
Cekrek...
Pintu ruangan Derry tersebut pun saat ini telah terbuka lebar. Terlihat dua sosok wanita dengan usia yang berbeda sedang melangkah ke dalam.
"Stop!" ucap Derry tegas.
Terkejut mamanya dan Fanni saat ini, yang mendapati Soraya sedang berada di samping Derry sekarang. Dan untuk apa Derry menyetop mereka berdua saat ini.
Dengan keadaan yang refleks, kedua wanita dengan berbeda usia itu pun langsung memberhentikan langkahnya saat ini.
"Ma, mama kemarilah! dan kau Fanni, keluarlah!" ucap Derry dengan tegasnya tanpa memikirkan perasaan Fanni saat ini.
Kemana cinta mati yang dulu?
Apa cinta semudah itu hilang karena seorang yang selalu ada?
Apa mungkin cinta mati itu telah terkalahkan dengan cinta sejati yang hanya diatas janji?
Entahlah, dunia kini berbeda. Jantung Fanni berdebar kuat, hatinya terasa sakit di hina Derry saat ini di depan Soraya.
Baru saja dia ingin menghancurkan Soraya, namun sekarang hatinya lah yang telah hancur karena ucapan suami Soraya tersebut.
"Tapi Derry.." terhenti ucapan mamanya itu yang ingin membela Fanni saat ini, tangan Derry memberikan isyarat kalau mamanya tidak boleh masuk campur dengan keputusan Derry saat ini.
Fanni pun mundur perlahan sekarang, Tuan Frans tersenyum simpul saat ini, biarlah pikir Tuan Frans sekarang. Karena memang Fanni bukan jodoh anaknya, maka biarkan pernikahan antara Derry tidak ada pengganggu lagi, pikir Tuan Frans saat ini.
Dan pintu itu dibanting kembali, ketika Fanni keluar dan malam ini hati itu hancur, tampak wajah frustasi karena harga dirinya telah tercabik di depan Soraya.
Sekarang, dia tampak mengotak atik ponselnya saat ini. Menekan layar itu dengan cepat panggilannya pun bersambut sekarang.
"Ya, Fanni? hei kenapa kau menangis?" suara Tuan Osman terdengar disana.
"Apa aku bisa bertemu denganmu malam ini?" tanya Fanni dengan sambil menghela air matanya itu.
"Ya, tentu saja. Kapan pun yang kau mahu, akan kutemui," kalimat mengandung gula satu ton dari mulut lelaki biawak berkulit dinosaurs itu.
"Kau dimana? aku akan menjemputmu," ucapnya kembali.
"Aku di rumah sakit dimana Derry dirawat," jawab Fanni.
__ADS_1
"Oke, tunggu disana ya, sepuluh menit aku akan sampai di depan sana," jawab Tuan OSMAN dengan senyum liciknya.
Tio pula yang telah mengantarkan adik-adik Soraya ke rumahnya terlebih dahulu, dia pun saat ini telah menghampiri Tuan Rendra di tempat yang telah mereka janjikan sekarang.
"Hallo Rendra, maaf terlambat," kedua tangga jantan berurat itu mengepal dan menyatu saat ini.
"Alah.. tidak apa-apa, bagaimana kondisi Derry?" tanya Rendra membuka topik.
"Alhamdulillah, dia sudah sadar dan tampak segar," jawab Tio sambil menarik kursinya.
"Kau mau minum apa?" tanya Rendra kembali.
"Lemon tea saja cukup malam ini," jawabnya.
Rendra pun tampak menekan tombol yang ada di meja tersebut, dan membuat kode untuk minuman yang dipesan Tio itu. Kemudian dengan cepat pelayan pun mengantarkan pesanan tersebut.
Dan saat ini, mereka saling tatap menatap, memberikan kode ku dulu yang membuka, atau aku dulu," itulah arti dari tatapan mereka berdua saat ini.
"Rendra! rahasia apa yang kau punya?" tanya Tio memulainya da karena tidak sabar dengan rasa penasarannya tersebut.
"Entah ini rahasia atau aib, tapi kau harus tahu, dan kita harus selamatkan Tsania! apa kau bisa membantuku?" tanya Rendra yang bukan menjelaskan malah dia bertanya kepada Tio.
"Aku telah menodai Tsania Tio, karena tidak sengaja," jelasnya dan sangat jelas hingga telinga Tio ingin terbakar mendengarnya.
"Apa? kau? jadi Tsania seperti saat ini karna kau? brengsek! tampak geram dan marah, tanpa ingin tahu lanjutnya.
"Kupikir berbagi denganmu membuatku lega, kau malah memakiku!" sahut Rendra kembali dengan wajah menunduk.
Mendengar suara itu, Tio menyesai perbuatannya saat ini, dia pun duduk kembali dan mengatur nafasnya sekarang.
"Apa kau ingin aku lanjutkan?" tanya Rendra kembali sambil membenarkan kerah bajunya yang sempat Tio tarik paksa.
"Ya Rendra, maaf kan aku yang tadi," jawabnya dengan cepat.
"Kau tahu, aku bukan sengaja melakukan itu, aku terpaksa karena memang Tsania menarikku dengan ganas malam itu," jelasnya lagi.
Tampak wajah tidak percaya Tio saat ini, sekretaris itu lama mendambakan dirinya, walau Tsania menyukai Tio namun sekretaris muda itu tetap bisa mengontrol dirinya, pikir Tio.
Namun Tio tidak ingin bertindak gegabah lagi, dia pun menahan api di telinga yang ingin meledak rasanya mendengar penjelasan dari Rendra tersebut.
__ADS_1
"Ya! itu juga bukan mahu Tsania! dia juga terpaksa," jelasnya sedikit menggantung.
Apa maksudmu? kau bilang bukan salahmu, Tsania menarikmu, dan sekarang kau berkata lain? Tio meninggikan suaranya saat ini.
"Tio, Tsania dalam pengaruh obat perangsang yang diletakkan pria yang aku pukul waktu itu!" jelas Rendra saat ini.
"Ha? Tuan Osman? apa kau tidak berbohong? tanya Tio dengan terkejutnya.
"Ya! malam itu aku memukul pria itu juga sampai tersungkur di club malam, aku disana bertemu dengan teman sesama investor, karena aku mengenal baik Tsania, aku pun menghampirinya, karena awalnya Tsania pingsan saat itu, dan dipapah masuk ke dalam klab tanpa dia sadar."
"Setelah itu lagi, Tsania di bangunka dengan obat penawar bius itu, kemudian dia tampak diberikan minuman yang di campurkan obat perangsang, disitu aku langsung datang dan menghajar lelaki brengsek itu!" umpat kesal.
"Gila! apa mau nya melakukan itu kepada Tsania? dan kenapa Tsania? tanya besar di kepala Tio saat ini.
"Aku juga tidak tahu, dan aku sama sekali tidak mengenalnya, kemarin kau lihat? apa mungkin dia mempengaruhi Fanni juga?" tanya Rendra meminta pendapat Tio.
"Itu aku tidak tahu Rendra, yang kutahu mereka memang berteman dan saling kenal, Derry juga kenal baik dengan pria itu," ucapnya lagi.
"Benarkah? lalu untuk apa mereka mengunci ruangan itu?" tanya besar di kepala Rendra yang sama dengan Tio saat ini.
"Itulah yang ku pikirkan sekarang, apa kau mau membuat rencana dan menyatukan misi penyelidikan ini?" tanya Tio kepada Rendra.
"Ya tentu saja Tio, aku juga sudah mengirimkan kedua mata-mata untuk lelaki itu dan Fanni saat ini," jelas Rendra yang ternyata sudah lebih awal bertindak tanpa sepengetahuan Tio.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengurus urusanmu dengan Tsania, apa hal ini bisa kuberitahukan Soraya?" tanya Tio kembali.
"Soraya? aku malu Tio," jawab Rendra.
"Tapi, hanya dia yang bisa berbicara baik-baik dengan Tsania, bukankah wanita bisa saling memahami?" ucap Tio meminta saran.
"Iya kau benar juga, dan lakukanlah itu," jawab Tuan Rendra.
Saat ini Fanni pun telah bertemu dengan Tuan Osman dan mereka makan malam bersama, serta mereka membuat rencana untuk mereka berdua saat ini.
Sedangkan mama Derry sekarang ini hanya memeluk anak lakinya itu, tanpa menyapa Soraya sedikitpun.
Akankah Tio dan Rendra berhasil?
"Deal! kita sepakat menghancurkan mereka!
__ADS_1
****