
"OSMAN kau dimana!" umpat Fanni kesal saat ini.
Ponsel Tuan Osman tidak bisa di hubungi Fanni sekarang, sedangkan saat ini Fanni ingin kabur dengan Tuan Osman, namun pria tampaknya tidak menghidupkan ponselnya.
"Kemana dia!" umpat Fanni lagi.
Tuan Osman sedari pulang dari perusahaan itu, dia pun telah menggantikan nomor ponselnya, saat ini dia sedang di bandara menaiki jet pribadinya.
"Saatnya liburan!" ucapnya puas.
Pengacara Tuan Osman telah pun berada di pabrik itu, kaki tangannya juga berada disana sekarang. Mereka semua yang hampir sampai di lokasi tersebut pun kini telah memasuki gerbang pabrik yang berdiri di tanah Nyonya besar itu.
Ya! itu dulu, sebelum Fanni mengalihkannya untuk Tuan Osman. Dan Sekarang lihat apa yang terjadi, mereka dihadapi oleh petugas di sana.
"Jangan masuk! orang asing tidak boleh sembarangan masuk!" ucap Sekuriti disana.
"Ini tanah saya! saya bukan orang asing!" dengan keras suara Nyonya Besar terdengar.
"Maaf Bu, tapi tanah ini sedang dalam pembangunan yang dilakukan Tuan Osman, dan ini berarti tanah Tuan Osman," jawab sekuriti itu.
"Tuan Osman hanya penyewa, saya pemiliknya! panggil kan bos kalian sekarang!" perintah mama Derry itu lagi.
"Baik bu, kami akan menelpon ke atasan," ucap mereka berdua.
Mereka pun menghubungi kaki tangan Tuan Osman tersebut, pria itu menyuruh mereka mengatakan Tuan Osman sedang berada di luar negeri saat ini.
"Maaf Bu, Tuan Osman sedang tidak disini, dia sedang berada di luar negri," ucapnya kembali.
"Apa? luar negri? jadi, siapa yang ada disini?" tanya mama Derry itu lagi.
"Sekretarisnya ada Bu," ucap sekuriti itu.
"Panggilkan dia sekarang!" nada perintah kembali keluar dari mulut mama Derry tersebut.
Kembali sekuriti itu menelpon ke atasannya, dan dengan cepat saat ini panggilan itu kembali bersahut, sekretaris itu pun turun ke lantai bawah, dia pun tampak menuju keributan yang terjadi di pos sekuriti.
Tampak sekretaris itu keluar dari mobil bukan hanya seorang diri, dia membawa tiga orang bersamanya.
"Maaf, anda semua siapa ya?" tanya sekretaris tersebut yang tampaknya sama berwajah seperti Tuan Osman.
__ADS_1
"Saya pemilik tanah ini!" dengan cepat mama Derry mengatakan hal itu.
"Ha? tidak mungkin, abang saya telah membeli tanah ini sepenuhnya," jelas sekretaris tersebut.
"Oh, kau adiknya? apa kau punya bukti surat menyuratnya?" tanya mama Derry itu kembali.
"Ada, sebentar," ucap sekretaris yang mengaku sebagai adik dari Tuan Osman tersebut.
Selangkah maju seorang lelaki tinggi, yang tampak berwajah tidak jauh dari sekretaris dan Tuan Osman tersebut. Dia pun membuka map coklat itu satu persatu saat ini.
"Maaf Nyonya, anda bisa lihat disini, ada surat kesepakatan antara CEO pemegang lahan itu, dan Tuan Osman," ucap lelaki itu sepertinya adalah pengacara Tuan Osman.
"Dan ini, semua surat tanah kepemilikan lahan ini telah pun bertukar nama menjadi nama Tuan Osman, ini bisa anda cek di pengadilan kalau memang saya berbohong, ini sah stempel dan tanda tangan CEO anda!" ucapnya sambil menunjukan bukti tersebut.
Ya, stempel penjualan juga ada tertera di sana lengkap, nama itu juga telah berhasil diubah saat ini. Fanni dan Tuan Osman telah membuat kesepakatan, tidak ada tuntut menuntut mengenai tanah yang sudah menjadi kepemilikan Tuan Osman tersebut.
Tersandar lemas saat ini mama Derry, untungnya Tuan Frans dengan cepat menangkap istrinya itu, mereka semua tampak bingung, dan Tuan Frans mengarahkan Rendra untuk membuka pintu mobil.
"Cepat Rendra tolong buka pintunya," ucap Tuan Frans yang terlihat panik.
Pintu mobil telah pun terbuka saat ini, Derry dan Soraya masih menunggu Tuan Frans datang menjemput mereka sekarang, namun sampai jam setengah sebelas pun masih tidak terlihat seorang pun menjemput Derry disini.
"Sayang, kita pulang saja yuk! aku benar-benar bosan disini," ucap Derry dengan nada memelas.
"Ya Sudah baiklah, tunggu disini, dan aku akan mengurus segalanya," ucap Soraya yang mulai bangkit dan merasa kasihan dengan suaminya itu.
"Kamu memang terbaik untukku," dengan manja lelaki itu saat ini.
Perubahannya berubah total, dari yang dingin, penuh keegoisan dan kini berubah hangat dengan sikap yang manja pula saat ini.
Sekarang Tuan Frans panik, tubuh istrinya itu seperti susah untuk digerakkan, dia pun dilarikan ke rumah sakit dimana Derry dirawat saat ini.
Semua panik sekarang, mereka telah pun sampai di depan parkiran rumah sakit, Nyonya besar langsung diangkat oleh ketiga lelaki itu, dan tampak tim dokter juga membantu mereka disana.
Soraya yang baru saja sampai di lantai bawah itu, berpapasan dengan mereka semua, betapa terkejutnya Soraya saat ini, melihat ibu mertuanya di baringkan disana.
"Tio, ada apa ini?" tanya Soraya panik.
"Nanti saja Raya, biarkan dokter menangani tante dulu," jawab Tio yang membantu mendorong tempat pembaringan itu.
__ADS_1
Soraya pun mengikuti mereka semua, namun sampai di ruangan gawat darurat itu, mereka semua dihentikan oleh dokter saat ini, mereka terpaksa menunggu diluar sekarang.
"Pa, mama kenapa?" tanya Soraya yang begitu khawatir.
"Papa tidak tahu Nak, tapi setelah semua kebenaran terungkap mamamu langsung kejang," ungkap Tuan Frans yang tampak bingung.
"Derry dimana Raya?" tanya Tuan Rendra saat ini.
"Derry masih di atas," jawab Soraya.
"Kamu, mau kemana tadi?" tanya Rendra kembali.
"Mau mengurus kepulangan Derry, karena dia bilang sudah sangat bosan, dan keadaannya telah membaik," ucap Soraya lagi.
"Yasudah, lebih baik kamu cepat uruskan itu, dan bawa Derry pulang," ucap Tuan Frans kembali.
"Apa Derry tidak boleh tahu tentang ini?" tanya Soraya.
"Sebaiknya tidak usah dulu, rahasiakan saja. Papa tidak ingin Derry kembali drop nantinya," ucap Tuan Frans kembali.
"Iya benar itu Raya, bawa Derry pulang saat ini," ucap Tio juga.
Soraya pun mengangguk sekarang, kemudian dia pun saat ini segera mengurus kepulangan Derry tersebut. Setelah selesai dengan cepat dia meninggalkan mereka semua, dan saat ini Soraya kembali ke atas menemui suaminya tersebut.
Wajah Soraya tampak mengkhawatirkan ibu mertuanya itu, namun dia juga harus mengikuti arahan Papa mertuanya yang mengharuskan merahasiakan hal ini kepada Derry.
Soraya pun masuk dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa sekarang, dia mendekati suaminya lalu mulai membuka suaranya.
"Sayang, ayo kita pulang," ucap Soraya.
"Yasudah ayo sayang," jawab Derry.
Mereka keluar bersama berjalan beriring, Derry sangat bahagia sekarang seolah mereka sudah tidak ada masalah kembali, padahal saat ini masalah sedang menghujani keluarganya.
Akankah Derry marah kalau dia tahu Soraya menyembunyikan rahasia?
Akankah Fanni dapat tertangkap?
Kemana wanita licik itu berada saat ini, itu masih rahasia yang disimpan oleh author sendiri, kelanjutannya masih ada lagi pemirsa, haha.. saksikan terus ya 90 days, jangan lupa komentar kalian yang unik dan menarik di setiap babnya.
__ADS_1
*****