90 DAYS

90 DAYS
KETAKUTAN SORAYA


__ADS_3

"Heh bajingan jaga kata-kata Anda, tulisan Anda ini akan saya screenshot," balas Fanni  dalam unggahannya tersebut.


Baru saja dia membalas hal itu, namun sekarang dia telah dibanjiri dengan komentar pedas dan menyindir lainnya. Bahkan dia masih sempat bingung, dan sekarang ponselnya mendapatkan notifikasi yang banyak.


"Pelakor! Pelakor!" teriak para netizen di kolom komentar tersebut.


Dan ketika seseorang yang memberikan komen malah mengirimi Fanni sebuah screenshot video dirinya dan Tuan Osman tersebar, Fanni ternganga dengan begitu lebarnya, dia tak menyangka video itu telah terkuak ke media sosial sekarang.


"Sial! OSMAN sudah pun kuberi tanah itu, mengapa dia masih menyebarkan video ini? bukankah aku sudah menghapusnya?


Tanya besar dikepala Fanni saat ini. Dia bingung dan wajahnya memerah, bahkan dia malu jika keluar dengan tidak menutup wajahnya nanti.


Pintunya diketuk kuat saat ini, jantungnya berdebar dia berpikir seseorang melacak dirinya. Apa istri Osman yang melakukan hal ini?


Kepala Fanni begitu sakit jika mengingat tentang istri Tuan Osman yang memang kejam tanpa ampun itu. Namun, Osman bilang bahwa dia telah pun meninggalkan istrinya, jadi rasa yang tidak mungkin saja istri Osman yang melakukan itu, pikir Fanni.


"Lelaki bajingan, pasti dia yang menghianatiku!" umpat Fanni  kesal.


Pintu itu tidak berhenti terketuk sekarang, terpaksa Fanni bangkit dengan cepat, dan membuka pintunya saat ini.


Pelayan lelaki yang membawakan makanan dan minuman untuk Fanni tersebut, hanya tersenyum melirik Fanni dari atas sampai bawah, Fanni merasa jijik melihat pandangan itu.


"Hei, mengapa kau menatapku seperti itu!" bentak Fanni kesal.


Pria itu hanya menelan ludahnya saja, video yang tersebar luas saat ini siapapun bisa melihatnya. Bahkan pelayan hotel kini sebelum dia mengantarkan makanan ini dia sempat melihat video viral itu.


"Maaf mbak, ini pesanannya," ucapnya lalu menyerahkan makanan tersebut ke tangan Fanni.


Fanni cepat mengambilnya dan menutup pintu itu dengan kuat, Fanni bahkan semakin marah, ternyata video itu Benar-benar tersebar luas sekarang. Kalau bukan karena Osman, pasti dia tidak akan menyerahkan tanah itu, dan hidupnya tidak akan seperti buronan seperti sekarang.


Dia menangis menyesali perbuatannya saat ini. Sedang Meri yang baru saja selesai menyiapkan makanan siang untuk Papa Fanni  itu, dia pun terkejut melihat berita viral dari notifikasinya.


Judul dari video viral itu adakah Pelakor ******!


Sungguh tragis dan ironisnya. Banyak orang yang mencemooh Fanni. Begitu juga dengan Tisaa yang terkejut video Fanni tersebar luas. Tissa mencoba mengubungi Fanni, namun tampak wanita itu langsung mematikan ponselnya bahkan membuang kartunya dengan cepat.


Meri yang tersenyum puas melihat Fanni  hancur, dia pun dengan cepat memberitahu kepada suaminya tersebut. Dia menunjukkan kelakuan Fanni yang tak jauh beda dengan mereka.

__ADS_1


"Sayang.. oh.. Sayang!" teriak Meri saat ini.


"Iya sayang ada apa?" tanya Papa Fanni  yang asyik membaca koran itu.


"Sayang, ada kabar gembira saat ini," ucap Meri tersenyum lebar.


"Apa itu?" tanya papa Fanni.


"Hari ini anakmu menjadi artis terkenal sedunia," jelas Meri lagi.


"Apa? Fanni  menjadi tenar? Mana aku lihat!" pinta papa Fanni  dengan wajah penasarannya.


"Baiklah, nah lihat sendiri!" Meri sambil menunjukkan ponsel itu, dan dengan cepat Papa Fanni  menahan jantungnya yang terasa sakit.


"Sayang, kenapa sayang?" tanya Meri.


"Mer, ambilkan saya minum," ucapnya.


Dengan langkah cepat Meri mengambil minuman itu, dia tidak ingin Papa Fanni  mati sekarang, Meri menginginkan rumah ini, jadi dia masih menunggu Papa Fanni  mengalihkan atas namanya.


Fanni  sengaja menggadaikannya, biarlah nanti Bank akan menagih ke rumah tersebut, kalau tidak bayar pasti rumahnya akan disita bank, pikir Fanni  lagi saat dia mencoba menghancurkan papanya yang berselingkuh dengan pembantu itu.


Nyonya Velli dan yang lainnya telah pun sampai di rumah sakit saat ini. Baru saja mereka sampai, jenazah mama Derry  sudah tampak dikeluarkan dan akan dibawa pulang ke rumah milik Tuan Frans  itu.


"Kakak..." teriak Firhat yang sangat terpukul dan dia menciumi Nyonya besar.


Hati seorang anak akan terpukul berat, apalagi seorang adik yang sama-sama tumbuh dan dibesarkan dengan kasih dan sayang yang sama tanpa perbedaan.    Tuan Firhat menangis kuat, begitu juga dengan istrinya saat ini.


Tuan Frans hanya menelan ludahnya saja. Menahan sebuah kepahitan takdir yang baru saja dia rasakan ini, rasanya dia Benar-benar seperti mimpi yang buruk sekarang.


Derry  yang melihat Nurdin dan Nadim yang bersama rombongan Ayah dan ibu Tio saat ini, langsung merangkul dua pria itu. Dia tahu Nurdin dan Nadim bahkan lebih menyedihkan daripada nasibnya saat ini.


"Bang Derry, abang harus ikhlas dan sabar," ucap Nurdin yang begitu tenangnya.


Entah mengapa Derry  mengangguk menurut, ucapan adik iparnya seperti hipnotis yang menyejukkan. Bahkan papanya sendiri pun sulit untuk menjinakkan kemarahan dan keras kepala Derry, namun Nurdin dengan wibawanya dan ketenangannya mampu membuat Derry  menurut.


Jenazah, itu pun dimasukkan ke dalam ambulance. Sedangkan mereka semua ikut mengiringi Ambulance dari belakang. Tuan Frans  yang membawa dan menyetir mobil tersebut.

__ADS_1


Dan diikuti dengan Tuan Firhat juga. Rendra dan Tsania sedang dalam perjalanan menuju rumah Derry  saat ini. Sedang Tio baru saja sampai di bawah apartemen Soraya.


Dia langsung menaiki lift yang ada di apartemen itu, dengan cepat Tio melangkah dan menghapus setiap buliran yang ingin jatuh tersebut.


Memang Nyonya besar bersalah besar kepada Soraya, namun tidakkah ada maaf sebelum kematiannya menjemput seperti itu, bahkan Soraya  pun tidak sama sekali melihat ibu mertuanya itu.


Dia tidak berpikir kesana, karena Soraya  hanya berpikir positif saja saat ini. Berita viral hari ini disusul oleh berita viral lagi kematian istri konglomerat di kota Jakarta.


Tersebar luas kematian mama Derry itu. Sekarang berita menayangkan dengan cepat kematian mama Derry. Wartawan di setiap televisi sudah bersiap menuju rumah Derry.


Derry menyuruh orang-orangnya untuk mengawasi ketat rumah ini, dan jangan ada seorang wartawan pun masuk kedalam.


Dia tidak ingin ada media yang meliput mamanya dan takutnya banyak penyebaran berita yang tidak benar datang kepada mereka nanti.


Tuo pula saat ini dia sudah berada diambang pintu appartment Soraya. Dengan cepat dia menarik nafasnya dan mulai memencetkan bel apartemen itu.


Soraya  yang saat ini sedang makan siang bersama kedua pembantunya, dan berbincang hangat mereka terkejut dengan suara bel itu, menyangka Derry  yang pulang siang ini, Soraya  segera cepat melangkah untuk membukakan pintu tersebut.


"Biar saja saja bi," ucap Soraya  dengan ramahnya.


Mereka hanya tersenyum saat ini, betapa beruntungnya mendapatkan majikan seperti Soraya  yang baik hati dan juga ramah tersebut.


Cekrek...


Pintu telah pun terbuka lebar saat ini, Soraya  tersenyum lebar menyangka Derry yang pulang, namun menatap Tio dengan wajah datar begitu membuat Soraya  bingung dan terkejut.


Jantung Soraya  mulai berdebar kuat, pikirannya kepada Derry  saat ini, Derry  yang dia ketahui sedang bekerja dikantor sekarang dengan kedatangan Tio berwajah kusut begini hati Soraya  takut mendengar sebuah kenyataan pahit.


"Raya, kamu harus ikut kerumah Derry  sekarang," ucap Tio lemah.


"Tio, Derry  kenapa? kenapa bukan Derry  yang menjemputku?


Soraya  jantungnya berdebar kuat, dia takut ada suatu hal yang terjadi kepada Derry  saat ini.


"Soraya, Derry  sedang di rumahnya sekarang," ucap Tio terbata dan matanya merah.


****

__ADS_1


__ADS_2