
Memasuki ruangannya, semua kosong dan tampak hanya meja saja yang ada di sana. Bingung Soraya saat ini, dan dia mencoba membuka semua lemari kecil di dalam ruangan itu.
"Apa aki tidak salah masuk ruangan??" tanya Soraya dengan sendiri dan kemudian dia mencoba keluar pintu melihat ruangan di sana semua kosong.
"Kemana semua orang??" tanya Soraya lagi.
Baru dua hari ini memasuki kantor, kini Soraya pula merasa bingung dan terkejut dengan keadaan ruangan yang tampak kosong, berkasnya hilang semua, komputer yang biasa dia gunakan juga tidak terpasang di sana.
Ada apa ini? pikir Soraya lagi, padahal Soraya sangat yakin dia tidak salah masuk ruangan. Dan melihat jam tangannya saat ini menunjukkan pukul setengah sembilan, perjalanan tapi membawanya sedikit dalam kemacetan.
"Aku telpon Tio saja," ucapnya.
Panggilan itu terdengar masuk, melihat nama Soraya disana, Tio sudah mengetahui, pasti Soraya telah pun sampai, tanpa menunggu lama lagi, Tio langsung menjawab panggilan itu.
"Hallo Raya.." jawab Tio lembut.
"Tio, kemana semua barang-barangku? kenapa ruangan ini sunyi? kemana semua orang??" tanya Soraya yang tampak panik.
"Jangan panik, semua nya berpindah di lantai lima, dan ruanganmu di lantai tujuh bersamaku," ucap Tio kembali.
"Lantai tujuh??" tanya Soraya penuh kebingungan.
"Iya, naiklah sekarang!" terdengar nada ajakan di sana.
"Baiklah, aku segera kesana," ucap Soraya.
Memang hari ini Tio baru mengurus staf-stafnya saja, belum mengurus mengenai surat menyurat itu. Kemungkinan dia akan bertemu dengan pengacara ahli waris keluarga Tuan Frans dan Nyonya besar tersebut.
Wajah bingung, hati penuh tanda tanya besar saat ini. Lift terbuka lebar, dan kemudian dia melangkah cepat masuk ke ruangan CEO tersebut.
Ruangan itu sering dijadikan Derry tempat bermanja saat semua orang sedang asyik bekerja. Alih-alih memanggil Soraya, padahal dia sengaja ingin bermesraan dengan istrinya tersebut.
Ya! cerita beberapa bulan lalu, Derry Sanjaya yang tampak terlalu ketagihan dengan Soraya tersebut. Sampai di kantor pun sering kali Derry tidak kenal tempat.
Kemudian saat ini pintu CEO itu terbuka lebar. Soraya melangkah dengan kening yang mengkerut. Dia melihat Tio yang tampak sibuk dengan dokumen yang begitu tebal di lihatnya.
__ADS_1
"Tio!" panggil Soraya sedikit pelan.
"Raya..apa sudah lama masuk??" tanya Tio masih saja lelaki ini tersenyum penuh cinta kepada Soraya.
"Baru saja kok, ada apa ini semua??" tanya Soraya tanpa basa-basi.
"Duduklah dulu, aku akan menceritakan semuanya denganmu," ucap Tio dengan hangatnya.
Soraya pun akur, lalu dia duduk dengan cepat. Setelan baju nya kali ini tampak Soraya seperti gadis dua puluh tahu. Wanita satu ini memang sangat menawan dan modis, Tio membuang jauh pandangan kagum itu, kembali ke semula dia ingin membuat Soraya bahagia dengan pilihannya.
"Raya, ada yang perlu kamu tahu saat ini," ucap Tio sedikit hati-hati, dan mencoba merangkai kata-kata agar tidak menyakitkan Soraya.
"Apa itu??" tanya Soraya dengan penasaran.
"Hari ini Fanni akan masuk ke kantor, dan.." terhenti di situ suara Tio ketika melihat Fanni yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu saat ini.
"Wah, wah, wah! ternyata pengganti CEO dan perempuan penggoda ini sekongkol! ucap Fanni dengan angkuhnya berjalan menuju mereka berdua.
Ternyata Fanni tidak jadi menghentikan niatnya, ketika mendengar ucapan Mama Derry waktu sarapan tadi, membuatnya lebih bersemangat lagi untuk menguasai semuanya.
"Tio, mana surat-surat kepemilikan saham Mama Derry??" tanya Fanni dengan angkuhnya dan sambil melirik ke arah Soraya yang tertunduk itu.
Rasa ingin lari dari semua ini, namun Soraya diam saja dan mencoba menguatkan dirinya itu. Dia membiarkan wanita bermulut pedang ini berbicara semena-mena kepadanya.
"Kau yang disebut istri, sekarang dengan lelaki lain?? Ha! memang begini wanita ******!!" sambil bibinya dia sunggingkan dan tangan di lipatkan di dadanya.
Tio yang mendengar orang yang dicintainya di hina begitu, tampak pria itu mendidih darahnya, dan sekarang seperti singa yang ingin menerkam mangsa.
"Tutup mulutmu! kau belum tentu sebaik Soraya! karena memang aku belum mencari aibmu yang sering kau sembunyikan itu!!" mata tajam Tio menatap Fanni begitu pekatnya.
Bunyi jantung Fanni hampir tidak sinkron saat ini. Berbicara mengenai aib? apa Tio mengetahuinya? tanya besar dan jantung itu berdebar sesuka hatinya.
Wajahnya seketika berubah, mulutnya terkantip kuat saat ini, namun seorang Fanni masih saja bisa mengontrolkan semuanya, seolah memang dia sedang tidak ada apa-apa masalah sekarang ini.
"Mmmm, aib kau bilang? aib apa?? aib seperti kalian? atau sepertimu yang mencintai istri sepupu sendiri??" ucap Fanni menuding Tio dan membuat Soraya mendongak ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa? benarkan? alah.. kalian berdua yang pura-pura baik, padahal munafik!!" bentak Fanni lagi seolah dia ingin terus menyudutkan keduanya.
"Fanni! ini wilayah Om Frans , kau keluarlah! lantai satu dan empat itu sudah kami kosongkan, silahkan atur perusahaanmu sendiri di sana!!" ucap Tio dengan ketusnya.
Fanni yang tampak di permalukan oleh Tio tersebut, menatapnya tajam dan menatap Soraya penuh dendam. Yang dia dengar, Soraya telah pun pergi jauh, dan Mama Derry telah mengusirnya.
Soraya juga sudah berjanji, telah ingin menjauhi keluarga Derry tersebut. Namun, entah mengapa Fanni mempergokinya saat ini di ruangan CEO tersebut.
Fanni yang sudah kalah malu itu pun segera turun dengan cepat. Surat yang dia pinta tersebut belum ingin Tio berikan, hanya saja wilayah yang memang milik Nyonya besar akan tetap Tio uruskan.
Soraya yang diam itu, tampak berkaca-kaca. Masih saja ada yang menghinanya saat ini. Dia pikir, dengan dia menjauhkan diri sekarang dia akan jauh dari hinaan, namun bertemu dengan Fanni saat ini membuatnya terjebak dalam situasi yang seolah dia wanita perebut.
"Raya.. jangan dengarkan wanita itu," ucap Tio yang tampak menenangkan Soraya.
"Tidak Tio, biarlah dia begitu. Mengapa perusahaan ini dipecah menjadi dua? ada masalah apa ini??" tanya Soraya penasarannya dan butiran air mata itu mampu ditahan Soraya.
"Tadi malam aku menyusul ibu dan ayah menjenguk Derry, dan di sana Om dan tante ribut besar hingga Om Frans mengambil keputusan seperti ini," jelas Tio lagi.
"Ya Tuhan, sampai seperti ini??" tanya Soraya yang tampak memang menyalahkan dirinya sendiri.
Kehadirannya baru-baru ini tampak membuat suami istri itu mengalami banyak masalah hingga perusahaan ini terpecah menjadi dua sekarang.
Dan saat ini lagi, Soraya pun membiarkan Tio menjelaskan apa yang terjadi malam itu. Tio pun mengatakan secara lengkapnya, kalau Fanni telah membujuk Mama Derry untuk menjadikannya Dewan direksi, dan Mama Derry pula ingin menukar posisi Tio dengan Fanni menjadi CEO.
Hal itu lah yang membuat Tuan Frans marah besar, Soraya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Tio saat ini. Karena Tuan sudah tahu kemampuan Fanni bukan untuk bisnes seperti ini, maka alasan Tuan Frans melarang Fanni untuk masuk ke sini itu sangat masuk akal.
Fanni yang tampak angkuh itu sekarang berada di lantai lima. Staf lainnya di sana sedang dia kumpulkan. Mereka juga mengenali Fanni tersebut, mereka tampak mendengarkan Fanni sambil mengangguk seolah setuju.
Apakah ulah Fanni lagi saat ini??
Ikutin terus gais, keseruan Soraya dan Derry. Dan doakan Derry sebentar lagi akan sembuh.
jangan lupa komen dan gift yaa biar thorr semnagatt up nya terima kasihhh.
***
__ADS_1