
"Seratus juta?"
Ternganga mulut Tsania saat ini, melihat cek di depannya. Tanpa ragu Derry mengeluarkannya dan memberi pesangon untuk mantan sekretarisnya itu.
Derry tersenyum lebar, baginya itu tidak sebanding dengan pengabdian dan kejujuran Tsania di perusahaan ini. Selama menjadi sekretaris Tsania bekerja cukup bagus untuk Derry.
"Pak, apa ini tidak berlebihan?" tanya Tsania kembali.
"Tidak Tsania, anggap saja itu pesangon dan hadiah atas pernikahanmu itu," jawab Derry dengan penuh kewibawaan.
Dengan siapa Tsania menikah masih belum diketahui. Namun lidah Derry tampak gatal tidak sabar ingin menanyakan hal itu, yang Derry tahu Tsania juga mengincar Tio sejak lama.
"Tsania, apa saya boleh menanyakan satu hal lagi kepadamu?" tanya Derry.
"Iya pak, silahkan," jawab Tsania dengan anggukan juga.
"Tsania, siapa lelaki beruntung itu? Apa lelaki itu saya kenal?" tanya Derry menyiasat lebih dalam.
"Hm.. lelaki itu.."
Terhenti suara Tsania disana, ketika ponsel Derry berdering kuat saat ini. Terlihat di layar tersebut nama papanya disana.
Derry sebenarnya sedikit kesal, karena di hari kepulangannya papa dan mamanya bahkan tidak terlihat sama sekali. Hal ini membuat hati Derry sedikit menyimpan kekesalan mendalam.
"Sebentar ya," Derry memberikan isyarat kepada Tsania, namun Tsania tetap teguh untuk segera berpamitan.
Derry pun tidak bisa menghentikan langkah wanita itu, panggilan di ponselnya telah pun terhubung saat ini juga.
"Hallo Pa," ucap Derry sedikit dengan nada malas.
"Derry, kamu segera ke rumah sakit, Mama sekarat!"
Nada Tuan Frans terdengar begitu sangat panik sekarang. Dari kemarin semenjak mama Derry tahu mengenai tanahnya yang telah dialihkan oleh Fanni, dia langsung jatuh pingsan.
Tuan Frans terpaksa menghubungi Derry saat ini. Dia takut terjadi yang diluar kehendaknya, dan jika Derry tidak tahu nanti pasti Derry akan lebih marah lagi.
Derry yang mendengar itu, jantungnya langsung berdegup lencang, ada perasaan gelisah disana. Dia pun langsung bertanya kepada papanya.
"Kenapa mama bisa sekarat Pa? Mama kenapa?" tanya Derry dengan suara kuat.
"Nanti saja dijelaskan, sekarang cepat ke rumah sakit dimana kamu dirawat kemarin," jelas papanya.
Dan saat ini Tio pula tampak ingin menghubungi Tuan Rendra. Akhir-akhir ini Rendra dan Tio menjadi teman yang akrab. Bahkan rahasia mereka sudah saling dibongkar malam itu.
Panggilan itu tidak lama telah pun tersambung dan disambut begitu hangat kepada Rendra.
"Hallo Tio, apa kabar?" tanya Rendra dengan jelas terdengar gembira.
__ADS_1
"Aku sedang tidak baik-baik saja Rendra, kau dimana?" tanya Tio tampak dilema.
"Aku sedang dirumah saat ini, membuat persiapan," ucap Rendra kembali.
"Persiapan? kau mau pergi kemana?" tanya Tio kembali.
"Aku ingin kembali ke Australia lagi, dan menetap disana," jelas Tio yang tampak tenang.
"Hei, masalahmu dengan Tsania belum selesai bukan? Apa kau tidak ingin membujuk wanita itu lagi?" tanya Tio kembali.
"Tio, nanti saja bicarakan hal itu," jawab Rendra seolah tidak ingin membahas mengenai itu.
"Rendra, tadi aku melihat Tsania datang ke perusahaan," ucap Tio kembali seolah berita ini harus didengarkan Rendra.
"Ya, aku yang menyuruhnya," ucapnya enteng sambil terkekeh.
"Maksudmu? Hei, aku tidak mengerti! Bicara yang jelas!"
Suara Tio terdengar bingung dan penasaran. Seperti dipermainkan Rendra dia saat ini, namun dia tahu Tio, dan mengenai ini biarlah Tio mengetahuinya, sedangkan hal intim saja sudah diberitahukan Rendra kepada Tio.
"Kenapa diam? Ayo, katakanlah!" umpat Tio sedikit memaksa.
"Ya, ya! Kau tahu, aku dan Tsania sudah menikah," ucap Rendra dengan penuh semangat.
"Apa? Menikah? Wah, kau gila!" ucapnya lagi yang tampak tidak mempercayai ucapan Rendra.
"Kau curang, bagaimana mungkin kau bisa menikahi wanita itu tanpa memberiku kabar? Bagaimana kau membujuk wanita keras kepala itu Rendra?"
Tio terus saja penasaran dan dia memaksa Rendra agar menjawab segala pertanyaannya itu, dan Rendra begitu terkekeh saat ini.
Wajar saja Tio tidak percaya mengenai hal ini. Karena memang sebelum ini Tsania bahkan tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Namun, kegigihan dan motivasi dari Tio ketika mereka bertemu malam itu, membuat Rendra semangat menunjukkan kebenarannya bahwa dia tidak bersalah.
Beberapa hari lalu, Rendra memaksa pihak Bar menunjukkan cctv yang menjelaskan kejadian itu. Dan Rendra membuat sesuatu rencana agar Tsania mau melihat video itu.
Akhirnya Rendra menyuruh orang suruhannya untuk mengirimkan rekaman cctv itu ke ponsel Tsania langsung. Entah mengapa, malam yang penuh kedukaan bagi Tsania dia pun karena penasaran lalu melihatnya dengan jelas.
Ya! Tuan Osman, itu memang yang ada di ingatannya. Namun, mengapa foto-foto yang dikirim beberapa waktu lalu menunjukkan Rendra lah yang bersalah.
Melihat itu, Tsania berpikir lagi sejenak, jika dia mengambil keputusan yang salah maka seumur hidupnya akan menyesali perbuatannya itu.
Dia pun paginya mendapat suatu pencerahan besar dalam hidupnya lewat mimpi. Dia yang selalu menjaga harga dirinya dengan baik, akhirnya pikirannya terbuka dan bukti yang begitu nyata dilihatnya malam itu, membuat dia yakin Rendra hanyalah korban keadaan.
Mengingat semua itu membuat Tsania awalnya malu berhadapan dengan Rendra, namun mau bagaimana lagi, Rendra adalah orang pertama yang menghancurkan pertahanannya.
Pagi itu juga, Tsania langsung menghubungi Rendra dan berbicara empat mata kepada pria kaya raya itu. Dengan begitu mereka bisa mendapatkan solusi yang terbaik.
Jika Tsania ingin percaya juga, Rendra pun baru kali itu melepaskan keperjakaannya. Entah Tsania bisa percaya atau tidak itulah kenyataan yang ada pada mereka berdua.
__ADS_1
Wanita tidak akan pernah percaya, kalau seorang lelaki dewasa kaya raya baru saja melepas keperjakaannya di usia yang terbilang sudah sangat matang itu. Ya! umurnya dengan Derry sama-sama menginjak usia tiga puluh satu tahun.
Namun, ini lah kenyataan yang ada. Rendra benar-benar tidak pernah menyentuh yang haram namun kejadian malam itu, sungguh memaksa dan sampai merenggut keperjakaan miliknya.
Saat ini pula, Tuan Frans yang tadi menghubungi Derry memberitahukan kabar mama Derry kritis, dia langsung keluar dari ruangannya dan ingin menuju parkiran.
Baru saja sampai di lantai bawah, Tio yang ingin keluar terserempak oleh Derry yang tampak sangat panik dan bingung sekarang.
"Derry, kenapa buru-buru? Ada apa?" tanya Tio penasaran.
"Tio, mama sekarat," ucap Derry dengan cepat melangkah.
"Apa? kondisi Tante sekarat? Kenapa bisa separah itu?" tanya Tio.
"Tio, apa kamu tahu mama sakit?" tanya Derry menyiasat.
Derry sedikit aneh dengan ucapan sepupu tak sedarahnya itu, ucapan Tio terlihat dia sudah tahu kalau mamanya sakit sebelum ini.
"Tio, mengapa kau diam?" tanya Derry dan membentaknya.
"Derry, bukan waktunya sekarang untuk berdebat, ayo kita sama-sama ke rumah sakit," ucap Tio dengan cepat.
Mendengar apa yang dikatakan Tio itu masuk akal, mereka berdua pun melangkah bersama dengan cepat. Mata Derry yang sudah memerah karena menahan amarahnya kepada Tio yang terlihat menyembunyikan sesuatu itu, dan sekarang sudah terlihat tenang.
Mereka pun beranjak dan menaiki mobil masing-masing. Di dalam mobil itu, Rendra kembali menghubungi Tio, dan di tampak membatalkan pertemuannya dengan Tio pagi ini.
Tio menyuruhnya untuk datang, karena penasaran yang tinggi, Tio memutuskan kesana, namun hal ini lebih penting bagi Tio.
"Apa Mama Derry Kritis?" tanya Rendra begitu panik.
"Iya Ren, yadah nanti kita sambung lagi," ucap Tio langsung menutup panggilan itu.
Soraya pula pagi ini sudah mendapat telpon dari mama Tio. Dia diundang untuk makan siang di rumah Tio nanti, jadi dia memutuskan tidak akan masak hari ini.
Lagi pula, pasti Derry tidak pulang ke rumah siang hari. Dan inilah kesempatan Soraya menjemput adiknya, dan bahkan juga Soraya berpikir biarlah adik-adiknya tinggal bersama dirinya juga.
Siap berkemas, bel rumah berbunyi dengan tiba-tiba. Soraya melihat dari dalam tampak dua orang wanita paruh baya di depan sana.
Cekrek..
Pintu pun terbuka dengan lebar, Soraya bertanya dengan sopannya saat ini.
"Ibu-ibu siapa ya? tanya Soraya.
"Kami pembantu yang di hubungi pak Derry," jelas mereka.
***
__ADS_1