
Petang telah berlalu, sekarang hari semakin gelap. Rencana malam ini keluarga Tio akan membawa Soraya berkunjung ke rumah Derry.
Ayah dan Ibu Tio tidak mengatakan hal apapun kepada Soraya , apalagi harus bertanya mengenai hubungan antara Soraya dan Derry.
Yang mereka berikan hanya kehangatan dan keramahan saja. Biarlah nanti masalah selesai dengan sendirinya, dengan bukti dan penjelasan yang bersangkutan, pikir ayah dan ibu Tio.
TIO tampak rela dan bersiap, jika nanti Soraya benar-benar dianggap menjadi istri sah Derry di hadapan kedua orang tua Derry nanti.
Keikhlasan tidak perlu diucapkan, namun ikhlas hanya perlu tindakan dan senyuman yang benar-benar tulus. Selesai sholat maghrib, seperti biasa adik-adik Soraya melaksanakan Sholat, tampak Tio juga ikut bersama mereka.
Ayah dan ibu Tio juga bergabung, mereka memang selalu juga beribadah bersama, hanya saja mereka sering menasehati Tio, namun biasalah anak muda yang masih memikirkan kelenaan dunia.
Kini Robin belajar, dari adik-adik Soraya tersebut. Mereka berencana akan makan malam di rumah Derry.
Nyonya Velli sudah memberitahukan kalau malam ini dia ingin datang, namun Ibu Tio itu tidak mengatakan Soraya akan ikut bersama mereka juga.
Mereka telah pun berkumpul di ruangan tamu saat ini. Soraya terlihat anggun memakai dres berwarna merah lengkap dengan cardigan berwarna merah juga namun bermotif.
"Wah, anggun dan cantik sekali.." sambil tersenyum ke arah Soraya ibu Tio itu memujinya.
Yumita pula tidak ikut, ada bibi yang menjaganya di rumah, karena kondisi Yumita sangat tidak memungkinkan saat ini.
Luka lebam-lebamnya harus banyak di kompres dan dirawat. Dia juga mengalami luka dalam tubuhnya, itu lah mengapa dokter pribadi mereka lah yang merawat Yumita.
Nurdin dan Nadim memakai celana jeans yang baru saja dibelikan Tio tadi sore. Dan mereka tampilannya dirubah oleh Tio lebih modern lagi.
Awalnya mereka merasa aneh, namun Tio memaksanya dan memuji mereka dengan ucapan "Keren".
"Ayo.. kita segera ke mobil saja, takutnya Mama Derry dan Papanya sudah menunggu kita," ucap Ayah Tio.
Mereka pun mengangguk dan berjalan keluar. Ibu Tio selalu memegangi tangan Soraya dengan lembut, tampak seperti anak dan ibu.
Tersenyum Tio melihat itu, angannya kembali seketika, namun dengan cepat dia buang dan musnahkan, tujuannya malam ini harus terselesaikan.
Mereka pun telah berada dalam mobil saat ini, pagar di buka oleh sekuriti dan mobil melaju keluar. Tio lah yang menjadi supir mereka, ayahnya pula duduk di sebelah Tio.
Satu sisi Tuan Osman sedang melihat trafik penjualan pabriknya memang cukup bagus di lahan yang dia sewa dari perusahaan milik keluarga Sanjaya tersebut.
__ADS_1
Melihat itu antusias Tuan Osman untuk memiliki lahan itu lebih tinggi lagi. Dia mencari ide agar keluarga Sanjaya mau menjual lahan tersebut kepada Tuan Osman.
Jika terus menyewa, keuntungan yang diraup harus terbagi, dan rasanya itu sedikit rugi baginya. Dan jika lahan itu telah dia miliki, kemungkinan besar keuntungan yang banyak tanpa membayar sewa lahan akan lebih besar.
Kelicikan Tuan Osman untuk menguasai itu semakin terlihat. Dia tampak membuka ponselnya dan menatap tubuh tanpa busana itu berada dalam ponselnya saat ini.
Dia berpikir sejenak, Fanni sebentar lagi akan menjadi menantu keluarga Sanjaya, pastilah mereka akan malu jika menantunya itu memiliki aib seperti ini.
Namun, sekarang mereka memang belum menikah. Tuan Osman pun mencari cara untuk mendesak Fanni menikah dengan cepat oleh Derry walau bagaimanapun keadaan Derry saat ini.
FANNI yang di rumah sakit terbaring lemah itu, hanya mampu bermain ponselnya di ruangan yang membosankan tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering dengan kuat, ada panggilan nama Mr. Os disana.
"Dia! huh.. untuk apa dia menelponku!!" umpat Osman sedikit kesal.
Walau kesal dia tetap menjawab panggilan Tuan Osman tersebut, kemudian panggilan itu pun tersambung, Tuan Osman langsung menjalankan rencana awalnya.
"Hallo Fanni.. sayang," ucapnya dengan bernada sedikit gatal.
"Hm.. ada apa??" tanya Fanni sedikit acuh tak acuh.
" Eits.. kau dimana?? aku ingin bertemu denganmu malam ini."
"FANNI.. jangan kasar-kasar kepadaku, nanti kau menunduk ingin meluluhkan hatiku pula," nada licik itu semakin terdengar dan ucapannya penuh teka teki.
"Benar, aku tidak bisa!!" langsung panggilan itu Fanni matikan dan dia tampak malas berbicara dengan Tuan Osman.
Melihat panggilannya di matikan oleh Fanni, Tuan Osman naik tensinya. Dia marah dan tampak geram, dia mengumpat Fanni berulang-ulang, dan mengirimkan gambar Fanni di atas ranjangnya dengan tanpa busana.
twing..
Notif pesan masuk, dan melihat nama Tuan Osman yang mengirimnya dia pun penasaran, gambar apa yang Tuan Osman kirimkan kepadanya saat ini.
"Ha..." hanya hempasan nafas berat dan getaran takut di raut wajah Fanni saat ini.
Dia tidak tahu Tuan Osman mengambil fotonya tanpa busana seperti itu. Bahkan Fanni menggigit bibirnya karena takut, jika tersebar habislah reputasi dan bahkan dia akan dicampakkan oleh keluarga Derry, pikir Fanni saat ini.
Melihat itu, Fanni kembali menghubungi Tuan Osman. Tersenyum puas Tuan Osman melihat layarnya ponselnya tertulis nama Fanni disana.
__ADS_1
"Hallo.. sayang ada apa??" tanya Tuan Osman terdengar nada mengejek.
"Apa yang kau inginkan??" tanya Fanni dengan nada menggebu-gebu.
"Sudah ku bilang aku ingin bertemu denganmu sekarang!!" perintah Tuan Osman kembali menegaskan.
" Di cafe Italy yang biasa kita kunjungi," ucap Tuan Osman lagi memberikan arahan.
"Baik, aku segera kesana," jawab Fanni dengan cepat.
Kali ini Tuan Osman lah yang mematikan panggilannya terlebih dulu. Fanni membanting gelas yang ada di meja sebelah ranjangnya tersebut. Dengan posisi kedua kaki ditekuk, dan rambutnya dia acak-acak.
"Aku harus keluar sekarang!!" ucap Fanni menarik selang infus dari tangannya.
Tidak ada rasa sakit yang bagaimana, di segera turun dan memesan kendaraan online untuk kembali ke rumahnya dulu.
Dia pun telah berhasil keluar dari rumah sakit, dengan mengendap agar tidak banyak ditanya-tanya.
Dan Fanni berhasil keluar serta sudah berada di tengah perjalanan menuju rumahnya. Dia pun telah sampai, dan segera menaiki anak tangga menuju kamarnya tersebut.
Dia hanya mencuci wajahnya saja dan bertukar pakaian dengan segera. Tuan Osman pula telah pun lebih awal sampai dari pada dirinya saat ini.
Fanni memakai dress yang panjangnya di atas lutut, tampak seksi dengan tubuhnya yang jenjang itu.
Dia pun hanya memakai make up tipis di wajahnya dan sedikit memerahkan bibirnya yang sensual itu. Rambutnya disisir sedikit dulu, yang tadinya acak-acakan sekarang lebih rapi dan terlihat segar.
Dia pun langsung kembali naik ke mobil yang tadi membawanya dari rumah sakit tersebut. Dengan segera dia mengarahkan mobil itu untuk ke Cafe yang telah Tuan Osman beritahukan kepadanya.
Mobil itu melaju kencang dengan cepat dan tampak kota Jakarta dengan kelap kelip malam, jalanan cukup macet malam ini.
Sedangkan Keluarga Tio hampir sampai di kediaman rumah Derry tersebut. Jantung Soraya masih berdebar kuat, dia harus kuat menerima kenyataan yang ada nantinya.
Tiga puluh menit berlalu, Fanni sampai di cafe tersebut. Fanni mencari sosok Tuan Osman, dan lambaian tangan yang terlihat panjang dan ditumbuhi bulu-bulu itu telah mengarah ke arah Fanni.
Dia pun melangkah sedikit kesal, dan memasang wajah seolah baik-baik saja di depan Tuan Osman.
"Apa mahumu??" tanya Fanni dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, duduklah dulu," ucap Tuan Osman.
****