90 DAYS

90 DAYS
BERITA DUKA


__ADS_3

"Pa, mama kenapa?" tanya Derry  dengan wajah yang panik.


"Derry, mama kritis dan sekarang dokter sedang mengecek keadaan mama," ucap Tuan FRANS.


"TIO kamu disini juga," ucapnya lagi menyapa TIO.


"Iya Om, karena Derry  bilang tante kritis," ucap Tio.


"Mama sakit apa Pa? Sejak kapan mama seperti ini?" tanya Derry lagi.


Wajah Tuan Frans  bingung, dan dia sesekali melirik kearah Tio  saat ini, tampak pria dengan setelan coklat putih itu menunduk bingung sekarang.


"Pa, jawab Pa! Mama kenapa?" tanya Derry lagi yang mengeraskan rahangnya.


"Derry, mama terkena serangan jantung, dan dia sempat mengalami syok berat," jelas Tuan Frans  akhirnya.


"Kenapa mama bisa terkena serangan jantung dan Syok berat? Ada apa yang terjadi sebenarnya ini?" tanya Derry  lagi dengan suara yang meninggi.


"Derry, sebenarnya ketika kamu sakit, banyak hal yang terjadi dan banyak hal yang dialami oleh Soraya," jelas Tuan Frans  akhirnya mencoba membuka suaranya.


"Ada apa Pa? Tolong jangan bertele-tele," ucap Derry  lagi.


"Fanni membuat semua kerusakan ini," jelas Tuan Frans  dengan singkat.


"Fanni? Ada apa dengan Fanni?" tanya Derry dengan wajah terkejut.


"Fanni yang dipercaya penuh oleh mamamu itu, mengalihkan tanah milik mama ke tangan Tuan Osman, dan sejak hal itu terungkap mamamu mengalami Syok berat dan terkena serangan jantung dadakan," jelas Tuan Frans  lagi.


"Tio!" Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal!" umpat Derry  kesal dan matanya memerah kearah Tio.


"Jangan marah kepada Tio Der, dia papa yang suruh agar tidak memberitahukan kepadamu, karena kami takut kamu mengalami sakit kembali," jelas Tuan Frans  menjadi penengah mereka.


"Dasar perempuan sialan!" umpat Derry  kesal.


"Apalagi yang dilakukan wanita brengsek itu Pa?" tanya Derry  kembali.


"Dia telah berselingkuh dengan Tuan Osman Derry!dan dia menghasut mamamu untuk mengusir Soraya  dari rumah saat kamu sedang koma. Untung saja ada Tio yang memantau Soraya  saat itu, kalau terlambat, kemungkinan Soraya  akan pergi jauh dari kita semua," Kembali Tuan Frans  menjelaskan.


Derry  tampak terkejut dan hampir tidak membayangkan penderitaan istrinya tersebut. Namun, istrinya begitu baik dan tulus, dia bahkan tidak berbicara hal buruk mengenai mama Derry  yang memperlakukan dirinya seperti itu.


Sekarang Derry  semakin menaruh rasa cintanya kepada Soraya. Pilihannya benar-benar tepat dan bahkan sangat tepat. Dia meninggalkan Fanni  demi menikahi seorang stafnya dengan perjanjian hanya istri 90 hari saja.

__ADS_1


Namun sekarang beda cerita, dia ingin 90 abad dan bahkan tak terhitung keinginannya selalu ingin bersama Soraya. Sulit mendapatkan wanita tulus dan wanita yang benar-benar menjaga hatinya untuk seorang pria.


Apalagi saat itu Derry sedang koma, dan Soraya  bisa saja mendapatkan seseorang yang bahkan melebihi Derry, namun istrinya itu menunjukkan bakti dan kesetiaan yang luar biasa.


"Derry, sudahlah dan tenang saja, aku dan Rendra  sedang mengurus Fanni  dan Tuan Osman."


Betapa terkejutnya Derry  ketika Tio menyebut Rendra  bergabung membantu di perusahaan mereka, dan saat ini dia juga bingung mengapa Rendra  ada sangkut pautnya dengan perusahaan itu.


"Apa, Rendra? Kenapa dia harus repot-repot membantu kita?" tanya Derry   kembali.


"Iya Derry, Rendra  yang membongkar keburukan Fanni  semuanya dan Tuan Osman, kalau bukan karena Rendra  mungkin harta dan tanah mama mu  sudah habis dialihkan mereka berdua," jelas Tio kembali.


"Wanita sial! Akan aku cari dia kemana pun!'" umpat Derry  kesal.


"Derry, kau tidak perlu banyak bergerak duku, saat ini orang suruhan Rendra telah berhasil mendapatkan jejak Fanni," jelas Tio kembali.


"Benarkah?" tanya Tuan Frans  dan Derry  serentak.


"Ya Om, Rendra  baru saja mengabariku pagi ini, dan tadi sebenarnya aku ingin bertemu Rendra, karena hari ini kemungkinan dia akan pindah ke Australia kembali," jelas Tio lagi.


"Pindah? Mengapa secepat itu?" tanya Derry  bingung.


"Iya, disana ada bisnes barunya," jelas Tio yang bingung menjelaskan hal itu.


"Tenang saja Derry, Rendra kan masih menjadi bagian investor kita, pasti dia akan mengunjungi perusahaan di lain waktu," jelas Tio kembali.


Tak lama mereka berbincang, keadaan hati Derry  mulai sedikit tenang. Hanya saja mereka masih menunggu dokter membawakan kabar baik untuk mereka semua yang menunggu di depan ruangan itu.


Dua puluh menit Tio dan Derry  yang sudah berdiri tegak di depan ruangan mama Derry  tersebut, dan saat ini dokter pun keluar dengan peluh yang membanjiri dahinya dan wajah dokter itu begitu tampak lemah.


"Dok, bagaimana keadaan mama saya?" tanya Derry  dengan wajah panik.


"Iya, dok gimana istri saya?" tanya Tuan Frans  juga.


Pertanyaan demi pertanyaan mereka layangkan, dokter itu masih mengatur nafasnya agar bisa mengatakan kondisi Nyonya besar sekarang.


"Dok katakan dengan cepat!" ucap Tio yang juga tak sabar menunggu dokter itu memberikan kabar baik.


"Maaf Tuan semua, saya tidak berhasil menyelamatkan Nyonya besar, dia telah tiada saat ini," jelas dokter tersebut.


"Tidak! Tidak mungkin!" ucap Derry  lalu menolak tubuh dokter itu.

__ADS_1


Derry  langsung berlari masuk ke ruangan tersebut, dia juga disusul oleh Tuan Frans  dan Tio. Tuan Frans  menangis tampak matanya sudah menitiskan air mata, dia memegangi dahinya.


Nafasnya dia mencoba mengatur dengan pasrah, namun ada sesak disana. Derry pula terus saja meratapi kepergian mamanya tersebut. Tio juga ikut menangisi tantenya itu.


Dia langsung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya disana, menekan nomor ponsel mamanya dengan cepat.


Saat ini mamanya yang sedang asyik mengobrol dengan Yumita  dikejutkan dengan suara ponsel yang kuat dari Tio.


"Nah, baru saja diomongin sudah menghubungi," ucap Ibu Tio yang tersenyum dengan Yumita.


"Sebentar ya sayang, Ibu jawab dulu panggilannya."


Yumita mengangguk dengan cepat, apa yang dia doakan di dalam hatinya sebentar lagi akan terwujud, pikir Yumita. Bahkan dia tidak menyangka dengan jalan Tuhan yang begitu mudahnya untuk menyatukan dia dan Tio.


Namun, yang Yumita  bingung mengapa Tio bisa berada di kamarnya dengan hanya memakai handuk saja, karena Yumita  memang sedang tidur, dia tidak mengingat hal apapun malam itu.


Tapi biarlah, selagi itu menyatukan dia dan Tio, Yumita  menerima pasrah akan itu. Yang ditakutkannya adalah ketidak setujuan Soraya  saat ini, dia bahkan mungkin akan menyanggah pernikahan itu, karena memang Soraya  tidak ingin adiknya menikah di usia yang begitu muda.


Lagi-lagi Ibu Tio meyakinkan Yumita  dengan sungguh-sungguh, Ibu dan Ayah Tio akan mengatakan semuanya kepada Soraya, dan Soraya  harus menyetujuinya, itulah yang dikatakan Ibu Tio kepada Soraya.


Dan saat ini, wajah Nyonya Velli berubah menjadi sedih dan dia benar-benar mengeluarkan air matanya dengan deras.


"Bu, ada apa Bu?" tanya Yumita  dengan panik.


"Bu, kenapa?" tanya Nyonya Velli.


"Bu, Tio tutup dulu ya," ucap Tio lalu menutup panggilan itu.


"Bu Bang Tio Kenapa?" tanya Yumita  kembali.


"Yumi, mama Bang Derry  meninggal dunia," ucap Nyonya Velli.


"Innalillahi wainnaillahirajiun," ucap Yumita  juga terkejut dan mulai matanya berkaca-kaca.


"Ibu hubungi ayah dulu ya," ucap Nyonya Velli yang langsung menghubungi  suaminya.


Panggilan itu dengan cepat bersambut. Karena memang Ayah Tio sedang keluar membeli keperluan rumah mereka pagi ini.


"Iya Bu, ada yang kurang?" tanya Ayah Tio.


"Yah, Mama Derry meninggal dunia," ucap Nyonya Velli membuat suaminya menjatuhkan ponselnya.

__ADS_1


****


__ADS_2