
Fanni pulang dengan rasa dendam dan penuh kebencian. Malam itu dia kembali ke rumahnya, setelah bertemu dengan Tuan Osman dan melabrak Soraya di hadapan semua orang.
Fanni yang tadinya datang kerumah itu ingin menyuruh dan mendesak orang tua Derry untuk menikahinya, namun sekarang sudah tidak berhasil tampaknya.
Fanni berpikir keras, karena dia sudah diancam oleh Tuan Osman saat ini. Dia pun tampak stres dan bingung ingin berbuat apalagi sekarang. Dan kini dia pun telah kembali ke rumah mewahnya tersebut.
Rasa malas kembali, namun mau kemana lagi dia akan melangkah. Sudah tidak ada tempat yang menerimanya selain rumah yang sunyi bak tak berpenghuni ini.
"Sial!!" teriaknya sambil membanting pintu dan mencampakkan tasnya ke lantai.
Dia pun menekuk kedua kakinya, mulai mengacak-ngacak rambutnya kembali dan menangis sejadi-jadinya. Dia meratapi nasib yang telah sekarang dia rasakan.
Sedangkan Papanya yang baru pulang dari berkencan dengan selingkuhannya tersebut menuju rumah sakit untuk menjaga Fanni kembali.
Begitu sampai di rumah sakit, Papanya itu panik karena Fanni sudah pun tidak ada di ruangan perawatan tersebut. Mencoba bertanya kepada pihak rumah sakit, namun mereka juga tidak sadar, akhirnya tim rumah sakit membuka cctv.
Ya! benar saja, Fanni keluar dan mencabut selang infus itu dengan kuat, setelah dia menangis terlihat jelas semua di cctv tersebut.
Kini Papa Fanni bingung dan mencoba mencari Fanni ke rumah Derry. Karena malam juga sudah hampir larut, kemudian mobil itu melaju sangat kencangnya.
Jam pun telah menunjukkan pukul sebelas malam. Keluarga Tio dan telah pulang kembali, namun Soraya dan kedua adiknya ditahan Derry untuk tinggal disini.
Tampak Derry sangat menyayangi mereka, namun entah mengapa Mama Derry tampak diam dan berubah sikapnya menjadi dingin.
Tuan Frans tetap baik kepada mereka, Tuan Frans memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan segala keperluan adik-adik Soraya tersebut.
Soraya pula kini tidur seranjang kembali dengan Derry. Sekarang tanpa ada sembunyi-sembunyi dan rasa khawatir lagi di antara kedua.
Namun, yang Soraya pikirkan terjadi, Nyonya besar yang hangat menjadi dingin bak kutub Utara orang bilang. Dia pun malam itu yang belum tidur dengan Derry sempat berbicara membincangkan masalah ini.
"Sayang.. kenapa belum tidur??" tanya Derry yang sudah berubah seribu derajat sekarang.
Ya! Derry berubah total, yang dulunya tidak pernah menyebut Soraya dalam keadaan sadar begini sekarang dia pun mengatakannya dengan lembut dan bahkan tersenyum hangat.
Dulu, hanya dalam permainan panas kata-kata sayang itu akan didengar Soraya, sekarang keadaan apapun Derry utarakan sayangnya.
Cinta memang mengubah segalanya, mengubah yang keras menjadi lembut. Mengubah yang dingin menjadi berkasih sayang, mengubah tidak peduli menjadi perhatian.
Soraya pun tersenyum hangat, lagi-lagi air mata haru itu jatuh di pipinya, membuat Derry harus menghela pipi putih istrinya tersebut.
"Jangan.. menangis, aku bersamamu," ucap Derry lagi.
"Derry.. apa aku boleh meminta sesuatu??" tanya Soraya pula.
"Ya, boleh... katakan saja sayang," jawab Derry dengan romantisnya.
__ADS_1
"Apa..kita akan tinggal disini selamanya??" tanya Soraya dengan penuh kehati-hatian.
"Ya, jika kamu inginkan kita disini, kita tetap disini," jawaban yang masih membuka ruang untuk Soraya memilih.
"Apa aku boleh memilih tinggal di apartemen kita saja??" tanya Soraya lagi.
"Oh.. sayang mau kita tinggal di apartemen?? tanya Derry kembali.
Hanya dibalas dengan dua kali mengangguk, Derry pun dengan cepat membenamkan bibirnya di bibir Soraya saat ini.
Lama sudah dia tidak menyentuh bibir itu, rasa rindu menggebu di dada Derry sekarang. Dia yang biasanya tangguh di ranjang dan tangguh juga menaklukkan Soraya kini kembali ke singgasananya.
"Sayang.. aku tidak tahan.." bisik Derry di telinga Soraya.
Soraya tersenyum lebar dia pun membiarkan Derry mendapatkan haknya yang selama ini tidak dia berikan kepada Derry.
Dengan cepat dan lihainya tangan itu merayap ke dalam, tanpa ada penolakan dan kini kulit mereka bersatu dan melekat di antara bibir yang mulai tampak memiliki kaki.
Malam yang begitu larut terdengar kebisingan dibawah saat ini. Suara mesin mobil siapa itu, pikir Derry.
Karena heningnya malam dan sunyinya malam itu, membuat mobil Papa Fanni yang baru sampai terdengar hingga lantai dua. Papa Fanni pun dengan cepat turun dan mengetuk pintu rumah mewah itu.
Kedua orang tua Derry pula telah beristirahat, karena lelahnya mereka menghadapi hari ini. Lelah hati lelah pikiran, ternyata anak semata wayang mereka menikah tanpa penghormatan, pikir Nyonya besar yang masih susah untuk menerima keadaan ini.
Memikirkan itu Nyonya besar memiliki rencana lain, dia ingin Derry membuat resepsi pernikahannya dan mengulang pernikahan tersebut, pikir Nyonya besar lagi.
Tuan Frans pula sudah tampak terlelapnya dan dia tidak sadar kalau istrinya masih belum tertidur. Pintu yang diketuk itu langsung di bukakan oleh pembantu rumah tersebut yang masih membereskan dapur.
Terkejut bibi ketika melihat Papa Fanni yang datang. Beberapa jam yang lalu anaknya, sekarang Papanya pula, ucap bibi itu dalam hati.
"Ada apa Tuan??" tanya pembantu itu.
"Bi.. apa Tuan Frans ada dirumah??" tanya Papa Fanni dengan wajah yang panik.
"Ada Tuan, sebentar saya panggilkan," ucapnya.
Bibi itu pun menyuruh Papa Fanni masuk dan duduk di ruang tamu untuk menunggunya memanggil majikannya tersebut.
Walau dia kurang memperhatikan Fanni, namun Fanni adalah anak semata wayangnya, dan rasanya membuang Fanni begitu saja tidak mungkin, dia memang menyayangi Fanni.
Tak lama kemudian Nyonya besar yang terkejut dengan ketukan pintu itu langsung bangkit karena memang dia belum tidur. Dan saat ini di mulai ke ambang pintu untuk membukakannya.
"Ada apa bi??" tanya Nyonya besar.
"Maaf Nya, ada Papa Fanni datang," sambil menunjuk ke arah ruangan tamu.
__ADS_1
"Papa Fanni?? mahu apa ya??" tanya Mama Derry langsung bingung.
"Tidak tahu Nya," jawab bibi.
"Yasudah, sebentar lagi saya keluar bibi buat kan saja minuman untuknya dulu," ucao Nyonya besar.
"Baik Nya, permisi..."
Berlalu bibi itu ke dapur dan mulai membuatkan jus jeruk segar di malam buta ini. Tampak memang wajah lelah dari raut wajah Papa Fanni tersebut.
Mama Derry pun menukar pakaiannya yang sedikit sopan, dan dia membangunkan suaminya yang tampak sudah lena tertidur itu.
"Pa.. bangun, temani Mama yuk!!" sambil tubuh sang suami di goncang.
"Hmmmm, Papa lelah Ma, besok saja ya," ucap Tuan Frans meracau tidak nyambung.
"Pa! bukan itu!! bangunlah dulu, Papa Fanni datang kesini!!" sekarang nada itu menjadi tegas dan kuat.
Terkejut Tuan Doris, dan dia mulai bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sebagai orang tua dia harus bisa menghadapi siapapun, pikir Tuan Frans.
Sekarang Nyonya besar berpikir bahwa Fanni telah mengadukan perbuatan Derry kepada Papanya, hingga malam buta begini Papa Fanni sanggup datang kesini, pikir Mama Derry.
Mereka berdua langsung menuju ruang tamu, dan menghampiri Papa Fanni yang telah menghirup minumannya tersebut. Rasa lega di dahaganya saat itu.
Melihat kedua orang tua Derry datang dia langsung bangkit dan langsung menanyakan tentang keberadaan anaknya.
"Maaf saya mengganggu kalian malam-malam begini, tapi saya ingin bertanya apa Fanni ada datang kesini atau tidak??" tanya Papa Fanni tersebut.
"Fanni? iya, dia tadi ada datang," ucap Tuan Frans.
"Apa dia ada disini??" tanya Papanya lagi.
"Tidak, dia sudah pulang sejak pukul sepuluh tadi," ucap Tuan Frans lagi.
"Memangnya ada apa??" tanya Nyonya besar.
"Dia kabur dari rumah sakit, dan saya panik melihatnya sudah tidak disana lagi," ucap Papa Fanni.
"Ya Ampun... Fanni, berarti tadi dia datang kabur dari rumah sakit!!" ucap Mama Derry.
"Ya, kalau memang Fanni sudah pulang, saya segera ke rumah saja. Dan mohon maaf sekali lagi karena telah mengganggu tidur kalian," ucapnya.
"Sudah tidak apa-apa," serentak keduanya.
****
__ADS_1