90 DAYS

90 DAYS
PANIK


__ADS_3

Fanni  pulang dengan rasa dendam dan penuh kebencian. Malam itu dia kembali ke rumahnya, setelah bertemu dengan Tuan Osman dan melabrak Soraya  di hadapan semua orang.


Fanni  yang tadinya datang kerumah itu ingin menyuruh dan mendesak orang tua Derry  untuk menikahinya, namun sekarang sudah tidak berhasil tampaknya.


Fanni  berpikir keras, karena dia sudah diancam oleh Tuan Osman saat ini. Dia pun tampak stres dan bingung ingin berbuat apalagi sekarang. Dan kini dia pun telah kembali ke rumah mewahnya tersebut.


Rasa malas kembali, namun mau kemana lagi dia akan melangkah. Sudah tidak ada tempat yang menerimanya selain rumah yang sunyi bak tak berpenghuni ini.


"Sial!!" teriaknya sambil membanting pintu dan mencampakkan tasnya ke lantai.


Dia pun menekuk kedua kakinya, mulai mengacak-ngacak rambutnya kembali dan menangis sejadi-jadinya. Dia meratapi nasib yang telah sekarang dia rasakan.


Sedangkan Papanya yang baru pulang dari berkencan dengan selingkuhannya tersebut menuju rumah sakit untuk menjaga Fanni  kembali.


Begitu sampai di rumah sakit, Papanya itu panik karena Fanni  sudah pun tidak ada di ruangan perawatan tersebut. Mencoba bertanya kepada pihak rumah sakit, namun mereka juga tidak sadar, akhirnya tim rumah sakit membuka cctv.


Ya! benar saja, Fanni  keluar dan mencabut selang infus itu dengan kuat, setelah dia menangis terlihat jelas semua di cctv tersebut.


Kini Papa Fanni  bingung dan mencoba mencari Fanni  ke rumah Derry. Karena malam juga sudah hampir larut, kemudian mobil itu melaju sangat kencangnya.


Jam pun telah menunjukkan pukul sebelas malam. Keluarga Tio dan telah pulang kembali, namun Soraya  dan kedua adiknya ditahan Derry  untuk tinggal disini.


Tampak Derry  sangat menyayangi mereka, namun entah mengapa Mama Derry  tampak diam dan berubah sikapnya menjadi dingin.


Tuan Frans  tetap baik kepada mereka, Tuan Frans  memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan segala keperluan adik-adik Soraya  tersebut.


Soraya  pula kini tidur seranjang kembali dengan Derry. Sekarang tanpa ada sembunyi-sembunyi dan rasa khawatir lagi di antara kedua.


Namun, yang Soraya  pikirkan terjadi, Nyonya besar  yang hangat menjadi dingin bak kutub Utara orang bilang. Dia pun malam itu yang belum tidur dengan Derry  sempat berbicara membincangkan masalah ini.


"Sayang.. kenapa belum tidur??" tanya Derry  yang sudah berubah seribu derajat sekarang.


Ya! Derry  berubah total, yang dulunya tidak pernah menyebut Soraya  dalam keadaan sadar begini sekarang dia pun mengatakannya dengan lembut dan bahkan tersenyum hangat.


Dulu, hanya dalam permainan panas kata-kata sayang itu akan didengar Soraya, sekarang keadaan apapun Derry  utarakan sayangnya.


Cinta memang mengubah segalanya, mengubah yang keras menjadi lembut. Mengubah yang dingin menjadi berkasih sayang, mengubah tidak peduli menjadi perhatian.


Soraya  pun tersenyum hangat, lagi-lagi air mata haru itu jatuh di pipinya, membuat Derry  harus menghela pipi putih istrinya tersebut.


"Jangan.. menangis, aku bersamamu," ucap Derry  lagi.


"Derry.. apa aku boleh meminta sesuatu??" tanya Soraya  pula.


"Ya, boleh... katakan saja sayang," jawab Derry  dengan romantisnya.

__ADS_1


"Apa..kita akan tinggal disini selamanya??" tanya Soraya  dengan  penuh kehati-hatian.


"Ya, jika kamu inginkan kita disini, kita tetap disini," jawaban yang masih membuka ruang untuk Soraya  memilih.


"Apa aku boleh memilih tinggal di apartemen kita saja??" tanya Soraya  lagi.


"Oh.. sayang mau kita tinggal di apartemen?? tanya Derry  kembali.


Hanya dibalas dengan dua kali mengangguk, Derry  pun dengan cepat membenamkan bibirnya di bibir Soraya  saat ini.


Lama sudah dia tidak menyentuh bibir itu, rasa rindu menggebu di dada Derry  sekarang. Dia yang biasanya tangguh di ranjang dan tangguh juga menaklukkan Soraya  kini kembali ke singgasananya.


"Sayang.. aku tidak tahan.." bisik Derry  di telinga Soraya.


Soraya  tersenyum lebar dia pun membiarkan Derry  mendapatkan haknya yang selama ini tidak dia berikan kepada Derry.


Dengan cepat dan lihainya tangan itu merayap ke dalam, tanpa ada penolakan dan kini kulit mereka bersatu dan melekat di antara bibir yang mulai tampak memiliki kaki.


Malam yang begitu larut terdengar kebisingan dibawah saat ini. Suara mesin mobil siapa itu, pikir Derry.


Karena heningnya malam dan sunyinya malam itu, membuat mobil Papa Fanni  yang baru sampai terdengar hingga lantai dua. Papa Fanni  pun dengan cepat turun dan mengetuk pintu rumah mewah itu.


Kedua orang tua Derry  pula telah beristirahat, karena lelahnya mereka menghadapi hari ini. Lelah hati lelah pikiran, ternyata anak semata wayang mereka menikah tanpa penghormatan, pikir Nyonya besar  yang masih susah untuk menerima keadaan ini.


Memikirkan itu Nyonya besar  memiliki rencana lain, dia ingin Derry  membuat resepsi pernikahannya dan mengulang pernikahan tersebut, pikir Nyonya besar  lagi.


Tuan Frans  pula sudah tampak terlelapnya dan dia tidak sadar kalau istrinya masih belum tertidur. Pintu yang diketuk itu langsung di bukakan oleh pembantu rumah tersebut yang masih membereskan dapur.


Terkejut bibi ketika melihat Papa Fanni  yang datang. Beberapa jam yang lalu anaknya, sekarang Papanya pula, ucap bibi itu dalam hati.


"Ada apa Tuan??" tanya pembantu itu.


"Bi.. apa Tuan Frans  ada dirumah??" tanya Papa Fanni  dengan wajah yang panik.


"Ada Tuan, sebentar saya panggilkan," ucapnya.


Bibi itu pun menyuruh Papa Fanni  masuk dan duduk di ruang tamu untuk menunggunya memanggil majikannya tersebut.


Walau dia kurang memperhatikan Fanni, namun Fanni adalah anak semata wayangnya, dan rasanya membuang Fanni  begitu saja tidak mungkin, dia memang menyayangi Fanni.


Tak lama kemudian Nyonya besar  yang terkejut dengan ketukan pintu itu langsung bangkit karena memang dia belum tidur. Dan saat ini di mulai ke ambang pintu untuk membukakannya.


"Ada apa bi??" tanya Nyonya besar.


"Maaf Nya, ada Papa Fanni  datang," sambil menunjuk ke arah ruangan tamu.

__ADS_1


"Papa Fanni?? mahu apa ya??" tanya Mama Derry langsung  bingung.


"Tidak tahu Nya," jawab bibi.


"Yasudah, sebentar lagi saya keluar bibi buat kan saja minuman untuknya dulu," ucao Nyonya besar.


"Baik Nya, permisi..."


Berlalu bibi itu ke dapur dan mulai membuatkan jus jeruk segar di malam buta ini. Tampak memang wajah lelah dari raut wajah Papa Fanni  tersebut.


Mama Derry  pun menukar pakaiannya yang sedikit sopan, dan dia membangunkan suaminya yang tampak sudah lena tertidur itu.


"Pa.. bangun, temani Mama yuk!!" sambil tubuh sang suami di goncang.


"Hmmmm, Papa lelah Ma, besok saja ya," ucap Tuan Frans  meracau tidak nyambung.


"Pa! bukan itu!! bangunlah dulu, Papa Fanni  datang kesini!!" sekarang nada itu menjadi tegas dan kuat.


Terkejut Tuan Doris, dan dia mulai bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sebagai orang tua dia harus bisa menghadapi siapapun, pikir Tuan Frans.


Sekarang Nyonya besar  berpikir bahwa Fanni  telah mengadukan perbuatan Derry  kepada Papanya, hingga malam buta begini Papa Fanni  sanggup datang kesini, pikir Mama Derry.


Mereka berdua langsung menuju ruang tamu, dan menghampiri Papa Fanni  yang telah menghirup minumannya tersebut. Rasa lega di dahaganya saat itu.


Melihat kedua orang tua Derry  datang dia langsung bangkit dan langsung menanyakan tentang keberadaan anaknya.


"Maaf saya mengganggu kalian malam-malam begini, tapi saya ingin bertanya apa Fanni  ada datang kesini atau tidak??" tanya Papa Fanni  tersebut.


"Fanni? iya, dia tadi ada datang," ucap Tuan Frans.


"Apa dia ada disini??" tanya Papanya lagi.


"Tidak, dia sudah pulang sejak pukul sepuluh tadi," ucap Tuan Frans  lagi.


"Memangnya ada apa??" tanya Nyonya besar.


"Dia kabur dari rumah sakit, dan saya panik melihatnya sudah tidak disana lagi," ucap Papa Fanni.


"Ya Ampun... Fanni, berarti tadi dia datang kabur dari rumah sakit!!" ucap Mama Derry.


"Ya, kalau memang Fanni  sudah pulang, saya segera ke rumah saja. Dan mohon maaf sekali lagi karena telah mengganggu tidur kalian," ucapnya.


"Sudah tidak apa-apa," serentak keduanya.


****

__ADS_1


__ADS_2