
Malam sudah pun berakhir, mentari menyapa dengan indahnya. Burung-burung berkicau ria di depan rumah Soraya saat ini.
Ketiga adik Soraya sudah berencana untuk membawa Soraya ke dokter umum terlebih dahulu, untuk memastikan dugaan mereka benar atau tidaknya.
Setelah selesai sarapan, mereka bertiga bergegas dengan cepat membantu Soraya untuk berdiri, karena kakaknya tersebut sedikit terhuyung.
Kondisinya yang lemah dan kurang selera makan, membuat tubuhnya menjadi lemah dan pusing, bahkan dia mual.
adik keduanya itu memesan mobil dari aplikasi onlinenya tersebut. Tak lama kemudian mobil tersebut sampai tepat di depan rumah mereka, dan mereka bertiga memujuk sang kakak segera masuk kedalam mobil tersebut.
Kedua adik lelakinya ini sudah pun libur sekolah, jadi mereka mempunyai banyak waktu untuk bersama dirumah dengan kakak mereka.
Perjalanan dari rumah ke rumah sakit memakan waktu satu jam. Soraya bingung dirinya akan dibawa kemana sekarang, dia pun tidak banyak berbicara, bahkan tubuhnya dia rebahkan di bahu Yumita saat ini.
Adik keduanya pula duduk di sebelah pak supir, dan adik ketiganya berada di sisi kiri Soraya sambil menggenggam tangan kakaknya itu. Ketiga adiknya itu sudah dewasa dan begituan pengertian.
Di satu sisi pula Tuan Doris dapat kabar dari kantor, kalau salah satu tanahnya sedang berada dalam pemantauan orang asing yang ingin mengambil hak kepemilikan tanah tersebut yang berada di kota Ssurabaya.
Karena segala surat menyurat dewan direksi yang mengurusnya, maka semuanya itu di tangan Tio. Tio adalah dewan direksi perusahaan tersebut, harta dan aset lainnya Tio lah yang menguruskan semua.
Tuan Frans sudah berpuluh kali menghubungi Tio, namun berdering masuk pun tidak apalagi ada sahutan. Saat ini Tuan Frans panik dan bingung, anak dan istrinya sedang dalam kondisi tidak baik.
Karena Tio tidak bisa dihubungi, terpaksa tuan Frans menghubungi ponsel Soraya saat ini. Tuan Frans mengingat Soraya hanya mengambil cuti karena orang tuanya kritis, mungkin saja kedua orang tuanya sudah membaik, pikir Tuan Frans.
Lama berdering panggilan itu, Yumita yang memegang ponsel kakaknya tersebut melihat nama di layar itu tampaknya begitu sangat penting, pikir Yumita.
"Kenapa gak dijawab dek??" tanya Soraya lemah dan lesu.
"Mmmm, apa kakak ingat dengan nama ini??" di tunjukkan Yumita nama yang sedang menelpon itu ke wajah Soraya yang sedang berada di bahu kiri Yumita tersebut.
"Tuan Frans!! ini bos kakak dek!!" ucap Soraya bangkit dengan tegak.
"Kakak ingat?? kakak mengenalnya??" adiknya itu mencoba memastikan ingatan kakaknya.
"Iya ini bos kakak, kenapa dia menelpon!!" ucap Soraya langsung merampas ponsel itu dari tangan Yumita.
Adik keduanya menghadap ke belakang, tampak nya penyakit kakaknya ini masih bisa dengan cepat mereka pulihkan, karena ingatannya masih bagus dan tampak ada semangat untuk dia melakukan pekerjaan lagi, pikir adik keduanya.
__ADS_1
Adik keduanya memberikan kode kepada Yumita, untuk membiarkan kakaknya menjawab panggilan tersebut. Jika memang Soraya ingin menjawabnya, maka kemungkinan orang tersebut tidak berpengaruh buruk untuk kesehatan Soraya saat ini.
Begitu Soraya menekan tombol hijau itu, panggilan tersebut terus saja terhubung, dan Tuan Frans langsung mengutarakan maksudnya menelpon Soraya saat ini.
"Assalamualaikum Soraya," ucap Tuan Frans selalu sopan dan ramah.
"Waalaikumsalam Tuan Frans, ada apa ya??" tanya Soraya.
"Bisa kamu kembali ke kota Jakarta hari ini?? kantor sedang membutuhkanmu!!" terdengar nada perintah dari suara tuan Frans tersebut.
"Kantor?? memangnya ada apa Tuan Frans??" tanya Soraya lagi.
" Lahan kita di kota Surabaya sedang ada yang ingin mengganggu surat perizinannya, tolong siapkan berkas-berkas tanah itu. Tuan Al baru saja menghubungi saya tadi," jelas Tuan Frans lagi kepada Soraya.
"Benarkah?? kemana Tio sekarang??" tanya Soraya lagi.
"Tio tidak tahu kemana, ponselnya tidak bisa dihubungi, Derry pula sedang tidak sehat. Saya sangat membutuhkanmu sekarang Soraya," nada memelas terdengar dari suara Tuan Frans.
"Derry!! pembunuh itu!!"
"Auh.. pembunuh!!" teriak Soraya sambil memegangi kepalanya.
"Kak..sudah kak, jangan menjerit dan menangis lagi," ucap Yumita sambil memeluk kakaknya.
Adik keduanya pula terus saja menggenggam tangan kakaknya, dia takut Soraya bertindak agresif atau melakukan hal lainnya.
Setelah menjerit dia melemah dan pingsan kembali di pangkuan adik keduanya saat ini. Adik keduanya pun menangis terisak-isak melihat kondisi kakaknya tersebut.
Sang supir pun memberanikan diri bertanya kepada adik keduanya yang berada di sampingnya itu. Karena melihat kondisi Soraya itu sang supir tampak kasihan dengan tiga orang remaja yang masih belia ini.
"Kakak kalian kenapa??" tanya supir itu sambil fokus menyetir.
"Saya juga tidak tahu pasti pak, namun gejalanya menunjukkan kakak saya terkena penyakit Alzheimer," jawab adiknya dengan sopan.
"Astagfirullah, jadi kalian menuju rumah sakit ini untuk mengobatinya??" tanya supir kembali.
"Iya pak, kami ingin memastikan dugaan itu benar atau salah," jawab adik keduanya lagi.
__ADS_1
"Ini ambil kartu nama seorang dokter ahli jiwa, atau biasa disebut psikiater. Mungkin saja kalian membutuhkannya, dia keponakan saya," ucap sang supir sambil memberikan kartu nama itu.
"Iya pak terima kasih."
Adik keduanya berharap kakaknya mengalami penyakit ini hanya sementara, dan tidak perlu untuk dibawa ke psikiater apalagi ahli kejiwaan, karena kakaknya bukan gila, ucapnya dalam hati dan penuh harapan.
"Apa kak Soraya sangat membenci bang Derry??" tanya adik keduanya dalam hatinya.
"Ketika kak Soraya mendengar nama bang Derry dia berteriak, lalu seolah tampak berubah wajahnya menjadi amarah, apa benar kak Soraya begitu membenci bang Derry??"
Adik keduanya berbicara sendiri dalam hatinya saat ini. Dia adalah lelaki yang pandai mengamati seseorang, dia pun berpikir jika memang saat ini Soraya kakaknya itu sangat membenci seorang Derry, kemungkinan besar Soraya pernah sangat begitu mencintai Derry, tanya ucap adik keduanya dalam hatinya.
Ya! berarti pernikahan ini bukan sepenuhnya salah bang Derry, kak Soraya juga mencintai bang Derry . Mungkin saja ada kesalahpahaman besar diantara mereka saat ini, namun aku juga tidak bisa memberikan bukti atau pun solusi, pikir adik keduanya termenung memikirkan ini semua.
"Dek, sudah sampai!!" suara supir itu kuat untuk ketiga kali nya.
Sudah dua kali pak supir itu mengatakan kepada Nurdin, namun dia tampak diam dan termenung, akhirnya sang supir bersuara sedikit keras membuat adik kedua Soraya yang melamun itu terkejut.
"Ha... iya pak, baik sebentar," ucap adik kedua Soraya segera membukakan pintu untuk kedua kakaknya dan adiknya tersebut.
"Pak ini ambil saja kembaliannya, dan terima kasih."
"Tidak usah dek, pakailah uang ini untuk perjalanan pulang kalian nanti," kembali uang itu diserahkan ke tangan adiknya.
"Pak terima kasih banyak pak," ucap adik keduanya sambil membungkukan badannya.
"Iya sama-sama."
Pak supir online itu pun berlalu meninggalkan rumah sakit tersebut. Masih saja ada orang baik yang selalu membantu dan saling mengasihi.
Dalam perjalanan, pak supir juga teringat akan anaknya yang meninggal karena penyakit yang sama, namun di depan adik keduanya, dia tidak ingin mematahkan semangat mereka semua untuk kesembuhan kakak mereka tersebut.
Adik kedua Soraya dan Yumita memapah kakaknya, sedangkan adik ketiganya membawakan tas yang ada di bahu Yumita saat ini, dan mereka telah pun masuk kedalam rumah sakit tersebut.
Seorang suster yang lewat mengantarkan mereka ke ruangan dokter umum sekarang, dan mereka semua sudah pun masuk ke ruangan tersebut.
"Baringkan disini," perintah dokter itu kepada beberapa suster di dalam ruangannya tersebut.
__ADS_1
***