90 DAYS

90 DAYS
BERPIKIR


__ADS_3

Tio yang sudah mengetahui kalau Soraya  tidak ada di rumah tersebut kini memutuskan untuk segera menuju apartemen dimana dia pernah menjemput Soraya  untuk makan malam sebelum ini.


Dan kini sudah pun mobil itu melaju dengan cepat menuju kediaman Soraya  tersebut. Tio yang sudah mendapatkan amanah untuk melindungi Soraya  saat ini.


Tio juga sudah menceritakan secara detail keadaan keluarga Soraya  dengan Nya tersebut. Dan kini sudah hampir setengah perjalanan dia sudah ingin sampai menuju parkiran apartemen SORAYA  tersebut.


"Lantai berapa ya??" tanya Tio tampak bingung.


Tio hanya tahu letak apartemen tersebut, namun tidak tahu pasti Soraya  berada di lantai berapa. Tio pun dengan cepat ke pos sekuriti yang ada di dekat apartemen tersebut.


Tio meminta kepada sekuriti itu untuk mencarikannya data tentang orang yang bernama Soraya tersebut. Kemudian dengan cepat Tio telah mendapatkan nomor apartemen Soraya.


Tio pun dengan cepat naik menuju lantai atas yang telah diajukan kepadanya tersebut. Pintu lift terbuka, Tio tidak jadi melangkah saat ini karena yang dicarinya telah pun berada di hadapannya tersebut.


"Soraya? kalian mau kemana??" tanya Tio tampak panik saat ini.


"Bang Tio??" ucap mereka serentak.


Tio pun keluar dengan cepat, untung saja dia sampai tepat pada waktunya. Soraya  tampak membawa beberapa koper dan dibantu oleh Nurdin dan Nadim juga.


"Kalian mau kemana??" tanya Tio tampak bingung.


Soraya  hanya diam menyimpan semua rasa sakitnya hari ini. Dia sudah berencana ingin pindah dari kota Jakarta ini. Dengan membawa mas kawin tiga ***** koinnya tersebut, mungkin saja bisa membuat kehidupannya terbantu nanti di tempat lain, pikir Soraya.


"Raya... jawablah, kalian ingin kemana??" tanya Tio kembali dengan lembut.


Yumita hanya memerhatikan perlakukan Tio yang lembut tersebut kepada kakaknya itu. Tampak Yumita  juga cemburu dengan perlakukan sedemikian Tio kepada kakaknya.


"Tio, biarkan kami pergi mencari kedamaian dan ketenangan kami, jangan campuri lagi urusan ini," ucap Soraya  sedikit acuh tak acuh kepada Tio.


"Raya... Om Frans  memerintahkanku mencarimu disini!!" ucap Tio kembali akhirnya dia berani mengatakan hal itu.


"Papa? kenapa dia menyuruhmu??" tanya Soraya  seolah tidak percaya.


"Om Frans  sudah menceritakan semuanya, apa kita bisa bicara di dalam apartemenmu dulu??" tanya Tio kembali mencoba menggagalkan rencana Soraya  tersebut.

__ADS_1


"Iya kak, sebaiknya kita kembali ke apartemen dulu saja, biarkan bang Tio membantu masalah kakak ini," ucap Yumita  tiba-tiba angkat bicara.


Soraya  hanya memandangi Yumita  dengan tatapan sedikit aneh kali ini. Dan Yumita  juga tidak bisa mengawal keinginannya yang selalu ingin menatap Tio dengan jarak yang dekat, sehingga mulut Yumita  tiba-tiba saja berucap seperti itu.


Tatapan tajam Soraya  itu membuat Yumita  tertunduk malu karena Soraya  tampak tidak menyukai hal itu.


"Hem.. baiklah, kita kembali ke apartemen dulu," jawab Soraya  setelah beberapa saat berpikir.


Soraya  pun membawa kembali barang-barang nya dan kemudian Tio di persilahkan masuk ke dalam apartemen itu. Yumita  pula dengan cepat ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Tio tersebut.


Dengan hati yang berdebar kuat, dan Yumita  sangat senang akhirnya Soraya  membuang ego dan keras kepalanya tersebut.


"Apa benar Papa Frans  yang menyuruhmu??" tanya Soraya  lagi.


"Benar Raya.. dan aku baru saja dari rumahnya tersebut," ucap Tio.


"Untuk apa kau kesana??" tanya Soraya  lagi.


"Untuk membicarakan saham yang baru saja melonjak kuat," jawab Tio.


"Oh.. lalu bagaimana keadaan Derry??" tanya Soraya  sudah tampak akur dengan Tio.


"Mama kenapa??" tanya Soraya  tampak khawatir.


"Tante tidak kenapa-napa, namun disayangkan yang kutahu dari Om Frans, Tante menuduhmu yang tidak-tidak bukan?? " tanya Tio kembali.


"Kalau itu tidak masalah bagiku, wajar saja seorang ibu akan marah jika mendapatkan menantu sepertiku ini," ucap Soraya  tampak menahan gejolak air matanya itu.


"Raya... jangan berkata seperti itu! kau wanita baik, cukup mengatakan itu!!" bentak Tio sedikit kuat membuat Yumita  yang ingin sampai ke ruangan tamu itu terhenti, di ambang pintu yang menjadi batas antara dapur dan ruang tamu.


"Tio.. apa aku sangat buruk??" suara Soraya  sudah berubah menjadi parau sekarang.


"Tidak, kau tidak pernah buruk di mataku!!" ucap Tio lagi.


Dengan langkah perlahan Yumita  menuju ruang tamu itu. Sedikit hatinya merasa terluka mendengar Tio berulang kali memuji Soraya  tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah yang berat dan senyum yang sengaja di kembangkannya tersebut, kemudia dia pun meletakkan dua cangkir jus jeruk segar di meja itu.


Sedangkan Nurdin dan Nadim kembali ke kamar mereka saat ini untuk menyusun barang-barang mereka yang berada dalam koper sebelum ini.


"Terima kasih," ucap Tio kepada Yumita.


Yumita hanya membalasnya dengan anggukan kecil, dan dia pun kembali ke dapur dengan cepat. Matanya berkaca-kaca tampak menahan air mata yang ingin keluar.


"Raya.. kau tenang saja, aku dan Om Frans  berada di pihak kalian," ucap Tio  menegaskan.


"Tapi... Mama tidak menyukaiku Tio," ucapnya.


"Setelah Derry  sadar, aku yakin Tante tidak akan bisa menghentikan kalian untuk bersama kembali, Raya! percayalah," ucap Tio lagi.


"Kamu benar Tio, tidak seharusnya aku begini," ucap Soraya  tampak menjadi semangat kembali.


"Benar, kau jangan pergi. Menetaplah disini, dan tunggu Derry  sampai sadar, kalau memang kau ingin bekerja datanglah ke kantor, jika tidak ingin kau dirumah saja pun tak mengapa," ucap Tio lagi.


"Mungkin aku akan bekerja kembali, karena Yumita  dan kedua adikku akan terus melanjutkan pendidikan, dan semua aku yang akan menanggungnya," jelas Soraya  lagi.


"Masalah biaya pendidikan mereka jangan pernah khawatir, aku bersedia membantumu," ucap Tio meyakinkan Soraya  lagi.


"Tidak Tio, aku kakak mereka jadi aku lah yang bertanggung jawab atas diri mereka semua," jelas Soraya  lagi.


"Yasudah kalau kau tetap keras kepala, tapi hari ini aku bersyukur bisa membuatmu yakin kembali kepada cintanya Derry," ucap Tio.


"Kami hari ini telah habis kontrak 90 hari Tio, dan aku tidak tahu pernikahan ini akan berlanjut atau akan berhenti hari ini saja," ucapnya.


"90 hari di dalam perjanjian itu, aku sangat yakin jika Derry  sadar dia akan mengubah itu menjadi 90 hari tanpa akhir bagi kalian, selain berakhir dengan kematian," ucap Tio kembali.


"Tio, terima kasih banyak kau memberi aku secercah harapan untuk menantikan Derry  kembali," ucap Soraya.


"Ya, jangan pernah tinggalkan Derry, dia tulus mencintaimu," ucap Tio walau berat namun dia harus bisa mengatakan hal itu.


Tidak dipungkiri lagi, cinta Tio juga sangat besar. Namun pedulinya juga lebih besar, ketulusan datang dari perbuatan seseorang, ucapan hanyalah kebohongan semata jika tanpa perbuatan bersamanya.

__ADS_1


Tidak dengan Tio, dia membuktikan segalanya dengan perbuatan dan ucapan yang selalu memotivasi Soraya  untuk tetap bertahan walau badai sedang menghadap ke arah Soraya  saat ini.


****


__ADS_2