90 DAYS

90 DAYS
KRITIS


__ADS_3

"Seratus juta?"


Ternganga mulut Tsania saat ini, melihat cek di depannya. Tanpa ragu Derry  mengeluarkannya dan memberi pesangon untuk mantan sekretarisnya itu.


Derry  tersenyum lebar, baginya itu tidak sebanding dengan pengabdian dan kejujuran Tsania di perusahaan ini. Selama menjadi sekretaris Tsania bekerja cukup bagus untuk Derry.


"Pak, apa ini tidak berlebihan?" tanya Tsania kembali.


"Tidak Tsania, anggap saja itu pesangon dan hadiah atas pernikahanmu itu," jawab Derry  dengan penuh kewibawaan.


Dengan siapa Tsania menikah masih belum diketahui. Namun lidah Derry  tampak gatal tidak sabar ingin menanyakan hal itu, yang Derry  tahu Tsania juga mengincar Tio sejak lama.


"Tsania, apa saya boleh menanyakan satu hal lagi kepadamu?" tanya Derry.


"Iya pak, silahkan," jawab Tsania dengan anggukan juga.


"Tsania, siapa lelaki beruntung itu? Apa lelaki itu saya kenal?" tanya Derry  menyiasat lebih dalam.


"Hm.. lelaki itu.."


Terhenti suara Tsania disana, ketika ponsel Derry  berdering kuat saat ini. Terlihat di layar tersebut nama papanya disana.


Derry  sebenarnya sedikit kesal, karena di hari kepulangannya papa dan mamanya bahkan tidak terlihat sama sekali. Hal ini membuat hati Derry  sedikit menyimpan kekesalan mendalam.


"Sebentar ya," Derry memberikan isyarat kepada Tsania, namun Tsania tetap teguh untuk segera berpamitan.


Derry  pun tidak bisa menghentikan langkah wanita itu, panggilan di ponselnya telah pun terhubung saat ini juga.


"Hallo Pa," ucap Derry  sedikit dengan nada malas.


"Derry, kamu segera ke rumah sakit, Mama sekarat!"


Nada Tuan Frans  terdengar begitu sangat panik sekarang. Dari kemarin semenjak mama Derry  tahu mengenai tanahnya yang telah dialihkan oleh Fanni, dia langsung jatuh pingsan.


Tuan Frans  terpaksa menghubungi Derry  saat ini. Dia takut terjadi yang diluar kehendaknya, dan jika Derry  tidak tahu nanti pasti Derry  akan lebih marah lagi.


Derry  yang mendengar itu, jantungnya langsung berdegup lencang, ada perasaan gelisah disana. Dia pun langsung bertanya kepada papanya.


"Kenapa mama bisa sekarat Pa? Mama kenapa?" tanya Derry  dengan suara kuat.


"Nanti saja dijelaskan, sekarang cepat ke rumah sakit dimana kamu dirawat kemarin," jelas papanya.


Dan saat ini Tio pula tampak ingin menghubungi Tuan Rendra. Akhir-akhir ini Rendra dan Tio menjadi teman yang akrab. Bahkan rahasia mereka sudah saling dibongkar malam itu.


Panggilan itu tidak lama telah pun tersambung dan disambut begitu hangat kepada Rendra.


"Hallo Tio, apa kabar?" tanya Rendra dengan jelas terdengar gembira.

__ADS_1


"Aku sedang tidak baik-baik saja Rendra, kau dimana?" tanya Tio  tampak dilema.


"Aku sedang dirumah saat ini, membuat persiapan," ucap Rendra kembali.


"Persiapan? kau mau pergi kemana?" tanya Tio kembali.


"Aku ingin kembali ke Australia lagi, dan menetap disana," jelas Tio yang tampak tenang.


"Hei, masalahmu dengan Tsania belum selesai bukan? Apa kau tidak ingin membujuk wanita itu lagi?" tanya Tio kembali.


"Tio, nanti saja bicarakan hal itu," jawab Rendra seolah tidak ingin membahas mengenai itu.


"Rendra, tadi aku melihat Tsania datang ke perusahaan," ucap Tio kembali seolah berita ini harus didengarkan Rendra.


"Ya, aku yang menyuruhnya," ucapnya enteng sambil terkekeh.


"Maksudmu? Hei, aku tidak mengerti! Bicara yang jelas!"


Suara Tio terdengar bingung dan penasaran. Seperti dipermainkan Rendra dia saat ini, namun dia tahu Tio, dan mengenai ini biarlah Tio mengetahuinya, sedangkan hal intim saja sudah diberitahukan Rendra kepada Tio.


"Kenapa diam? Ayo, katakanlah!" umpat Tio sedikit memaksa.


"Ya, ya! Kau tahu, aku dan Tsania sudah menikah," ucap Rendra  dengan penuh semangat.


"Apa? Menikah? Wah, kau gila!" ucapnya lagi yang tampak tidak mempercayai ucapan Rendra.


"Kau curang, bagaimana mungkin kau bisa menikahi wanita itu tanpa memberiku kabar? Bagaimana kau membujuk wanita keras kepala itu Rendra?"


Tio terus saja penasaran dan dia memaksa Rendra agar menjawab segala pertanyaannya itu, dan Rendra begitu terkekeh saat ini.


Wajar saja Tio tidak percaya mengenai hal ini. Karena memang sebelum ini Tsania bahkan tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Namun, kegigihan dan motivasi dari Tio ketika mereka bertemu malam itu, membuat Rendra semangat menunjukkan kebenarannya bahwa dia tidak bersalah.


Beberapa hari lalu, Rendra memaksa pihak Bar menunjukkan cctv yang menjelaskan kejadian itu. Dan Rendra membuat sesuatu rencana agar Tsania mau melihat video itu.


Akhirnya Rendra menyuruh orang suruhannya untuk mengirimkan rekaman cctv itu ke ponsel Tsania langsung. Entah mengapa, malam yang penuh kedukaan bagi Tsania dia pun karena penasaran lalu melihatnya dengan jelas.


Ya! Tuan Osman, itu memang yang ada di ingatannya. Namun, mengapa foto-foto yang dikirim beberapa waktu lalu menunjukkan Rendra lah yang bersalah.


Melihat itu, Tsania berpikir lagi sejenak, jika dia mengambil keputusan yang salah maka seumur hidupnya akan menyesali perbuatannya itu.


Dia pun paginya mendapat suatu pencerahan besar dalam hidupnya lewat mimpi. Dia yang selalu menjaga harga dirinya dengan baik, akhirnya pikirannya terbuka dan bukti yang begitu nyata dilihatnya malam itu, membuat dia yakin Rendra hanyalah korban keadaan.


Mengingat semua itu membuat Tsania awalnya malu berhadapan dengan Rendra, namun mau bagaimana lagi, Rendra adalah orang pertama yang menghancurkan pertahanannya.


Pagi itu juga, Tsania langsung menghubungi Rendra dan berbicara empat mata kepada pria kaya raya itu. Dengan begitu mereka bisa mendapatkan solusi yang terbaik.


Jika Tsania ingin percaya juga, Rendra pun baru kali itu melepaskan keperjakaannya. Entah Tsania bisa percaya atau tidak itulah kenyataan yang ada pada mereka berdua.

__ADS_1


Wanita tidak akan pernah percaya, kalau seorang lelaki dewasa kaya raya baru saja melepas keperjakaannya di usia yang terbilang sudah sangat matang itu. Ya! umurnya dengan Derry  sama-sama menginjak usia tiga puluh satu tahun.


Namun, ini lah kenyataan yang ada. Rendra benar-benar tidak pernah menyentuh yang haram namun kejadian malam itu, sungguh memaksa dan sampai merenggut keperjakaan miliknya.


Saat ini pula, Tuan Frans  yang tadi menghubungi Derry  memberitahukan kabar mama Derry  kritis, dia langsung keluar dari ruangannya dan ingin menuju parkiran.


Baru saja sampai di lantai bawah, Tio yang ingin keluar terserempak oleh Derry  yang tampak sangat panik dan bingung sekarang.


"Derry, kenapa buru-buru? Ada apa?" tanya Tio penasaran.


"Tio, mama sekarat," ucap Derry  dengan cepat melangkah.


"Apa? kondisi Tante sekarat? Kenapa bisa separah itu?" tanya Tio.


"Tio, apa kamu tahu mama sakit?" tanya Derry  menyiasat.


Derry  sedikit aneh dengan ucapan sepupu tak sedarahnya itu, ucapan Tio terlihat dia sudah tahu kalau mamanya sakit sebelum ini.


"Tio, mengapa kau diam?" tanya Derry  dan membentaknya.


"Derry, bukan waktunya sekarang untuk berdebat, ayo kita sama-sama ke rumah sakit," ucap Tio dengan cepat.


Mendengar apa yang dikatakan Tio itu masuk akal, mereka berdua pun melangkah bersama dengan cepat. Mata Derry  yang sudah memerah karena menahan amarahnya kepada Tio yang terlihat menyembunyikan sesuatu itu, dan sekarang sudah terlihat tenang.


Mereka pun beranjak dan menaiki mobil masing-masing. Di dalam mobil itu, Rendra kembali menghubungi Tio, dan di tampak membatalkan pertemuannya dengan Tio pagi ini.


Tio menyuruhnya untuk datang, karena penasaran yang tinggi, Tio memutuskan kesana, namun hal ini lebih penting bagi Tio.


"Apa Mama Derry  Kritis?" tanya Rendra begitu panik.


"Iya Ren, yadah nanti kita sambung lagi," ucap Tio langsung menutup panggilan itu.


Soraya  pula pagi ini sudah mendapat telpon dari mama Tio. Dia diundang untuk makan siang di rumah Tio nanti, jadi dia memutuskan tidak akan masak hari ini.


Lagi pula, pasti Derry  tidak pulang ke rumah siang hari. Dan inilah kesempatan Soraya  menjemput adiknya, dan bahkan juga Soraya  berpikir biarlah adik-adiknya tinggal bersama dirinya juga.


Siap berkemas, bel rumah berbunyi dengan tiba-tiba. Soraya  melihat dari dalam tampak dua orang wanita paruh baya di depan sana.


Cekrek..


Pintu pun terbuka dengan lebar, Soraya bertanya dengan sopannya saat ini.


"Ibu-ibu siapa ya? tanya Soraya.


"Kami pembantu yang di hubungi pak Derry," jelas mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2