Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Camp pelatihan


__ADS_3

Butuh satu hari untuk sampai ke camp pelatihan yang di tuju. Sesampainya di tempat camping, Axel bergegas melihat kesekiling. Ini adalah kemah tahunan dan bukan hanya sekolahnya yang ada di camp pelatihan ini. Semua sekolah dari taman kanak- kanak dan sekolah dasar menghadari kemah tahunan ini dan camping ini wajib. Sehingga, yang sebelumnya tidak datang dengan alasan sakit atau sengaja membolos pada tahun berikutnya akan di haruskan hadir kemah tahunan bersama junior mereka.


“ hem.., lumayan.” ucap Axel. Anak kecil ini memang selalu bersikap layaknya pria dewasa di tubuhnya yang mungil.


“ boss, kau mau bermalam dengan tenda siapa?” tanya salah satu teman sekolah Axel.


“ sudah aku bilang aku bukan boss kalian, lagi pula pembagian tenda sudah di kelompokkan oleh guru.” ucap Axel tidak suka.


“ tapi anda mengalahkan boss sebelum nya; Jack.” ucap Efrain dengan antusias. Ia adalah salah satu teman sekelas Axel. Sangat mengagumi Axel.


“ ya, anda masih ingat? Anda mengalahkan Jack dan membuat pria kecil itu menangis.” ungkap Finley. Sama sepert Efrain- ia juga teman sekelas Axel.


‘ kalian juga masih kecil, berani mengatai orang lain masih kecil.’ batin Axel.


Ya, pertama kali masuk sekolah, bahkan di taman kanak- kanak pun sudah ada boss yang sok berkuasa.


Sebagai murid baru, sudah seperti kewajiban bagi boss yang sok berkuasa itu menyapanya.


Bermaksud menunjukkan teritor nya dan ingin membuat Axel- sebagai anak baru tunduk padanya.


Bukan hanya tidak tunduk dan tak mengelukan nama Jack- pria kecil itu memenangkan pertandingan melawan Jack. Ralat, sejujurnya bukan memenangkan.


Karena saat Jack mau memukul Axel- pria kecil itu hanya menghindar dan menyebabkan Jack terjatuh hingga akhirnya menangis karenanya.


Tak heran, sedari kecil sudah menjadi dewasa sebelum waktunya membuat Axel mandiri. Bahkan guru- guru nya mengakui jika Axel adalah anak mandiri dengan kepribadian yang tenang.


Kembali ke masalah camping.


Satu hari itu di lalui Axel dengan bekerja sama membuat Kemah untuk satu kelompok berisikan 6 hingga 7 orang para gurupun ikut berpatisipasi membuat dua tenda untuk para guru.


Sekolah Axel hanyalah sekolah kecil, sehingga hanya memiliki dua kelas untuk satu tingkatan masing- masing tingkatan dan kelas memiliki satu guru. Di tambah satu guru untuk pelajaran olah raga, satu guru untuk masalah budi pekerti dan ketertiban, lalu kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.


Delapan guru. Tenda di bagi menjadi dua untuk guru perempuan dan guru laki- laki.


Axel berada di nol kecil. Sesungguhnya, umur Axel seharusnya masih di playgroup, namun melihat sifat Axel yang mandiri dan ia yang termasuk anak yang cerdas membuat sekolah nya menerimanya.


Tampak jika kelompok Axel tidak kesusahan mendirikan tenda. Axel yang pintar menghapal segalanya, lalu mengintruksikan anak yang lain bekerja sama mendirikan tenda dan mengambil bagiannya masing- masing.


Melihat jika tenda lain belum selesai, Axel mau tidak mau membantu kelompok lain untuk mendirikan tenda.


“ kenapa kau membantu kelompok lain?” gerutu Jack.ya, dia juga termasuk dalam salah satu kelompok Axel.


“ aku yang ingin membantu mereka. Hari sudah mulai gelap karena mendung, jika berlama- lama kasihan mereka akan kehujanan padahal mereka belum memiliki atap- untuk berteduh.” ucap Axel gampang.


“ tapi jika kita membantu mereka kita takkan mendapatkan nilai karena mendirikan tenda lebih dahulu.” geram Jack.

__ADS_1


“ urus saja nilaimu sendiri. Kau dengan nilaimu dan aku dengan hati nuraniku.” ucap Axel acuh.


Kesal, namun Jack tidak bisa berbuat banyak. Biar bagaiamanapun, karena Axel lah tenda mereka berdiri lebih cepat dari kelompok yang lain. Setelahnya, tampak jika Axel menabur garam kasar mengelilingi tenda mereka.


“ apa yang kau lakukan, Axe?” heran Chloe- salah satu kelompok Axel, ia adalah anak nol besar.


“ mama ku mengajarkan jika tidur di alam bebas harus menabur garam kasar.” ungkap Axel.


“ untuk?” heran Grace- juga teman kelompok Axel satu angkatan beda kelas.


“ apa kau tidak tahu? Garam kasar berguna untuk mengusir ular dan serangga.” ucap Kimberly- juga teman kelompok Axel dan sekelas dengan Axel.


“ benarkah?” tanya Chloe dan Grace.


“ huh! Pengetahuan seperti itu saja, semua orang juga tahu. Aku juga ingin melakukannya hanya keduluan kamu.” geram Alvin- teman Jack.


“ really?” tanya Axel meremehkan.


“ kau! Kau bahkan tidak punya orang tua, beraninya kau..” ucap Alvin tidak terima.


“KAU.” geram Axel.


“ memang kenapa dengan tidak punya orang tua.” sanggah Jack.


“ aku juga tidak punya orang tua dan hanya di besarkan nenek ku, namun aku bahagia, memangnya kenapa dengan tidak punya orang tua.” kesal Jack.


“ boss.” ucap Alvin mencoba menenangkan Jack.


“ aku bukan lagi boss kalian. Aku menantang Axel bukan karena ia memiliki orang tua atau tidak- namun untuk melihat siapa yang terkuat diantara kita. Dia membuktikan ia mampu. Jadi dialah boss kalian sekarang.” ungkap Jack menepuk bahu Axel.


“ dari pada menjadi boss kalian kurasa aku memiliki ide yang lebih bagus.” ungkap Axel pura- pura berpikir.


“ apa itu?” heran mereka serempak.


“ kita jadi teman saja bagaimana?” tanya Axel.


“ tentu saja.” ucap mereka senang dan memeluk Axel.


“hentikan kalian. Aku memang meminta kalian menjadi temanku, namun hanya mama saja yang boleh memelukku.” geram Axel.


* sementara itu di belahan dunia yang sama, namun tempat yang berbeda.*


“ wajahmu semakin kusut, A.” heran Louis yang baru saja keluar dari kamarnya.


“ ...” Andre hanya terdiam. Ia semakin frustasi karena mencari semalaman dan tak menemukan apapun yang bisa di jadikan hasil. Ia mulai lelah dan pikirannya mulai buntu.

__ADS_1


“ kau tak menemukan apapun dari apa yang aku katakan kemarin?” tanya Louis duduk di sebelah Andre duduk.


“ ...” sekali lagi Andre hanya terdiam. Ia jelas tampak stress sekarang.


“ jangan bilang jika kau semalaman tidak tidur?” tebak Louis. Melihat seketaris nya yang tak juga menjawab Louis bisa menebak jawabannya. Andre mengelus wajahnya dengan kasar.


“ kemari kan laptop mu, aku akan membantumu.” bukan permintaan namun perintah, bahkan Louis langsung merebut laptop yang ada di hadapan Andre.


“ saya sudah mencari semalaman, tuan.” jawab Andre menggeram.


“ bahkan di Ballrom dan restaurant?” heran Louis.


“ saya juga mencari di titik dimana ada pesta di hari saat melakukan perjamuan. Namun di antara semua pilihan hanya di ruang makan saja saya menemukan wanita yang memakai gaun sama persis dengan yang memapah saya.” ungkap Andre.


“ benarkah hanya satu orang yang memakai gaun yang sama?” heran Louis.


“ tentu saja tidak, gaun itu pasti di produksi masal di pabrik. Namun jika mencocokkan tatanan rambutnya hanya ada satu orang yang persis.” ungkap Andre.


“ bukankah itu berarti kau telah menemukan orangnya?” heran Louis.


“ saya juga berpikir begitu, namun, entah ada kebetulan apa hingga saya tak bisa melihat wajahnya.”


“ sama sekali?” heran Louis.


“ sama sekali. Anda lihat?” ungkap Andre memperlihatkan rekaman yang sudah di lihatnya dan ditelitinya.


“ dari posisi ini, hanya terlihat punggung belakang wanita itu.” ungkap Andre.


“ bagaimana dengan CCTV di sebaliknya?”


“ ia membawa seorang pria besar di hadapannya, dan pria itu menutup pandangan CCTV yang merekam wajah wanita itu. Bahkan kebetulan saat- saat wanita itu beranjak dari kursi menuju kamar mandi pun selalu terjadi.” ungkap Andre memperlihatkan adegan demi adegan.


“ tertutup pelayan yang lewat, tubuhnya menubruk anak kecil hingga menunduk dan membelakangi camera? Wow! Aku rasa ia memiliki insting yang luar biasa hingga bisa menghindari camera CCTV di setiap sudut.” ungkap Louis kagum.


“ tuan!” geram Andre karena Louis malah bangga pada keresahan Andre.


“ aku rasa kau harus libur. Beristirahatlah, sementara aku akan meninjau gudang harta di luar kota.” ungkap Louis tengah bersiap.


“ saya tidak bisa libur, tuan. Jika anda keluar kota maka kursi di perusahaan akan kosong.” ungkap Andre.


“ kenapa kau tidak mencoba bertanya di hotel tempat kau mengadakan jamuan makan dengan Ny Tao- soal wanita yang yang memiliki ciri yang kau cari?” ucap Louis berpendapat.


Kata- kata Louis membuat Andre terdiam.


‘ benar juga.’ batin Andre.

__ADS_1


__ADS_2