
Tio dan Ayahnya melangkah lebih awal, Soraya tampak takut-takut, namun ibu Tio menuntun Soraya masuk sambil menggenggam tangan Soraya dengan lembut.
"Wah.. sudah sampai..." sambutan hangat dari Nyonya besar dan Tuan Frans yang berjalan ke arah ambang pintu.
"Soraya!" nada terkejut dan hampir tidak percaya.
"Dan.. ini siapa saja??" tanya Tuan Frans tampak tidak percaya.
"Kenalkan Om, ini Nurdin dan yang manis ini Nadim," ucap Tio sambil memegang kedua bahu adik Soraya tersebut.
"Wah... Tio, ternyata diam-diam sudah temu keluarga aja," ucap NYonya besar tampak dia salah paham.
Ibu dan Ayah Tio saling pandang memandang saat ini. Nyonya besar berpikiran Tio menjalin hubungan dengan Soraya, padahal anaknya sendiri telah menjadi suami Soraya.
Nurdin dan Nadim tampak sopan dan santun, mereka mencium kedua tangan Mama dan Papa Derry tersebut. Sangat senang Tuan Frans dengan tingkah laku sopan dan santun kedua adik Soraya itu.
"Bicaranya kita lanjutkan ke dalam aja, sambil makan.." ucap Tuan Frans membawa Nadim dan Nurdin juga masuk.
Mata mereka takut melihat keliling rumah besar dan megah ini. Bahkan rumah ini lebih besar dua kali lipat dari rumah Tio. Ada beberapa pembantu berlalu lalang, menyiapkan sesuatu di meja makan.
Mereka dibawa ke arah meja maka saat ini. Dan Soraya di peluk erat oleh Mama Derry tersebut, karena mereka juga saling kenal dan akrab.
Mama Derry memang menyukai Soraya, dan Mama Derry berencana menjodohkan Soraya dan Tio, namun ternyata mereka sudah bersama malam ini, pikir Mama Derry tampak gembira menyambut mereka semua.
"Ayo.. duduk, kita makan," sambil tangan menyuruh mereka duduk dan begitu hangat.
"Gimana keadaan Derry tante??" tanya Tio. membuka suaranya.
"Derry... masih begitu saja dia, namun kemarin dia tampak lemah lagi," nada itu bertukar menjadi lemah.
Tuan Frans memegang bahu istrinya, untuk memberikan kekuatan kepada Nyonya besar yang tampak ingin menangis itu. Hati seorang ibu akan cepat sedih, jika anaknya terluka apalagi seperti Derry saat ini.
"Tio, sebaiknya kita makan dulu saja, nanti baru kita melihat Derry ke atas," ucap Tuan Frans meyela.
"Iya, benar itu... Ayah juga sudah lapar," sahut ayah Tio menceriakan suasana.
"Huh.. dasar ayah," ucap ibu Tio.
__ADS_1
Seketika Nyonya besar tersenyum, mendengar ucapan adiknya yang selalu lapr dari dulu lagi. Apalagi kalau Mama Derry yang memasak ayah Tio sangat menyukai masakan Mama Derry tersebut.
Mereka memang adik dan kakak, namun tidak sedarah. Dan mereka pula telah saling sayang menyayangi, ayah mereka tidak membedakan keduanya.
Dengan lahap mereka makan, Mama Derry yang memasaknya dan dibantu oleh beberapa orang pembantu rumah disini.
Ketika makan berlangsung Tuan Frans membuka suara menanyakan perihal tentang Soraya kapan bisa masuk kerja kembali.
Memang, Soraya sudah bilang dia ingin mengambil cuti selama dua minggu. Namun kenyataannya saat ini untuk apa lagi dia harus bercuti, bahkan kedua orang tua yang ingin dia rawat sudah pun tiada.
"Raya.. gak ada kamu kantor kerepotan!!" ucap Tuan Frans sambil melahap daging masak merah tersebut.
"Hehe.. kan banyak yang lainnya Tuan, ada Tsania, ada Alina, bahkan Faiz yang mampu bagian audit juga ada," jelas Soraya tidak ingin dipuji sendirian.
"Iya... tapi kan kemampuan mereka masih di bawah kamu, yang bisa memanajemen keuangan bahkan di bagian pemasaran kamu juga handal!!" ucap Tuan Frans lagi.
"Oh.. iya, satu lagi. Tuan Osman itu selalu ingin membeli tanah kita, padahal dia tahu, perusahaan kita mengelola lahan hanya untuk disewakan. Siapa yang memperkenalkan dia ke perusahaan kita??" tanya Tuan Frans lagi.
"Oh.. Tuan Osman yang membawanya Derry Om," ucap Tio menyela.
"Oh..begitu. Eh.. Nurdin, Nadim.. kalian harus tambah makanya, kalau tidak om akan marah!" ucap Tuan Frans mengangkat garpunya.
Dua puluh menit berlalu, mereka semua telah selesai makan malam tersebut. Soraya hanya memakan sedikit, rasanya mulutnya susah untuk mengunyah makanan.
Dia tampak sangat tegang sekali, namun ibu Tio yang bisa merasakannya tetap memberikan Soraya kehangatan tatapan yang begitu memberikan semangat.
"Apa kita bisa melihat Derry sekarang tante??" tanya Tio kembali.
"Yasudah, ayo kita naik ke atas, Derry berada di kamarnya," ucap Nyonya besar.
Mereka pun menaiki anak tangga satu persatu. Soraya gemetar, kakinya seolah kaku untuk melangkah, lagi-lagi ibu Tio yang menuntunnya.
Mama Derry dan Tuan Frans tidak berpikir apapun dengan kehadiran Soraya disini. Dia hanya berpikir Soraya telah menjadi bagian dari keluarganya juga, karena Soraya dianggap adalah calon istri dari keponakanya tersebut.
Cekrek....
Suara pintu terbuka, kini mereka semua masuk. Derry hanya berdiam diri di tepi ranjang, kali ini dia memegang satu buku yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Mama dan Papanya tersebut.
__ADS_1
Derry yang menghadap membelakangi pintu masuk tersebut, langsung di hampiri oleh Mamanya, dan kedua bahunya dipegang lembut oleh Mamanya itu dengan bisikan kecil.
"Nak.. ada Tio datang," bisik Mamanya lembut.
Soraya jantungnya bergetar, dia menahan tangis nya yang hampir pecah, ingin dia menjerit saat ini, melihat Derry tanpa suara kaku seolah tidak ada seorang pun.
Kenapa dia bisa begini??" teriak Soraya dalam hatinya.
Derry tidak bergeming sedikitpun, hingga Tio memutuskan untuk berdiri ke hadapan Derry yang menghadap tirai balkon yang pintu nya tersebut telah pun dikunci oleh kedua orang tua Derry.
Tio berdiri tegak, Derry masih menunduk melihat cover novel yang di pegangnya. Ya! novel "Suami malaikatku" yang pernah sempat dia baca dan ternyata dia bawa juga.
Novel itu milik Soraya. Dia meninggalkannya di kamar hotel, ketika berada di kota Surabaya, Soraya pula dapat panggilan dari adik-adiknya agar segera pulang ke kampung halaman.
Tio memegang bahu Derry dan tangan Tio kali ini mengangkat wajh Derry untuk melihatnya, Derry tampak masih berkeras.
Mama Derry sudah terisak saat itu. Dia pun hanya menyela wajahnya beberapa saat, kemudian tiba-tiba, Ibu Tio menuntun Soraya melangkah menuju ke hadapan Derry.
Dengan langkah pelan, rasa di hatinya bercampur aduk sekarang, dia tampak bergetar karena dengan sekuat tenaga menahan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya yang kecil itu.
Derry tampak menarik nafasnya dengan panjang, haruman itu dia sedut dengan memejamkan matanya. Saat ini Soraya sudah pun berdiri tepat di hadapannya dan Tio bergeser sejenak.
"RAYA..." ucapnya bersuara.
Bukan main terkejutnya Mama Derry dan Tuan Frans, ketika anaknya bersuara menyebut nama "Raya".
"Ada rahasia apa ini??" pikir Tuan Frans bisa menangkapnya.
Soraya menumpahkan air matanya dengan deras, kedua tangannya menutup mulutnya agar tidak berteriak menangis kuat, melihat Derry seperti ini membuat hatinya sakit, dadanya sesak.
Dia menyesal telah menuduh Derry yang bukan-bukan, bahkan meminta Derry menceraikannya. Membuat Derry berpikir banyak seolah Derry adalah dalang dari semua masalah yang ada di hidup Soraya.
"Derry.. nak, kamu bersuara??" ucap Nyonya besar juga histeris.
Berulang kali dia memandangi wajah Soraya tersebut, namun Mama Derry masih belum bersuara kembali selain suara tangisan dan ratapan anaknya tiba-tiba membuka mulutnya.
Oke.. gais!! lanjutannya ada nanti kok gais, segini dulu ya gais!!
__ADS_1
Nih, yang udah gak sabar nunggu Soraya bertemu Derry sudah Thor penuhi keinginannya ya...!!