
Menunggu Soraya turun cukup lama, Derry pun mencoba memanggil Soraya berulang kali, dan Soraya malah berteriak memanggil nama Derry saat ini.
"Derry...Derry!" Teriaknya dengan kuat.
"Soraya!"
Derry pun berlari ke atas dengan cepat, Soraya merasa sangat takut dan begitu khawatir sekarang. Pintu itu dikunci dan dia tidak mendengar sama sekali suara dari dalam kamar mertuanya itu.
"Sayang, ada apa?" tanya Derry panik.
"Derry, Papa tidak menyahut sama sekali, dobrak pintunya," ucap Soraya dengan wajah yang begitu panik.
Derry mencoba membuka pintu itu, beberapa kali dia coba namun memang terkunci, akhirnya dia pun mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaganya saat ini.
Bahkan sekarang ini jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Tio yang sudah sampai di kantor itu melihat jam tangannya dengan memikirkan Derry yang masih belum terlihat saat ini.
Satu sisi Fanni yang baru bangun itu, dia pun mencoba mencari ponselnya, dia bahkan tidak membasuh wajahnya dulu, tidur malam tadi cukup membuat tubuhnya sedikit lumayan.
Dia mengingat sesuatu rencana yang harus dengan cepat dia lakukan. Saat ini dia menekan nomor ponsel Derry, namun beberapa kali terdengar berdering panggilan itu pun sama sekali tak ada jawaban.
Satu sisi Derry sekarang ini sedang mendobrak pintu itu, dia tidak ingin mengangkat telepon apapun sekarang.
Bruak!
Akhirnya tenaga Derry mampu membuat pintu tersebut terbuka lebar, dia melihat Papanya sudah tergeletak di lantai saat ini.
Bahkan sekarang ini juga, Soraya berteriak dengan panik, dia tampak meminta tolong agar para pembantu mereka menolong Derry mengangkat tubuh Tuan Frans.
"Tolong..Tolong!
Soraya berteriak dengan kuat, para pembantu itu langsung menuju suara Soraya saat ini, sekuriti juga turut dengan cepat naik ke lantai atas dimana teriakan itu berasal.
"Pak, tolong bantu Derry mengangkat Papa," ucap Soraya dengan terisak.
Tuan Frans ditemukan tergeletak di lantai. Mungkin saja kondisinya lemah, hingga dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Satu sisi lagi sekarang, Papa Fanni terkena masalah pagi ini. Biasanya mereka sangat menikmati hari-hari berdua dengan selingkuhannya itu, namun pagi ini rumah mereka didatangi oleh seseorang yang mengaku bekerja di sebuah bank.
"Tidak, ini rumahku, kalian tidak bisa mengusirku sekarang!" umpatnya kesal dan membantah.
"Maaf Tuan, kami memiliki surat-surat rumah ini dengan lengkap, rumah ini sudah di jual kepada bank, dan sekarang ini bank telah menjualnya kepada pihak lain, mereka akan datang nanti siang," ucap pegawai bank itu.
__ADS_1
Kemudian lagi, Papa Fanni dan Meri tampak tidak percaya dengan ucapan pegawai bank tersebut saat ini. Mereka menyanggah pegawai yang mengatakan hal itu, namun sekarang ini juga mereka tidak ingin pergi dari rumah itu.
"Mana suratnya, mana?" tanya Meri dengan angkuhnya.
"Ini Bu, silahkan dilihat saja," Sambil dokumen itu diperlihatkan kepada Meri.
Wanita itu berlagak seperti nyonya besar sekarang ini, dan kemudian ini dia pun membuka matanya dengan lebar sekali, dia tampak tidak percaya, apa yang dikatakan pegawai bank itu sangatlah benar adanya.
Papa Fanni terduduk sekarang ini, dia pun tampak memegangi rambutnya dengan kusut sekarang, bahkan saat ini juga jantungnya terasa begitu sakit, dia tidak bisa menerima dirinya terusir dari rumah itu.
Meri mendekati suaminya tersebut, dia saat ini ingin menyuruh suaminya untuk menghubungi keluarga Derry, karena Meri menganggap ayah Derry sangat akan membantu mereka sekarang ini.
"Mas, tenang dulu mas, kita bisa meminta bantuan kepada Tuan Frans bukan.." ucapnya.
Namun dia terdiam membisu dan kaku tampak tidak percaya dengan kejadian hari ini, bibirnya tampak begitu gemetar, Meri sangat takut melihat kondisi suaminya tersebut.
Dia memegangi dadanya dan matanya mulai kunang-kunang saat ini, Meri tidak bisa mengatakan apapun sekarang.
"Oh Tuhan!"
Pegawai bank itu terkejut seketika melihat Papa Fanni jatuh kelantai dan mereka berdua panik, pegawai bank itu menghubungi ambulans dengan cepat.
"Pak, kau tunggu disini, aku akan datang," ucap Meri mencoba mencari alasan.
"Kau mau kemana?" tanya pegawai bank itu sedikit bingung.
"Tunggulah disini sebentar saja," jawab Meri dengan paniknya.
"Aku sudah menghubungi ambulans, jadi kau tidak perlu kemanapun sekarang, ini suamimu bukan!" ucap pegawai itu yang merasa bingung dengan gelagat wanita itu.
Meri sulit untuk mengelak namun dia tetap ingin melarikan diri dari sana, dia tidak ingin terlibat apapun saat ini, bahkan sekarang ini juga papa Fanni telah bangkrut, siapa yang akan membayar biaya rumah sakit nanti, pikir Meri saat ini.
"Aku bukan istrinya, aku hanya kekasihnya, dan aku tidak ingin terlibat hal ini," ucap Meri lalu melepaskan tangan yang menarik dirinya itu.
"Kekasihnya? bukankah kau tinggal dirumah ini?" tanya pegawai bank itu namun Meri tak menghiraukan dirinya dan dia lari dengan cepat.
"Hei tunggu, kau akan dipenjara kalau kau lari!" teriak pegawai bank tersebut.
Security yang berjaga di rumah tersebut bingung saat Meri keluar dengan wajah sedikit ketakutan saat ini.
Pegawai bank itu pun berlari mengejar Meri keluar, namun wanita itu dengan cepat membuka pagar dan menaiki taksi yang kebetulan lewat disana.
__ADS_1
"Pak, ada apa?" tanya sekuriti itu bingung.
"Wanita itu siapa?" tanya pegawai bank yang tampak ngos-ngosan itu.
"Dia istriĀ baru tuan kami pak," jawabnya.
"Dia bilang bukan istrinya tadi, bahkan dia lari begitu saja," ucapnya.
"Memangnya ada apa pak?" tanya sekuriti itu lagi.
"Tuan kalian tengah pingsan," jawabnya.
"Kenapa itu bisa terjadi pak?" tanya sekuriti itu panik dan dia berlari menuju ke dalam.
Belum sempat pegawai bank itu menjelaskan kepada sekuriti tersebut, ambulans pun datang sekarang ini. Petugas rumah sakit itu memapah Papa Fanni masuk ke dalam dengan cepat.
"Pak, kenapa ini bisa terjadi? Dan bapak ini siapa?" tanya sekuriti itu lagi.
"Saya pegawai bank bank pak, dan rumah ini sudah dijual oleh saudari Fanni kepada bank, hari ini saya ingin menyuruh Tuan anda untuk mengemasi barangnya, karena rumah ini juga telah di beli kembali oleh orang lain, dan saat itu juga Tuan anda tampak mengalami serangan jantung dadakan."
"Sial! pantas saja wanita ****** itu lari ketakutan, dia itu memang jahat!" umpat sekuriti itu dengan kesal.
"Kemana saudari Fanni sekarang?" tanya pegawai bank itu.
"Non Fanni sudah lama tidak kembali kerumah ini pak, semenjak papa nya ketahuan selingkuh dengan pembantu ****** itu, dia pun keluar dan saya tidak tahu dia pergi kemana," jawab sekuriti tersebut.
"Baiklah kalau begitu, itu saja saya sampaikan, saya akan kerumah sakit dulu untuk menjelaskan dan mengurus Tuan anda itu," ucapnya.
"Baik pak, terima kasih, saya akan mengemasi barang-barang Tuan saya itu dengan secepatnya,'' ucapnya
Dan setelah itu juga pegawai bank itu pun mengikuti ambulans yang sudah lebih dulu berjalan menuju rumah sakit untuk mengantarkan papa Fanni tersebut.
Fanni pula karena geram, panggilannya tidak dijawab oleh Derry, dia pun memutuskan untuk memberikan pesan kepada Derry saat ini.
Dia menuliskan ingin bertemu dengan Derry hanya berdua saja sekarang.
Satu sisi Derry sedang membawa papanya kerumah sakit karena kondisi Tuan Frans sangat tidak memungkinkan.
Akankah Derry datang menemui Fanni kembali?
****
__ADS_1