
"Tio, kamu mau kemana?" tanya ibunya saat ini.
Malam telah pun berlalu, seperti biasanya jika pagi hari begini pakaian Tio begitu sangat formal dia ingin berangkat ke kantor, namun ibunya tersebut menghentikan dirinya Padahal malam tadi Tio telah diingatkan bahwa hari ini dia harus menemani Yumita fitting baju pengantin karena memang pernikahan mereka sudah sangat dekat.
"Gak, pagi ini kamu fitting baju dengan Yumita, ibu juga udah bilang sama Derry, kalau beberapa hari ini kamu harus cuti," jelas Nyonya Veli itu.
"Bu, jangan gini dong, Tio banyak kerjaan dikantor hari ini," ucapnya sedikit malas.
"Tio, kamu bantah ibu sekarang?" Tanya Nyonya Veli dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hm..baiklah Bu, Tio akan menjemput Yumita," jawabanya lemah dan mengalah.
Akhirnya Tio mengalah juga dia pun melembutkan hati nya sendiri agar pagi ini menjemput Yumita dan mereka akan melakukan fitting baju bersama.
Satu sisi lagi Yumita yang sudah bangun lebih awal dan mereka juga sudah sarapan bersama dengan keluarga Daffa tersebut, pagi ini Soraya memberi sebuah kekuatan kepada adiknya tersebut dan menyuruh Yumita segera siap-siap jika nanti Tio datang maka Tio tidak akan menunggu lama.
"Sudah, biar bibi dan kakak saja yang beresin ini, kamu ganti baju gih, bentar lagi Tio pasti kesini," ucap kakaknya itu.
Yumita tidak menjawab namun dia membalasnya dengan beberapa anggukan dengan cepat dia pun berjalan menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Sampai di kamar tersebut dia pun bingung mau menukar pakaiannya dengan pakaian yang seperti apa, karena dia ingin memantaskan dirinya dengan dengan Tio saat ini.
Dia tidak ingin terlihat begitu seumuran dirinya dia ingin mengimbangi Tio dengan usia Tio yang menurutnya lumayan jauh saat ini dengan dirinya itu.
"Huh..pakai dress aja kali ya," ucapnya dalam hati.
Di lemarinya tersebut ada dress panjangnya sampai lutut berwarna hijau tosca warna itu Dipilihkan oleh ibu Tio dan baju tersebut juga Dipilihkan dan diberikan oleh ibu Tio itu.
"Hm..ini cantik juga," ucapnya dalam hati.
Sedikit lama dia memilih pakaian itu akhirnya dia memutuskan memakai pakaian hijau tosca tersebut, Tak lama kemudian terdengar suara mobilĀ di pekarangan rumah mewah itu.
Sedangkan Derry saat ini baru saja ingin keluar dari halaman rumahnya tersebut, karena melihat Tio yang sampai Derry pun keluar kembali dari mobilnya.
"Pagi Tio," sapa Derry dengan penuh senyuman hangat.
"Pagi juga Dav," jawab Tio dengan wajah yang kusut.
"Jangan seperti itu wajahmu, pergilah masuk kedalam, Yumita sedang bersiap-siap," ucap Derry.
Sedangkan saat ini, Soraya masih membereskan dapur membantu pekerjaan pembantu rumah mereka tersebut.
__ADS_1
Yumita yang masih memoles wajahnya itu, dia sedikit gugup dan jantungnya berdebar sangat kuat saat ini.
"Baiklah Tio, aku berangkat dulu, masuklah," ucap Derry sekali lagi.
Derry pun masuk kedalam mobilnya saat ini, sedangkan Tio sedikit berat langkahnya untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Tuan Frans yang berada di ruangan keluarga itu, dia sedang menonton televisi saat ini.
"Assalamualaikum," ucap Tio ketika memasuki rumah itu.
Soraya yang mendengar suara Tio dari ambang pintu itu, dengan cepat dia menuju ruang depan dan menyambut kedatangan Tio disana.
Benar saja, apa yang baru didengarnya itu adalah suara Tio, dengan senyuman yang penuh kehangatan Soraya menyapa Tio pagi ini.
Namun, wajah Tio sangat menunjukkan kegelisahan, dan dia hanya tersenyum tipis kepada istri sepupunya itu.
"Tio, tunggu lah sebentar, Yumita sedang bersiap, duduklah dulu, aku buatkan minuman," ucap Soraya lalu menuju dapur.
Soraya mengingat sesuatu hal saat ini, daripada Tio bosan menunggu, dia memanggil ayah mertuanya yang berada diruangan televisi itu.
Berita disana sangat membuat Tuan Frans betah menatap layar televisi tersebut. Sedangkan Derry tidak memperbolehkan Papanya itu untuk ke kantor lagi.
"Kenapa nak?" tanya Papa mertuanya itu.
"Di ruangan tamu ada Tio," ucapnya.
"Oh, Tio sudah datang, yasudah papa keruangan tamu saja," ucap papa mertuanya itu.
Dengan cepat Tuan Frans saat ini bangkit dan menuju ke ruangan tamu dimana Tio berada saat ini.
Sedangkan Soraya menyuruh pembantunya untuk menyiapkan minuman untuk Tio tersebut.
Soraya pun dengan cepat, menuju kamar atas dimana Yumita berada saat ini, dua tidak ingin Tio menunggu lama, padahal sudah sedari tadi Soraya menyuruh adiknya itu untuk bertukar pakaian dan menyiapkan dirinya tersebut.
Begitu Tuan Frans menghampiri Tio di ruangan tamu itu, dia pun tampak membuat Tio sedikit tersenyum.
"Tio, kenapa kau nampak murung?" Tanya pamannya itu.
"Paman Frans, aku hanya canggung," jawabnya.
"Biasa itu, dulu Paman begitu juga saat mau menikahi Bibimu itu. Kau tahu kan, mama Derry tersebut sedikit cuek, tentu saja sedikit susah mendaptkannya dan kau tahu, kami dulu juga tidak saling cinta, namun kami dijodohkan oleh kakekmu," jelas Tuan Frans panjang lebar.
__ADS_1
"Paman, tapi Paman dan bibi usianya tidak terpaut jauh, Tio dan Yumita Paman tahu kan, usia kami begitu jauh berbeda, Tio.."
Belum lagi Tio menghabiskan ucapannya itu, terlihat Soraya telah membawa Yumita dihadapannya tersebut. Dress hijau toska itu membalut tubuh kecil Yumita yang butuh tersebut semakin menjadi cantik.
Ya, memang Yumita wanita yang cantik. Wajahnya tidak kalah jauh dengan kakaknya tersebut. Namun, Soraya lebih memiliki tubuh yang sedikit berisi saat ini, mungkin karena dia sedang mengandung.
"Nah, itu Yumita sudah turun, yasudah kalian berangkat, dan ingat Tio, hati-hati dijalan," ucap Tuan Frans saat ini.
"Iya Paman, yasudah kami pamit dulu," ucap Tio melangkah lemah setelah berpamitan dengan Tuan Frans.
Setelah mereka berdua berpamitan, dengan cepat Tio dan Yumita masuk kedalam mobil itu.
Tio membukakan pintu mobil itu untuk Yumita, dan mobil tersebut melaju dengan cepat saat ini.
Dalam perjalanan itu tampak tidak ada suara dari siapapun saat ini, sedangkan Yumita juga tidak berani membuka suaranya, ataupun bertanya kepada Tio.
Sedangkan Tio juga tidak tahu ingin mengatakan apapun saat ini, dia hanya menggaruk-garuk dahinya yang bahkan tidak gatal tersebut.
Sedikit demi sedikit, dia melihat wajah Yumita yang tampak hanya menatap kearah kaca saja saat ini.
Memang cantik, wajahnya serupa dengan Soraya, namun hati Tio saat ini bukan memandang wajah, namun dia memandang hati.
Cinta sejati memang memandan hati, walau wajah mereka sama namun cinta Tio tidak untuk wanita disebelahnya ini.
Perjalanan hampir setengah jam saat ini, tempat wedding organizer itu diperkirakan sampai empat puluh lima menit.
Tio hanya menghela nafasnya dengan panjang, entahlah pikirnya mengapa sangat sulit untuk melupakan Soraya pikirnya saat ini.
Perjalanan penuh kebisuan saat ini, bahkan sudah hampir empat puluh lima menit, Tio menyetir dengan cepatnya, bahkan mereka sudah sampai didepan parkiran wedding organizer itu.
Tio turun deluan, dia pun ingin membukakan pintu untuk Yumita, namun wanita itu dengan cepat membuka pintu, membuat Tio terkejut saat ini.
"Kenapa kau membuka pintunya?" Ucap Tio menahan giginya.
"Mmmm maafkan aku," jawab Yumita takut.
Wajah Tio sedikit menakutkan saat ini, entah mengapa emosinya menjadi tidak stabil begini. Pikirannya kusut, padahal sebelum ini hubungannya dengan Yumita cukup baik.
"Ayo jangan diam disitu, jalankan deluan," ucap Tio kepada Yumita mencoba mengatur emosinya.
Akankah muncul sebuah cinta?
__ADS_1