90 DAYS

90 DAYS
JANJI APA?


__ADS_3

"Kak... makan yang banyak ya," ucap adik keduanya dengan lembut sambil menyuapi kakak sulungnya itu.


"Dik! Kakak bisa makan sendiri, sudah jangan perlakukan kakak seperti anak kecil," jawab Soraya  menolak untuk disuapi.


"Dulu kan kakak pernah suapin adik, sekarang adik  mau gantian suapin kakak."


Terasa hangat rumah itu, rumah sederhana namun dipenuhi cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang-orang di dalamnya. Setelah melaksanakan sholat maghrib mereka semua makan bersama.


Yumita sibuk memasak makanan, sedangkan adik kedua yang menata meja makan sederhana itu. Soraya  pula tampak diam dan tersenyum hangat melihat adik-adiknya begitu akur.


Adik keduanya pula yang menyuapi Soraya tersebut, kondisinya harus memang benar banyak istirahat dan harus lebih banyak untuk melihat alam sekitar agar pikirannya tenang dan fresh.


Tampak banyak beban pikiran Soraya, apalagi mengenai Derry suami di atas perjanjian itu membuat Soraya  selalu memikirkannya beberapa bulan ini.


Namun sekarang, mengingat Derry membuat kepalanya sakit dan amarahnya muncul, dia menjadi agresif jika mengingat Derry.


Jika itu kebencian, maka memang benar cinta yang dalam pernah tersemai. Namun, jika itu hanya amarah mungkin saja itu tidak bertahan lama setelah penawarnya benar-benar ada.


Kesalahpahaman membuat dua orang yang mencintai menjadi renggang bahkan menimbulkan hal yang diluar dugaan. Waktu terus berjalan, 90 hari hampir di ujung detik-detik akhir.


Hanya tinggal enam hari lagi 90 hari yang tertulis di atas kontrak itu akan habis ditelan hari yang dipenuhi banyak kejadian. Dari mulai pelampias, hingga datang debaran cinta namun egois masih membalut hati Derry.


Sadar dengan cinta tersebut, namun datang kebencian karena Kesalahpahaman. Semuanya dalam dilema besar, termasuk Tio yang sudah berada di kota Jakarta  malam ini.


Setelah selesai urusan bisnis dan urusan tanah yang hampir diganggu oleh pihak asing, akhirnya Tio berhasil menghalau mereka untuk tidak mengakui tanah milik Tuan Frans  tersebut.


Tio berada di rumah kedua orang tuanya saat ini. Dia masih belum berani menjenguk Derry, karena mendengar kondisi Derry  seperti itu membuat hatinya benar-benar sakit dan iba.


Bagaimanapun mereka saudara, tidak bisa dipisahkan antara mereka, ikatan itu sudah terjalin sejak masih dalam kandungan lagi.


Ayah dan ibu Tio sudah pun kembali ke rumah mereka. Setelah seharian membantu merawat Mama Derry  yang melemah karena anak lelaki satu-satunya itu terserang penyakit Linglung dengan tiba-tiba.


Tio seperti biasa, dia hampir sama dengan Derry. Jika gelisah dia habiskan bermain game di ruangan sebelah ruang tamunya itu.


Ayahnya Tuan Rifat menghampiri dirinya, yang saat ini sedang fokus menekan stik game yang digenggam erat itu.


"Tio! apa yang membuatmu gelisah nak??" tanya ayahnya.

__ADS_1


"Ha.. Ayah! sudah pulang??" bukan dijawab malah terkejut dan mencari topik lain.


"Sudah dari tadi, namun kamu sangat fokus dengan game itu. TIO ayah temani kamu bermain ya," ucap Ayahnya.


"Oke Yah! jawab Tio singkat lalu tersenyum.


Ibunya tersebut membuatkan makanan ringan dan minuman segar malam itu, setelah selesai membersihkan diri dan bertukar pakaian segera Nyonya Velli itu ke dapur.


Dia sengaja tidak memakai jasa pembantu rumah yang tinggal bersama di rumah itu. Karena menurutnya dia masih mampu mengerjakan semuanya dengan sendiri, hanya saja jika memang diperlukan orang maka pembantu rumahnya di telponnya dan pasti akan segera datang.


"Gimana keadaan Derry Yah?? kesunyian itu terpecahkan seketika Tio mulai angkat suaranya.


"Derry?? dia buruk nak! kondisinya sangat kasihan," jawab ayahnya dengan nada sedih.


"Memangnya apa penyebab Derry  seperti itu Yah??" tanya Tio kembali tampaknya dia sangat penasaran.


"Entahlah! namun, dokter Rey bilang Derry banyak pikiran dan dia sepertinya sedang berpikir keras," jawab ayahnya lagi.


"Begitu ya Yah! kasihan juga Derry."


"Oh iya! apa boleh Ayah bertanya??" kembali sang ayah mencoba membuka rasa penasarannya.


"Apa benar kau mencintai wanita yang bernama Soraya??" tanya Ayahnya tersebut.


Belum TIO menjawab, namun tiba-tiba ada suara dari belakang dengan nada riang muncul membawa tiga gelas jus jeruk segar dan dua toples berisi kacang-kacangan.


"Wah.. anak Ibu sudah ada tambatan hati!" teriak ibu TIO dari belakang.


"Bu, apaan sih!!" TIO dan ayah serentak karena terkejut.


"Haha.. anak sama ayah memang kompak!!" sahut ibu sambil geleng-geleng kepala.


"Kalian ya! diam-diam di belakang ibu bercerita tentang wanita lain!!" ucap ibu nya itu sambil tersenyum hangat.


"Bu! diam dulu, ayah masih penasaran nih!!" sahut ayahnya pula.


Akhirnya mereka berdua menghentikan permainan tersebut. TIO tampak masih diam, dan mengambil segelas air jeruk yang sudah berada di meja.

__ADS_1


Anak dan ayah itu duduk dibawah sofa, sedangkan ibu duduk di atas sofa yang menghadap ke layar televisi tersebut.


"TIO! kenapa diam nak??" tanya ayahnya lagi.


"Iya nak, ayo ceritakan apa kegelisahanmu," ucap ibunya pula.


"Yah, Bu! ada sesuatu yang TIO simpan dari kalian beberapa hari lalu," jawab TIO lemah lalu diam kembali.


"Jadi lelaki, jangan lemah dan takut! harus berani menerima kenyataan di setiap takdir yang tuhan telah berikan kepada kita!!" dengan penuh semangat ayahnya memberi nasehat dan sambil memukul pelan bahu TIO.


"Nah itu dia Yah! aku tampak seperti pecundang bukan??" tanya TIO kembali sambil menyalahkan dirinya sendiri.


"Maksudmu?? ibu tidak paham, Tio bukan pecundang! TIO anak ibu yang baik dan berbakti!!" ucap ibunya itu menyanggah perkataan TIO.


"Iya benar! Tio harus bisa kuat dan jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Coba ceritakan baik-baik dengan Ayah dan Ibumu ini," ucap sang ayah lagi sambil mengunyah kacang.


"Yah, Bu! Tio jatuh cinta kepada istri orang!!" jawab Tio jelas dan tegas.


"Istri orang?? maksudmu Tio?? serentak ayah dan ibunya terkejut mendengar pengakuan sang anak tersebut.


Tio masih bingung dan bimbang, antara harus bercerita kepada kedua orang tuanya tersebut atau tidak. Mereka mengenal baik Derry karena memang Derry  adalah sepupu Tio.


Sedangkan Soraya, mereka memang tidak mengenalinya. Namun, kedua orang tua Derry  sangat mengenali Soraya yang ternyata sudah pun menjadi istri Derry  tersebut, walaupun hanya dalam perjanjian kontrak, namun Tio juga belum mengetahui tentang jelas pernikahan mereka tersebut.


"TIO! jangan diam begini! ayo bicara nak!!" paksa ibunya kembali.


"Apa ibu dan ayah bisa berjanji??" tanya Tio kembali.


"Janji apa??" ucap mereka serentak.


"Berjanji jangan beritahukan kepada Om Frans  dan Tante!!" jawab Tio dengan tegas.


"Ha?? apa hubungannya??" tanya ibunya.


"Yasudah kalau tidak bisa!!" sahut Tio kembali diam.


"Oke! kami berjanji tidak akan memberitahukan kepada Om Frans  dan Tantemu itu!!" serentak mereka berjanji, karena begitu penasarannya akhirnya mereka segera mengucapkan janji tersebut.

__ADS_1


Kira-kira Tio jadi bicara gak ya gais??


****


__ADS_2