90 DAYS

90 DAYS
SORAYA MENYIASAT


__ADS_3

"Minggu depan, ibu berharap kalian semua akan datang ke acara pernikahan Tio," ucapnya.


Tio hanya menunduk malu sekarang, bahkan ini lebih mengejutkan lagi bagi mereka semua yang mendengarkannya. Yang tadinya hati Tsania tenang sekarang dia kembali bergemuruh seketika, dia tidak sabar ingin mengetahui dengan siapa pria itu menikah.


"Ma, Tio harap jangan disini Ma, biarkan keadaan duka ini berakhir dulu," ucap Tio menyanggahnya.


Dan sekarang ini juga dia telah pun begitu malu jika mamanya sampai Benar-benar mengucapkan siapa calonnya nanti. Apa kata Soraya? Apa kata semua orang?


Tio bingung bukan main, namun Yumita  tidak bisa dianggap berbincang pula. Ingin marah, namun wanita itu adik wanita yang dia cintai, namun jika tidak marah dadanya yang begitu sesak menahannya.


"Tante, dengan siapa Tio menikah?" tanya Soraya  pula.


Mamanya menatap Tio sedikit gusar dia pun tampak mengurungkan niatnya saat ini untuk mengatakan hal itu semua.


Tsania dengan wajah tidak sabarnya untuk mengetahui hal itu, namun mama Tio berkata lagi, Tio yang hampir putus asa sekarang harus menerima kenyataan hari ini.


"Untuk mempelai wanitanya nanti saja, ketika hari pernikahan itu berlangsung kalian akan melihatnya," ucapnya dengan tersenyum lebar.


Tio menghempaskan nafas beratnya saat ini. Dia bahkan menatap wajah mamanya dengan perasaan lega sekarang. Dia sangat malu, jika semua orang harus mendengarkan ini dengan waktu yang tidak tepat, begitulah pikir Tio.


Hari mulai sore sekarang, Tsania dan Rendra  berpamitan setelah mereka lama berbincang disana.


Semua dukungan penuh dia berikan kepada keluarga Sanjaya  itu. Bahkan saat ini juga Rendra  telah menganggap mereka adalah keluarganya.


"Tio, kau ingat jangan pernah berahasia padaku," ucap Rendra yang tersenyum lalu menepuk bahu Tio.


"Hm.. tidak ada rahasia," ucap Tio lemah.


Akhirnya Tsania pergi meninggalkan mereka semua bersama Rendra . Semenjal pengumungan Tio ingin menikah minggu depan nanti, membuat Tsania kembali diam membisu.


Ternyata hidup Benar-benar membuat mereka sekarang ini penuh dengan tanda tanya besar dan rahasia yang satu demi satu terungkap juga akhirnya.


Mau dikata apalagi, setiap manusia memiliki privasi masing-masing dan tidak seharusnya semua orang mencampuri urusan orang lain.


"Tsania, terima kasih kau sudah menerimaku," satu kecupan di tangan Tsania saat ini.


Terkejut Tsania dengan perilaku Rendra  yang lembut itu, dia bukan tidak suka, namun dia tidak cinta dan sulit menerimanya saat ini. Walau dimulut bilang iya, namun dihati masih ada Tio disana.

__ADS_1


Cintanya tidak pernah berbalas, namun entah mengapa hatinya pula yang sulit berpaling. Perasaan apa ini, pikir Tsania geram.


"Tsa.. apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rendra  lagi ketika dia berbicara Tsania bahkan tak menyahutinya.


"Hm.. tidak ada Rendra," ucapnya lemah.


"Apa kau lelah?" tanya Rendra lagi sambil menyetir mobil itu dengan santai.


"Sedikit," jawabnya singkat.


"Bahuku ini sial menopang segala lelahmu, ayo rebahkan kepalamu disini," ucap Rendra  dengan romantisnya.


Mau bagaimana romantisnya Rendra, hatinya masih belum terpaut. Hanya bibir saja yang senyum, hati masih sakit dan penasaran.


Untung saja dia membatalkan pergi ke Australia hari ini, dia juga bisa menundanya untuk minggu depan, dia begitu penasaran wanita beruntung mana yang dipilih Tio sebagai istrinya, pikir Tsania saat ini.


"Rendra, apa kamu tahu siapa yang dijadikan Tio sebagai istrinya?" Tiba-tiba mulut Tsania bertanya itu.


Rendra mengernyitkan dahinya sedikit, apa Tsania diam untuk memikirkan hal itu?


"Apa kau begitu penasaran ingin tahu?" tanya Rendra balik.


"Iya benar sekali, aku juga penasaran. Namun Tio tampak pemegang rahasia yang hebat, dia bahkan tampak seperti single saja dimata semua orang bukan?"


"Itulah mengapa, aku juga penasaran," ucapnya lagi.


Satu sisi saat ini, Soraya  tidak pulang ke apartemen dia menginap di rumah keluarga Derry  itu. Sedangkan keluarga Tio selaku adik dari nyonya besar juga masih berada disini.


Hanya keluarga yang ada disini, saatnya Ibu Tio dan ayahnya menjelaskan niat baik mereka untuk melamar Yumita  sebagai istri Tio tersebut.


"Soraya, ada yang ibu ingin bicarakan kepadamu," ucap ibu TIO  itu dengan nada yang lembut.


"Ada apa bu? Bicaralah," ucap Soraya  menyambutnya baik.


"Soraya, ibu dan ayah ingin melamar Yumita  sebagai istri Tio, apa kamu merestuinya?" tanya ibu dengan senyuman melebar.


Bukan hanya Soraya  yang terkejut, Tuan Frans  dan Derry  juga begitu sangat terkejut. Soraya  menatap Yumita  dengan penuh siasat, begitu juga dengan Derry, menatap Tio bingung dan wajah yang hampir tidak percaya.

__ADS_1


Kalau hari ini dia membuat semua stafnya terkejut dengan pernikahannya yang tersembunyi itu, hari ini dia juga lebih terkejut lagi dengan pernyataan ibu Tio itu.


"RAYA, apa kamu merestuinya nak?" Sekarang ayah TIO pula yang mengatakan ini.


"Hem.. maaf Om, saya harus bicara berdua dulu dengan Yumita, ini adalah hal besar yang akan dia lewati dalam hidupnya," jelas Soraya lagi.


"Ya Sudah, silahkan kalian berbicara empat mata dulu," ucap mama Tio saat ini.


"Derry, aku permisi dulu bawa Yumita  ke kamar kita," ucap Soraya.


"Iya sayang," jawab Derry dengan bijak.


Bagaimanapun Soraya  adalah kakak tertua dari Yumita, karena memang orang tua mereka telahpun tiada, itulah mengapa Soraya  yang mengambil alih mengenai hal ini untuk Yumita.


Mereka pun meninggalkan ruang keluarga itu saat ini, disana ada Nurdin dan Nadim juga yang bergabung.


Saat ini Tio hanya bisa diam, dia merasa malu dengan Derry  juga. Pasti sekarang Derry  berpikir yang bukan-bukan tentang Tio, karena memang Derry  tahu Tio mencintai Soraya, kenapa saat ini Tio ingin  menikahi Yumita  pula, pikir Derry  saat ini.


"Nurdin, Nadim, apa kalian sudah masuk sekolah?" tanya Derry  sekarang.


"Belum lagi bang, tapi kak Soraya  sudah mendaftarkan sekolah kami," ucap Nadim saat ini.


"Bagus kalau begitu, Kalian harus rajin belajarnya ya," ucap Tuan Frans  pula.


Mereka sangat senang, karena keluarga mereka saat ini Benar-benar baik dan begitu hangat kepada mereka. Dan saat ini juga Soraya  dan Yumita  telah berada dikamar.


Yumita  dan Soraya, duduk di tepi ranjang milik Derry  itu. Dan saat ini juga mereka pun mulai membuang kebisuan.


"Yumita, jangan menunduk, angkat kepalamu," ucap Soraya  dengan tegas.


Yumita perlahan mengangkat kepalanya saat ini, mulai berani menatap mata Soraya yang penuh siasat ke arah mata Yumita itu.


"Yumi, kakak tahu umurmu memasuki remaja, namun apa benar kamu ingin menikah muda?" tanya Soraya  dengan kelembutan.


Yumita bingung saat ini, jika dia menjawab "iya" pasti Soraya  akan terkejut dan pasti semakin banyak lagi pertanyaan yang akan ditanyakan Soraya  saat ini.


Akankah Yumita  menyetujuinya?

__ADS_1


Akankah pernikahan itu gagal?"


***


__ADS_2