
"Tio ada apa ini??" tanya Soraya yang baru saja keluar kamar karena Nurdin yang memanggilnya.
"Raya, ayo cepat bersiap dan ajak semua adik-adik kita akan berangkat ke rumah sakit, Derry memanggil namamu terus menerus," jelas Tio saat ini.
"Benarkah? apa dia sudah sadar?" tanya Soraya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baru saja dia habis operasi bagian kepala, dan tampaknya ada kemungkinan bisa sadar," ucap Tio.
"Baiklah, tunggu disini," jawab Soraya yang tampak kalang kabut tersebut.
Soraya menyuruh adik-adiknya memberitahukan Yumita juga agar bersiap saat ini, biarlah mereka ikut semua pikir Tio.
Yumita yang sudah siap berpakaian itu, karena memang sedari tadi Yumita telah pun mandi, jadi dia hanya saja membereskan rambutnya tersebut.
Karena dia yang lebih awal siap, maka dia pun segera ke ruangan tamu itu kembali. Di sana ada Tio yang menunggu tanpa ads segelas air apapun di lihatnya dari jauh.
Inisiatif yang tinggi, tidak enak rasanya ada tamu tanpa ada minuman di meja itu. Yumita kembali membuatkan jus jeruk yang memang tinggal tuang saja.
Dan kemudian saat ini lagi dia melangkah ke ruangan tamu dengan nampan yang berisi segelas jus jeruk segar.
"Bang Tio, minumlah dulu," sapa Yumita membuat Tio yang menyandarkan tubuh kekarnya itu menjadi tegak kembali.
"Adik kecil, terima kasih banyak," jawab Tio yang masih saja memanggil dirinya dengan sebutan adik kecil.
"Adik kecil, mau kemana??" tanya Tio yang melihat Yumita langsung bangkit setelah meletakkan gelas itu.
"Mau ke dapur lagi," jawab Yumita sedikit malu-malu.
"Kamu sudah mandikan? temani abang ngobrol disini, sambil menunggu kakakmu dan kedua adik lainnya," jelas Tio kembali.
Yumita hanya mengangguk saat ini, dia pun meletakkan nampan itu kembali di meja tersebut. Kemudian Tio mulai membuka suaranya kembali kepada Yumita.
"Adik kecil, apakah sudah ada keputusan akan mengambil kuliah di bagian apa?" tanya Tio sambil membuka topik yang bagus di antara mereka.
"Sudah bang, kak Soraya yang memilihkannya," jawab Yumita.
"Lah.. kenapa Soraya? kalau dari hatimu inginnya apa?" tanya Tio kembali.
"Sama saja bang, saya menyukai itu juga," jawab Yumita.
__ADS_1
"Memangnya jurusan apa?" tanya Tio.
"Manajemen bang," jawabnya singkat.
"Wah.. sepertinya ingin menjadi sekretaris handal nih!" ucap Tio kembali.
Asyik mereka berbincang-bincang saat ini, Soraya yang sudah siap bertukar pakaian itu langsung keluar dan membawa tas kecil di tangannya.
"Tio, ayo!" ucap Soraya tiba-tiba membuat keduanya terkejut.
"Ya, Nurdin dan Nadim mana?" tanya Tio yang masih belum melihat keduanya.
"Bang, maaf kami telat!" mereka baru saja berlari ke ruangan tamu ini..
"Oke, ya sudah ayo kita segera berangkat," ucap Tio kembali.
Nurdin dan Nadim beserta Tio lebih awal keluar dari ambang pintu itu, Yumita membantu Soraya menuntut jalan, walau berulang kali Soraya menolaknya, pasalnya ini memang bukan kehamilan yang besar, baru satu bulan juga.
Dan setelah itu Soraya disuruhnya jalan lebih dulu, Yumita lah yang mengunci pintu itu dengan benar. Mereka semua pun menaiki lift yang tak jauh dari ambang pintu tersebut.
Tak lama mereka pun telah sampai di depan parkiran itu. Tio dengan cepat membukakan pintu untuk Soraya dan adik-adiknya itu.
Terdengar langit kota Jakarta sayup-sayup suara orang mengaji dengan kuat dari masjid satu ke satunya lagi. Dan kini mobil itu melaju dengan cepat tanpa ada kendala apapun.
Setengah perjalanan, azan magrib berkumandang, Nurdin yang memang tidak bisa meninggalkan sholatnya tanoa tepat waktu meminta Tio berhenti sejenak di setiap masjid yang dekat dengan mereka saat ini.
"Baiklah, kita selesaikan panggilan Allah ini dulu," jawab Tio yang tampak memarkirkan mobilnya di halaman masjid besar itu.
Nurdin tersenyum lebar, syukurlah bang Tio ataupun kakaknya tidak memarahi kelancanganya ini, pikirnya.
Ya! bagi manusia yang mengingat dan mengetahui, panggilan Allah itu lebih utama dari apapun. Yakin saja, jika kita mendahulukan Allah di hidup kita, maka Allah pun memberikan segalanya untuk kita.
Mereka pun selesai berwudhu, langsung masuk bersama-sama begitu juga dengan Tio yang tampak suka dengan hal ini sekarang.
Semuanya ada barisan masing-masing, bagian perempuan di belakang letaknya, lelaki di depan dengan ada sekat di tengah-tengah keduanya.
Tak lama menuntaskan panggilan ini, hanya memakan waktu sepuluh menit saja, dan panggilan Allah ini telah pun terlaksanakan.
Satu sisi mama Derry dan Fanni telah pun bersiap untuk pergi ke apartemen Soraya yang telah direncanakan oleh Fanni tersebut.
__ADS_1
Fanni yang tampak sedari tadi sudah siap dan menunggu di bawah itu, tak sabar rasanya melihat mama Derry akan menghabisinya.
Terdengar suara sepatu mama yang tampak turun dari atas tersebut, Fanni pun tersenyum puas saat ini, dan berkata dalam hatinya sekarang, musnahlah kau Soraya!
"Fan, apa kamu sudah menunggu lama?" tanya mama Derry itu yang telah buta termakan hasutan Fanni.
"Tidak Ma, baru saja. Ya Sudah ayo sekarang kita berangkat," ucapnya.
"Oke," jawab mama singkat.
Mereka pun menuju ke depan, supir pribadi itu yang mengantarkan mereka berdua saat ini. Fanni dan mama Derry duduk bersebelahan.
"Ma apa itu??" tanya Fanni kembali.
"Ini surat perjanjian, agar wanita itu tidak mendekati Derry kembali," jawab mamanya.
"Wah, kapan mama membuatnya?" tanya Fanni penasaran dan senyumnya semakin mengembang.
"Waktu mama mengusirnya! namun wanita ****** itu, sama sekali tidak ingin menandatangani ini, dan di malah pergi begitu saja."
"Mama pikir, dia tidak akan menunjukkan wajah buruknya itu ke hadapan kita lagi, ternyata mama sama sekali tertipu!" jelas mama Derry itu panjang lebar.
"Tenang saja ma, malam ini kita paksa dia akan pergi jauh dari kehidupan Derry!' ucap Fanni kembali.
"Ya sayang, mama sudah tidak sabar ingin menjambaknya," ucap mamanya itu.
mereka pun saat ini telah laju membelah jalanan malam kota Jakarta tersebut. Dengan tawa jahat yang terdengar sekarang, pak supir tahu siapa yang mereka bicarakan saat ini, namun bawahan tidak ada hak untuk membela siapapun, atau pun menasehati atasan.
Tio pula hampir terlihat sampai sekarang, dia pun tampak sudah sampai di depan parkiran rumah sakit itu. Dengan cepat Tio mengatur posisi akhirnya tersebut.
Setelah itu Tio turun dan membukakan segala pintu untuk mereka semua turun. Dengan wajah yang begitu tegang, Soraya saat ini hatinya berdebar, dia takut mendapatkan penolakan dari ibu mertuanya itu lagi, namun karena Derry tekatnya dia kuatkan.
Tio bersamanya, pasti semuanya akan baik-baik saja, pikirnya kembali dan hanya selalu tidak lepas dari zikirnya dalam hati.
Kemudian Tio menuntun mereka semua menuju ruangan atas, masih menaiki lift lagi saat ini, dengan cepat tombol lift itu menuju ruangan Vip yang telah Derry tempati.
Berdebar dan takut, hingga membuat Soraya picat, berpikir saat ini pasti ibu mertuanya itu ada didalam sana, namun dia tidak tahu, ibu mertuanya itu telah pun menuju rumahnya.
***
__ADS_1