
"Osman! kau lihat saja nanti!!" bibir di ketip dengan garamnya.
Perlakuan kasar Tuan Osman kepada istrinya itu saat ini membuatnya murka dan tampak menyimpan dendam.
Dia melihat ponselnya sekarang, kemudian tersenyum kecut dengan adegan video yang dia dapati saat ini. Sekarang dia ingin mengurus kepulangannya ke negara Dubai.
Dia ingin mengurus juga perceraiannya dengan Tuan Osman tersebut. Tuan Osman yang dijodohkan oleh ayahnya itu, kini dia akan memburukkan keadaan Tuan Osman agar dia dibuang dari keluarga kaya raya istrinya tersebut.
Semua yang dimiliki oleh Tuan Osman itu berasal dari keluarga sang istri tersebut. Dia pun yang dulunya hanya bawahan di perusahan keluarga istrinya itu, karena dikenal baik dan berpotensi, akhirnya mereka dijodohkan dan dipaksa menikah.
Ayah dari istri Tuan Osman tidak pernah percaya kepada anaknya sendiri. Berulang kali wanita itu mengatakan keluh kesahnya, namun sang ayah tidak sedikit pun percaya, karena dia sangat memandang baik Tuan Osman tersebut.
Satu sisi, orang suruhannya yang telah dia suruh berhenti itu, tampaknya dia hubungi kembali saat ini. Dia ingin orang itu melakukan sesuatu sekarang untuknya.
Dulu memang dia tidak mencintai Tuan Osman, dia pun membiarkan Tuan Osman berselingkuh, sekarang beda cerita anak yang ada saat ini itu lah alasan wanita ini bertahan.
Dan hari ini, rasa sakit dikhianati itu muncul kembali, apalagi perlakuan kasar yang didapatnya tadi membuat dia menjadi dendam sampai mati.
Di negara asalnya dia tidak berani berbuat demikian, karena memang ada mertuanya tersebut. Dia pun selalu berakting seolah menjadi suami paling baik dan sabar tersebut.
Soraya dan Tio masih sibuk saat ini, mengurusi surat-surat customer yang berada di luar kota.
Tuan Al masuk dalam tanah kepemilikan Nyonya besar, itu lah mengapa saat ini tampak Tio menghubunginya kembali, agar apapun yang bersangkutan dengan tanahnya itu, Tuan Aladin konfirmasikan kepada Fanni tersebut.
"Apa? dipecah dua??" jadi bagaimana dengan sewa saat ini??" nada panik dari suara TUAN Al di panggilan itu.
"Maaf Tuan Al, ini bukan mahu saya juga, namun rasanya untuk sewa yang sudah dalam perjanjian kontrak tidak akan bertambah," jawab Tio kembali.
"Tio, apa tidak bisa dialihkan menjadi kepengurusan??" tanya Tuan Al yang penuh harap dan memang dia selalu sesuai hanya dengan Tio saja.
__ADS_1
"Tidak Tuan, ini bukan milik saya, itu milik tante saya, dan dia menyuruh orang lain mengurusnya," jawab Tio dengan tidak enak hati.
"Baiklah, kalau begitu besok saya akan terbang kesana, dan bertemu dengan CEO baru itu," ucap Tuan Al kembali.
"Iya Tuan, sebaiknya memang begitu," jawab Tio kembali.
Panggilan itu diakhiri dengan salam dan kemudian tampak berbincang Tio dan Soraya. Soraya diperintahkan Tio untuk membuat jadwal meeting bersama investor, kalau bisa hari ini.
Karena Tsania tidak ada sekarang, menjadikan Soraya merangkum semua pekerjaan saat ini. Fanni yang kini asyik membalas komentar selamat di sosial medianya itu atas pencapaiannya menjadi CEO wanita sekarang.
Kemudian ketika Soraya mencoba menghubungi nomor para investor perusahaan itu, yang terakhir yang tampak sulit menjawab adalah Tuan Rendra.
Dia hanya ingin menanyakan ketersediaan lelaki itu untuk menghadiri meeting penting hari ini. Lama juga panggilan itu tidak dijawab, dan akhirnya Tuan Rendra yang baru keluar dari kamar mandi tersebut melihat ponselnya berdering kuat, dan nomor perusahaan yang menghubunginya, langsung dijawab.
Ada rasa takut disana, yang biasa menghubunginya untuk meeting biasanya adalah Tsania, namun jantungnya berdebar kuat, apa benar ini Tsania atau bukan? karena memang wanita itu sudah sangat bersumpah di depannya waktu itu, dia sama sekali tidak ingin melihat Tuan Rendra kembali.
Jika ini bukan Tsania, maka Tuan Rendra juga sangat menyesali perbuatannya, karena dirinya yang tidak bisa menahan tersebut, membuat Tsania harus berhenti bekerja, pikirnya lagi yang sedari tadi diam melamun, namun panggilan itu telah dijawab.
Entah berapa kali Soraya memanggilnya, menyebut namanya dengan sopan. Namun, Tuan Rendra tampak sama sekali belum mengucapkan apapun. Karena suara yang terakhir itu cukup kuat, Tuan Rendra terkejut dan gelagapan dia menjawab panggilan Soraya tersebut.
"Ha.. iya hallo!" jawab Tuan Rendra yang tampak gagap itu.
"Tuan Rendra, apa kau baik-baik saja??" tanya Soraya mencoba memastikan keadaannya.
"Iya aku baik-baik saja, ini dengan siapa??" tanya Tuan Rendra yang tidak mengenali suara Soraya tersebut.
Memang, Soraya tidak pernah menghubungi pihak investor, karena ini memang bukan tugasnya. Jika dia diharuskan meeting di luar, itu pun Tsania yang menyiapkan jadwal mereka semua.
"Oh.. syukurlah, saya Soraya Tuan," jawab Soraya dengan ramahnya.
__ADS_1
"Soraya?? kenapa kamu yang menghubungi saya??" tanya Tuan Rendra lalu mengetuk kepalanya, tampak nya kata-kata yang keluar barusan tidak pantas dia tanyakan.
"Oh iya maaf Tuan Rendra, Tsania sedang tidak masuk, jadi saya lah sementara menggantikan disini. Dan, yang saya ingin bicarakan saat ini, apakah anda bersedia datang untuk meeting hari ini??" tanya Soraya lagi dengan profesional.
Walaupun Soraya sempat melihat foto itu jelas terpampang wajah Tuan Rendra yang menggendong Tsania tersebut, namun dalam hal ini bukan urusannya dan rasanya tidak pantas saja, urusan pribadi tersebut harus dia campuri di sini, pikir Soraya lagi.
Mendengar Tsania sakit, membuat hati pria itu merasa begitu bersalahnya. Dia yakin Tsania pasti depresi dengan kejadian beberapa waktu lalu.
Dia ingat lagi rasa yang dapat dinikmatinya malam itu. Benteng pertahanan Tsania sulit ditebusnya, karena memang tampaknya wanita itu menjaga benteng pertahanan itu dengan baik dan benar.
Soraya yang menunggu jawaban dari Tuan Rendra itu sedikit bingung, Tio pula yang memperhatikan wajah bingung Soraya itu, mencoba bertanya namun dengan suara pelan.
Soraya hanya memberi isyarat kala dia sedang memasang telinganya baik-baik agar mendengar suara Tuan Rendra yang kecil itu.
"Tuan, apa anda setuju??" ulang Soraya lagi saat ini.
"Ha.. iya pukul berapa??" tanya Rendra kembali membuka suara.
"Setelah makan siang, apa anda setuju??" tanya Soraya lagi untuk memastikan.
"Oh.. berarti sekitar pukul dua?" kembali Tuan Rendra bertanya.
"Ya benar, jika setuju kami sangat berharap kedatangan anda saat ini, karena ada hal penting yang akan kita bahas nanti," kata Soraya kepada Tuan Rendra.
"Oh iya baiklah terima kasih Soraya," ucapnya sedikit nada normal saat ini.
"Baik Tuan Rendra, terima kasih. Assalamualaikum," jawab Soraya dan ingin mengakhiri panggilan itu.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Panggilan pun berakhir saat ini. Tuan Rendra banyak termenung akhir-akhir ini. Menyesali perbuatan yang sudah berlalu, baginya membuat kepalanya begitu sakit. Akankah Osman berhasil dicampakkan istrinya?
***