90 DAYS

90 DAYS
SORAYA DI USIR


__ADS_3

Soraya  yang membawa mobilnya sendiri begitu juga Tio tersebut kini menuju arah rumah Tsania yang tadi pagi diketahui sedang mengalami sakit.


Mereka berdua juga tahu, Tsania sudah tidak memiliki keluarga lagi, hidup sendirian itu lah mengapa Soraya  merasakan apa yang Tsania rasakan jika mengalami sakit begini, tanpa ada keluarga dan orang terdekat lainnya.


Hampir tiga puluh menit perjalanan hari ini, Tsania yang tampak lemah dan lemas itu hanya menghabiskan waktunya di pembaringan saja, memukul kasurnya yang tampak di persalahkan tersebut.


Tampak putus asa di raut wajahnya itu, dia pun rencananya akan mengajukan surat resign dari perusahaan, jika keadaannya memungkin maka dia sudah membuat rencana melayangkan surat resign nya.


Dia berpikir panjang semalaman, melihat foto yang ditunjukkan oleh seorang yang tidak dia kenali tersebut. Memang tampak Tuan Rendra  yang melakukan hal itu jika melihat foto tersebut.


Melihat foto itu dari segi Tsania yang memang sedang marah dan menyalahkan Tuan Rendra  tersebut, akan semakin membuat dirinya yakin yang bersalah adalah Tuan Rendra.


Tsania jika terus bekerja disana, dia yakin tidak akan bisa menghindari pertemuannya dengan Tuan Rendra  kembali. Lebih baik dia resign dan tidak menunjukkan wajahnya di perusahaan atau pun di kota Jakarta  tersebut.


Berpindah kota juga ada di kepalanya saat ini. Ingin menghabisi diri sendiri rasanya tidak mungkin saja, itu adalah tindakan para pengecut kehidupan, pikirnya panjang.


Lama dia termenung, air mata tak berhenti menitiskan di kasur itu, hingga basah tak terasa lagi karena hanyut dalam sebuah kesedihan yang tidak tahu ini adalah penyesalan atau hanyalah sebuah cobaan yang harus dia berani hadapi.


Tok.. tok.. Assalamualaikum!!" teriak dari luar.


Mencoba memasang telinganya dengan benar, terdengar ucapan, itu berulang kali, ada suara yang tidak asing di dengarknnya saat ini.


Air mata di hapusnya berulang kali, mencoba duduk di tepi ranjang dan memastikan kedua suara itu yang serentak mengucap salam dan memanggil namanya tersebut.


"Tio!" ucapnya dalam hati.


Dia dengan cepat membenarkan rambutnya, dan matanya yang bengkak itu sulit untuk ditutupi nya, dia sangat tidak asing dengan suara CEO pengganti itu.


Ya! jika seseorang sudah mencintai, pasti semuanya akan dikenali. Bahkan dari yang kecil sekalipun pasti akan dikenali.


Hanya mendengar suara Tio dari kejauhan membuat Tsania tampak bangkit dan percaya yang didengarnya itu adalah suara Tio tersebut, namun suara wanita itu siapa, pikirnya.


Cekrek..


Pintu pun terbuka lebar, tampak Soraya  tersenyum hangat dan langsung memeluk tubuh Tsania tersebut. Melihat Soraya  datang bersama Tio membuat hati Tsania acuh tak acuh, dan sedikit merasa sakit.


Tsania juga tahu, Soraya  adalah saingannya dalam merebut Tio. Namun, itu hanya pikiran Tsania saja, namun Soraya  tidak pernah berpikir dengan demikian.

__ADS_1


"Tsania.. bagaimana keadaanmu??" tanya Tio.


"Masih tidak enak badan Pak," jawab Tsania.


"Kapan kau kembali kesini Raya?? tanya Tsania pula sambil menyambut pelukan itu.


"Iya aku baru saja kembali hari ini," jawab Soraya.


"Oh.. iya, masuklah dulu, kita bicara didalam saja," sambut Tsania dengan suara yang lemah.


Mereka berdua pun masuk dan mencoba menuntun Tsania. Ada beberapa barang bawaan mereka untuk Tsania tersebut.


Soraya  memang baik dia kenal, namun kecemburuannya dengan Soraya  membuat dia sedikit cuek dengan wanita ini. Soraya  pula tidak menggubrisnya, baginya Tsania tetaplah temannya yang baik.


"Kamu sudah ke dokter kan hari ini??" tanya Tio kembali.


"Sudah pak," jawab Tsania singkat.


"Sebentar aku buatkan kalian minum dulu," ucap Tsania lagi.


Namun Tsania tetap bangkit ke dapur, dia merasa tidak enak ada tamu yang datang tanpa di berikan apa pun. Apalagi tamu ini adalah orang spesial di hatinya tersebut.


Ada map coklat yang masih terletak di meja ruangan itu. Soraya  yang matanya tertuju kepada map itu sangat penasaran, namun dia juga tidak berhak untuk melihatnya.


Sedikit terlihat ujung foto itu, namun tidak benar-benar terbuka. Tsania pun sudah membawa dua buah minuman kaleng, dan meletakkan minuman itu di meja tersebut.


Melihat map coklat itu masih terletak di sana, Tsania menjadi takut dan langsung dengan cepat mengambilnya, namun dia salah pegang, akhirnya foto-foto itu berserakan di kaki Soraya.


Dengan wajah cemasnya, Tsania menunduk dan memunguti foto itu dengan benar cepat, di bantu dengan Soraya.


"Tidak usah biar aku saja," ucap Tsania yang terdengar gugup itu.


Tio pula mengamati sikap Tsania yang tampak berbeda hari ini. Seolah ada yang disembunyikannya sekarang, namun Tio masih membiarkan dua wanita itu memunguti sesuatu yang terjatuh tadi.


"Tuan Rendra!" ucap Soraya  dalam hatinya terkejut dan tidak tahu ingin mengatakan apapun sekarang.


Dirampas langsung oleh Tsania selembar foto yang sudah di lihat Soraya  tersebut. Kemudian Tsania menaruhnya kembali ke dalam map coklat itu, dan dengan cepat memindahkannya.

__ADS_1


Soraya  hampir bisa menangkap sesuatu kejadian yang dialami Tsania saat ini. Ya! tampaknya Tsania sedang terkena mental. Dia pun yang pernah mengalami hal ini, merasakan apa yang dirasakan Tsania.


Namun, apa Tuan Rendra  dan Tsania ada hubungan?? tanya Soraya  dalam hatinya.


Diamnya Soraya  itu di artikan Tsania kalau Soraya  sedang berpikir untuk membaca foto tersebut. Kemudian Syania menjerit kuat dan mengejutkan keduanya.


"Pergi!!" teriak Tsania tampak histeris.


"Tsania.. kau kenapa??" tanya Tio sambil memegang bahu Tsania saat ini.


"Pergilah kalian, aku ingin sendiri," ucap Tsania sambil menangis.


"Kami ini temanmu, ceritalah!!" tambah Tio lagi untuk menyadarkan Tsania.


"Aku tidak butuh siapapun, teman, atau apalah itu, pergilah sekarang!" bentaknya lagi tampak histeris dan dia tidak bisa mengawal dirinya tersebut.


Tsania takut Soraya  mengatakan hal ini kepada Tio, dan kemungkinan Tio akan menilai dirinya wanita murahan. Sedangkan dia bukanlah wanita seperti itu, melihat Soraya  diam seperti itu, Tsania menilai Soraya  adalah musuhnya saat ini.


Wajahnya terlihat stres, dia tampak mengalami depresi sekarang. Karena berulang kali menolak tubuh Soraya  untuk keluar, akhirnya Tio pun akur dan menarik tubuh Soraya  untuk mereka pulang sekarang.


Pintu rumah itu di tutul dengan kuat, Tsania duduk di lantai dan sambil mengacak rambutnya. Kembali dia menangis dengan kuat, Soraya  dan Tio pula masih berdiri disana.


Soraya  ingin menenangkan Tsania yang histeris itu, namun tampaknya Tio menghentikannya. Tio takut akan terjadi apa-apa kepada Soraya jika terus menghadapi Tsania yang tampak kurang baik tersebut.


Sekarang Tio dan Soraya telah pun pergi dari kawasan rumah Tsania itu. Tampaknya Tio  mengantarkan Soraya hingga apartemennya saat ini.


Walau mereka lain mobil, namun Tio tampak menjadi bodyguard pribadi Soraya  saat ini. Tio dan Soraya  ingin membicarakan hal serius yang dialami oleh Tsania tersebut.


Apa yang dilihat Soraya  tadi, ingin rasanya dia ceritakan namun Soraya  masih menahannya. Dan Soraya juga berencana akan datang kembali ke rumah Tsania tersebut, namun sepertinya hanya seorang diri tanpa ada Tio bersamanya.


Akankah Soraya  menguak masalah Tsania tersebut??


Apakah Tsania akan menjadi akur dengan Soraya??


.


***

__ADS_1


__ADS_2