
"Kau datang ke sini pasti di suruh Derry buka??" dengan nada sinis kali ini Soraya terhadap Tio.
"Derry?? tidak! tidak sama sekali," ucap Tio.
Ketiga adiknya tersebut hanya mendengarkan mereka sedang berdialog namun tampak begitu tegang. Soraya menuduh Tio adalah utusan Derry saat ini.
Ingatan Soraya telah pulih kembali dan mengingat dengan benar tentang seorang Derry Sanjaya. Memorinya sudah pulih, emosinya masih tidak stabil bahkan dia saat ini tampak sinis kepada Tio.
"Katakan sekarang! apa tujuanmu datang kesini??" dengan nada sedikit tinggi.
"Aku hanya ingin melihatmu, itu saja."
"Oh... kalau begitu kau sudah melihatku, pulanglah sekarang!!" wajah itu dengan kejam menyuruh Tio untuk pulang, padahal mereka pergi dengan penuh kehangatan.
"Kak..bang Tio sejak kemarin sudah ikut bersama kita!! dan kita sampai disini juga bang Tio yang menyetir!! baru kali ini adik kedua bersuara sedikit tinggi kepada kakaknya tersebut.
Soraya tampak diam mendengar ucapan adiknya tersebut. Dia pun tidak tahu dengan apa yang diucapkannya tersebut, sikapnya bisa berubah-ubah dengan seketika.
"Benar begitu?" tanya kembali.
"Iya benar," sahut Yumita yang tampak mereka abaikan sejenak.
Mendengar suara adik perempuannya tersebut membuat mereka semua berbalik ke arah Yumita seketika Soraya tampak tersadar dan dia menangis kembali.
"Kak.. jangan menangis, kami ada bersama kakak," ucap Yumita sambil menghapus air mata di wajah Soraya.
Hanya mengangguk dan memegangi tangan Yumita tersebut. Soraya sesekali melirik ke arah Tio yang sedang berada di sampingnya.
"Bang Tio tidak bersalah apapun kak, jadi jangan pernah bersikap seperti itu lagi kepadanya," kembali lagi Yumita berbicara dengan nada lemah.
"Iya Yumi, kakak tidak sadar dengan apa yang kakak ucapkan, dan kakak juga tidak bisa menahan emosi kakak jika mengingat lelaki pembunuh itu!!" kembali tampak wajah geramnya dan marahnya muncul lagi.
"Raya... tenanglah, jika memang Derry bersalah, aku akan menuntut dan menghukumnya," tambah Tio pula seolah menenangkan Soraya.
__ADS_1
"Dia bersalah!! dia mengirim map perjanjian itu ke rumahku, dan kedua orang tuaku telah melihatnya, dan mereka syok.. lalu," terhenti disitu, dan Soraya terduduk lemas mengingat kedua orang tuanya meninggal bersamaan.
"Kak... istighfar kak, Istighfar!!"
"Semua itu karena sudah ajal ayah dan ibu kak, jangan begini kak. Kalau kakak terus begini, itu melawan ketentuan takdir yang Allah telah buat," tambah adik kedua lagi dan mengangkat kakaknya kembali didudukkan ke sofa.
Adik kedua memeluk Soraya dengan hangat, dan terus saja menyuruh Soraya beristighfar dengan tak henti-hentinya. Agar segala ilusi dan bisikan untuk membenci seseorang tidak didengar Soraya lagi.
Sangat kagum Tio melihat sikap bijak dari adik-adik Soraya tersebut. Umur mereka semua terbilang masih sangat belia, namun sikap mereka begitu dewasa.
"Tenang lah kak, ayah dan ibu akan bahagia, kalau kita mengikuti perintah Allah. Dan ingat pesan mereka kak, jangan tinggalkan sholat walau kita dalam keadaan susah macamana pun, " tambah adik kedua lagi.
"Sudah kak, jangan menangis lagi," tambah adik ketiga pula.
"Raya.. apa aku boleh bertanya satu hal??" karena Soraya sudah tampak tenang dan bisa diajak berbicara, kembali Tio membuka suaranya.
Hanya dibalas dengan dua kali mengangguk oleh Soraya saat ini. Dan dengan nafas di sedut panjang, Tio mencoba mengeluarkan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
Dan itu menjadi barang bukti pertama penyelidikan tentang siapa yang telah mengirim barang tersebut yang berisikan map perjanjian.
Mendengar penjelasan adik keduanya kemarin, Derry memang sempat datang ke rumah mereka sehari setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia, dan Derry telah berani bersumpah diatas Alqur'an.
Dan hal ini lah yang memicu Tio untuk menyelidiki siapa dalang dari pengirim rahasia tersebut, hingga membuat Derry tertuduh dan kondisinya saat ini sangat miris.
Tiga hari berlalu, kabar itu masih belum dia terima lagi dari orang suruhannya,masih menunggu dan sekarang karena Soraya tampak normal dan bisa diajak berbincang, Tio tidak ingin melepaskan kesempatan ini.
"Apa yang Raya inginkan sekarang dari Derry??" tanya Tio kembali.
"Derry?? aku..ingin dia menceraikanku!!" sahut Soraya dengan tegas dan sedikit suaranya naik.
"Bercerai?? Raya.. pernikahan ini suci, bukan main-main, dan yang aku lihat Derry dan kamu itu saling mencintai," ucap Tio kembali.
"Kalau kau datang ke sini hanya untuk membela Derry, lebih baik pulanglah!!" emosinya tidak tertahan ketika Tio tampak membela Derry, padahal dia hanya ingin menasehati Soraya.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud Raya.. tapi ada satu hal yang belum kamu ketahui dengan keadaan Derry saat ini," tambah Tio kembali.
"Apa?? Aku tahu lah Tio!! Sepupumu yang kaya raya itu dan memiliki segalanya tersebut pasti sudah menikah sekarang bukan??" ucap Soraya sinis, bahkan dia mengingat semuanya.
Soraya mengingat tentang kepiluan dirinya sendiri. Dia memang terlalu banyak mendapatkan goresan luka yang disebabkan oleh Derry.
Tio terdiam kembali ketika suara itu menuduh Derry dengan seenaknya. Yang Tio ingin katakan saat ini, apa Soraya akan kembali perduli atau malah tidak sama sekali, pikir Tio.
"Kenapa kau diam?? ucapanku benar bukan!! Yaudah, besok aku akan kembali ke kota Jakarta, dan menyuruh Derry menceraikanku," sahut kembali Soraya.
Dengan lantangnya Soraya berkata, besok dia akan kembali ke kota Jakarta dan meminta cerai dengan Derry. Kontrak itu memang sudah hampir habis, hanya tinggal empat hari saja lagi.
"Raya.. sebaiknya jangan dulu, kondisi Derry sedang tidak baik dan dia terkena penyakit parah saat ini, dan ku mohon jangan lah kalian bercerai!!" tambah Tio kembali.
"Tio, pernikahan ini tidak benar, itu lah mengapa diantara kami berdua tidak mungkin bersatu, ini hanyalah pernikahan di atas kontrak dengan waktu 90 hari!!"
"Dan kau tahu.. jika Derry ingin aku menjadi istrinya kembali, aku tidak ingin lagi, aku sangat membencinya!!" ucap Soraya kembali.
"Raya... kebenaran masih belum terungkap, cobalah percaya denganku Derry saat ini sedang mengalami hal yang hampir sama denganmu, namun kondisinya lebih parah," mencoba lagi Tio mencari rasa iba Soraya kepada Derry.
"Tio, aku tidak percaya ucapanmu sama sekali. Besok, aku akan tetap kembali ke kota Jakarta dan menemui Derry untuk meminta cerai!!"
Tio tidak bisa berkata-kata lagi. Keras kepala seorang Soraya saat ini begitu jelas terlihat. Apapun yang dikatakan Tio sama sekali tidak dia percayai, dia masih menganggap Tio adalah orang suruhan dari Derry, karena mengingat Tio adalah sepupunya.
Mereka pun terdiam semua, adik-adiknya dalam hal ini tidak bisa masuk campur, karena keputusan itu biarlah Soraya sendiri yang mengambilnya. Jika memang menurut Soraya dia memutuskan berpisah dengan Derry itu adalah jalan terbaiknya, mereka hanya mendukung dan mendoakan.
Walau memang perceraian itu di larang oleh agama, namun Soraya menganggap pernikahan mereka bukan pernikahan yang benar layaknya orang lain.
Pernikahan hanya di atas kontrak itu membuat penyesalan besar di hati Soraya saat ini. Ingin menyelamatkan kedua orangtuanya dengan menerima tawaran Derry yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya dahulu.
Akankah besok Soraya benar ingin menemui Derry??
Entahlah, jika memang benar, Tio akan ikut bersamanya, dan Tio akan membawa ketiga adiknya ke kota Jakarta juga walau tanpa sepengetahuan Soraya , itulah yang dipikirkan Tio saat ini.
__ADS_1