90 DAYS

90 DAYS
TERCIDUK


__ADS_3

Malam pun telah larut saat ini. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Fanni  yang telah menyiapkan keperluannya untuk bekerja besok membuatnya malam ini hanya menghabiskan waktu dirumah saja.


Fanni  menuruni anak tangga dan perutnya yang terasa lapar tersebut membuat dia mencari sosok Meri saat ini. Menuju ruang makan, namun tidak ada sedikitpun masakan yang bisa di makan di sana.


Perutnya yang sudah berbunyi kuat itu mencoba mencari Meri ke dapur, namun wanita itu juga masih tidak terlihat, kemana Meri ya?? tanyanya dalam hati.


Dia pun karena laparnya terus saja mencari Meri dan menyusul ke kamar Meri tersebut. Fanni  menghampiri pintu kamar Meri tersebut, dan ingin mengetuknya.


Sedangkan Papa Fanni  masih tidak tahu, kalau anaknya tersebut telah pun sudah pulang ke rumah sore tadi. Papa Fanni  bahkan tidak menjemput anaknya tersebut.


Fanni  mendengar suara aneh dari balik pintu tersebut. Ya! itu suara ******* yang nikmat, ucap Fanni  dalam hatinya.


"Lagi.. mas, lagi..." ucap Meri begitu tampak tertagih.


"Mas siapa yang dia maksud??" tanya Fanni  dalam hatinya.


Fanni  masih tidak beranjak dari sana. Hari ini sampai jam segini dia masih tidak melihat Papanya tersebut. Fanni  tidak berpikir kesana, namun hatinya dan jantungnya berdebar kuat saat ini.


Mendengarkan celoteh Meri yang tampak begitu kenikmatan tersebut. Dan Fanni  tidak masih bisa mendengar suara yang dipanggil Meri dengan sebutan Mas tersebut.


"Auh...." suara mereka berdua terdengar melakukan pelepasan.


Pelepasan kenikmatan itu membuat keduanya melemah saat ini, Fanni  masih saja berdiri di depan pintu itu, tanpa berani mengetuknya saat ini.


Fanni  masih menunggu siapa pria yang disebutkan Meri tersebut. Rasa laparnya terkalahkan dengan rasa penasarannya tersebut.


Fanni  mengira Meri melakukan perselingkuhan dengan sekuriti di rumah ini, dan Fanni  pun mencoba mengirim pesan kepada sekuritinya yang satu lagi.


Dengan tidak beranjak dari pintu itu, sekuriti Fanni  pun datang namun datang berdua. Dia menyuruh hanya satu orang saja, yang satunya lagi masuk dalam daftar kecurigaannya.


Karena menurut Fanni  Mang Maman terlihat mencurigakan dan selalu bersikap nakal kepada Meri, dan ketika mereka berdua datang membuat Fanni  terkejut, siapa pria di dalam kamar itu?? tanya Fanni  di kepalanya saat ini.


baru saja mereka berdua ingin angkat bicara, Fanni  langsung memberikan kode kepada mereka berdua agar tidak berisik, dan dengan aba-aba dari Fanni  tersebut mereka harus segera melakukannya.


Bruak...


Pintu pun terbuka, dengan tubuh kekar kedua sekuriti tersebut pintu itu akhirnya terdobrak. Meri yang hanya berbalut selimut itu terkejut, sedangkan Papa Fanni  masih saja sedang menikmati dua gunung kembar itu.

__ADS_1


Padahal sudah terdengar melakukan pelepasan tadi, namun tampaknya Papa Fanni  itu sudah begitu ketagihan dengan tubuh Meri yang sintal tersebut.


"Hei, ngapain kalian disini! kenapa kalian melakukan ini! apa mau saya pecat!!" teriak Papa Fanni  dengan kemarahanya.


"M.. mm.. maaf pak," mereka pun mundur.


Fanni  pun masuk, jantungnya berdebar mendengar suara Papanya tersebut berada di dalam kamar itu. Hampir copot jantungnya saat ini, saat tahu ternyata Papanya melakukan perselingkuhan dengan pembantu sendiri.


"Pa, kau tega melakukan ini!!" teriak Fanni  yang sekarang muncul dari balik pintu.


Meri terkejut bukan main sekarang, selimut itu ditariknya dengan penuh hingga menutupi tubuhnya semua. Sedangkan Papa  Fanni  masih tidak bisa mengatakan apapun sekarang.


Papa Fanni  terkejut bukan main saat ini. Dia di pergoki oleh anaknya sendiri saat ini. Fanni tampak menyimpan kemarahannya, kesedihannya, teringat dengan Mamanya yang dikatakan telah meninggal dunia secara tiba-tiba tersebut.


Papa Fanni  tidak ingin Fanni  mengusut kematian Mamanya tersebut. Papa Fanni  mengatakan kepada Fanni, kalau mamanya meninggal karena serangan jantung dadakan.


Dan saat ini, Fanni  menuju Meri yang menyandar di lantai tersebut, Papanya pula dengan cepat berpakaian saat ini. Rambut Meri dia tarik dengan kuat, tampaknya Fanni  akan meluahkan kemarahannya  saat ini.


"Wanita ******! memalukan sekali kau ini!!" teriaknya kepada Meri saat ini.


"Kau pantas mendapatkan ini, dan ini masih kurang kau tahu!!" bentak Fanni  dan menyeret Meri yang tidak berbusana itu.


"Fanni! hentikan!!" ucap Papanya lagi.


"Kau bukan papaku!" teriak Fanni  lagi.


"Kau jangan kurang ajar Fanni l! tamparan itu melayang, di pipi Fanni .


Meri yang terseret itu langsung dihentikan oleh Papanya tersebut. Namun, tangan Fanni  yang satunya masih menjambak Meri saat ini.


Dan Fanni  menatap tajam Papanya sekarang. Tampanya dendam telah membara di hati Fanni  terhadap papanya itu.


Meri yang, berhasil lepas dari cengkraman Fanni  tersebut langsung memakai pakaiannya, kedua sekuriti itu langsung keluar tidak berani ikut campur urusan tuan rumah mereka tersebut.


Dan kemudian tiba-tiba Fanni  yang merasakan sakit di pipinya itu pun, dan merasakan dendam membara itu, hampir menahan tangisnya.


"Aku yakin, kalian yang membunuh Mamaku!!" teriak Fanni  lagi dan menunjuk keduanya.

__ADS_1


"Mamamu meninggal karena serangan jantung!!" teriak Papanya lagi.


"Tidak, aku tidak yakin setelah melihat ini, kau perempuan ******! kau akan membusuk di penjara sebentar lagi!" teriak Fanni  kembali menunjuk Meri.


"Kau jangan seperti itu Fanni  kepadanya!" teriak Papanya kembali.


"Kenapa memangnya? dia hanya perempuan murahan!" tambah Fanni  lagi.


"Dia sekarang menjadi istri Papamu ini!!" dengan tegas Papa Fanni  tersebut mengatakannya.


Semenjak Fanni  dirawat, baru kemarin Papa Fanni  menikahi Meri dengan cepat namun hanya secara siri saja. Dan Meri belum sempat pulang kampung, saat ini Fanni  terkejut sekaligus terpukul, sanggup sekali Papanya mengatakan hal itu.


Sedangkan kematian Mamanya tersebut sebulan saja belum ada, pikir Fanni  saat ini. Meri yang  tampak sudah diakui oleh Papa Fanni  tersebut pun, kini menunjukkan keangkuhannya sebagai Mama Tiri Fanni  tersebut.


"Hei, kau ingat kau ini adalah anak tiriku, jangan macam-macam!" ucap Meri yang, menunjukkan taringnya di depan Fanni.


"Apa? kau mengancamku! perempuan sial!" kembali Fanni  menjambak rambutnya.


Saling jambak menjambak saat ini, di reraikan oleh Papanya tersebut. Fanni  begitu geram dan marah sekarang.


Rumah ini atas nama Mamanya, karena memang rumah ini adalah rumah warisan kakek dari Mamanya tersebut. Fanni  berencana akan menghubungi pengacara mereka, dan Fanni  tidak akan segan-segan mengusir keduanya.


Karena geram dan marahnya Fanni  saat ini, dia pun hanya menatap tajam keduanya. Lalu tanpa banyak bicara, Fanni  meninggalkan keduanya di depan kamar Meri tersebut.


Meri ingat dengan sikap Fanni  yang tampak mengalah itu, Fanni  telah kalah. Namun, yang tidak diingat oleh Meri dan Papa Fanni  tersebut, adalah Fanni  menyimpan dendam yang besar kepada keduanya saat ini.


Pruak..


Suara pintu di hempaskan, Fanni  masuk ke kamarnya dan segera mengunci kamar itu lagi. Rasa lapar tersebut, telah pun hilang, saat ini. Mengingat yang baru saja terjadi, membuat Fanni  sedikit stres dengan masalah yang baru saja datang kembali di kehidupannya.


Sama sekali dia tidak pernah menyangka Papanya itu bisa berselingkuh dengan pembantu sendiri, dan dia tidak pernah ambil tahu tentang kematian Mamanya sendiri. Anak seperti apa aku ini, pikir Fanni  dalam hatinya.


Matanya yang berkaca-kaca melihat foto dirinya dan Mamanya tersebut di bingkai kecil itu membuat Fanni  menangis juga malam ini. Tangisan rindu dan tangisan dendam yang ingin terluahkan sekarang ini.


"Kalian lihat saja nanti!!" umpat Fanni  dalam hatinya dan bibirnya di ketip kuat.


***

__ADS_1


__ADS_2