
Senin pagi yang cerah semua para pekerja tampak bersemangat saat ini memulai segalanya. Namun tidak dengan Tsania dia tidak terlihat masuk hari ini.
Tsania pula tampak masih merasakan sakit di area pangkal pahanya tersebut. Dia pun tampak kusut mencoba mengulang kembali setiap ingatannya.
Muncul sedikit demi sedikit memori di kepalanya tersebut. Setelah dia mencium bunga yang sengaja diletakkan di depan pintunya itu saat itu ingatannya buyar seketika.
Entah mengapa bayang-bayang dia menarik kerah baju belakang Tuan Rendra tersebut tampak terus muncul. Apa aku yang salah??" tanya Tsania dalam hatinya tersebut.
"Tidak, tidak! aku tidak bersalah!" umpan Tsania kesal dan terus menangisi nasibnya saat ini.
Senin ini sudah dijadwalkan meeting bersama antara staf dan atasan untuk melihat perkembangan perusahaan mereka.
Tio yang sedari tadi sudah sampai di kantor tersebut tidak melihat Tsania sama sekali pagi ini. Tidak seperti biasanya, pikir Tio.
Biasanya Tsania sangat begitu semangat, apalagi ketika Tio yang menjadi CEO di sana. Bagi Tsania itu lebih baik dibandingkan dengan Derry.
Jika ingin membandingkan antara Derry dan Tio di mata Tsania Tio lebih unggul dari segi kinerja dan kecerdasan, namun dari ketampanan memang mata awam akan memandang Derry terpukau.
Karena meeting hampir dimulai tiga puluh menit lagi, Tsania pula masih tidak terlihat, Tio pun mencoba menelpon ke nomor ponsel Tsania itu.
Tut... tut..
Terdengar suara deringan masuk, namun tampaknya ponsel itu tidak dijawab sama sekali. Ya! Tsania hanya memandangnya sambil air matanya terus terjatuh di pipi mulusnya itu.
Dia yang masih terobsesi mendapatkan Tio tersebut seketika menjadi tidak percaya diri karena kondisinya saat ini. Ya! memorinya menunjukkan hal lain dari kejadian semalam.
Tidak ada yang salah antara Tsania dan Rendra. Keduanya korban keadaan, namun bagaimana mau ditolak lagi, jika garis takdir telah pun di tentukan di naskah Tuhan.
Sekali tidak di jawab, Tio mencoba menghubungi Tsania tanpa hentinya. panggilan itu sudah terhitung sepuluh kali saat ini. Dengan suara yang parau dan takut-takut Tsania akhirnya menjawab panggilan itu juga.
"Ha.. hallo pak Tio," masih dengan suara terisak saat ini, Tsania mencoba menahan isakan tangisnya itu.
"Tsania.. kamu kenapa??" tanya Tio tampak bingung dan sedikit khawatir mendengar suara Tsania tersebut.
"Saya sedang tidak enak badan Pak, hari ini saya izin tidak masuk," ucap Tsania berbohong.
__ADS_1
"Tsania.. apa kau sudah pergi ke dokter??" tanya Tio masih memberikan perhatiannya sebagai sesama pekerja di perusahaan itu.
"Belum pak, nanti saya akan pergi," jawab Tsania lagi.
"Baiklah, cepat sembuh dan saya akan menyuruh yang lain untuk menukar posisimu hari ini," jelas Tio kepada Tsania.
"Iya pak, terima kasih banyak atas pengertiannya," jawab Tsania lagi.
"Iya, sudah kamu istirahat saja sekarang," ucap Tio.
Tak lama kemudian panggilan itu pun diakhiri Tio. Tsania masih terhanyut dengan perhatian Tio tersebut. Satu sisi mengingat wajah Tuan Rendra membuatnya malu dan tak tentu arah.
Ingatannya kembali saat ke dalam clab malam. Wajah samar penuh bulu itu sulit dia kenali saat ini. Sepertinya dia pernah melihatnya, namun tampaknya hanya sekali atau dua kali mungkin.
Tsania mencoba terus berusaha mengingat semuanya. Namun memori kepalanya itu belum sepenuhnya pulih dan benar-benar mengingat kejadian yang sebenar.
Kalau Rendra tidak bersalah, lalu mengapa dia tidak berpakaian semalam!! teriaknya tampak histeris di dalam kamar tersebut.
Saat ini Tuan Osman pula mencari identitas Rendra. Tampaknya Tuan Osman ingin melakukan sesuatu yang berat dan membuat Rendra menyesali perbuatannya.
Tuan Osman sengaja ingin membuat Rendra menyesal. Dia meminta cctv yang ada di club malam itu, dan menyuruh orang untuk mencari identitas Ravin.
Tak lama kemudian Tuan Osman pun mendapatkannya. Dia tersenyum puas dengan oknum yang membantu dirinya tersebut mencari identitas Tuan Rendra.
Saat ini Rendra pula tampak sendiri menikmati hempasan ombak yang menghantam tubuhnya tersebut. Kotor! aku sudah menjadi pria kotor! ucap Rendra menatap lepas laut di depan villa nya tersebut.
Dia yang selalu bisa menghindari godaan wanita manapun dan masih membuat keperjakaannya bertahan kokoh. Kemarin malam kisah kelam tentang keperjakaan telah musnah dikikis oleh takdir yang tidak sengaja mengikatnya dengan seorang wanita yang merenggut keperjakaannya tersebut.
Wajar saja Tsania marah dan benci, karena apa yang dilihat Tsania Rendra tampak menjadi lelaki kurang ajar dan brengsek, pikir Rendra saat ini.
Bagaimana aku harus menebus dosa ini Tuhan..! teriak Rendra dengan laut tersebut.
Merasa kehilangan arah, jika Tsania berkenan dia akan bertanggung jawab dan memang akan memenuhi semua kebutuhan Tsania apa pun itu.
Walau memulai hubungan tanpa cinta mungkin saja mereka bisa menghapus sebuah dosa atas perzinahan kemarin malam tersebut.
__ADS_1
Tsania pula sudah memutuskan untuk tidak akan menemui Tuan Rendra lagi. Dan Tsania juga tidak ingin melihat Rendra kembali walaupun dengan urusan kerja.
Kemarin ketika mengantarkan Tsania pulang, wanita itu sempat tertidur pulas di sebelahnya. Wajah stres dan kasihan tampak ada disana.
Jika dipikir, Tsania dan aku sama-sama single, namun mengapa dia menolak tanggung jawabku untuknya??
Tanya besar terbesit di pikiran dan hati Tuan Rendra saat ini. Tsania yang memang dia kenali cukup ramah dan baik itu tidak pernah dia tahu Tsania memiliki kekasih, pikir Tuan Rendra.
Jauh dari kehidupan tentang wanita itu, entah Tuhan telah menggoreskan takdirnya untuk memulai hubungan kembali, atau memang ini hanyalah sebuah petaka yang dibawa setan untuknya.
Tsania berpikir yang tidak-tidak saat ini. Dia tampak melihat setiap sudut rumahnya yang sunyi ini. Tampaknya wanita ini memang mandiri dan hidup sendirian. Kisah kelam keluarganya yang berantakan, membuat dia nyaman dengan kesendirian tanpa merasa sebuah kesunyian.
"Apa aku pindah saja dari sini??" tanya Tsania dalam hatinya melihat sekeliling rumah nya tersebut.
"Aku sudah tidak ada harga diri lagi," ucapnya lirih dan menangis.
Tak lama kemudian terdengar kembali ketukan pintu rumahnya yang cukup kuat tersebut. Tuan Osman yakin antara Tsania dan Rendra sudah terjadi sesuatu saat ini.
Dia pun menyuruh orang suruhannya membawakan sesuatu untuk Tsania lihat dan akan membuat sesuatu masalah besar akan terjadi lagi.
"Siapa??" ucap Tsania menatap tajam pembawa map coklat itu.
"Lihat ini, dan berpikirlah!" ucap orang itu lalu pergi meninggalkan Tsania yang masih berdiri di ambang pintu tersebut.
Sudah tahu sekarang Tuan Osman mengenai Rendra yang menjadi salah satu investor terbesar perusahaan keluarga tersebut. Dan ini bisa menjadi celah Tuan Osman untuk mereraikan satu persatu investor besar dari perusahaan itu.
Jika perusahaan tanah itu menurun dan perusahaan bangkrut karena tidak ada penopang mereka lagi, maka tanah yang disewa tuan Osman bisa dia beli dan dimiliki.
Tentang Fanni pula masih di genggamannya saat ini. Dia tampak mengumpulkan satu persatu kartu jokernya itu untuk menghancurkan Derry dan perusahaannya tersebut.
Tuan Osman yang licik dan dianggap teman oleh Derry itu adalah musuh dalam selimut merah yang penuh darah. Kini Tsania ternganga melihat beberapa foto Tio memapahnya keluar.
"Ternyata dia pelaku sebenarnya!!" umpat Tsania geram dan termakan fitnah hanya melihat foto tersebut.
****
__ADS_1