumah di rumah itu, namu Nyonya Velli sering melakukan sesuatu apapun dengan sendirinya, kalau dia bisa pasti dia lakukan.


"Raya.. gimana Derry  sekarang??" tanya Tuan Firhat.


"Hm.. Derry  masih koma Om," ucap Soraya  sedikit bingung dan ragu-ragu.


"Kamu sehat kan??" tanya Tuan Firhat kembali.


"Iya Om, alhamdulillah. Kedatangan Raya kesini ingin menjemput Yumita  sebenarnya," ucap Soraya  terus menjelaskan niatnya datang ke rumah keluarga Tio tersebut.


Mendengar Soraya  mengatakan itu Ayah Tio sedikit bingung dan tampak sedih, baru saja dia ingin mengangkat Yumita  sebagai anak perempuannya tersebut Soraya  pula sudah ingin menjemputnya.


"Raya.. Nurdin, Nadim, ayo di minum!" ucap Ibu Tio yang membawakan tiga gelas jus jeruk segar.


"Terima kasih bu," ucap mereka serentak.


Mereka tampak diam, keputusan memang ada di tangan Soraya  saat ini. Yumita  tampak juga sedih, karena dia memang nyaman tinggal bersama keluarga Tio tersebut.


Soraya  tidak ingin merepotkan siapapun, apalagi Tio masih sepupu Derry, dan untuk itu Soraya  tidak memberitahukan perihal dirinya diusir dari rumah tersebut.

__ADS_1


"Bu, Soraya  ingin menjemput Yumita  hari ini," ucap Ayah Tio memberitahukan istrinya.


"Ha.. serius?? baru saja Ibu mau meminta izin kamu, agar Yumita  tinggal bersama kami," ucap Ibu Tio menjelaskan.


"Bukan saya tidak mengizinkan Bu, namun saya takut Yumita  akan merepotkan Ibu dan Bapak," ucap Soraya dengan sopannya.


"Tidak nak, kami sangat senang jika Yumita  berada disini, apalagi kalau memang Nadim dan Nurdin ingin disini, kami menerimanya," ucap Tuan Firhat menjelaskan.


"Saya sebagai kakak mereka bertiga bertanggung jawab untuk menjaga mereka, karena saya pengganti orang tua saya Pak, Bu," jelas Soraya lagi.


Mau dikatakan apalagi, Yumita bukan hak mereka. Tampaknya Soraya  juga ingin benar-benar menjaga ketiga adiknya tersebut.


"Raya.. tapi kan kamu masih repot harus menjaga Derry juga, apa tidak sebaiknya mereka semua tinggal disini dulu??" tanya Tio dan seolah memberikan pendapatnya.


"Iya benar juga itu nak," tambah ibu lagi.


"Terima kasih tawarannya Bu, Pak. Biarlah saya membuktikan kepada orang tua saya, kalau saya mampu menjaga dan menghidupi adik-adik saya ini," ucap Soraya.


"Baiklah kalau memang itu mau kamu, kami juga tidak ada hak melarangnya. Dan jangan lupa, kalian harus sering-sering datang kemari," ucap Ibu Tio.


"Iya bu, in sha Allah," jawab mereka serentak.


Yumita pun dibantu naik keatas kamarnya tersebut. Ibu Tio memang tampak sangat perhatian kepada Yumita  tersebut. Dan kini mereka telah mengemasi barang Yumita, lalu telah berkumpul kembali di bawah bersama Soraya.


Tio hanya diam menatap wajah Soraya  yang tampak menyimpan beban dan rahasia yang disembunyikan Soraya  tersebut.


"Raya.. kamu baik-baik saja kan??" tanya Tio kembali, ketika dia memasukkan barang Yumita  ke dalam bagasi mobil Soraya.


Hanya dijawab dengan anggukan kepala saja. Tio pun terdiam, dan menutup bagasi itu kembali. Yumita  dipeluk erat oleh kedua orang tua Tio, walau baru beberapa hari rasanya mereka sudah sangat menyayangi Yumita.


Begitu juga Nurdin dan Nadim, kehangatan mereka tidak jauh dari kedua orang tua Soraya  yang telah meninggal dunia.


Mereka semua masuk ke dalam mobil, dan pagar itu terbuka. Soraya  tampak melajukan mobilnya dengan cepat, untung saja butiran air mata bisa dia sembunyikan di hadapan Tio.


Ibu Tio hanya menatap kepergian mereka dengan wajah sedikit murung. Tio pula mencoba menyemangati ibunya tersebut.


"Bu, jangan murung gitu, Yumita  akan selalu kita temui kok," ucap Tio.


"Iya, tapi ibu ngerasa ada sesuatu yang disembunyikan Soraya deh," ucap Ibu Tio antara yakin dengan tidak.


"Ayah juga melihat itu, karena kemarin tampak Soraya baik-baik saja Tio tinggal disini," jelas Ayah Tio tersebut.


"Benar Yah, semenjak kecelakaan itu Soraya  tampak berubah, ada apa ya??" tanya Ibu Tio kembali.

__ADS_1


Sebenarnya Tio juga merasakan hal yang sama. Namun dia tidak mengutarakannya seperti kedua orang tua nya tersebut. Tio mencoba ingin menyelidiki apa yang terjadi dengan Soraya  tersebut.


"Bu, Yah! mungkin saja Soraya banyak masalah, itu lah mengapa wajahnya sedikit ada kemurungan," jelas Tio ingin menyanggah pikiran kedua orangtua nya itu.


"Iya mungkin saja nak, semoga Soraya  selalu dalam lindungan Tuhan," ucap Nyonya Velli.


"Aamiinn," serentak mereka.


"Oh iya Bu, Yah. Tio mau balik ke kantor dulu ya, udah jam segini soalnya," jelas Tio menunjukkan jam tangannya.


"Yasudah, kamu hati-hati di jalan ya nak," ucap sang ibu tersebut.


"Iya Bu," tak lupa Tio bersalaman juga kepada kedua orang tuanya itu.


Dia pun pergi dari rumahnya tersebut, ingin menuju kantor. Entah mengapa ingatannya dan hatinya mendesak untuk mengikuti Soraya.


Mungkin memang sudah jauh, kalau memang Soraya  masih tinggal di rumah Derry  pastilah mobil itu menuju rumah Derry, ucap Tio dalam hatinya.


Sekarang Tio  berencana memutar mobilnya ke arah selatan, dimana berlawanan dengan kantor. Arah itu menuju rumah keluarga Derry.


Dengam cepat mobil di lajukannya ke arah rumah Derry, sedangkan Soraya  pula ke arah apartemennya. Apartemen dan kantor searah jika dari rumah Tio  tersebut.


Tio hanya ingin memastikan saja, Soraya  dan keluarga Derry  baik-baik saja. Mama Derry  pula sudah kembali ke rumah sakit, dan membawa sedikit pakaian untuk menjaga Derry  disana.


Tuan Frans  pula berencana memindahkan Derry  dirumah, dan menyuruh dokter pribadi mereka merawat Derry  kembali.


Cekrek....


Pintu kamar Derry  terbuka, Mama Derry  pun masuk dengan senyum sedikit puas saat ini. Dia juga membawakan makanan untuk suaminya tersebut.


Tuan Frans  tidak menaruh curiga sedikitpun kepada istrinya yang mengusir menantu tersebut.


"Ma, apa Derry  kita pindahkan saja ke rumah??" tanya Tuan Frans  meminta pendapat.


"Tidak, Pa! biarkan dirawat disini saja, lagi pula perlengkapannya sangat bagus kok!"


"Oh.. yasudah kalau begitu," ucap Tuan Frans  tampak akur saja.


Mama Derry  sengaja tidak ingin memindahkan Derry  tersebut. Dengan begitu Derry  bisa dia dekatkan kembali dengan Fanni  yang di rawat di rumah sakit ini.


Sedangkan Fanni  sudah hampir sadar sekarang, hanya masih fase penyembuhan saja dan pemulihan mentalnya.


****

__ADS_1


__ADS_2