90 DAYS

90 DAYS
BERCERAI!


__ADS_3

"Kau datang ke sini pasti di suruh Derry  buka??" dengan nada sinis kali ini Soraya  terhadap Tio.


"Derry?? tidak! tidak sama sekali," ucap Tio.


Ketiga adiknya tersebut hanya mendengarkan mereka sedang berdialog namun tampak begitu tegang. Soraya menuduh Tio adalah utusan Derry  saat ini.


Ingatan Soraya  telah pulih kembali dan mengingat dengan benar tentang seorang Derry Sanjaya. Memorinya sudah pulih, emosinya masih tidak  stabil bahkan dia saat ini tampak sinis kepada Tio.


"Katakan sekarang! apa tujuanmu datang kesini??" dengan nada sedikit tinggi.


"Aku hanya ingin melihatmu, itu saja."


"Oh... kalau begitu kau sudah melihatku, pulanglah sekarang!!" wajah itu dengan kejam menyuruh Tio untuk pulang, padahal mereka pergi dengan penuh kehangatan.


"Kak..bang Tio sejak kemarin sudah ikut bersama kita!! dan kita sampai disini juga bang Tio yang menyetir!! baru kali ini adik kedua bersuara sedikit tinggi kepada kakaknya tersebut.


Soraya  tampak diam mendengar ucapan adiknya tersebut. Dia pun tidak tahu dengan apa yang diucapkannya tersebut, sikapnya bisa berubah-ubah dengan seketika.


"Benar begitu?" tanya kembali.


"Iya benar," sahut Yumita  yang tampak mereka abaikan sejenak.


Mendengar suara adik perempuannya tersebut membuat  mereka semua berbalik ke arah Yumita  seketika Soraya tampak tersadar dan dia menangis kembali.


"Kak.. jangan menangis, kami ada bersama kakak," ucap Yumita  sambil menghapus air mata di wajah Soraya.


Hanya mengangguk dan memegangi tangan Yumita  tersebut. Soraya sesekali melirik ke arah Tio yang sedang berada di sampingnya.


"Bang Tio tidak bersalah apapun kak, jadi jangan pernah bersikap seperti itu lagi kepadanya," kembali lagi Yumita  berbicara dengan nada lemah.


"Iya Yumi, kakak tidak sadar dengan apa yang kakak ucapkan, dan kakak juga tidak bisa menahan emosi kakak jika mengingat lelaki pembunuh itu!!" kembali tampak wajah geramnya dan marahnya muncul lagi.


"Raya... tenanglah, jika memang Derry  bersalah, aku akan menuntut dan menghukumnya," tambah Tio  pula seolah menenangkan Soraya.

__ADS_1


"Dia bersalah!! dia mengirim map perjanjian itu ke rumahku, dan kedua orang tuaku telah melihatnya, dan mereka syok.. lalu," terhenti disitu, dan Soraya  terduduk lemas mengingat kedua orang tuanya meninggal bersamaan.


"Kak... istighfar kak, Istighfar!!"


"Semua itu karena sudah ajal ayah dan ibu kak, jangan begini kak. Kalau kakak terus begini, itu melawan ketentuan takdir yang Allah telah buat," tambah adik kedua lagi dan mengangkat kakaknya kembali didudukkan ke sofa.


Adik kedua memeluk Soraya  dengan hangat, dan terus saja menyuruh Soraya  beristighfar dengan tak henti-hentinya. Agar segala ilusi dan bisikan untuk membenci seseorang tidak didengar Soraya  lagi.


Sangat kagum Tio melihat sikap bijak dari adik-adik Soraya  tersebut. Umur mereka semua terbilang masih sangat belia, namun sikap mereka begitu dewasa.


"Tenang lah kak, ayah dan ibu akan bahagia, kalau kita mengikuti perintah Allah. Dan ingat pesan mereka kak, jangan tinggalkan sholat walau kita dalam keadaan susah macamana pun, " tambah adik kedua lagi.


"Sudah kak, jangan menangis lagi," tambah adik ketiga pula.


"Raya.. apa aku boleh bertanya satu hal??" karena Soraya  sudah tampak tenang dan bisa diajak berbicara, kembali Tio membuka suaranya.


Hanya dibalas dengan dua kali mengangguk oleh Soraya  saat ini. Dan dengan nafas di sedut panjang, Tio mencoba mengeluarkan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.


Dan itu menjadi barang bukti pertama penyelidikan tentang siapa yang telah mengirim barang tersebut yang berisikan map perjanjian.


Mendengar penjelasan adik keduanya kemarin, Derry  memang sempat datang ke rumah mereka sehari setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia, dan Derry  telah berani bersumpah diatas Alqur'an.


Dan hal ini lah yang memicu Tio untuk menyelidiki siapa dalang dari pengirim rahasia tersebut, hingga membuat Derry  tertuduh dan kondisinya saat ini sangat miris.


Tiga hari berlalu, kabar itu masih belum dia terima lagi dari orang suruhannya,masih menunggu dan sekarang karena Soraya  tampak normal dan bisa diajak berbincang, Tio tidak ingin melepaskan kesempatan ini.


"Apa yang Raya inginkan sekarang dari Derry??" tanya Tio kembali.


"Derry?? aku..ingin dia menceraikanku!!" sahut Soraya  dengan tegas dan sedikit suaranya naik.


"Bercerai?? Raya.. pernikahan ini suci, bukan main-main, dan yang aku lihat Derry  dan kamu itu saling mencintai," ucap Tio kembali.


"Kalau kau datang ke sini hanya untuk membela Derry, lebih baik pulanglah!!" emosinya tidak tertahan ketika Tio  tampak membela Derry, padahal dia hanya ingin menasehati Soraya.

__ADS_1


"Bukan begitu maksud Raya.. tapi ada satu hal yang belum kamu ketahui dengan keadaan Derry  saat ini," tambah Tio  kembali.


"Apa?? Aku tahu lah Tio!! Sepupumu yang kaya raya itu dan memiliki segalanya tersebut pasti sudah menikah sekarang bukan??" ucap Soraya  sinis, bahkan dia mengingat semuanya.


Soraya  mengingat tentang kepiluan dirinya sendiri. Dia memang terlalu banyak mendapatkan goresan luka yang disebabkan oleh Derry.


Tio  terdiam kembali ketika suara itu menuduh Derry  dengan seenaknya. Yang Tio ingin katakan saat ini, apa Soraya akan kembali perduli atau malah tidak sama sekali, pikir Tio.


"Kenapa kau diam?? ucapanku benar bukan!! Yaudah, besok aku akan kembali ke kota Jakarta, dan menyuruh Derry  menceraikanku," sahut kembali Soraya.


Dengan lantangnya Soraya  berkata, besok dia akan kembali ke kota Jakarta dan meminta cerai dengan Derry. Kontrak itu memang sudah hampir habis, hanya tinggal empat hari saja lagi.


"Raya.. sebaiknya jangan dulu, kondisi Derry  sedang tidak baik dan dia terkena penyakit parah saat ini, dan ku mohon jangan lah kalian bercerai!!" tambah Tio kembali.


"Tio, pernikahan ini tidak benar, itu lah mengapa diantara kami berdua tidak mungkin bersatu, ini hanyalah pernikahan di atas kontrak dengan waktu 90 hari!!"


"Dan kau tahu.. jika Derry  ingin aku menjadi istrinya kembali, aku tidak ingin lagi, aku sangat membencinya!!" ucap Soraya  kembali.


"Raya... kebenaran masih belum terungkap, cobalah percaya denganku Derry  saat ini sedang mengalami hal yang hampir sama denganmu, namun kondisinya lebih parah," mencoba lagi Tio mencari rasa iba Soraya kepada Derry.


"Tio, aku tidak percaya ucapanmu sama sekali. Besok, aku akan tetap kembali ke kota Jakarta  dan menemui Derry  untuk meminta cerai!!"


Tio tidak bisa berkata-kata lagi. Keras kepala seorang Soraya  saat ini begitu jelas terlihat. Apapun yang dikatakan Tio  sama sekali tidak dia percayai, dia masih menganggap Tio adalah orang suruhan dari Derry, karena mengingat Tio  adalah sepupunya.


Mereka pun terdiam semua, adik-adiknya dalam hal ini tidak bisa masuk campur, karena keputusan itu biarlah Soraya  sendiri yang mengambilnya. Jika memang menurut Soraya  dia memutuskan berpisah dengan Derry  itu adalah jalan terbaiknya, mereka hanya mendukung dan mendoakan.


Walau memang perceraian itu di larang oleh agama, namun Soraya  menganggap pernikahan mereka bukan pernikahan yang benar layaknya orang lain.


Pernikahan hanya di atas kontrak itu membuat penyesalan besar di hati Soraya  saat ini. Ingin menyelamatkan kedua orangtuanya dengan menerima tawaran Derry  yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya dahulu.


Akankah besok Soraya  benar ingin menemui Derry??


Entahlah, jika memang benar, Tio akan ikut bersamanya, dan Tio akan membawa ketiga adiknya ke kota Jakarta juga walau tanpa sepengetahuan Soraya , itulah yang dipikirkan Tio  saat ini.

__ADS_1


__ADS_2