90 DAYS

90 DAYS
TAK PERCAYA


__ADS_3

Soraya  sempat menolak untuk diantarkan pulang, dia masih saja ngotot tetap ingin  bekerja saat ini. Namun Tio juga ngotot untuk mengantarkan Soraya  pulang setelah mendengar ucapan dokter di rumah sakit tadi.


Soraya  harus banyak beristirahat saat ini, dia mengandung anak Derry, namun yang tahu hanya Tio dan Tuan Rendra saja. perjalanan empat puluh lima menit, telah mengantarkan Tio  di depan parkiran apartemen Soraya tersebut.


Saat ini dia bukakan pintu itu untuk Soraya. Dan masih saja Tio membantu Soraya  turun. Kehamilan ini seharusnya diketahui oleh suaminya yaitu Derry, namun bagaimana bisa dipaksa, pria tampan dan gagah itu masih terbaring lemah saat ini.


Tuan Derry  masih menunggu di depan ruangan itu, dokter telah melakukan operasi kepala saat ini. Kemudian dokter juga bilang ada kemungkinan Derry  akan sadar karena tampak pemulihan otaknya mulai bekerja.


Banyak harapan saat ini, sedangkan Soraya  dan Tio sekarang telah berada di dalam lift dan menuju apartemen itu.


Kemudian sampai di ambang pintu apartemen milik Soraya  itu, terus saja dia menekan belnya, dan tak lama kemudian pintu terbuka.


"Kakak!" ucap Yumita  yang memandang sebentar ke arah Tio, lalu menuju wajah Soraya  kembali.


Soraya  yang masih memegangi kepalanya tersebut, langsung dibantu oleh Yumita  dan Tio saat ini.


Sedangkan Nurdin dan Nadim tampak sedang mencuci pakaian mereka sendiri, mereka masih belum terbiasa dengan mesin cuci yang tersedia di kamar mereka tersebut.


"Kakak kenapa??" tanya Yumita  kembali yang tampak begitu khawatir.


"Yumita, tolong buatkan minuman dingin untuk bang Tio," ucap Soraya  mengalihkan pertanyaan itu.


" Baik kak," dia akur dan langsung menuju dapur sekarang.


"Raya.. kau ingat kan, harus banyak istirahat, aku tidak mengijinkan kamu untuk datang bekerja besok," ucap Tio kembali.


"Tapi Tio, aku.." ucapnya terhenti ketika Yumita  pun telah sampai membawakan segelas air dingin dan segelas air hangat untuk kakaknya.


"Kak, minumlah air hangat ini," ucap Yumita  yang tampak lembut menyuapi gelas itu ke mulut kakaknya.


Tio meneguk minuman itu, memang sedikit dahaga tenggorokannya saat ini, bahkan jam juga hampir menunjukkan sore sekarang. Meeting pukul dua itu tidak terlaksana hari ini, dan entah juga untuk besok.


Keadaan rumit dan runyam, sekretaris tidak masuk, sekarang Soraya  yang baru saja bergabung sedang hamil pula, dan mengharuskannya banyak beristirahat.


Siapa yang harus membantumu lagi besok?? tanya Soraya  saat ini yang tampak mengkhawatirkan Tio yang harus mengurus perusahaan yang huru hara itu saat ini.


"Raya.. jangan pikirkan aku, tenang saja, tim manager dan lainnya masih bersamaku," ucapnya lagi.


"Tio, apa aku boleh meminta sesuatu padamu??" tanya Soraya  saat ini.


"Iya Raya, katakan saja," ucapnya cepat.


Wajah Soraya  memandang lekat ke arah Yumita  yang tampak tertunduk itu saat ini. Dia sedikit malu memandang Tio saat ini.

__ADS_1


"TIO, apakah kau bisa mengajari Yumita  mengenai manajemen??" tanya Soraya  saat ini.


Terkejut Yumita yang mendengar ucapan Soraya  itu yang tiba-tiba menyuruh Tio untuk mengajarinya tersebut. Terkejut bukan tidak mahu, namun dia malu dan tidak percaya diri.


"Yumita? wah, ide bagus itu Raya," ucap Tio yang tampak bersemangat.


Terkejut juga Yumita  mendengar ucapan Tio yang tampak tidak menolak permintaan kakaknya itu. Dan kemudian Soraya  kembali membuka mulutnya lagi memastikan kepada Yumita  yang memang dia ketahui adiknya itu cerdas dan memang mengimpikan kerja di perkantoran besar seperti dirinya.


"Yumi, apa kau bersedia?" tanya Soraya  saat ini.


Hanya di balas anggukan saja oleh Yumita  dan dia juga tidak tahu mengapa kakaknya menyuruhnya bekerja di kantor membantu Tio.


"Oke, besok Yumi sudah bisa masuk menggantikan kami Raya, tenang saja Yumi, abang akan mengajarimu," ucap Tio  kembali dengan semangat.


"Kaka besok tidak masuk??" tanyanya kembali.


"Kakakmu harus banyak istirahat sekarang Yumi, kita akan memiliki keponakan sebentar lagi," jelas Tio  dengan terbuka.


"Ha! kakak hamil?" terkejut Yumita  dan tampak memeluk Soraya  saat ini.


Hanya di jawab dengan anggukan pelan saja oleh Soraya  yang tampak menyandarkan tubuhnya tersebut di sofa empuk itu.


"Alhamdulillah, akhirnya kak!" dengan mata yang berlinang dan jatuh juga buliran karena terharu tersebut.


"Tio, tidak perlu," jawab Soraya  menyanggah.


"Tidak, jangan keras kepala. Besok akan ada orang yang menolongmu disini, karena Yumita  besok akan bekerja seharian denganku," jelas Tio kembali.


"Baiklah," ucapnya.


"Oke, aku pamit dulu ya Raya. Yumi, abang pamit jaga kakakmu dengan baik," ucapnya.


"Iya bang, hati-hati terima kasih banyak telah mengantarkan kakakku," ucapnya.


"Ya, Oh iya! ini kunci mobilmu, aku naik taxi saja nanti," ucap Tio menyerahkan kunci mobil itu ketangan Soraya.


Akhirnya Tio pun keluar dari rumah itu dengan sedikit lega saat ini, karena memang dia sudah mendapat penolong dan pengganti Soraya. Biarlah pikirnya dia mengajari Yumita, jika Soraya  sudah menyuruh begitu, pastilah Soraya  tahu kemampuan adiknya itu.


Dan saat ini, Fanni  yang tampak begitu bahagia, mendapatkan kabar baik kehamilan kakaknya itu, Nurdin dan Nadim yang sudah selesai mandi sore menghampiri mereka keruangan tamu.


"Kenapa kakak memeluk kak Soraya??" serentak mereka bertanya dengan wajah bingung.


"Sini dek! ayo sini cepat!" perintah Yumita  kepada mereka berdua yang berdiri tampak jauh diambang pintu.

__ADS_1


"Ada apa kak??" tanya mereka serentak.


"Kita sebentar lagi akan mendapatkan keponakan," ucap Yumita  kembali.


"Ha? serius? Alhamdulillah...." nada panjang keluar dari mulut mereka berdua, dan sama seperti Yumita  saat ini mereka pun menghujani Soraya  pelukan juga sama seperti Yumita.


" Selamat ya kak," ucap mereka semua.


"Sudah, sudah. Jangan seperti ini."


Mereka tertawa bahagia sekarang, Nurdin dan Nadim memapah Soraya  ke tempat tidurnya saat ini.


Yumi pula yang tadi sedang memasak dan membereskan dapurnya segera menuju dapur kembali. Karena memang saat ini hari telah pun hampir gelap.


"Kakak, jangan banyak bergerak, kalau mau apa-apa telpon saja kami," ucap mereka berdua.


Ya! kalau berteriak rasanya tidak akan terdengar, karena memang kamar mereka sedikit berjauhan dan tersekat dengan dinding yang tebal.


"Iya adik-adikku, kalian bantu kak Yumita  sana, pasti dia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk kita," perintah Soraya  saat ini.


Mereka mengangguk dengan cepat, dan kedua adik lelakinya itu keluar menuju dapur juga. Benar saja, Yumita  yang tampak mengemasi dapur tersebut langsung di bantu oleh kedua adik lelakinya itu.


"Kak, sudahlah pergi mandi, biar kami berdua yang membereskan ini," ucap Nurdin dengan cepat mengambil penyapu itu.


"Ya Sudah, nanti selesai beres-beres kalian pindahkan lauk-pauk ini ke mangkuk, dan susun di meja makan ya dek," ucap Yumita  memberikan arahan kepada kedua adiknya.


"Iya kak," jawab mereka.


Soraya  pula terbaring menghadap plafon kamarnya tersebut. Dia pun tampak berkaca-kaca saat ini. Mengingat Derry  membuatnya sesak di dada. Sambil mengelus perut yang masih tampak rata itu, ada terbesit rindu yang mendalam saat ini.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Soraya  dalam hatinya.


Sedangkan Fanni  sekarang, karena hari telah pun sore dia pun segera menuju parkiran dan kemudian dia pulang ke rumah Derry  saat ini.


Jalanan tampak begitu macet, Tio yang mengendarai taksi itu terjebak macet untuk kembali ke kantor mengambil mobilnya.


Sambil melihat jam, ponsel Tio berdering kuat, tampaknya ada sesuatu yang penting sekarang.


Siapakah penelpon itu??


Jangan lupa komennya ya gais, semoga kalian terus sehat dan menyemangati saya.


***

__ADS_1


__ADS_2