90 DAYS

90 DAYS
ANTARA KEKASIH DAN ISTRI


__ADS_3

Jantung Soraya  berdetak dengan kuat saat ini, dia yakin Derry  tidak benar-benar ingin bertemu dengan tuan Osman yang disebutkan tadi. Soraya  masih tertunduk, dia takut nanti dimarahi oleh Derry  setelah mereka keluar dari restoran tersebut.


      "Ayo sekarang!!" ucap Derry  sudah berdiri.


      "Sekarang??" tanya Tio yang mendongakkan kepalanya.


      "Iya, ini sudah hampir jam sepuluh, aku takut tuan Osman menungguku dengan lama," ucap Derry.


    "Der, tapi Soraya  belum meminum minumannya sama sekali!!" protes Tio.


    "Di sana nanti biar aku pesankan minuman yang sama, ini perintah!!" ucap Derry  tegas dan dingin.


     Jika sudah begini, Tio juga tidak bisa membantah. DERRY adalah ceo perusahaan tersebut, sedangkan Tio hanyalah wakilnya saja.


     Ceo berhak mengatur semuanya dan hak veto selalu berada di tangan Derry . Tio akhirnya harus mengikhlaskan Soraya  dibawa oleh Derry  malam ini.


      Mereka berdua pergi tanpa berpamitan kepada Fanni  yang masih di toilet saat ini. Sekarang, Fanni  kembali menghampiri meja nomor sembilan, namun terlihat hanya Tio yang berada disana. 


      "Tio..yang lain kemana??" tanya Fanni  bingung.


     "Derry  dan Soraya harus bertemu dengan tuan Osman," ucap Tio lemah.


   "Soraya?? kenapa bukan kau??" tanya Fanni bingung.


   "Ya! karena Soraya juga bagian dari kepala pemasaran, maka dari itu Derry  membawa Soraya  juga," ucap Tio.


   "Bukan hanya bagian audit keuangan??" tanya Fanni  lagi.


  "Tidak, sepertinya sekarang Derry  menambah pekerjaan untuk Soraya . Dari awal Derry  menjadi ceo, dia selalu membuat Soraya  mendapat pekerjaan yang banyak," ucap Tio.


   "Apa Derry  membenci Soraya??" tanya Fanni  lagi.


   "Sepertinya begitu Fan, Derry  selalu ingin membuat karir Soraya hancur, dia selalu mencari masalah," ucap Tio.


   "Kenapa dengan Derry ??" ucap Fanni  lemah.


  "Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku juga tidak bisa membantu Soraya, Derry  adalah ceo dan aku di bawahnya," jelas Tio.


    "Lantas, mengapa Soraya  masih bekerja di perusahaan papa Frans?? tanya lagi Fanni .


    "Om Frans sangat menyukai kinerja seorang Soraya, dia sudah lama bekerja di perusahaan tersebut," ucap Tio.


  "Pantas saja, mama Derry  juga mengenal baik seorang Soraya," ucap Fanni .

__ADS_1


    "Oh iya, aku diperintahkan pak ceo mengantarmu pulang. Apa kau ingin pulang sekarang??" tanya Tio.


   "Yasudah Tio, aku juga lelah."


   "Kamu sampai kesini kapan??" tanya Tio lagi.


    "Sudah tiga hari yang lalu," ucap Fanni .


      Tio dan Fanni  sudah memasuki parkiran, mereka berdua beranjak ingin pulang. TIO pula harus mengantarkan Fanni  pulang malam ini.


     Sedangkan Soraya  sudah berada dalam mobil suaminya tersebut. Kali ini mobil Derry  tampak di buat laju selajunya. Derry  begitu marah dengan Soraya.


      Soraya  sendiri hanya diam membatu saat ini, sambil berpegangan dengan pegangan yang tergantung di kepalanya. Soraya  saat ini hanya mengeluarkan buliran air mata.


     Derry  belum angkat bicara, sejak awal mereka masuk kedalam mobil berwarna hitam pekat itu. Entah apa yang di kesalkan seorang Derry, hingga dia membuat mobilnya begitu laju dan tak terarah.


      Padahal, seseorang yang di tunggunya sudah pun datang ke negara ini. Bahkan belum 90 hari, Fanni  sudah kembali menemui Derry  lagi.


      Kehadiran Fanni  saja sudah membuat Soraya  begitu sakit, apalagi dengan kemarahan suaminya yang seperti ini. Sepertinya Derry  begitu terbakar api cemburu saat ini.


      Mobil sport hitam itu melaju ke arah pantai yang ada di kota Jakarta. Pantai tersembunyi itu mereka datangi malam-malam begini. Benar kata hati Soraya, Derry  tidak benar-benar bertemu dengan tuan Osman seperti yang di bicarakan tadi.


      Sampai di pantai, Derry  membuka kan pintu untuk istrinya sendiri. Namun Derry  masih kaku dan diam tanpa bahasa apapun. Soraya  hanya menurut dan turun, Derry  duduk di pinggir pantai tersebut.


      Soraya pun ikut duduk di sebelahnya, dengan mengangkat kedua kaki, lalu wajah Soraya  tertunduk dan keluarlah butiran air jernih yang sejak tadi sudah tertahan.


       "Raya, kau kenapa menangis??" tanya Derry  pelan.


      "Raya, aku tidak memukulmu, tidak memakimu juga, lalu mengapa kau menangis??" ucapnya lagi.


    Soraya  hanya menggelengkan kepalanya saat ini. Dia juga tidak tahu ingin memberikan jawaban apa kepada suaminya tersebut, apa yang dikatakan Derry  sangat benar, Derry  tidak memaki soraya  atau pun memukulnya, padahal Soraya  sudah pergi dengan yang bukan suaminya tersebut.


      "Raya, aku tidak suka melihatmu pergi dengan Tio," ucap Derry  terus terang.


    Ketika Derry  mengatakan itu, Soraya langsung mendongakkan kepalanya, matanya benar-benar terlihat sembab dan masih basah lagi.


      "Hei..jangan menangis," ucap Derry  sambil mengusap pipi Soraya .


    "Der, jangan perlakukan aku sebaik ini Der!!" ucap Soraya  sedikit keras dan menepis tangan Derry.


   "Kenapa?? kau istriku, ingat itu Raya!!" bentak Derry .


   "Ya! sekarang aku masih istrimu, sebentar lagi kau juga akan membuangku!!" ucap Soraya  lalu membuang pandangan ke arah kanan.

__ADS_1


   "Raya!! sini lihat aku!!" ucap Derry  lagi.


   "Aku sangat dilema dan bingung!!" ucap Derry.


   "Dilema?? mengapa?? Fanni  sudah hadir di hadapanmu, kau bisa saja langsung membuangku!!" ucap Soraya  lagi.


   "Tidak, aku tidak akan membuangmu setega itu," ucap Derry.


   "Tinggal 30 hari lagi saja Der, jangan pernah perlakukan aku dengan baik lagi, aku sudah tidak sanggup," terhenti  disitu suara Soraya .


    "Raya, maaf kan aku," ucap Derry.


     "Raya, aku ingin berbicara serius kepadamu," ucap Derry .


    "Katakan saja," ucap Raya menahan gejolak air mata yang ingin keluar.


    Soraya sepertinya sudah bisa menebak apa yang ingin Derry  katakan sekarang kepada dirinya. Soraya  seolah kuat untuk mendengarkan apa yang sebentar lagi yang akan dikatakan Derry  kepadanya.


    "Aku..maaf kan aku," ucap Derry  terhenti.


    "katakanlah Derry , jangan bertele-tele!!" ucap Soraya  seolah kuat.


    "Baiklah Raya, nanti saja ku katakan setelah 30 hari lagi berakhir," ucap Derry  lagi.


    Tiba-tiba Derry  memaut pinggang Soraya  yang terlihat ramping itu. Derry  mengangkat tubuh Soraya  tanpa izin soraya . Soraya  terkejut dan memukul bahu Derry , dia tidak ingin digendong.


       "Turunkan aku!!" bentak Soraya .


      "Aku akan memasukkanmu ke dalam mobil," ucap Derry  sambil tersenyum.


        Mengapa Derry  masih Dilema??


      Mengapa juga Derry  sulit melepaskan Soraya ??


     Sebuah tanya besar sekarang berada di kepala Soraya. Dia ingin rasanya meluahkan apa yang ada dipikiran saya saat ini, namun sayangnya dia tidak memiliki hak veto yang kuat untuk itu.


    "Raya, jangan pernah tinggalkanku," ucap Derry  sambil memegangi tangan soraya.


    "Maksudmu?? Fanni  sudah datang Derry!! apa kau gila??" ucap Soraya  seolah ingin lebih tahu tentang ucapan itu.


    "Diam lah, kita lihat saja 30 hari kedepan!!" pungkas Derry .


       Entah apa yang merasuki Derry  malam ini, dia berkata dengan tiba-tiba. Derry  yang mengingat kembali perkataannya  itu, tampak bingung dan menyesali perkataan tanpa dipikirkan tersebut.

__ADS_1


      Yang diinginkan sudah pun di depan mata, namun Derry  bisa berkata kepada SORAYA  agar tidak meninggalkan dirinya, padahal sebentar lagi, Derry  lah yang akan meninggalkan SORAYA.


     ****


__ADS_2