90 DAYS

90 DAYS
FANNY MEMELUK DERRY DENGAN MESRA


__ADS_3

Satu jam sudah pun berlalu dengan cepat. Saat ini juga Derry mendapatkan pesan dari Fanni tersebut agar Derry menjemput Fanni ke Bandara sekarang.


Namun, hal ini tidak mungkin dilakukan Derry, dia pun mencari cara agar Fanni datang dengan sendirinya ke rumah sakit ini.


Dia pun menekan nomor ponsel Fanni dan segera menghubunginya saat ini, dengan cepat Fanni menjawab panggilan dari Derry tersebut.


"Hallo sayang, jadi jemput tidak? Aku sudah disini," ucap Fanni dengan suara manja.


"Fanni, aku tidak bisa meninggalkan papamu disini, aku takut terjadi apa-apa nanti, kau naik taksi saja ya sayang," ucap Derry dengan sengaja membujuknya.


"Oh ya sudah baiklah Derry, tunggu aku disana," ucapnya.


Setelah panggilan itu berakhir saat ini juga Derry mengatur posisinya dan mengatur rencananya sekarang. Bahkan Derry kembali menghubungi Tio saat ini agar mereka juga bersiap-siap untuk hal ini sekarang.


Satu sisi lagi saat ini juga Derry yang sedang berada di ruangan papanya dirawat itu, dia memberitahukan kepada semua orang yang ada di ruangan itu untuk tidak keluar apapun yang terjadi.


"Ingat, jangan ada yang keluar masuk dari ruangan ini, dan satu hal lagi hal ini agar tidak diketahui oleh Fanni, kalau kita sedang menjebaknya saat ini," jelas Derry.


Orang-orang suruhan Rendra dan Tio juga sudah sampai sekarang, mereka mengelilingi rumah sakit itu, dan mereka bergaya seolah menjadi pasien rumah sakit tersebut.


Mereka berada di beberapa tempat saat ini, sedangkan Derry sekarang ini dia pun sudah berada di atas tepatnya di depan ruangan Papa Fanni tersebut.


Satu sisi lagi, sekarang ini pula Tuan Osman yang dikurung di sebuah tempat yang sengaja Tio siapkan untuknya itu, dia pun ingin melakukan percobaan lari, karena dia sempat mendengar apa yang diucapkan penjaga dari lewat sebuah panggilan.


Dia dikurung saat ini untuk dijadikan sebuah saksi akurat agar tanah itu bisa kembali, dan setelah bersaksi nanti pastilah dia akan mendapatkan hukumannya juga dipenjara, karena memikirkan tentang penjara, Tuan Osman saat ini ingin melarikan dirinya sendiri sekarang.


Karena penjagaan begitu ketat, dia bahkan kesulitan untuk keluar dari pintu itu, memang tubuhnya tak terikat dengan apapun saat ini, karena tidak bisa melewati pintu itu dia melihat sebuah jendela disana, namun ketika membuka jendela tersebut dia berada diruangan yang cukup tinggi ternyata.

__ADS_1


Ada rasa takut dan gemetar saat ini, namun mengingat sebuah penjara, pasti akan lebih mengerikan lagi pikirnya.


Dia mencari cara terus menerus, tubuhnya sudah sedikit duduk di jendela itu, namun kakinya gemetar saat ini, satu sisi lagi mantan istrinya itu sama sekali tidak peduli dengan Tuan Osman mau hidup ataupun mati.


Mereka sengaja membawa Tuan Osman dijalanan waktu itu, karena istrinya itu berpikir tanah ini tidak akan bisa ada  yang menuntutnya kembali, dia berpikir juga Fanni tidak akan berani muncul di permukaan khalayak ramai karena videonya itu telah pun tersebar luas saat ini.


Setiap rumah ini dipasang alat pengaman dan bunyinya cukup kuat, jika cctv mendeteksi ada hal bahaya yang terjadi cctv itu menghubungkan ke suara yang telah dirakit oleh orang-orang suruhan Tio tersebut.


"Bunyi itu, lihat kedalam!" ucap Penjaga yang merasa ada bahaya yang datang.


Bunyi itu semakin kuat lagi ketika Tuan Osman kakinya sudah turun kebawah satu saat ini juga. Namun dia pula masih sedikit penuh keraguan, para penjaga itu melihat ponsel mereka semua, karena memang setiap cctv itu terhubung dengan ponsel mereka.


Mereka ingin mencari dimana letak bahaya saat ini, dan ketika titik merah itu memperlihatkan bahwa dari kamar dimana Tuan Osman berada  saat ini, dan jendela itu menunjukkan sebuah kaki yang sudah menggantung disana.


Mereka semua bersiap siaga dengan cepat, menyiapkan sebuah alat penampung tubuh itu di bawah sana, sedang seorang penjaga pintu itu mencoba membuka ruangan tersebut dan dia ingin menghentikan Tuan Osman tersebut.


"Hei, apa yang kau lakukan!" Teriak penjaga itu membuat Tuan Osman panik dan melepaskan tangannya dari jendela tersebut.


"A...aaa" suara teriakan yang cukup kuat terdengar saat ini.


Satu sisi di bawah sana sudah ada orang-orang itu menahannya disana.  Ketika Tuan Osman sampai di bawah, dia langsung ditampung oleh sebuah jaring yang telah dibuat oleh orang-orang suruhan Tio tersebut.


Dia mencoba membuka matanya saat ini, tubuhnya tidak merasakan apapun sekarang ini, dan dia mencoba membuka matanya perlahan, disana sudah banyak mata yang menatapnya begitu sangat tajam.


"A..aku belum mati?" tanyanya sendiri didalam hatinya saat ini.


"Ya, benar saja, kau tidak akan mati sebelum kau membuat pertanggung jawabanmu nanti!" ucap salah seorang petugas itu.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin keluar kumohon lepaskan aku, jangan biarkan aku disini lagi, aku tidak ingin terlibat apapun lagi saat ini," ucapnya memohon berulang kali.


Sedangkan satu sisi sekarang ini, Fanni pula telahpun sampai tepat di parkiran rumah sakit tersebut. Perjalanan dari Bandara ke rumah sakit itu tidak begitu jauh, hanya saja memakan waktu sekitar setengah jam lebih kalau memang tidak ada yang membuat kemacetan di jalan besar kota Jakarta itu.


Setelah ini Derry mencoba mengatur nafasnya, dia tidak ingin Fanni akan mencurigainya nanti.


Sekarang dengan cepat Fanni menuju receptionist, disana dia bertanya dimana ruangan papanya dirawat saat ini.


Setelah menyebutkan nama papanya itu dia pun dengan cepat naik ke atas, papanya itu terletak di lantai tiga yang saat ini ruangan VIP yang telah Derry berikan kepada papa Fanni itu.


Dan setelah itu dia pun melihat Derry berdiri dengan paniknya diambang pintu tersebut, sengaja untuk mengelabui Fanni saat ini.


" Derry...lama tidak bertemu denganmu!" ucap Fanni sambil memeluk Derry langsung sekarang.


Derry sebenarnya merasa sangat jijik, rasanya dia ingin menampar wajah wanita ini dengan cepat. Karena wanita ini adalah penyebab kematian Mamanya itu, dan Fanni masih saja tidak merasa dia memiliki salah apapun sekarang.


"Fann, Jangan disini, ini kan rumah sakit," ucap Derry yang mencoba merentangkan tangan Fanni itu.


"Derry, terima kasih banyak kamu mau terima aku lagi Derry, dan sekarang kamu juga yang bawa papa aku kesini, kalau gak ada kamu Derry, aku tidak tahu lagi sekarang," ucapnya penuh merasa menyesal.


"Fann, sudahlah jangan bicarakan itu, kita duduk saja sekarang ini, dan kita berdoa agar Tuhan bisa mengabulkan segala permintaan kita sekarang," ucapnya.


"Derry, dengan aku berada disisimu saat ini, aku juga merasa paling bahagia sekarang, Derry maafkan aku juga tidak. bisa datang ke pemakaman mamamu Derry," ucapnya lagi dengan sengaja.


"Iya Fann, sudahlah tenang saja, dan yang lalu biarlah berlalu."


Derry pula sekarang ini masih duduk berdekatan dengan Fanni, dia pun berencana ingin membawa Fanni dihadapan Tuan Osman sekarang ini, namun dia tidak ingin melakukan hal yang gegabah sekarang, biarkan Fanni terlena dulu dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2