90 DAYS

90 DAYS
FANNI DI RUANGAN CEO


__ADS_3

Memasuki ruangannya, semua kosong dan tampak hanya meja saja yang ada di sana. Bingung Soraya  saat ini, dan dia mencoba membuka semua lemari kecil di dalam ruangan itu.


"Apa aki tidak salah masuk ruangan??" tanya Soraya  dengan sendiri dan kemudian dia mencoba keluar pintu melihat ruangan di sana semua kosong.


"Kemana semua orang??" tanya Soraya  lagi.


Baru dua hari ini memasuki kantor, kini Soraya  pula merasa bingung dan terkejut dengan keadaan ruangan yang tampak kosong, berkasnya hilang semua, komputer yang biasa dia gunakan juga tidak terpasang di sana.


Ada apa ini? pikir Soraya  lagi, padahal Soraya  sangat yakin dia tidak salah masuk ruangan. Dan melihat jam tangannya saat ini menunjukkan pukul setengah sembilan, perjalanan tapi membawanya sedikit dalam kemacetan.


"Aku telpon Tio saja," ucapnya.


Panggilan itu terdengar masuk, melihat nama Soraya  disana, Tio sudah mengetahui, pasti Soraya  telah pun sampai, tanpa menunggu lama lagi, Tio langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo Raya.." jawab Tio lembut.


"Tio, kemana semua barang-barangku? kenapa ruangan ini sunyi? kemana semua orang??" tanya Soraya  yang tampak panik.


"Jangan panik, semua nya berpindah di lantai lima, dan ruanganmu di lantai tujuh bersamaku," ucap Tio kembali.


"Lantai tujuh??" tanya Soraya  penuh kebingungan.


"Iya, naiklah sekarang!" terdengar nada ajakan di sana.


"Baiklah, aku segera kesana," ucap Soraya.


Memang hari ini Tio baru mengurus staf-stafnya saja, belum mengurus mengenai surat menyurat itu. Kemungkinan dia akan bertemu dengan pengacara ahli waris keluarga Tuan Frans  dan Nyonya besar  tersebut.


Wajah bingung, hati penuh tanda tanya besar saat ini. Lift terbuka lebar, dan kemudian dia melangkah cepat masuk ke ruangan CEO tersebut.


Ruangan itu sering dijadikan Derry  tempat bermanja saat semua orang sedang asyik bekerja. Alih-alih memanggil Soraya, padahal dia sengaja ingin bermesraan dengan istrinya tersebut.


Ya! cerita beberapa bulan lalu, Derry  Sanjaya   yang tampak terlalu ketagihan dengan Soraya  tersebut. Sampai di kantor pun sering kali Derry  tidak kenal tempat.


Kemudian saat ini pintu CEO itu terbuka lebar. Soraya  melangkah dengan kening yang mengkerut. Dia melihat Tio yang tampak sibuk dengan dokumen yang begitu tebal di lihatnya.

__ADS_1


"Tio!" panggil Soraya  sedikit pelan.


"Raya..apa sudah lama masuk??" tanya Tio masih saja lelaki ini tersenyum penuh cinta kepada Soraya.


"Baru saja kok, ada apa ini semua??" tanya Soraya  tanpa basa-basi.


"Duduklah dulu, aku akan menceritakan semuanya denganmu," ucap Tio dengan hangatnya.


Soraya  pun akur, lalu dia duduk dengan cepat. Setelan baju nya kali ini tampak Soraya  seperti gadis dua puluh tahu. Wanita satu ini memang sangat menawan dan modis, Tio membuang jauh pandangan kagum itu, kembali ke semula dia ingin membuat Soraya  bahagia dengan pilihannya.


"Raya, ada yang perlu kamu tahu saat ini," ucap Tio sedikit hati-hati, dan mencoba merangkai kata-kata agar tidak menyakitkan Soraya.


"Apa itu??" tanya Soraya  dengan penasaran.


"Hari ini Fanni  akan masuk ke kantor, dan.." terhenti di situ suara Tio ketika melihat Fanni  yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu saat ini.


"Wah, wah, wah! ternyata pengganti CEO dan perempuan penggoda ini sekongkol! ucap Fanni  dengan angkuhnya berjalan menuju mereka berdua.


Ternyata Fanni  tidak jadi menghentikan niatnya, ketika mendengar ucapan Mama Derry  waktu sarapan tadi, membuatnya lebih bersemangat lagi untuk menguasai semuanya.


"Tio, mana surat-surat kepemilikan saham Mama Derry??" tanya Fanni  dengan angkuhnya dan sambil melirik ke arah Soraya  yang tertunduk itu.


Rasa ingin lari dari semua ini, namun Soraya  diam saja dan mencoba menguatkan dirinya itu. Dia membiarkan wanita bermulut pedang ini berbicara semena-mena kepadanya.


"Kau yang disebut istri, sekarang dengan lelaki lain?? Ha! memang begini wanita ******!!" sambil bibinya dia sunggingkan dan tangan di lipatkan di dadanya.


Tio yang mendengar orang yang dicintainya di hina begitu, tampak pria itu mendidih darahnya, dan sekarang seperti singa yang ingin menerkam mangsa.


"Tutup mulutmu! kau belum tentu sebaik Soraya! karena memang aku belum mencari aibmu yang sering kau sembunyikan itu!!" mata tajam Tio menatap Fanni  begitu pekatnya.


Bunyi jantung Fanni  hampir tidak sinkron saat ini. Berbicara mengenai aib? apa Tio mengetahuinya? tanya besar dan jantung itu berdebar sesuka hatinya.


Wajahnya seketika berubah, mulutnya terkantip kuat saat ini, namun seorang Fanni  masih saja bisa mengontrolkan semuanya, seolah memang dia sedang tidak ada apa-apa masalah sekarang ini.


"Mmmm, aib kau bilang? aib apa?? aib seperti kalian? atau sepertimu yang mencintai istri sepupu sendiri??" ucap Fanni  menuding Tio dan membuat Soraya  mendongak ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa? benarkan? alah.. kalian berdua yang pura-pura baik, padahal munafik!!" bentak Fanni  lagi seolah dia ingin terus menyudutkan keduanya.


"Fanni! ini wilayah Om Frans , kau keluarlah! lantai satu dan empat itu sudah kami kosongkan, silahkan atur perusahaanmu sendiri di sana!!" ucap Tio dengan ketusnya.


Fanni  yang tampak di permalukan oleh Tio tersebut, menatapnya tajam dan menatap Soraya  penuh dendam. Yang dia dengar, Soraya  telah pun pergi jauh, dan Mama Derry  telah mengusirnya.


Soraya  juga sudah berjanji, telah ingin menjauhi keluarga Derry  tersebut. Namun, entah mengapa Fanni  mempergokinya saat ini di ruangan CEO tersebut.


Fanni  yang sudah kalah malu itu pun segera turun dengan cepat. Surat yang dia pinta tersebut belum ingin Tio berikan, hanya saja wilayah yang memang milik Nyonya besar  akan tetap Tio uruskan.


Soraya  yang diam itu, tampak berkaca-kaca. Masih saja ada yang menghinanya saat ini. Dia pikir, dengan dia menjauhkan diri sekarang dia akan jauh dari hinaan, namun bertemu dengan Fanni  saat ini membuatnya terjebak dalam situasi yang seolah dia wanita perebut.


"Raya.. jangan dengarkan wanita itu," ucap Tio yang tampak menenangkan Soraya.


"Tidak Tio, biarlah dia begitu. Mengapa perusahaan ini dipecah menjadi dua? ada masalah apa ini??" tanya Soraya  penasarannya dan butiran air mata itu mampu ditahan Soraya.


"Tadi malam aku menyusul ibu dan ayah menjenguk Derry, dan di sana Om dan tante ribut besar hingga Om Frans  mengambil keputusan seperti ini," jelas Tio lagi.


"Ya Tuhan, sampai seperti ini??" tanya Soraya  yang tampak memang menyalahkan dirinya sendiri.


Kehadirannya baru-baru ini tampak membuat suami istri itu mengalami banyak masalah hingga perusahaan ini terpecah menjadi dua sekarang.


Dan saat ini lagi, Soraya  pun membiarkan Tio menjelaskan apa yang terjadi malam itu. Tio pun mengatakan secara lengkapnya, kalau Fanni telah membujuk Mama Derry  untuk menjadikannya Dewan direksi, dan Mama Derry  pula ingin menukar posisi Tio dengan Fanni  menjadi CEO.


Hal itu lah yang membuat Tuan Frans  marah besar, Soraya  mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Tio saat ini. Karena Tuan sudah tahu kemampuan Fanni  bukan untuk bisnes seperti ini, maka alasan Tuan Frans  melarang Fanni  untuk masuk ke sini itu sangat masuk akal.


Fanni  yang tampak angkuh itu sekarang berada di lantai lima. Staf lainnya di sana sedang dia kumpulkan. Mereka juga mengenali Fanni tersebut, mereka tampak mendengarkan Fanni  sambil mengangguk seolah setuju.


Apakah ulah Fanni  lagi saat ini??


Ikutin terus gais, keseruan Soraya dan Derry. Dan doakan Derry  sebentar lagi akan sembuh.


jangan lupa komen dan gift yaa biar thorr semnagatt up nya terima kasihhh.


***

__ADS_1


__ADS_2