
"Minggu depan, ibu berharap kalian semua akan datang ke acara pernikahan Tio," ucapnya.
Tio hanya menunduk malu sekarang, bahkan ini lebih mengejutkan lagi bagi mereka semua yang mendengarkannya. Yang tadinya hati Tsania tenang sekarang dia kembali bergemuruh seketika, dia tidak sabar ingin mengetahui dengan siapa pria itu menikah.
"Ma, Tio harap jangan disini Ma, biarkan keadaan duka ini berakhir dulu," ucap Tio menyanggahnya.
Dan sekarang ini juga dia telah pun begitu malu jika mamanya sampai Benar-benar mengucapkan siapa calonnya nanti. Apa kata Soraya? Apa kata semua orang?
Tio bingung bukan main, namun Yumita tidak bisa dianggap berbincang pula. Ingin marah, namun wanita itu adik wanita yang dia cintai, namun jika tidak marah dadanya yang begitu sesak menahannya.
"Tante, dengan siapa Tio menikah?" tanya Soraya pula.
Mamanya menatap Tio sedikit gusar dia pun tampak mengurungkan niatnya saat ini untuk mengatakan hal itu semua.
Tsania dengan wajah tidak sabarnya untuk mengetahui hal itu, namun mama Tio berkata lagi, Tio yang hampir putus asa sekarang harus menerima kenyataan hari ini.
"Untuk mempelai wanitanya nanti saja, ketika hari pernikahan itu berlangsung kalian akan melihatnya," ucapnya dengan tersenyum lebar.
Tio menghempaskan nafas beratnya saat ini. Dia bahkan menatap wajah mamanya dengan perasaan lega sekarang. Dia sangat malu, jika semua orang harus mendengarkan ini dengan waktu yang tidak tepat, begitulah pikir Tio.
Hari mulai sore sekarang, Tsania dan Rendra berpamitan setelah mereka lama berbincang disana.
Semua dukungan penuh dia berikan kepada keluarga Sanjaya itu. Bahkan saat ini juga Rendra telah menganggap mereka adalah keluarganya.
"Tio, kau ingat jangan pernah berahasia padaku," ucap Rendra yang tersenyum lalu menepuk bahu Tio.
"Hm.. tidak ada rahasia," ucap Tio lemah.
Akhirnya Tsania pergi meninggalkan mereka semua bersama Rendra . Semenjal pengumungan Tio ingin menikah minggu depan nanti, membuat Tsania kembali diam membisu.
Ternyata hidup Benar-benar membuat mereka sekarang ini penuh dengan tanda tanya besar dan rahasia yang satu demi satu terungkap juga akhirnya.
Mau dikata apalagi, setiap manusia memiliki privasi masing-masing dan tidak seharusnya semua orang mencampuri urusan orang lain.
"Tsania, terima kasih kau sudah menerimaku," satu kecupan di tangan Tsania saat ini.
Terkejut Tsania dengan perilaku Rendra yang lembut itu, dia bukan tidak suka, namun dia tidak cinta dan sulit menerimanya saat ini. Walau dimulut bilang iya, namun dihati masih ada Tio disana.
__ADS_1
Cintanya tidak pernah berbalas, namun entah mengapa hatinya pula yang sulit berpaling. Perasaan apa ini, pikir Tsania geram.
"Tsa.. apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rendra lagi ketika dia berbicara Tsania bahkan tak menyahutinya.
"Hm.. tidak ada Rendra," ucapnya lemah.
"Apa kau lelah?" tanya Rendra lagi sambil menyetir mobil itu dengan santai.
"Sedikit," jawabnya singkat.
"Bahuku ini sial menopang segala lelahmu, ayo rebahkan kepalamu disini," ucap Rendra dengan romantisnya.
Mau bagaimana romantisnya Rendra, hatinya masih belum terpaut. Hanya bibir saja yang senyum, hati masih sakit dan penasaran.
Untung saja dia membatalkan pergi ke Australia hari ini, dia juga bisa menundanya untuk minggu depan, dia begitu penasaran wanita beruntung mana yang dipilih Tio sebagai istrinya, pikir Tsania saat ini.
"Rendra, apa kamu tahu siapa yang dijadikan Tio sebagai istrinya?" Tiba-tiba mulut Tsania bertanya itu.
Rendra mengernyitkan dahinya sedikit, apa Tsania diam untuk memikirkan hal itu?
"Apa kau begitu penasaran ingin tahu?" tanya Rendra balik.
"Iya benar sekali, aku juga penasaran. Namun Tio tampak pemegang rahasia yang hebat, dia bahkan tampak seperti single saja dimata semua orang bukan?"
"Itulah mengapa, aku juga penasaran," ucapnya lagi.
Satu sisi saat ini, Soraya tidak pulang ke apartemen dia menginap di rumah keluarga Derry itu. Sedangkan keluarga Tio selaku adik dari nyonya besar juga masih berada disini.
Hanya keluarga yang ada disini, saatnya Ibu Tio dan ayahnya menjelaskan niat baik mereka untuk melamar Yumita sebagai istri Tio tersebut.
"Soraya, ada yang ibu ingin bicarakan kepadamu," ucap ibu TIO itu dengan nada yang lembut.
"Ada apa bu? Bicaralah," ucap Soraya menyambutnya baik.
"Soraya, ibu dan ayah ingin melamar Yumita sebagai istri Tio, apa kamu merestuinya?" tanya ibu dengan senyuman melebar.
Bukan hanya Soraya yang terkejut, Tuan Frans dan Derry juga begitu sangat terkejut. Soraya menatap Yumita dengan penuh siasat, begitu juga dengan Derry, menatap Tio bingung dan wajah yang hampir tidak percaya.
__ADS_1
Kalau hari ini dia membuat semua stafnya terkejut dengan pernikahannya yang tersembunyi itu, hari ini dia juga lebih terkejut lagi dengan pernyataan ibu Tio itu.
"RAYA, apa kamu merestuinya nak?" Sekarang ayah TIO pula yang mengatakan ini.
"Hem.. maaf Om, saya harus bicara berdua dulu dengan Yumita, ini adalah hal besar yang akan dia lewati dalam hidupnya," jelas Soraya lagi.
"Ya Sudah, silahkan kalian berbicara empat mata dulu," ucap mama Tio saat ini.
"Derry, aku permisi dulu bawa Yumita ke kamar kita," ucap Soraya.
"Iya sayang," jawab Derry dengan bijak.
Bagaimanapun Soraya adalah kakak tertua dari Yumita, karena memang orang tua mereka telahpun tiada, itulah mengapa Soraya yang mengambil alih mengenai hal ini untuk Yumita.
Mereka pun meninggalkan ruang keluarga itu saat ini, disana ada Nurdin dan Nadim juga yang bergabung.
Saat ini Tio hanya bisa diam, dia merasa malu dengan Derry juga. Pasti sekarang Derry berpikir yang bukan-bukan tentang Tio, karena memang Derry tahu Tio mencintai Soraya, kenapa saat ini Tio ingin menikahi Yumita pula, pikir Derry saat ini.
"Nurdin, Nadim, apa kalian sudah masuk sekolah?" tanya Derry sekarang.
"Belum lagi bang, tapi kak Soraya sudah mendaftarkan sekolah kami," ucap Nadim saat ini.
"Bagus kalau begitu, Kalian harus rajin belajarnya ya," ucap Tuan Frans pula.
Mereka sangat senang, karena keluarga mereka saat ini Benar-benar baik dan begitu hangat kepada mereka. Dan saat ini juga Soraya dan Yumita telah berada dikamar.
Yumita dan Soraya, duduk di tepi ranjang milik Derry itu. Dan saat ini juga mereka pun mulai membuang kebisuan.
"Yumita, jangan menunduk, angkat kepalamu," ucap Soraya dengan tegas.
Yumita perlahan mengangkat kepalanya saat ini, mulai berani menatap mata Soraya yang penuh siasat ke arah mata Yumita itu.
"Yumi, kakak tahu umurmu memasuki remaja, namun apa benar kamu ingin menikah muda?" tanya Soraya dengan kelembutan.
Yumita bingung saat ini, jika dia menjawab "iya" pasti Soraya akan terkejut dan pasti semakin banyak lagi pertanyaan yang akan ditanyakan Soraya saat ini.
Akankah Yumita menyetujuinya?
__ADS_1
Akankah pernikahan itu gagal?"
***