90 DAYS

90 DAYS
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Tio dan Ayahnya melangkah lebih awal, Soraya  tampak takut-takut, namun ibu Tio menuntun Soraya  masuk sambil menggenggam tangan Soraya  dengan lembut.


"Wah.. sudah sampai..." sambutan hangat dari Nyonya besar  dan Tuan Frans  yang berjalan ke arah ambang pintu.


"Soraya!" nada terkejut dan hampir tidak percaya.


"Dan.. ini siapa saja??" tanya Tuan Frans  tampak tidak percaya.


"Kenalkan Om, ini Nurdin dan yang manis ini Nadim," ucap Tio sambil memegang kedua bahu adik Soraya  tersebut.


"Wah... Tio, ternyata diam-diam sudah temu keluarga aja," ucap NYonya besar tampak dia salah paham.


Ibu dan Ayah Tio saling pandang memandang saat ini. Nyonya besar  berpikiran Tio menjalin hubungan dengan Soraya, padahal anaknya sendiri telah menjadi suami Soraya.


Nurdin dan Nadim tampak sopan dan santun, mereka mencium kedua tangan Mama dan Papa Derry  tersebut. Sangat senang Tuan Frans  dengan tingkah laku sopan dan santun kedua adik Soraya  itu.


"Bicaranya kita lanjutkan ke dalam aja, sambil makan.." ucap Tuan Frans  membawa Nadim dan Nurdin juga masuk.


Mata mereka takut melihat keliling rumah besar dan megah ini. Bahkan rumah ini lebih besar dua kali lipat dari rumah Tio. Ada beberapa pembantu berlalu lalang, menyiapkan sesuatu di meja makan.


Mereka dibawa ke arah meja maka saat ini. Dan Soraya di peluk erat oleh Mama Derry  tersebut, karena mereka juga saling kenal dan akrab.


Mama Derry  memang menyukai Soraya, dan Mama Derry  berencana menjodohkan Soraya  dan Tio, namun ternyata mereka sudah bersama malam ini, pikir Mama Derry  tampak gembira menyambut mereka semua.


"Ayo.. duduk, kita makan," sambil tangan menyuruh mereka duduk dan begitu hangat.


"Gimana keadaan Derry  tante??" tanya Tio. membuka suaranya.


"Derry... masih begitu saja dia, namun kemarin dia tampak  lemah lagi," nada itu bertukar menjadi lemah.


Tuan Frans  memegang bahu istrinya, untuk memberikan kekuatan kepada Nyonya besar  yang tampak ingin menangis itu. Hati seorang ibu akan cepat sedih, jika anaknya terluka apalagi seperti Derry  saat ini.


"Tio, sebaiknya kita makan dulu saja, nanti baru kita melihat Derry  ke atas," ucap Tuan Frans  meyela.


"Iya, benar itu... Ayah juga sudah lapar," sahut ayah Tio menceriakan suasana.


"Huh.. dasar ayah," ucap ibu Tio.

__ADS_1


Seketika Nyonya besar  tersenyum, mendengar ucapan adiknya yang selalu lapr dari dulu lagi. Apalagi kalau Mama Derry  yang memasak ayah Tio sangat menyukai masakan Mama Derry  tersebut.


Mereka memang adik dan kakak, namun tidak sedarah. Dan mereka pula telah saling sayang menyayangi, ayah mereka tidak membedakan keduanya.


Dengan lahap mereka makan, Mama Derry  yang memasaknya dan dibantu oleh beberapa orang pembantu rumah disini.


Ketika makan berlangsung Tuan Frans  membuka suara menanyakan perihal tentang Soraya  kapan bisa masuk kerja kembali.


Memang, Soraya  sudah bilang dia ingin mengambil cuti selama dua minggu. Namun kenyataannya saat ini untuk apa lagi dia harus bercuti, bahkan kedua orang tua yang ingin dia rawat sudah pun tiada.


"Raya.. gak ada kamu kantor kerepotan!!" ucap Tuan Frans  sambil melahap daging masak merah tersebut.


"Hehe.. kan banyak yang lainnya Tuan, ada Tsania, ada Alina, bahkan Faiz yang mampu bagian audit juga ada," jelas Soraya  tidak ingin dipuji sendirian.


"Iya... tapi kan kemampuan mereka masih di bawah kamu, yang bisa memanajemen keuangan bahkan di bagian pemasaran kamu juga handal!!" ucap Tuan Frans  lagi.


"Oh.. iya, satu lagi. Tuan Osman itu selalu ingin membeli tanah kita, padahal dia tahu, perusahaan kita mengelola lahan hanya untuk disewakan. Siapa yang memperkenalkan dia ke perusahaan kita??" tanya Tuan Frans  lagi.


"Oh.. Tuan Osman yang membawanya Derry  Om," ucap Tio menyela.


"Oh..begitu. Eh.. Nurdin, Nadim.. kalian harus tambah makanya, kalau tidak om akan marah!" ucap Tuan Frans  mengangkat garpunya.


Dua puluh menit berlalu, mereka semua telah selesai makan malam tersebut. Soraya  hanya memakan sedikit, rasanya mulutnya susah untuk mengunyah makanan.


Dia tampak sangat tegang sekali, namun ibu Tio yang bisa merasakannya tetap memberikan Soraya  kehangatan tatapan yang begitu memberikan semangat.


"Apa kita bisa melihat Derry  sekarang tante??" tanya Tio kembali.


"Yasudah, ayo kita naik ke atas, Derry  berada di kamarnya," ucap Nyonya besar.


Mereka pun menaiki anak tangga satu persatu. Soraya  gemetar, kakinya seolah kaku untuk melangkah, lagi-lagi ibu Tio yang menuntunnya.


Mama Derry  dan Tuan Frans  tidak berpikir apapun dengan kehadiran Soraya  disini. Dia hanya berpikir Soraya  telah menjadi bagian dari keluarganya juga, karena Soraya  dianggap adalah calon istri dari keponakanya tersebut.


Cekrek....


Suara pintu terbuka, kini mereka semua masuk. Derry  hanya berdiam diri di tepi ranjang, kali ini dia memegang satu buku yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Mama dan Papanya tersebut.

__ADS_1


Derry  yang menghadap membelakangi pintu masuk tersebut, langsung di hampiri oleh Mamanya, dan kedua bahunya dipegang lembut oleh Mamanya itu dengan bisikan kecil.


"Nak.. ada Tio datang," bisik Mamanya lembut.


Soraya  jantungnya bergetar, dia menahan tangis nya yang hampir pecah, ingin dia menjerit saat ini, melihat Derry  tanpa suara kaku seolah tidak ada seorang pun.


Kenapa dia bisa begini??" teriak Soraya  dalam hatinya.


Derry  tidak bergeming sedikitpun, hingga Tio memutuskan untuk berdiri ke hadapan Derry  yang menghadap tirai balkon yang pintu nya tersebut telah pun dikunci oleh kedua orang tua Derry.


Tio berdiri tegak, Derry  masih menunduk melihat cover novel yang di pegangnya. Ya! novel "Suami malaikatku" yang pernah sempat dia baca dan ternyata dia bawa juga.


Novel itu milik Soraya. Dia meninggalkannya di kamar hotel, ketika berada di kota Surabaya, Soraya  pula dapat panggilan dari adik-adiknya agar segera pulang ke kampung halaman.


Tio memegang bahu Derry  dan tangan Tio kali ini mengangkat wajh Derry  untuk melihatnya, Derry  tampak masih berkeras.


Mama Derry  sudah terisak saat itu. Dia pun hanya menyela wajahnya beberapa saat, kemudian tiba-tiba, Ibu Tio menuntun Soraya melangkah menuju ke hadapan Derry.


Dengan langkah pelan, rasa di hatinya bercampur aduk sekarang, dia tampak bergetar karena dengan sekuat tenaga menahan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya yang kecil itu.


Derry  tampak menarik nafasnya dengan panjang, haruman itu dia sedut dengan memejamkan matanya. Saat ini Soraya  sudah pun berdiri tepat di hadapannya dan Tio bergeser sejenak.


"RAYA..." ucapnya bersuara.


Bukan main terkejutnya Mama Derry  dan Tuan Frans, ketika anaknya bersuara menyebut nama "Raya".


"Ada rahasia apa ini??" pikir Tuan Frans  bisa menangkapnya.


Soraya  menumpahkan air matanya dengan deras, kedua tangannya menutup mulutnya agar tidak berteriak menangis kuat, melihat Derry  seperti ini membuat hatinya sakit, dadanya sesak.


Dia menyesal telah menuduh Derry  yang bukan-bukan, bahkan meminta Derry  menceraikannya. Membuat Derry  berpikir banyak seolah Derry  adalah dalang dari semua masalah yang ada di hidup Soraya.


"Derry.. nak, kamu bersuara??" ucap Nyonya besar juga histeris.


Berulang kali dia memandangi wajah Soraya  tersebut, namun Mama Derry  masih belum bersuara kembali selain suara tangisan dan ratapan anaknya tiba-tiba membuka mulutnya.


Oke.. gais!! lanjutannya ada nanti kok gais, segini dulu ya gais!!

__ADS_1


Nih, yang udah gak sabar nunggu Soraya  bertemu Derry  sudah Thor penuhi keinginannya ya...!!


__ADS_2