90 DAYS

90 DAYS
PENYAMARAN FANNI


__ADS_3

Jam sekarang menunjukkan pukul 10 pagi, Soraya yang sedari tadi menghubungi Yumita adiknya tersebut karena tidak mendapat jawaban apapun akhirnya Soraya memutuskan untuk menghubungi Tio saat ini walaupun dia tahu pastilah sepagi ini Tio sedang berada di kantor namun menghubungi Tio akan membuat dirinya sedikit tenang.


  Panggilan itu pun dengan cepat terhubung ketika ponsel Tio berdering terlihat di layar itu nama Soraya dengan cepat ia mengangkatnya dan dia menatap wajah Yumita.


   "Waalaikumsalam, ada apa Sya?" tanya Tio dengan suara lembut.


Saat ini mendengar Tio yang bersuara lembut terhadap kakaknya tersebut membuat nyerinya hanya bisa mengelus dada saja perlakuan Tio sangat berbanding terbalik Jika dia berhadapan dengan kakaknya itu Tio menjadi pria yang begitu lembut dan tampak penuh kehangatan.


Sedangkan untuk Yumita Tio adalah pria yang dingin pria yang tidak bisa mengutarakan apapun keinginannya bahkan tampak seperti pria yang tertekan.


"Tio, aku menghubungi Yumita beberapa kali namun ponselnya itu tidak ada yang menjawabnya, Apakah kau tahu Yumita pergi ke mana?" tanya Soraya.


"Oh..Yumita disebelahku," ucapnya.


  Mendengar jawaban dari Tio tersebut berada di sebelah suaminya sendiri perasaan Soraya saat ini menjadi lega dan Tio menyerahkan ponselnya itu kepada Yumita agar dia berbicara kepada kakaknya tersebut dan mengurangi kekhawatiran Soraya.


   "Halo kak," ucap Yumita lemah.


 "Na, kenapa suaramu seperti tidak sehat? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Soraya penuh rasa khawatir.


 "Kak, aku tidak apa-apa hanya saja tadi tensiku begitu rendah dan aku merasa pusing itulah mengapa saat ini memang Rubin mau ke rumah sakit," jelas Yumita yang berbohong.


Wajah Tio sudah sangat terlihat ketakutan dia takut Soraya berpikir macam-macam dan Bahkan dia juga takut Yumita berbicara kepada Soraya mengenai penyakitnya pagi ini dan penyakitnya tersebut disebabkan karena pertanyaan Tio sendiri yang ingin bercerai dengan Yumita.


"Tensimu rendah? Jadi, sekarang bagaimana?" Soraya tetap saja menjadi khawatir mendengar keadaan adiknya tidak baik-baik saja saat ini.


"Sudah sangat membaik Kak karena ada Bang Tio bersama aku dan dia adalah suami yang siap siaga untuk istrinya itulah mengapa Apa aku yang sempat hampir pingsan tadi dengan cepat sadar karena Bang Tio membawaku dengan cepat ke rumah sakit pagi ini Bahkan dia juga tidak pergi ke kantor hanya karena diriku," jelas Yumita lagi.

__ADS_1


      "Oh..Syukurlah kalau begitu, lain kali ponselmu jangan ditinggal, kakak khawatir sama kamu. Kakak juga rindu sama kamu, jaga diri kamu baik-baik ya Na. Kalau sudah masuk kuliah kabari kakak," ucap Soraya panjang lebar.


  "Iya kak, terima kasih," jawab Yumita singkat.


 Panggilan itu pun dengan cepat terputus saat ini Soraya tidak ingin mengganggu kebersamaan adiknya dan suaminya tersebut dia pun sangat bersyukur akhirnya dia bisa melepaskan adik perempuannya yang bersama pria yang baik dan bertanggung jawab.


    Tio bisa bernapas lega ketika panggilan itu telah berakhir dan Yumita tidak mengatakan hal apapun yang menyulitkan dirinya kepada Soraya dia menatap Yumita dengan hanya senyum yang tampak terpaksa itu.


   "Terima kasih ya Yumi," ucap Tio tiba-tiba.


YUMITA kita terkejut biasanya Tio tidak pernah berkata apapun ketika mereka sedang berada berduaan di dalam mobil seperti ini Namun tiba-tiba suara Tio sedikit lembut kepadanya saat ini Bahkan dia mengucapkan terima kasih yang tidak dimengerti untuk apa Terima kasih itu pikirannya Yumita dalam hatinya.


   "Hm..maaf, terima kasih untuk apa bang?" tanya Yumita.


  Mendengar pertanyaan IYumita tersebut Tio sendiri pun bingung menjawabnya dia pun hanya menatap jalanan kembali dan saat ini Tio kembali diam.


     Beberapa menit telah berlalu akhirnya mereka pun dengan cepat sampai menuju kediaman mereka saat ini. Kali ini Tio membantu Yumita untuk keluar dari mobil tersebut karena dia pun tahu Yumita kondisinya tidak begitu sangat baik.


  "Pelan-pelan," ucap Tio.


Yumita hanya tersenyum tipis ketika Tio mengatakan hal demikian mereka berdua pun dengan cepat masuk ke dalam rumah itu dan Tio mengantarkan dirinya ke dalam kamarnya.


 Kamar mereka yang terpisah tersebut hanya diketahui oleh orang yang di dalam rumah itu saja bahasa ini tidak boleh keluar dari mana-mana.


    Satu sisi lagi Sorayah yang sudah merasa lega karena sudah mendengar suara adik perempuannya itu pagi ini dengan cepat dia membawa kedua adiknya untuk mendaftarkan Mereka sekolah karena minggu depan juga mereka berdua akan masuk ke sekolah baru yang ada di bandara Kota Jakarta itu.


     "Nadim, Nurdin! Kalian sudah siap-siap?" tanya Soraya saat ini.

__ADS_1


   "Sudah dong kk," jawab mereka serentak.


  "Yasudah ayo cepat kita berangkat, pendaftarannya tutup pukul satu siang nanti," ucap Soraya kepada kedua adik-adiknya.


Mereka yang selalu mematuhi Apapun kata kakaknya tersebut dengan sifat melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil yang saat ini Soraya sendiri yang mengendarai nya.


Hamil muda seperti ini tidak menjadikannya seorang yang pemalas walaupun sering merasa sedikit lemah dan selalu mengantuk tapi dia tidak ingin terlalu terbawa dalam suasana hal seperti itu karena dia memang bukanlah wanita yang manja dia yang selalu hidup dalam dunia kerja itu kini ingin mengembalikan jati dirinya yang menjadi perempuan tangguh.


  Setelah itu mereka pun berangkat dengan cepat Soraya seperti biasanya mengendarai sebuah mobil karena sekolah tersebut tidak begitu jauh dari rumah mereka hanya memakan waktu 20 menit saja jika Bandar Kota Jakarta tidak macet panjang.


Akhirnya mereka pun sampai di sekolah tersebut sudah ramai memang para orang tua juga mendaftarkan anak-anak mereka di sana karena minggu ini adalah terakhir penutupan dan minggu depan mereka sudah bisa masuk ke sekolah baru itu.


  Satu sisi pula Soraya merasa ada seseorang yang memandanginya begitu lekat namun ketika dia membalikkan tubuhnya dia tidak melihat siapapun selain seorang petugas kebersihan.


  Dengan cepat saya bisa mendaftarkan kedua adiknya itu Dan akhirnya mereka pun selesai mendaftar segala urusan kedua adiknya tersebut dengan cepat dia bereskan karena dia tidak ingin merepotkan suaminya yang terlalu banyak pekerjaan di kantor tersebut.


    "Kalian, minggu depan sudah bisa masuk ke sekolah Ingat pesan Kakak jangan pernah berkelahi di sekolah dan jangan pernah membuat masalah di sekolah kalian harus bisa membanggakan kakak dan membanggakan orang tua kita yang telah tiada," ucap Soraya kepada adik-adiknya.


  Adik-adiknya dengan patuh mengangguk bersama saat ini Soraya pun dengan cepat mengajak mereka pergi ke mall untuk berbelanja pakaian sekolah Serta peralatan sekolah karena dia adalah pengganti kedua orang tua yang telah tiada.


 Nadin dan Nurdin sangat bahagia memiliki seorang kakak yang begitu bertanggungjawab bahkan kakaknya itu mampu melewati lika-liku kehidupan selama ini walau sempat mereka tidak menyukai Abang iparnya tersebut Namun ternyata Derry bukanlah seorang lelaki yang buruk.


   Ketika mobil Soraya melaju dari sekolah itu  apa yang dirasakan oleh Soraya tersebut ternyata benar ada dua pasang mata yang memandanginya dan ternyata itu adalah Fanni yang saat itu berhasil melarikan diri ternyata dia sekarang bekerja sebagai petugas kebersihan di sekolah Nurdin dan Nadim tersebut.


   Fanni merubah penampilannya dengan drastis saat ini bahkan rambutnya telah dipotong sependek Mungkin dia juga menambahkan aksen di wajahnya agar tidak dikenali sebagai seorang Fanni.


   Dia meletakkan sebuah tompel besar di pipinya dengan sengaja hanya untuk mengelabui semua orang karena memang videonya yang sempat viral itu pasti banyak orang yang mengenalinya serta dia yang menjadi buronan polisi tersebut itulah mengapa dia memutuskan menyamar dengan total.

__ADS_1


  Bahkan dia juga merubah identitasnya saat ini namanya juga telah dirubah, melihat Soraya datang mendaftarkan kedua adik lelakinya itu dia sangat tersenyum puas dia berkata keberuntungannya akan dimulai kembali.


__ADS_2