
Malam pun telah larut saat ini. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Fanni yang telah menyiapkan keperluannya untuk bekerja besok membuatnya malam ini hanya menghabiskan waktu dirumah saja.
Fanni menuruni anak tangga dan perutnya yang terasa lapar tersebut membuat dia mencari sosok Meri saat ini. Menuju ruang makan, namun tidak ada sedikitpun masakan yang bisa di makan di sana.
Perutnya yang sudah berbunyi kuat itu mencoba mencari Meri ke dapur, namun wanita itu juga masih tidak terlihat, kemana Meri ya?? tanyanya dalam hati.
Dia pun karena laparnya terus saja mencari Meri dan menyusul ke kamar Meri tersebut. Fanni menghampiri pintu kamar Meri tersebut, dan ingin mengetuknya.
Sedangkan Papa Fanni masih tidak tahu, kalau anaknya tersebut telah pun sudah pulang ke rumah sore tadi. Papa Fanni bahkan tidak menjemput anaknya tersebut.
Fanni mendengar suara aneh dari balik pintu tersebut. Ya! itu suara ******* yang nikmat, ucap Fanni dalam hatinya.
"Lagi.. mas, lagi..." ucap Meri begitu tampak tertagih.
"Mas siapa yang dia maksud??" tanya Fanni dalam hatinya.
Fanni masih tidak beranjak dari sana. Hari ini sampai jam segini dia masih tidak melihat Papanya tersebut. Fanni tidak berpikir kesana, namun hatinya dan jantungnya berdebar kuat saat ini.
Mendengarkan celoteh Meri yang tampak begitu kenikmatan tersebut. Dan Fanni tidak masih bisa mendengar suara yang dipanggil Meri dengan sebutan Mas tersebut.
"Auh...." suara mereka berdua terdengar melakukan pelepasan.
Pelepasan kenikmatan itu membuat keduanya melemah saat ini, Fanni masih saja berdiri di depan pintu itu, tanpa berani mengetuknya saat ini.
Fanni masih menunggu siapa pria yang disebutkan Meri tersebut. Rasa laparnya terkalahkan dengan rasa penasarannya tersebut.
Fanni mengira Meri melakukan perselingkuhan dengan sekuriti di rumah ini, dan Fanni pun mencoba mengirim pesan kepada sekuritinya yang satu lagi.
Dengan tidak beranjak dari pintu itu, sekuriti Fanni pun datang namun datang berdua. Dia menyuruh hanya satu orang saja, yang satunya lagi masuk dalam daftar kecurigaannya.
Karena menurut Fanni Mang Maman terlihat mencurigakan dan selalu bersikap nakal kepada Meri, dan ketika mereka berdua datang membuat Fanni terkejut, siapa pria di dalam kamar itu?? tanya Fanni di kepalanya saat ini.
baru saja mereka berdua ingin angkat bicara, Fanni langsung memberikan kode kepada mereka berdua agar tidak berisik, dan dengan aba-aba dari Fanni tersebut mereka harus segera melakukannya.
Bruak...
Pintu pun terbuka, dengan tubuh kekar kedua sekuriti tersebut pintu itu akhirnya terdobrak. Meri yang hanya berbalut selimut itu terkejut, sedangkan Papa Fanni masih saja sedang menikmati dua gunung kembar itu.
__ADS_1
Padahal sudah terdengar melakukan pelepasan tadi, namun tampaknya Papa Fanni itu sudah begitu ketagihan dengan tubuh Meri yang sintal tersebut.
"Hei, ngapain kalian disini! kenapa kalian melakukan ini! apa mau saya pecat!!" teriak Papa Fanni dengan kemarahanya.
"M.. mm.. maaf pak," mereka pun mundur.
Fanni pun masuk, jantungnya berdebar mendengar suara Papanya tersebut berada di dalam kamar itu. Hampir copot jantungnya saat ini, saat tahu ternyata Papanya melakukan perselingkuhan dengan pembantu sendiri.
"Pa, kau tega melakukan ini!!" teriak Fanni yang sekarang muncul dari balik pintu.
Meri terkejut bukan main sekarang, selimut itu ditariknya dengan penuh hingga menutupi tubuhnya semua. Sedangkan Papa Fanni masih tidak bisa mengatakan apapun sekarang.
Papa Fanni terkejut bukan main saat ini. Dia di pergoki oleh anaknya sendiri saat ini. Fanni tampak menyimpan kemarahannya, kesedihannya, teringat dengan Mamanya yang dikatakan telah meninggal dunia secara tiba-tiba tersebut.
Papa Fanni tidak ingin Fanni mengusut kematian Mamanya tersebut. Papa Fanni mengatakan kepada Fanni, kalau mamanya meninggal karena serangan jantung dadakan.
Dan saat ini, Fanni menuju Meri yang menyandar di lantai tersebut, Papanya pula dengan cepat berpakaian saat ini. Rambut Meri dia tarik dengan kuat, tampaknya Fanni akan meluahkan kemarahannya saat ini.
"Wanita ******! memalukan sekali kau ini!!" teriaknya kepada Meri saat ini.
"Kau pantas mendapatkan ini, dan ini masih kurang kau tahu!!" bentak Fanni dan menyeret Meri yang tidak berbusana itu.
"Fanni! hentikan!!" ucap Papanya lagi.
"Kau bukan papaku!" teriak Fanni lagi.
"Kau jangan kurang ajar Fanni l! tamparan itu melayang, di pipi Fanni .
Meri yang terseret itu langsung dihentikan oleh Papanya tersebut. Namun, tangan Fanni yang satunya masih menjambak Meri saat ini.
Dan Fanni menatap tajam Papanya sekarang. Tampanya dendam telah membara di hati Fanni terhadap papanya itu.
Meri yang, berhasil lepas dari cengkraman Fanni tersebut langsung memakai pakaiannya, kedua sekuriti itu langsung keluar tidak berani ikut campur urusan tuan rumah mereka tersebut.
Dan kemudian tiba-tiba Fanni yang merasakan sakit di pipinya itu pun, dan merasakan dendam membara itu, hampir menahan tangisnya.
"Aku yakin, kalian yang membunuh Mamaku!!" teriak Fanni lagi dan menunjuk keduanya.
__ADS_1
"Mamamu meninggal karena serangan jantung!!" teriak Papanya lagi.
"Tidak, aku tidak yakin setelah melihat ini, kau perempuan ******! kau akan membusuk di penjara sebentar lagi!" teriak Fanni kembali menunjuk Meri.
"Kau jangan seperti itu Fanni kepadanya!" teriak Papanya kembali.
"Kenapa memangnya? dia hanya perempuan murahan!" tambah Fanni lagi.
"Dia sekarang menjadi istri Papamu ini!!" dengan tegas Papa Fanni tersebut mengatakannya.
Semenjak Fanni dirawat, baru kemarin Papa Fanni menikahi Meri dengan cepat namun hanya secara siri saja. Dan Meri belum sempat pulang kampung, saat ini Fanni terkejut sekaligus terpukul, sanggup sekali Papanya mengatakan hal itu.
Sedangkan kematian Mamanya tersebut sebulan saja belum ada, pikir Fanni saat ini. Meri yang tampak sudah diakui oleh Papa Fanni tersebut pun, kini menunjukkan keangkuhannya sebagai Mama Tiri Fanni tersebut.
"Hei, kau ingat kau ini adalah anak tiriku, jangan macam-macam!" ucap Meri yang, menunjukkan taringnya di depan Fanni.
"Apa? kau mengancamku! perempuan sial!" kembali Fanni menjambak rambutnya.
Saling jambak menjambak saat ini, di reraikan oleh Papanya tersebut. Fanni begitu geram dan marah sekarang.
Rumah ini atas nama Mamanya, karena memang rumah ini adalah rumah warisan kakek dari Mamanya tersebut. Fanni berencana akan menghubungi pengacara mereka, dan Fanni tidak akan segan-segan mengusir keduanya.
Karena geram dan marahnya Fanni saat ini, dia pun hanya menatap tajam keduanya. Lalu tanpa banyak bicara, Fanni meninggalkan keduanya di depan kamar Meri tersebut.
Meri ingat dengan sikap Fanni yang tampak mengalah itu, Fanni telah kalah. Namun, yang tidak diingat oleh Meri dan Papa Fanni tersebut, adalah Fanni menyimpan dendam yang besar kepada keduanya saat ini.
Pruak..
Suara pintu di hempaskan, Fanni masuk ke kamarnya dan segera mengunci kamar itu lagi. Rasa lapar tersebut, telah pun hilang, saat ini. Mengingat yang baru saja terjadi, membuat Fanni sedikit stres dengan masalah yang baru saja datang kembali di kehidupannya.
Sama sekali dia tidak pernah menyangka Papanya itu bisa berselingkuh dengan pembantu sendiri, dan dia tidak pernah ambil tahu tentang kematian Mamanya sendiri. Anak seperti apa aku ini, pikir Fanni dalam hatinya.
Matanya yang berkaca-kaca melihat foto dirinya dan Mamanya tersebut di bingkai kecil itu membuat Fanni menangis juga malam ini. Tangisan rindu dan tangisan dendam yang ingin terluahkan sekarang ini.
"Kalian lihat saja nanti!!" umpat Fanni dalam hatinya dan bibirnya di ketip kuat.
***
__ADS_1