Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Rasa bersalah?


__ADS_3

Karena Axel kehilangan jejak Alice akibat banyaknya orang yang mengerubungi Axel- pria itupun bertanya pada Freya di mana kamar Alice.


Semakin langkahnya mendekati kamar Alice- semakin dada Axel berdegup kencang. Sekali lagi, Axel memilih memegangi dadanya yang terasa semakin tidak enak semakin ia mendekati kamar Alice.


Rasa bersalahkah?


Bahkan sampai sekarang, Axel belum dapat meminta maaf dengan benar kepada Alice.


Setelah sampai di depan kamar Alice- Axel pun hanya terdiam di tempatnya. Ia masih belum dapat menemukan kata- kata yang pas untuk menyapa Alice nanti. Awalnya, Axel ingin mengalihkan kakinya kembali menuju kamarnya, namun, mengingat para pria- pria yang tadi memuji Alice membuat Axel tidak jadi beranjak dari depan pintu Alice dan mencoba mengetuk kamar Alice.


Kesal? Tidak! Ini pasti rasa khawatir dan takut Alice akan mengalami hal yang sama jika membiarkan para pria itu mengerumuni Alice. Begitulah Axel mencoba menenangkan hatinya sendiri.


Tok! Tok! Suara pintu di ketuk.


“ siapa?” ucap sebuah suara di dalam kamar.


“ ini aku.” jawab Axel. Tanpa banyak pertanyaanpun, tampak jika pintu kamar Alice terbuka.


“ A.., Alice.., aku.” ucap Axel terhenti begitu melihat teman- temannya yang mengerubungi Axel tadi sudah berada di kamar Alice.


“ kalian di sini?” kesal Axel kepada teman- teman pria nya.


” mereka menunggu di depan kamarku, jadi aku terpaksa menerima mereka masuk.” ucap Alice acuh dan mengambil pouch nya.


“ he he.” ucap para pria itu besamaan sambil tersenyum dengan wajah merona.


“ ada apa kau kemari?” tanya Alice tanpa memandang Axel.


“ ti.., tidak aku..” ucap Axel mengusap tengkuknya. Ia ingin menunggu para pria ini pergi dari kamar Alice dulu baru Axel ingin berbincang berdua denga Alice.


“ kalian mengapa kemari?” tanya Axel mengalihkan dan memilih duduk di sofa karena kamar Alice sudah penuh dengan para pria yang duduk di sana.

__ADS_1


“ menemani Alice, karena kami dengar Alice tidak memiliki teman sekamar.” ucap salah satu pria di sana.


“ menemani?” ucap Axel curiga.


“ mak.., maksud kami menemani Alice main kartu! Ha ha, iya.” ucap pria itu gugup.


“ benar- kami melihat Alice tidak menikmati pesta dan belum makan dengan benar di pesta tersebut, jadi kami juga membawakan beberapa makanan dari pesta tersebut.” ucap pria yang satu lagi membawakan kotak makanan untuk Alice.


Alicepun hanya menerima makanan tersebut dan meletakkannya di samping meja rias nya.


“ apa kalian masih lama di sini?” tanya Alice.


“ kami ingin menemanimu, Alice.” ucap para pria tersebut.


“ apa kalian tidak tahu kalian menganggu?” kesal Axel.


“ tidak masalah. Tapi aku lupa bawa pelembap untuk membersihkan wajahku, aku akan meminta pada adikku dulu. Kalian bersenang- senanglah di sini.” ucap Alice memilih meninggalkan Axel dengan para pria di sini.


🌸Kamar Freya.🌸


“ Alice?” tanya Freya.


“ kamarku di kerubuni para pria yang tidak kukenal. Boleh aku membersihkan wajahku di sini- sampai para pria itu pergi?” tanya Alice memperlihatkan Pouch nya.


“ tentu. Lagi pula aku hanya sendiri disini.” ucap Freya memperlihatkan kamarnya yang kosong.


“ apakah kau juga hanya sekamar sendiri?” tanya Alice.


“ Awalnya tidak. Namun kau tahukan ? aku masih 15 tahun namun seangkatan dengan orang yang lebih tua dariku- sehingga para wanita itu tidak terlalu menyukaiku dan memilih sekamar bertiga dengan para genk nya.” kesal Freya.


“ begitu?” Alice memilih menuju cermin berada dan langsung membersihkan wajahnya. Melihatnya, Freya memilih duduk di pinggir kasunya sambil menatap Alicia yang sibuk membersihkan wajahnya.

__ADS_1


“ Alice.” panggil Freya.


“ hem?” tanya Alice yang sedang membersihkan wajahnya dari sisa make up.


“ aku tahu jika apa yang telah terjadi membuatmu trauma pada pria..” ucap Freya mengantung.


“ hem?”


“ lalu..? apakah kau juga jadi membenci Axel?” tanya


Freya dengan hati- hati.


“ kau tahu, Frey? Dari apa yang ia lakukan- menjelaskan jika ia tak pernah menganggap perkataanku. Dari sana aku mulai mengerti jika aku memang harus menyerah mengejar perasaan Axel, Frey. Karena aku tahu, semakin aku berharap- semakin aku akan kecewa.


Semakin aku kecewa- hanya ada akan luka di antara kita.” ungkap Alice menyusul Freya duduk di tempat tidur.


“ meski begitu, aku tetap tidak membenci Axel, biar bagaimana pun, ia adalah saudara jauhku dan kakakmu.” ucap Alice membelai rambut gadis itu.


“ apa tidak apa- apa, aku mematikan lampunya ketika tidur?” tanya Freya yang melihat Alice menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


“Tidak apa- apa.” jawab Alice dalam kamar mandi yang masih belum di turunkan tirainya. Kamar mandi itu memang terbuat dari kaca meski tidak terlalu bening namun juga masih bisa melihat siluet orang yang mandi.


“Kau tidak trauma pada gelap.” tanya Freya hati- hati. Karena beberapa hari ini, Freya memang memilih tidak mematikan lampu melihat kondisi Alice.


“.., tidak. Mereka melakukannya saat siang hari- bagaimana mungkin aku jadi trauma pada gelap.” ucap Alice acuh. Ia mulai menganggap segalanya yang terjadi adalah hal biasa meski masih belum dapat menutup luka Alice.


“...” ucapan Alice membuat Freya menjadi terdiam.


“ Al.”


“ hem?”

__ADS_1


“Kau gadis yang kuat.” puji Freya mematikan lampu kamar nya. Ia memang tidak akan bisa tidur jika tidak dalam kondisi kamar yang gelap.


“Ya, terima kasih.”


__ADS_2