
Soraya sempat menolak untuk diantarkan pulang, dia masih saja ngotot tetap ingin bekerja saat ini. Namun Tio juga ngotot untuk mengantarkan Soraya pulang setelah mendengar ucapan dokter di rumah sakit tadi.
Soraya harus banyak beristirahat saat ini, dia mengandung anak Derry, namun yang tahu hanya Tio dan Tuan Rendra saja. perjalanan empat puluh lima menit, telah mengantarkan Tio di depan parkiran apartemen Soraya tersebut.
Saat ini dia bukakan pintu itu untuk Soraya. Dan masih saja Tio membantu Soraya turun. Kehamilan ini seharusnya diketahui oleh suaminya yaitu Derry, namun bagaimana bisa dipaksa, pria tampan dan gagah itu masih terbaring lemah saat ini.
Tuan Derry masih menunggu di depan ruangan itu, dokter telah melakukan operasi kepala saat ini. Kemudian dokter juga bilang ada kemungkinan Derry akan sadar karena tampak pemulihan otaknya mulai bekerja.
Banyak harapan saat ini, sedangkan Soraya dan Tio sekarang telah berada di dalam lift dan menuju apartemen itu.
Kemudian sampai di ambang pintu apartemen milik Soraya itu, terus saja dia menekan belnya, dan tak lama kemudian pintu terbuka.
"Kakak!" ucap Yumita yang memandang sebentar ke arah Tio, lalu menuju wajah Soraya kembali.
Soraya yang masih memegangi kepalanya tersebut, langsung dibantu oleh Yumita dan Tio saat ini.
Sedangkan Nurdin dan Nadim tampak sedang mencuci pakaian mereka sendiri, mereka masih belum terbiasa dengan mesin cuci yang tersedia di kamar mereka tersebut.
"Kakak kenapa??" tanya Yumita kembali yang tampak begitu khawatir.
"Yumita, tolong buatkan minuman dingin untuk bang Tio," ucap Soraya mengalihkan pertanyaan itu.
" Baik kak," dia akur dan langsung menuju dapur sekarang.
"Raya.. kau ingat kan, harus banyak istirahat, aku tidak mengijinkan kamu untuk datang bekerja besok," ucap Tio kembali.
"Tapi Tio, aku.." ucapnya terhenti ketika Yumita pun telah sampai membawakan segelas air dingin dan segelas air hangat untuk kakaknya.
"Kak, minumlah air hangat ini," ucap Yumita yang tampak lembut menyuapi gelas itu ke mulut kakaknya.
Tio meneguk minuman itu, memang sedikit dahaga tenggorokannya saat ini, bahkan jam juga hampir menunjukkan sore sekarang. Meeting pukul dua itu tidak terlaksana hari ini, dan entah juga untuk besok.
Keadaan rumit dan runyam, sekretaris tidak masuk, sekarang Soraya yang baru saja bergabung sedang hamil pula, dan mengharuskannya banyak beristirahat.
Siapa yang harus membantumu lagi besok?? tanya Soraya saat ini yang tampak mengkhawatirkan Tio yang harus mengurus perusahaan yang huru hara itu saat ini.
"Raya.. jangan pikirkan aku, tenang saja, tim manager dan lainnya masih bersamaku," ucapnya lagi.
"Tio, apa aku boleh meminta sesuatu padamu??" tanya Soraya saat ini.
"Iya Raya, katakan saja," ucapnya cepat.
Wajah Soraya memandang lekat ke arah Yumita yang tampak tertunduk itu saat ini. Dia sedikit malu memandang Tio saat ini.
__ADS_1
"TIO, apakah kau bisa mengajari Yumita mengenai manajemen??" tanya Soraya saat ini.
Terkejut Yumita yang mendengar ucapan Soraya itu yang tiba-tiba menyuruh Tio untuk mengajarinya tersebut. Terkejut bukan tidak mahu, namun dia malu dan tidak percaya diri.
"Yumita? wah, ide bagus itu Raya," ucap Tio yang tampak bersemangat.
Terkejut juga Yumita mendengar ucapan Tio yang tampak tidak menolak permintaan kakaknya itu. Dan kemudian Soraya kembali membuka mulutnya lagi memastikan kepada Yumita yang memang dia ketahui adiknya itu cerdas dan memang mengimpikan kerja di perkantoran besar seperti dirinya.
"Yumi, apa kau bersedia?" tanya Soraya saat ini.
Hanya di balas anggukan saja oleh Yumita dan dia juga tidak tahu mengapa kakaknya menyuruhnya bekerja di kantor membantu Tio.
"Oke, besok Yumi sudah bisa masuk menggantikan kami Raya, tenang saja Yumi, abang akan mengajarimu," ucap Tio kembali dengan semangat.
"Kaka besok tidak masuk??" tanyanya kembali.
"Kakakmu harus banyak istirahat sekarang Yumi, kita akan memiliki keponakan sebentar lagi," jelas Tio dengan terbuka.
"Ha! kakak hamil?" terkejut Yumita dan tampak memeluk Soraya saat ini.
Hanya di jawab dengan anggukan pelan saja oleh Soraya yang tampak menyandarkan tubuhnya tersebut di sofa empuk itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kak!" dengan mata yang berlinang dan jatuh juga buliran karena terharu tersebut.
"Tio, tidak perlu," jawab Soraya menyanggah.
"Tidak, jangan keras kepala. Besok akan ada orang yang menolongmu disini, karena Yumita besok akan bekerja seharian denganku," jelas Tio kembali.
"Baiklah," ucapnya.
"Oke, aku pamit dulu ya Raya. Yumi, abang pamit jaga kakakmu dengan baik," ucapnya.
"Iya bang, hati-hati terima kasih banyak telah mengantarkan kakakku," ucapnya.
"Ya, Oh iya! ini kunci mobilmu, aku naik taxi saja nanti," ucap Tio menyerahkan kunci mobil itu ketangan Soraya.
Akhirnya Tio pun keluar dari rumah itu dengan sedikit lega saat ini, karena memang dia sudah mendapat penolong dan pengganti Soraya. Biarlah pikirnya dia mengajari Yumita, jika Soraya sudah menyuruh begitu, pastilah Soraya tahu kemampuan adiknya itu.
Dan saat ini, Fanni yang tampak begitu bahagia, mendapatkan kabar baik kehamilan kakaknya itu, Nurdin dan Nadim yang sudah selesai mandi sore menghampiri mereka keruangan tamu.
"Kenapa kakak memeluk kak Soraya??" serentak mereka bertanya dengan wajah bingung.
"Sini dek! ayo sini cepat!" perintah Yumita kepada mereka berdua yang berdiri tampak jauh diambang pintu.
__ADS_1
"Ada apa kak??" tanya mereka serentak.
"Kita sebentar lagi akan mendapatkan keponakan," ucap Yumita kembali.
"Ha? serius? Alhamdulillah...." nada panjang keluar dari mulut mereka berdua, dan sama seperti Yumita saat ini mereka pun menghujani Soraya pelukan juga sama seperti Yumita.
" Selamat ya kak," ucap mereka semua.
"Sudah, sudah. Jangan seperti ini."
Mereka tertawa bahagia sekarang, Nurdin dan Nadim memapah Soraya ke tempat tidurnya saat ini.
Yumi pula yang tadi sedang memasak dan membereskan dapurnya segera menuju dapur kembali. Karena memang saat ini hari telah pun hampir gelap.
"Kakak, jangan banyak bergerak, kalau mau apa-apa telpon saja kami," ucap mereka berdua.
Ya! kalau berteriak rasanya tidak akan terdengar, karena memang kamar mereka sedikit berjauhan dan tersekat dengan dinding yang tebal.
"Iya adik-adikku, kalian bantu kak Yumita sana, pasti dia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk kita," perintah Soraya saat ini.
Mereka mengangguk dengan cepat, dan kedua adik lelakinya itu keluar menuju dapur juga. Benar saja, Yumita yang tampak mengemasi dapur tersebut langsung di bantu oleh kedua adik lelakinya itu.
"Kak, sudahlah pergi mandi, biar kami berdua yang membereskan ini," ucap Nurdin dengan cepat mengambil penyapu itu.
"Ya Sudah, nanti selesai beres-beres kalian pindahkan lauk-pauk ini ke mangkuk, dan susun di meja makan ya dek," ucap Yumita memberikan arahan kepada kedua adiknya.
"Iya kak," jawab mereka.
Soraya pula terbaring menghadap plafon kamarnya tersebut. Dia pun tampak berkaca-kaca saat ini. Mengingat Derry membuatnya sesak di dada. Sambil mengelus perut yang masih tampak rata itu, ada terbesit rindu yang mendalam saat ini.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Soraya dalam hatinya.
Sedangkan Fanni sekarang, karena hari telah pun sore dia pun segera menuju parkiran dan kemudian dia pulang ke rumah Derry saat ini.
Jalanan tampak begitu macet, Tio yang mengendarai taksi itu terjebak macet untuk kembali ke kantor mengambil mobilnya.
Sambil melihat jam, ponsel Tio berdering kuat, tampaknya ada sesuatu yang penting sekarang.
Siapakah penelpon itu??
Jangan lupa komennya ya gais, semoga kalian terus sehat dan menyemangati saya.
***
__ADS_1