
Bagaimana tidak terkejut dan Syok, Ayah Tio adalah adik satu-satunya dari mama Derry tersebut. Walau mereka tidak satu darah, namun mereka dari sejak kecil hidup bersama dan dibesarkan di keluarga yang sama.
Kasih sayang keduanya benar-benar seperti saudara kandung. Sekarang Tuan Firhat tidak bisa menerima kenyataan kakaknya meninggal dunia lebih awal daripada dirinya.
Niatnya membeli barang dia hentikan, dia pun langsung pulang ke rumahnya, dan menjemput istrinya agar ke rumah sakit.
Yumita pula menyuruh Nurdin dan Nadim bersiap-siap agar ikut ke rumah sakit bersama mereka semua. Nurdin dan Nadim sangat terkejut saat ini, bagaimanapun kehilangan akan membuat seseorang akan lemah.
Begitu juga dengan bang Derry, pikir mereka berdua. Derry anak semata wayang itu, pasti sedang membutuhkan dukungan untuk menguatkan dirinya menerima kehilangan mamanya saat ini.
Mereka semua masih tidak tahu kalau Soraya masih belum dikabari oleh Derry, saat ini Derry masih meratapi diatas jenazah mamanya itu.
"Derry, sudah nak jangan seperti itu," ucap Tuan Frans.
"Pa, Derry akan bunuh Fanni dan Osman!'' umpat Derry sambil berteriak.
"Derry, Istighfar Der!" ucap Tio juga.
"Tio, tolong kamu jemput Soraya sekarang, dia harus tahu mama sudah tiada," ucap Derry lemah.
Saat ini bahkan untuk melangkah pun Derry tidak bisa. Dia lemah seketika, dan menyuruh Tio menjemput Soraya. Derry tidak ingin Soraya berpikir dia diabaikan, itulah mengapa dengan cepat lelaki tampan itu menyuruh sepupunya.
Tio pun mematuhi perintah Derry, dia segera dengan cepat keluar dari rumah sakit itu, kemudian dia menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.
Begitu Tio telah sampai di parkiran dia dengan cepat mengarah apartemen Soraya. Dan saat itu juga, terlihat satu gerombolan orang mengeluarkan seseorang di tengah jalan.
"Pria busuk, keluarlah kau!" umpat istri Tuan Osman mencampakkannya begitu saja.
Wajah Osman lebam-lebam. Di tubuhnya darah semua, dan wajahnya pun dipenuhi dengan darah.
Ada jarak berapa kilo dari mobil itu, Tio tercengang melihat kejadian tersebut. Tak menyangka, yang dia lihat itu adalah Tuan Osman.
Dan, mengapa dia dicampakkan begitu saja?
Tio terpaksa berhenti dan mengurungkan niatnya sebentar. Mengingat apa yang dikatakan pengacaranya pagi ini, mereka tidak memiliki bukti yang kuat untuk mengambil hak tanah itu kembali.
__ADS_1
Sebab tidak ada saksi dan pernyataan dari seseorang yang bersangkutan. Dan saat ini Tio menghubungi anak buahnya kembali, dan untuk menuju jalan yang, sekarang Tio berada.
Mobil yang mencampakkan Tuan Osman di jalanan sepi itu, sekarang telah pun berlalu dengan cepat. Siapa wanita itu Tio juga tidak mengetahuinya, namun tampak wanita itu adalah wanita yang kuat.
Sekarang Tio masih memperhatikan Tuan Osman dari balik mobilnya. Dia melihat lelaki gagah itu sekarang benar-benar tampak kasihan dan begitu miris.
Namun Tio juga menyimpan rasa geramnya saat ini, Tio menghubungi Rendra. Ya! dia baru ingat tentang Rendra yang menyimpan dendam juga kepada Osman, mungkin saja ini bisa sangat membantu, biarlah Osman dibantai habis-habisan.
Karena jam masih menunjukkan pukul sebelas lebih, Rendra yang sudah siap berkemas dan mereka sedang menyiapkan santapan makan siang berdua, agar keharmonisan di antara mereka tetap terjaga.
Mereka berdua ingin memulai sebuah hubungan dengan cinta. Diantara Tsania dan Rendra sudah mengungkapkan fakta mereka berdua. Wajah Rendra memanglah bukan wajah penipu, itu lah sekarang Tsania hanya memasrahkan kepercayaannya saja.
Saat mereka sedang asyik bercanda sambil memasak, ponsel Rendra berdering kuat. Dan Tsania melirik, ke arah ponsel itu, Tertulis jelas dengan nama Tio disana.
"Sebentar ya," ucap Rendra menjawab ponselnya.
Tsania mengangguk dan mengerutkan dahinya merasa bingung. Ada apa dengan Rendra dan Tio, mengapa pria ini tampak dekat sekarang, pikir Tsania.
Malam tadi, Tsania sempat mengecek panggilan di ponsel Rendra, memang tidak ada yang mencurigakan hanya ada panggilan Tio dan beberapa orang pebisnis lainnya di ponsel itu.
"Apa? Innalillahi wainnaillahirajiun," ucap Rendra terkejut dan bahkan tidak percaya.
"Ada apa Rendra?" tanya Tsania dengan wajah terkejut.
"Tsa, mama Derry meninggal dunia," ucap Rendra.
"Ya Tuhan, Innalillahi wainnaillahirajiun, mari kita lihat sekarang," ucap Tsania yang penuh simpati.
Tsania juga mengenal baik Nyonya besar. Itu lah mengapa Tsania saat ini merasa begitu sedih dengan kepergian Nyonya besar yang baru terdengar dari mulut Rendra yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
"Benarkah, jika memang kau ingin aku juga akan pergi," ucap Rendra tersenyum.
"Ya Rendra, biarlah orang tahu mengenai pernikahan kita, lagipula menikah adalah hal yang baik, dan mengenai Nyonya besar, dia juga wanita baik, maka hari ini kita cancel rencana kita ke Australia," ucap Tsania dengan begitu bijaknya.
Apa Tsania telah menerimaku sebagai seorang suami?
__ADS_1
Itulah yang hati Rendra tanyakan sekarang. Dia bahkan kagum dengan Tsania yang mudah menerima hal ini semua. Dan saat ini, Tsania tampak menarik lengan Rendra agar cepat bersiap-siap untuk pergi melayat.
Rendra terpukau dan dia hampir menitiskan air matanya. Setelah beberapa minggu dia menahan dilemanya, saat ini Tsania sendiri memberikan keputusan yang di luar jangkauannya.
"Baiklah istriku, pilihkan baju untuk ku," ucap Rendra dengan sengaja.
Tsania menggeleng terkejut, bahkan dia tak menyangka Rendra begitu manja saat ini. Baru saja Tsania mengesahkan hubungan mereka untuk diketahui orang lain, Rendra telah dengan cepat membuat suatu perubahan sikapnya.
"Hem.. baiklah, aku ambil sendiri," ucap Rendra lemah ketika Tsania memandangnya dengan wajah datar.
"Tidak, biarkan aku yang pilihkan suami manja," ucap Tsania sedikit tersenyum.
Rendra tersenyum lebar, akhirnya ada suatu getaran semakin membuat hatinya erat dan ingin menguasai Tsania sekarang. Namun wanita itu masih tampak mengunci hatinya untuk sebuah nama yang bahkan tidak akan meliriknya sama sekali.
Kapan kunci itu akan terbuka tidak akan pernah tahu, namun saat ini baju kemeja hitam lengkap dengan celananya, dia berikan kepada Rendra sekarang.
Dengan tersenyum dan Rendra cepat mengambil baju itu dengan segera memakainya. Mereka akan kerumah Derry saat ini.
Tio mengatakan jenazah mama Derry akan dibawa pulang sebentar lagi, itulah mengapa mereka tidak harus ke rumah sakit.
Sedangkan Tio juga sudah memberitahukan mengenai Osman, orang suruhannya yang telah sampai langsung disuruh Tio menangkap Osman yang sudah lemah tergeletak di tanah itu.
Dan saat ini juga, istri Tuan Osman sudah pun membuat akun palsu dan menyebarkan video mesum mantan suaminya dengan Fanni.
Dia pikir Fanni masih menjabat sebagai CEO di perusahaan itu, namun dia tidak memikirkan hal itu selain harus membuat Fanni malu.
Fanni yang saat ini sedang menginap disebuah hotel luar kota tersebut, dia mendapatkan uang itu dengan menjual rumah warisan milik mamanya.
Namun papanya dan Meri masih tinggal disana. Sengaja Fanni biarkan sampai orang bank yang akan mengusir mereka secara paksa nanti, pikir Fanni.
Dan dia tampak penuh kemenangan sekarang, dia menikmati kamar hotel itu dengan hati yang tenang sambil membuka sosial medianya.
"Hari yang indah," ucap Fanni sambil memposting fotonya di kamar hotel.
Karena fotonya yang sudah tersebar, ada berapa netizen yang melihat Fanni ngepost foto barunya langsung membuat komentar pedas di kolom komentar Fanni.
__ADS_1
"Wah, hari yang indah ya di hotel bersama suami orang," tulis netizen itu.
***