
Pagi itu suasana menjadi canggung, karena subuh yang terjadi tersebut membuat ibu Tio yaitu Nyonya Velli mengharuskan anak semata wayangnya untuk menikahi Yumita yang masih tampak muda itu.
Mulut Yumita tidak berkata apapun sekarang ini, jika dibilang ini adalah takdir, dia sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena takdirnya dipaksa menikah dengan pria yang dia cintai.
Mereka sarapan pagi dengan penuh perbincangan. Alasan Tio tidak didengar sama sekali oleh Nyonya Velli. Walau dia tahu, Tio berkata jujur. Namun kesempatan ini diambil dengan secara baik oleh kedua orang tua Tio.
"Yumita, apa kamu setuju?" tanya keduanya serentak.
Tio berharap Yumita mengatakan "Tidak".
Karena memang Tio tidak ingin menikahi Yumita yang masih tampak begitu muda dari dirinya tersebut. Dan sekarang Tio pun membuat wajah gusarnya, dan jantungnya berdebar menunggu jawaban dari bibir mungil itu.
"Katakan tidak little girl!" umpat Tio dalam hatinya.
Tidak menjawab, namun hanya dibalas anggukan saja. Mata ibu Tio berbinar, dia langsung menghampiri Yumita di kursinya, Tio menatap gusar saat ini.
"Sayang, ayo katakan Iya!"
Yumita dipaksa mengatakan Iya dengan mulutnya sendiri, rasanya anggukan itu kurang menyakinkan, Papa Tio pun tersenyum geli di hatinya saat ini.
"Biarlah Tio menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya," ucap suara hati papa Tio.
"Pa, bantulah aku!" Suara Tio tidak keluar, namun mulutnya itu menandakan isyarat begitu. Sedangkan Papanya hanya pura-pura tidak melihat.
"Oke, minggu depan kita adakan pernikahan untuk kalian berdua," Keputusan itu telahpun ibu Tio ambil, dia memeluk Yumita begitu erat.
"Tio, kau harus bersiap untuk menikah minggu depan, ibu tidak mahu tahu! dan kau harus bertanggung jawab!"
Nada tegas itu terdengar jelas. Nyonya Velli sudah bosan dengan kesendiriannya di rumah itu menjadi wanita satu-satunya. Dan saat ini pula kesempatan emas bisa dia lakukan.
"Bu, bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Soraya! Pasti dia akan marah kepadaku," ucap Tio gusar.
"Tidak, tidak! Ibu akan mengurusnya," jawab Ibu Tio itu langsung menyanggah.
Tio pun hanya diam, dan akhirnya dia menyelesaikan sarapan paginya itu dengan cepat. Dia pun melangkah keluar dengan wajah yang murung.
Dipaksa menikah ini adalah suatu hal aneh yang terjadi kepada dirinya. Mengapa kedua orang tuanya tampak sengaja melakukan ini, dan anehnya lagi gadis kecil itu menyetujuinya!
Tio masuk ke dalam mobilnya, dan terus mengumpat dan mengutuk Yumita. Ada kemarahan disana. Mengapa Yumita menerima dengan mudahnya, sedangkan Yumita pasti tahu, Tio tidak berbuat apapun kepadanya.
__ADS_1
Hari ini juga Derry yang sedang dipakaikan dasi oleh istri tercintanya itu, dengan bersemangat untuk berangkat kerja ke kantor. Tidak lupa juga, Derry mengucap pamit kepada istrinya dan anak yang ada dikandungan Soraya saat ini.
"Derry, dia masih belum bisa mendengar," ucap istrinya itu.
"Sayang, jangan panggil aku Derry lagi! Aku tidak ingin anakku mendengar panggilan jelek itu!" umpat Derry kesal dengan suara manja.
"Lalu apa?" tanya Soraya bingung.
"Panggil aku Paksu!" ucap Derry dengan nada perintah.
"Apa itu Paksu?" tanya Soraya sambil terkekeh.
"Papa Super, haha," Suara Derry dan tawanya begitu bahagia, dan Soraya juga menyambut tawa renyah itu.
"Dasar Paksu, lihat tuh baby, Paksumu terlalu lebay," ucap Soraya lagi masih terkekeh.
"Maksu, jangan ajarkan babyku begitu," ucap Derry.
"Maksu? Tidak, tidak! panggilan itu jelek!" Soraya menyanggahnya dengan cepat.
"Lalu apa?" tanya Derry lagi.
"Bucin aja deh," ucap Soraya.
"Bucin itu artinya Bunda cinta," jelas Soraya lagi dengan tertawa.
"Tidak, tidak! hak veto bersamaku, maka panggilan baby untukmu harus Maksu!" ucap Derry lagi tegas.
"Heh Paksu, lihat jam tanganmu, itu sudah jam berapa."
Soraya menggelengkan kepalanya, jika dia terus saja adu argumen dengan suaminya ini, pastinya lelaki satu ini akan terus saja berbicara sekarang.
"Haha, lihat baby... Maksumu mengusir Paksu," ucapnya lagi.
Soraya hanya terkekeh saja sekarang, dia pun langsung bersalaman dengan suaminya itu. Begitu hangat dan harmonis, dahi itu tak lupa juga bibir Derry mendarat di sana.
"Sayang, ingat nanti malam!" ucap Derry lalu dia pergi dengan cepat.
Soraya melotot ke arah Derry, semalam mereka sempat cek kandungan, dokter bilang mereka bisa berhubungan badan walau Soraya sedang hamil.
__ADS_1
Melihat kondisi sang istri baik-baik saja, Derry begitu semangat untuk nanti malam. Soraya hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
Pintu pun telah terkunci saat ini, Soraya di awal pagi ini dia sempatkan untuk melihat ponselnya dan saat ini, dia sedang membaca mengenai keadaan ibu hamil.
Kehamilannya diterima baik oleh Derry dan Tuan Frans, namun tidak dengan ibu mertuanya yang sedang kritis saat ini.
Tio lebih sampai awal saat ini, sedangkan perusahaan sekarang sudah pun diatur oleh Tio dengan cepat. Para tim manager membantunya dengan sigap.
Jam hampir menunjukkan pukul delapan lebih, Derry baru saja sampai di depan perusahaannya sendiri. Sedangkan para pengacara keluarga Frans saat ini sedang menuntut atas hak tanah itu.
Tio, dia masih menduduki ruangan CEO. Dia tidak tahu kalau hari ini, sang pewaris telah pun menginjakkan kakinya. Para staf terpukau dengan kehadiran Derry yang tampak pagi ini bugar dan tersenyum lebar.
Di dalam hati mereka sekarang, pria arogan yang sombong dan dingin serta keras kepala ini, sekarang tampak berbeda. Dia menjadi lebih hangat dan ramah sekarang.
Apa yang membuat pak Derry berubah pagi ini?
Itu lah isi kepala para staf dan manajer sekarang. Mereka semua diperintahkan oleh Tio, agar tidak ada yang membuka mulut satupun ke khalayak ramai, atau pun jika Derry masuk mereka harus bisa seolah-olah perusahaan ini tidak terjadi apapun sekarang.
Tio melihat pesan dari para pengacara penuntut hak itu. Tampak saat ini, laporan mereka begitu lemah, dan surat-surat penting dan berharga itu telah pun berubah kembali kepemilikannya dengan sekejap.
"Siapa lagi pemiliknya?" tanya Tio kepada pengirim pesan itu.
"Tertulis disini adalah Tuan Maher Uzir," balas pengacara itu.
Dan pintu yang telah terbuka, namun Tio tidak mendengarnya sama sekali. Tio tidak sadar pria bertubuh jangkung itu sudah duduk di hadapannya saat ini.
"Hei, siapa Maher Uzir?" tanya Derry sekaligus mengejutkan Tio.
"Ha, Derry!" ucap Tio terkejut dan wajahnya berkeringat seketika.
"Iya, siapa pria itu? Apa Klien baru?" tanya Derry lagi.
"Hem, kapan kau masuk? kenapa aku tidak mendengarnya?" Tio mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, saat ini Tio masih tidak ingin Derry mengetahuinya.
"Sudah dari tadi, semenjak kau terlalu fokus menatap layar ponselmu itu, dan menyebutkan Tuan Maher Uzir. Berapa banyak dia menyewa lahan?" tanya Derry kembali.
Akankah Derry tahu semua?
Apakah Tio akan mengungkapkannya?
__ADS_1
****
Maaf Readers untuk beberapa hari ini kemungkinan thor cuma up 1 saja dulu ya kedepannya thor usahakan up lebih dari itu. Terima kasih yang sudah setia mengikuti 90 Days.