90 DAYS

90 DAYS
AWAL MULA ISI PERJANJIAN


__ADS_3

Derry  membukakan pintu untuk Soraya, ucap lalu Soraya  diperintahkan untuk masuk dengan kasarnya. Soraya  hanya menurut saja apa yang dikatakan pak ceo kepadanya tersebut, di sana tidak terlihat sikap ramah sama sekali. 


      Jika di bilang tertekan, Soraya  sangat tertekan saat ini menjadi seorang istri Derry Sanjaya. Soraya  hanya menunggu waktu itu akan berakhir saja, pikirnya. 


        "Raya!!  aku tidak ingin melihat kau berduaan dengan lelaki manapun!!" ucap Derry  sambil menyetir mobilnya. 


        "Aku hanya meeting," jawab Soraya. 


        "Aku tahu, tapi meeting tadi sudah berakhir!!" bentak Derry  kuat di dalam mobil tersebut. 


    "Aku masih suamimu!!" ucap Derry  menegaskan. 


     Soraya  membuang wajahnya ke jendela mobil tersebut. Tanpa ada sepatah kata apapun sekarang ini, dia hanya mampu dan diam, Derry  pula seperti biasanya, jika sudah marah dalam keadaan membawa kendaraan tersebut pasti selalu melajukan kendaraan itu. 


       Jika memang mati saat ini adalah jawaban untuk hubungan mereka bisa sampai selama-lamanya, lebih baik mati saja, pikir Soraya. 


        Tiba-tiba mobil itu sedikit perlahan, dan mobil itu menuju ke tepian pula sekarang. Derry  tampak kesal dan dia juga semakin kesal jika hanya Soraya  diam membisu seperti itu. 


      "Raya!! apa mau kau sebenarnya!!" ucap Dava kuat di telinga Soraya, padahal mereka bersebelahan. 


    "Apa mahuku??" tanya Soraya  dengan wajah yang penuh air mata. 


    "Raya!! berhenti lah menangis!!" bentak Derry  sambil menggaruk rambutnya menjadi acak-acakan. 


   "Derry, aku yang harus bertanya kepadamu!!"


  "Kau sudah ada Fanni, untuk apa memikirkan aku yang sudah bekas ini," ucap Soraya  menahan ledakan tangisnya lagi. 


 "Stop!! stop Soraya!!"


"Jangan bawa orang lain disini!! itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah hari ini!!" ucap Derry lagi. 


 "Masalah apa yang kau maksud Derry??" tanya Soraya  sinis. 


     Soraya  tidak tahu apa yang dimaksud masalah hari ini oleh Derry  suaminya itu. Padahal, menurut Soraya  dia hanya meeting dan duduk saja bersama Rendra  sang investor dari perusahaan tersebut. 


      Lalu, dimana letak masalahnya? tanya Soraya  dalam hatinya saat ini. 


     "Raya!!" sudah aku katakan, kau milikku!!" ucap Derry  menjerit kali ini. 


   "Derry, berhenti menteriakiku," jawab Soraya  yang sudah tidak tahan lagi. 


  "Jika aku memang milikmu, lalu mengapa kau hanya menikahiku 90 hari??" ucap Soraya  geram. 


  Derry  terdiam dengan ucapan Soraya  tersebut. Ucapan Soraya  sangat benar dan masuk akal, jika memang 90 hari adalah miliknya, mungkin setelah hari itu habis, Soraya  bukan miliknya lagi. 

__ADS_1


    "Kenapa diam??" tanya Soraya  lagi. 


    "Raya, kau baca ini lagi!!" ucap Derry  menyerahkan nota merah tersebut kembali kepada Soraya  saat ini. 


    Perjanjian di atas nota merah itu, selalu dibawa oleh Derry  dimanapun ia berada. Nota itu selalu berada dalam penyimpanan yang ada di mobil Derry  tersebut. 


     Kali ini tampak diam Soraya sendiri merenungi dan menatap nota merah tersebut. Soraya  bukan tidak tahu isi dari perjanjian itu, isinya memang cukup banyak dan sama sekali tidak menguntungkan Soraya.


     Soraya  terdiam sejenak, dia teringat kembali pada pertama buku nota tersebut dia baca. 


     Lima bulan saling mengenal dalam satu perusahaan tersebut, namun baru memasuki sebulan menjadi pengganti ayahnya tersebut Derry  tertarik dengan seorang wanita yang bekerja disana.


     Siapa lagi, dia lah Soraya. Sekedar tertarik, bukan cinta.


    Tertarik karena kesombongan dan sikap dingin dari Soraya  yang selalu ditunjukkannya kepada Derry  kala itu.


    Semua wanita di perusahaan itu, ketika Derry  baru saja menginjakkan kakinya disana, mata wanita disana tidak kedip sedikit pun, terkecuali Soraya.


     Soraya  terlihat cuek dan biasa saja, itu lah mengapa Derry  merasa ingin tahu tentang wanita yang dianggapnya angkuh ini.


     Setelah dia tahu jabatan Raya di perusahaannya tersebut, dia pun mulai selalu mencari gara-gara kepada Soraya.


    Empat bulan lalu, Cek tunai di atas meja yang dihulurkan oleh Ceo yang baru saja menginjakkan kaki di tanah nusantara ini, membuat Soraya  dilema.


    Bukan masalah jumlah disana, namun masalahnya adalah tentang harga dirinya dan egonya.


       Empat bulan lalu, tawaran itu diberikan Derry  kepadanya, dan kini karena cek tersebut Soraya  sudah menjadi istrinya selama dua bulan berjalan. 


     "Raya, ambil ini," ucap Derry.


     "Untuk apa??" tanya Raya dengan wajah dingin.


    "Jadi lah teman kencanku!!" ucap Derry  dengan nada sombong.


  "Aku tidak menginginkannya," balas Soraya  dengan angkuhnya juga. Padahal dia sedang membutuhkan uang yang besar saat itu.


    "Kalau begitu jadilah istriku!!" ucapnya tegas tanpa berpikir.


    "Istri!!" keras suara Soraya.


    "Iya istri, bagaimana setuju??" tanya Derry  lagi.


     Soraya diam sejenak, jika menjadi istri pastilah tidak ada dosa di antara mereka berdua, pikir Soraya.


     Namun, apa bisa menikah tanpa cinta?

__ADS_1


    Apa bisa menikah tanpa ada rasa??


   Gila! ini sungguh gila!! 


    Lelaki yang bergelar Ceo ini sepertinya sudah tidak waras, pikir Soraya  yang masih mematung kala itu.


      "Soraya, aku menikahimu dengan syarat. Jika kau setuju, aku akan memberimu nota merah berisi syarat yang telah diketik di dalam sini," ucap Derry  dan menunjukkan map merah itu.


   "Bisa aku melihatnya??" tanya Raya. 


    Tersenyum puas di wajah Derry kala itu, sepertinya Soraya  memberikan lampu hijau kepada dirinya tersebut.


     Syarat itu dipelajarinya dengan benar, semuanya memang memberatkan di pihaknya. Namun bagi Soraya yang sedang menjadi korban keadaan tersebut, membuat dirinya menyetujui isi dalam map merah itu.


      Syarat pertama, tertulis Soraya tidak boleh bertanya apapun tentang kesibukan Derry, selama mereka menjadi suami dan istri.


      Syarat kedua, tertulis Soraya, tidak boleh menelpon Derry  terlebih dahulu, sebelum Derry yang menghubunginya.


    Syarat ketiga, setiap Derry  menyentuh dirinya, dia harus rela meminum obat agar tidak hamil.


    Syarat keempat, pernikahan mereka harus tetap di rahasiakan.


    Syarat kelima, Jangan pernah menuntut apapun dari Derry, dan SORAYA  harus mengikuti apapun yang Derry  katakan selama mereka masih menjadi suami dan istri.


       Cek lima ratus juta itu sudah pun di tangan Soraya. Dua bulan berlalu begitu panjang mereka jalani, Soraya termenung di atas balkon apartemennya saat malam pertama bergelar istri. 


     Apartemen itu diberikan oleh sang suami. bukan tanggung-tanggung, apartemen mewah tersebut yang berada di kawasan Red village itu membuat para staf lainnya menaruh curiga kepada Soraya.


     Soraya  digosipkan bercinta dengan om-om kaya raya. Namun para penggosip masih belum menemukan bukti tentang itu.


     Omongan orang sudah biasa dia dengar, baginya biarlah, selagi manusia mempunyai mulut dan mata, manusia itu akan tetap bercerita dengan apa yang mereka lihat, pikir Soraya.


     Hari-harinya menjadi istri sudah biasa dia jalani. Hari-harinya menjadi karyawan di perusahaan suaminya juga terbiasa dia lakukan.


 


      "Hey, kenapa termenung," ucap Derry  kali ini sedikit pelan. 


     "Nah, notamu," ucap Soraya  memberikan nota itu kembali kepada Derry. 


    "Sudah di baca kembali bukan??" ucap Derry  penuh kemenangan.


*****


       

__ADS_1


__ADS_2